AryAnna: An Eternal Story

AryAnna: An Eternal Story
Responsibility


__ADS_3

"Bangun! Aryanaka menunggumu."


Jayadipura tak bergeming. Tetap pada posisinya yang terduduk di lantai keras rooftop RS Darka Medika.


Girtaja menggeram. "Kau masih membulatkan tekadmu untuk bunuh diri?!" Sentaknya.


Tak mendengar sahutan apapun dari Jayadipura, Girtaja berniat menyeretnya jika saja Jayadipura tak segera beranjak. Sungguh, Jayadipura ini sudah ada pada tahap yang membuat titik tertinggi emosinya tersentuh.


"Apa kau mau dikuburkan bersama istrimu yang bahkan belum kamu urus pemakamannya?!"


Jayadipura menggeleng lemah, namun mulutnya mengatakan hal yang tidak sinkron, "bukankah itu lebih baik?!"


Mendengar jawaban itu membuat emosi Girtaja kembali tersulut. Ya Tuhan, tolong tahan hasrat Girtaja untuk memukul Jayadipura kali ini.


"Akan lebih baik kalau kamu mengurus pemakaman istrimu saja. Tetaplah hidup dan buatlah mereka bangga. Jangan menjadi semakin tidak berguna, Jayadipura. Jangan buat Istri dan anakmu makin kecewa."


Jayadipura terkesiap dari tempatnya. Tidak, ia tidak ingin istri dan anaknya kecewa.


"Ayo ikut aku!"


Jayadipura masih diam. Membuat Girtaja menggeram kesal.


"Kalau kau tak mengikutiku, akan ku doakan kau tetap tak bertemu istrimu meski kau sudah mati!"


Jayadipura menghela nafasnya kasar. Ingin melawan Girtaja juga dia sudah tak punya tenaga.


Dengan langkah lemahnya Jayadipura akhirnya mengikuti Girtaja dari belakang. Mungkin benar, ia harus tetap hidup untuk sekarang. Setidaknya, ia tak akan membuat Rengganis kecewa disana.


Girtaja yang berjalan di depan Jayadipura tak henti-hentinya menggerutu dan mengomel.


"Drama sekali ingin bunuh diri dari atas gedung!"


"Memangnya kalau kamu mati akan ada orang yang dengan senang hati mengurus jenazahmu?! Merepotkan banyak orang saja!"


Jayadipura hanya memandang sinis Girtaja yang ada didepannya. Sahabatnya ini cerewet sekali. Tapi ia bersyukur, setidaknya masih ada yang peduli pada dirinya dan keluarganya.


"Kalau mau mati setidaknya cari cara yang tidak merepotkan orang lain! Gali saja sendiri kuburanmu, sekalian kafani sendiri tubuh tidak bergunamu itu!"


Jayadipura mendengus samar.


"Memangnya tuhan akan menerima arwah hasil bunuh diri seperti yang akan kau lakukan itu?! Rasakan saja berkeliaran dan jadi arwah gentayangan karena tertolak tuhan kalau kau tetap melanjutkan rencanamu!"


***


Aryanaka memandang kosong pusara sang bunda yang ada dihadapannya. Ayahnya masih saja memeluk nisan bundanya dan menangis seakan ingin tetap tinggal untuk menemani sang istri.


Zianna yang ada disebelahnya selalu menemani Aryanaka dan memeluknya demi memberi sedikit ketenangan.

__ADS_1


Nertaja sudah siuman beberapa saat yang lalu, namun masih harus dirawat dirumah sakit dengan ditemani putranya, Alshad. Ia begitu terpukul akan kematian sahabatnya yang baru saja dia temui beberapa waktu yang lalu dengan keadaan yang jauh dari kata baik. Mengapa akhirnya harus begini?


Aryanaka menghela nafas perlahan.


Sudah cukup kesedihan kali ini. Ada banyak tanggung jawab yang harus ia jalankan. Dia tak boleh berlarut-larut dalam penyesalan. Semuanya telah terjadi. Manusia tak mungkin lepas dari yang namanya kehilangan, jadi untuk apa terus di tangisi?


Lagipula, bundanya tak akan senang di atas sana jika dia tidak merasa bahagia.


Sejujurnya, ketegaran ini hanyalah sebuah kepura-puraan. Sejatinya ia juga ingin menangis seperti ayahnya, ia ingin mengeluh seperti ayahnya. Tapi, mengingat ayahnya saat ini, rasanya sungguh tidak pantas. Setidaknya ia harus terlihat kuat untuk sekarang. Hanya sekarang.


"Ayah, ayo pulang."


Jayadipura memandang nisan istrinya sendu sembari terus terisak, "Bundamu sendirian, Narantaka."


Girtaja yang melihat itu mengurut pelipisnya pelan, "Jayadipura, istrimu tak akan senang kalau kau begini."


Ayolah, kesedihan ini tak boleh berlarut-larut. Mereka semua harus melanjutkan hidup dengan lebih baik, bukan?


Mereka semua akhirnya pulang dengan menaiki sebuah mobil yang sama dengan Girtaja sebagi pengemudinya.


Aryanaka yang duduk di kursi belakang terus menggenggam tangan Zianna erat. Bohong kalau ia mengatakan kalau ia sudah baik-baik saja. Tampang kuat yang ia tunjukkan hanyalah kebohongan.


Dirinya ingin marah. Pada dirinya yang gagal, dan pada Permadi yang menyebabkan semua kekacauan ini. Namun, apakah ia bisa melakukan itu? Tentu saja tidak. Permadi sudah tiada.


Lagipula, tak ada gunanya menyimpan dendam pada orang yang sudah mati. Itu hanya akan menyebabkan penyakit hati yang tak memiliki obat.


***


Tidakkah mereka memberi ruang padanya sebentar saja untuk istirahat?


"Tuan Besar menyerahkan kekuasaan sepenuhnya kepada anda, tuan muda." Ujar Zein, asisten Permadi yang ternyata sudah pulih dari luka-lukanya bebarapa saat lalu.


Sang pengacara keluarga mulai angkat bicara. "Namun Tuan Jayadipura tetap mendapat bagian dari itu semua. Karena mau bagaimanapun juga, Tuan Jayadipura adalah putra tunggal dari Tuan Besar. Hanya saja, semua ini tentu saja tetap atas nama Aryanaka Narantaka Wisnuwardhana." Tuturnya.


Sebenarnya, Jayadipura juga tak peduli. Mau dia dapat bagian atau tidak, ia sungguh tak peduli. Tujuannya sekarang hanya ingin melanjutkan hidup dengan baik kendati sudah tak ada Rengganis di sisinya.


Namun, menyerahkan kekuasaan sepenuhnya pada Aryanaka bukanlah suatu hal yang mudah dijalankan oleh anak itu. Anak itu masih belum cukup bekal untuk melanjutkan kekuasaan ini.


"Di dokumen pertama ini tertera ada satu rumah utama di Jakarta Utara. Empat villa masing-masing berada di daerah Bandung, Bogor, Yogyakarta, dan Bali. Dua unit apartemen di sebelah utara universitas Wisnuwardhana Indonesia yang juga akan anda naungi. Satu pulau pribadi, serta sekitar lebih dari lima unit kendaraan yang semuanya akan diserahkan pada anda, Tuan Muda."


Penuturan pengacara ini membuat Aryanaka meneguk ludahnya kasar. Akan ia apakan harta luar biasa Permadi ini? Aryanaka akui, Permadi ini memang orang ambis yang memiliki banyak kekuasaan. Tapi ia tak menyangka bahwa ternyata kakeknya sekaya ini. Yah, walaupun sebagian besar adalah kekayaan turunan.


"Di dokumen kedua tertera bebarapa bisnis Tuan Besar yang akan menjadi tanggung jawab anda. Masing-masing sudah diurus oleh orang kepercayaan tuan besar untuk sementara waktu selagi Tuan Muda belum bernaung." Ujar pengacara itu membuat bahu Aryanaka mulai memberat.


"Apa saja?"


"Tiga sekolah swasta di Jakarta Utara dan satu universitas swasta di daerah yang sama."

__ADS_1


Kalimat ini masih aman di telinga Aryanaka. Hanya bisnis Pendidikan. Aryanaka masih bisa mengurusnya walau tetap menguras otak dan tenaga. Sayangnya, kalimat pengacara yang terlontar setelahnya—


"Rumah sakit Wisnuwardhana, panti asuhan serta panti jompo, hotel, resort, serta cabang-cabang yang berada hampir di seluruh pulau Jawa. Sepenuhnya akan menjadi tanggung jawab Anda."


—benar-benar membuat tubuh Aryanaka memberat.


"Dan yang paling utama, Perusahaan Wisnuwardhana corporations yang bergerak pada bidang pendidikan, ekonomi, dan teknologi telah sah berada di bawah kekuasaan Anda."


Aryanaka mengurut pelipisnya. Tolong, berikan Aryanaka air, Aryanaka sungguh sulit mencerna ini semua.


"Oh, satu lagi. Ada tanah seluas lebih dari seratus hektar di beberapa tempat yang berbeda. Surat tanah sudah dipindahkan atas nama Anda."


Sudah, cukup. Ceburkan saja Aryanaka ke dalam sumur tua. Harta ini bukannya membuatnya bahagia malah membuatnya pusing tujuh keliling lantaran bingung bagaimana mengurusnya.


"Dokumen-dokumen yang lain ini merupakan Surat kepemilikan. Tinggal anda tanda tangani saja, semuanya akan resmi menjadi milik dan tanggung jawab anda."


Aryanaka kembali mengurut pelipisnya, "Setelah saya menandatanganinya, maka apapun yang akan saya lakukan dengan ini semua menjadi hak saya, bukan?"


Sejenak, Zein dan pengacara itu saling memandang, namun mengangguk ragu setelahnya. "Iya, tuan muda."


Maka langsung saja, Aryanaka menandatangani puluhan dokumen itu sekaligus. Kembali menegakkan tubuhnya, Aryanaka berujar, "Semua ini memang telah sah menjadi milik saya. Namun, saya belum mau mengurusnya."


Zein dan pengacara itu kompak terkejut. Hal itu membuat Aryanaka kembali meluruskan.


"Bukannya saya mau lepas dari tanggung jawab. Hanya saja, saya belum merasa pantas. Status saya sebagai pelajar tentu belum cukup bekal untuk menaungi semua ini." Aryanaka menghirup udara perlahan dan kembali melanjutkan, "Untuk sementara, tanggung jawab ini akan saya pasrahkan kepada ayah saya. Sampai saya benar-benar cukup bekal untuk mengurusnya."


Sontak saja Jayadipura terkejut bukan main.


"Saya yakin, ayah saya lebih dari sekedar mampu untuk mengurus semua ini." Aryanaka menoleh menatap Jayadipura dalam. "Tolong, jangan menolak keputusan saya. Semua aset ini sudah hak saya mau saya apakan. Perihal amanah Permadi sudah tak ada hubungannya lagi. Lagipula, bukannya Permadi hanya ingin saya yang menjadi pewaris bukan pengurus?" Kembali menatap Zein dan sang pengacara.


"Semua aset ini akan diurus oleh Ayah saya selagi saya masih belajar untuk memantaskan diri." Tutur Aryanaka mutlak.


Tak ada yang berani menolak. Aryanaka memiliki kekuasaan yang besar sekarang. Sungguh, tanggung jawab ini sangatlah berat untuk mereka tanggung.


Aryanaka kembali memandang sang ayah yang nampaknya belum kembali dari keterkejutan, "Ayah nerima amanah dari Narantaka, kan?"


***


Zianna merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Menatap langit-langit kamar yang terhias oleh bintang kertas yang ia tempel.


Aryanaka ...


Bagaimana keadaan Arya-nya itu sekarang, ya?


–to be continue–


Oke, aku sedikit menyadari kalau 'warisan' dari Permadi ini memang sedikit berlebihan. Tapi, ya, sudahlah. Selagi aku suka kenapa harus tidak?

__ADS_1


__ADS_2