AryAnna: An Eternal Story

AryAnna: An Eternal Story
Berbahagialah jika ingin Bunda bahagia


__ADS_3

Jayadipura beranjak dari kursinya, "Ayah mau ke perusahaan sekarang, Narantaka mau ikut?"


Aryanaka hanya menggeleng pelan sembari memandang sang ayah. Zianna sendiri sudah mengeryit tanda kebingungan. Ah, Zianna belum tahu menahu perihal pengalihan pengurus aset warisan, kan?


Zianna memandang Aryanaka guna meminta penjelasan, namun Aryanaka hanya menjawabnya dengan tersenyum tipis dan berujar, "Nanti gue jelasin."


Zianna hanya mengangguk kecil dibuatnya, menyalimi tangan Jayadipura yang hendak pergi.


Aryanaka memandang ayahnya yang mulai berjalan keluar, "Hati-hati, Yah."


Jayadipura tersenyum, membalas ucapan itu dengan jempol kanannya yang mengudara.


***


"Jadi, semuanya Lo lemparin ke Ayah?"


Aryanaka menghela nafasnya, "Sesekali gue bakalan bantu Ayah. Gue gak mungkin bener-bener ngelepas semuanya ke Ayah gitu aja. Gila kali, bakalan se stres apa Ayah kalo ngurusin semuanya sendiri?"


Zianna mengangguk tanda mengerti, "Terus, kita bakalan ngapain hari ini? Rebahan doang gitu? Tolong, ya, Ar, kita ini bukan orang sukses yang bisa leha-leha mulu kaya gini." Tuturnya sedikit kesal.


"Gue, kan emang udah sukses." Celetukan santai dari Aryanaka itu sontak saja membuat Zianna melemparkan bantal sofa ke wajahnya.


"Sukses itu kalo Lo usaha sendiri, bukan karena pemberian Permadi!" ujarnya kesal.


"Yaudah, sih." Sahut Aryanaka sekenanya.


Zianna makin memberengut kesal. Pasalnya, sedari tadi mereka hanya gulang-guling di ruang keluarga sembari menonton televisi yang tengah menayangkan kartun spons yang tinggal di dalam laut.


Konyol sekali, ternyata di dalam laut juga masih ada pantai. Zianna sempat terkekeh geli menonton itu sembari memakan snack yang ia temukan di dalam kulkas tanpa sengaja.


Aryanaka membaringkan tubuhnya, kepalanya ia rebahkan ke atas punggung Zianna yang tidur tengkurap di karpet bulu ruangan itu. Memandang langit-langit ruangan, Aryanaka berujar, "Gue kangen bunda. Kira-kira ... bunda bahagia gak, ya disana?"


Sontak saja Zianna menghentikan kunyahan Snack di dalam mulutnya, gerakannya menjadi kaku, "Bunda bakalan bahagia kalo Lo bahagia." Ujar Zianna pelan.


Jujur, ia bingung ingin mengalihkan duka Aryanaka dengan cara apa. Karena pada nyatanya, duka yang ada pada dirinya pun masih ada. Hanya saja, ia bisa menutupi itu dengan melakukan hal-hal seperti biasanya.


"Jangan begini terus, Ar. Bunda gak akan seneng." Zianna kembali berujar.


"Bunda bahkan baru dianter pulang kemarin, Na. Salah, ya kalo gue begini?" Aryanaka terkekeh lirih di akhir ucapan. Membuat hati Zianna sedikit mencelos.

__ADS_1


Zianna sedikit menggeser tubuhnya membuat Aryanaka beranjak dari tidurnya, diikuti Zianna yang mengubah posisinya menjadi terbaring.


Zianna beralih merebahkan kepalanya di atas paha Aryanaka yang terduduk bersandar pada sofa. "Lo pengen Bunda bahagia, gak?" Kepalanya mendongak menatap Aryanaka yang juga menunduk menatap wajahnya.


Tentu saja Aryanaka mengangguk.


"Berarti Lo harus bahagia!" Ujar Zianna menjentikkan jari di hidung Aryanaka. Membuat Aryanaka menggenggamnya.


"Iya, kah?"


Zianna mengganguk tanpa ragu, membuat Aryanaka dengan gemas mengacak rambut gadis itu.


Zianna memberengut, Merapikan kembali rambutnya yang menjadi acak-acakan akibat ulah Aryanaka. "Berantakan ih!"


Aryanaka tergelak, dengan gemas ia menciumi kedua pipi gadis itu sekuat tenaga. Menguyel-uyelnya seperti bayi. Zianna makin memberengut dibuatnya. Ingin memberontak namun melihat tawa Aryanaka seakan menghipnotisnya untuk tidak menghindar. Biarlah Aryanaka tertawa sejenak untuk melupakan duka yang masih terbesit.


***


Zianna mengerang kebosanan. Hari ini sudah pukul sebelas siang, namun mereka tak melakukan hal seru sekalipun sejak tadi. Hanyak berguling-guling di karpet bulu sambil menonton televisi dan menyemili makanan dikulkas yang mungkin sudah ludes karena mereka makan.


Zianna menangkup kedua pipinya sambil tidur tengkurap dan dengan kedua siku yang bertumpu diatas karpet bulu. "Aryaaa, bosenn," keluhnya lesu.


Aryanaka yang entah mengapa tidak merasa bosan sedikitpun sejak tadi hanya memandang geli ke arah Zianna. Menurutnya, melihat Zianna merupakan hal paling seru dan menyenangkan untuknya. Apalagi tampang kesalnya itu.


Tiba-tiba saja, Aryanaka beranjak dari duduknya, membuat Zianna turut buru-buru beranjak, "Mau kemana?"


Aryanaka menunjukkan jam tangannya, "Udah hampir jam makan siang, gue mau masak." Ucapnya lalu berjalan menuju dapur.


Sontak saja Zianna mengikuti Aryanaka dengan girang, "Gue ikut!"


Ketika sampai di dapur, Aryanaka berjalan kesana kemari menyiapkan bumbu, diikuti oleh Zianna yang terus mengekornya sejak tadi, namun ia biarkan. Zianna ini memang pintar dalam banyak hal, terkecuali memasak.


Jika hal ini diungkit, maka Zianna pasti akan memprotes. Ia pasti akan mengatakan kalau ia itu bisa memasak, kendati hanya mendidihkan air dan memasak mie instan. Menggoreng telur saja kadang dia gagal. Hal itu tentu saja membuat Aryanaka hanya mampu menggelengkan kepala.


Aku akan memberi tahu kalian sesuatu. Sebenarnya ini rahasia, tapi karena aku baik hati, maka dari itu akan aku ungkap rahasia ini pada kalian. Sebenarnya, awal mula Aryanaka belajar memasak karena ia punya sebuah tekad. Tekadnya adalah, jika Zianna tidak bisa memasak, maka dia yang harus bisa. Begitu.


Singkatnya, secara tidak langsung Aryanaka bisa memasak, ya, karena Zianna.


Salah satu prinsipnya adalah, menerima dan melengkapi. Aryanaka menerima kekurangan Zianna, dan melengkapi kekurangan itu dengan kelebihan yang dia punya. Begitupun sebaliknya.

__ADS_1


Kendati sejatinya, persaingan diantara mereka yang ingin lebih unggul satu sama lain masih tetap ada. Dan, bisa memasak ini adalah nilai plus bagi Aryanaka supaya bisa lebih unggul dari Zianna.


Benar-benar ...


Aryanaka membuka lemari kulkas miliknya. Bahunya meluruh begitu saja tatkala tak ada bahan apapun yang bisa ia masak hari ini. Sial, sungguh dia lupa. Yang tersisa hanyalah air mineral dan cemilan cemilan kecil yang tersisa sedikit.


Apa gunanya ia menyiapkan bumbu kalau bahan utamanya saja tidak ada?


Zianna yang turut melihat itu lantas menoleh menatap wajah Aryanaka. "Perasaan ayah tadi masih punya dua telur, tapi dimana, ya?" Ujar Zianna mengingat telur yang hendak digoreng Jayadipura tadi pagi namun tidak jadi.


Aryanaka memandang Zianna, "Emangnya mau kalau cuma makan telur?"


Zianna mengeryit, "Emangnya Lo gak mau?" Ujar Zianna balik bertanya.


Aryanaka menggeleng, "Nggak." Ujarnya sekenanya.


Zianna menghela nafasnya, "Makan siang di luar aja, deh. Yuk?"


Aryanaka kembali menggeleng, "Belanja aja, yuk?" Ajaknya. Sepertinya dia benar-benar ingin memasak.


Mata Zianna sontak saja berbinar girang, "Ke mall?"


Pertanyaan itu sontak saja menciptakan jitakan kecil pada jidat Zianna, "Di supermarket aja banyak kenapa harus jauh-jauh ke mall?"


Bahu Zianna memeluruh seketika, wajahnya berubah tertekuk. Niatnya ingin sekalian jalan-jalan lebur begitu saja tatkala ucapannya tidak disetujui oleh Aryanaka.


Aryanaka terkekeh, "Gak usah begitu mukanya, mau ikut, gak?"


Meskipun dengan tampang lesunya, Zianna tetap mengangguk. Tak apalah, jalan-jalan ke supermarket yang hanya tinggal menyebrang jalan bukanlah hal yang harus disayangkan.


Jarak supermarket dengan rumah Aryanaka memang lumayan dekat, terhitung hanya berselisih beberapa rumah dari rumahnya sendiri. Hal itu tentu saja memudahkannya bila ingin berbelanja saat kehabisan kebutuhan pokok.


Berbicara perihal rumah. Aryanaka memang tidak berniat tinggal di rumah warisan dari Permadi. Menurutnya, tinggal disini lebih nyaman. Pun, dirumah itu banyak kenangan buruk yang tidak seharusnya dia ingat. Jadi akan lebih baik jika ia tetap tinggal di rumahnya. Lagipun, rumah tidak berpengaruh pada apapun, kan?


Mereka berdua –Aryanaka dan Zianna– akhirnya menuju supermarket terdekat itu dengan hanya berjalan kaki. Toh, memang sangat dekat, kan? Akan sangat boros bila menuju kesana saja harus menggunakan kendaraan.


Walaupun sebenarnya Zianna malas.


Salahkan saja Aryanaka yang tidak memiliki sepeda atau kendaraan tak bermesin lainnya yang sekiranya lebih hemat bahan bakar juga hemat tenaga, pasti ia akan sedikit lebih bersemangat. Sayangnya Aryanaka tidak punya.

__ADS_1


Memikirkan itu, Zianna jadi punya ide untuk mencuci otak Aryanaka agar membeli sepeda. Toh, sekarang Aryanaka, kan, kaya. Xixixi.


–to be continue–


__ADS_2