AryAnna: An Eternal Story

AryAnna: An Eternal Story
Seblak dan Aryanaka


__ADS_3

Aryanaka menghampiri bangku dimana Zianna dan teman-temannya berada. Juga, Zio yang sialnya sudah seperti benalu yang dengan kurang ajarnya duduk mendekati Zianna. Membuatnya geram.


Dia berjalan ke arah Zio yang duduk disamping Zianna, mendorong bahu zio menggunakan siku agar menyingkir. "Bisa minggir?"


Zio menengok ke arah Aryanaka dengan padangan tak terima, "Yang duduk duluan disini kan gue." Protesnya. "Mending Lo sama si murid baru sono! Lumayan tuh." Suruhnya.


Aryanaka berdecak.


"Minggir, atau gue siram Lo pakai kuah bakso?"


Zio mendelik, "Bocah stres!" Umpatnya. Namun tak urung ia tetap menyingkir guna memberi tempat untuk Aryanaka duduki.


Aryanaka memandang Zio sinis. Sepertinya dia memang akan menjadikan Zio sebagai musuh abadinya. Karena menurutnya, apapun yang Zio lakukan adalah hal menyebalkan untuknya.


Seperti sekarang contohnya.


Zio seperti sengaja memamerkan kelebihannya yang bisa memakan makanan pedas pada Zianna.


Kelebihan?


Sepertinya bisa makan makanan pedas bukanlah kelebihan untuk Aryanaka. Melainkan kutukan yang menyebalkan.


Menurut Aryanaka, pedas adalah kutukan. Tolong diingat bahwa pedas adalah musuhnya yang paling berat.


Zianna yang sedari tadi diam sembari memakan makanannya dengan santai hanya mampu memandang keduanya dengan pandangan jengah. Tidak bisakah mereka akur sebentar saja?


Melihat Aryanaka mendudukkan diri disampingnya, membuatnya menatapnya sinis, "Seneng ya kenalan sama cewek cantik?"


Aryanaka meninggikan alis mendengar itu, "Siapa?"


"Elo lah."


"Cewek cantik yang Lo maksud itu siapa?"


Dagu Zianna menunjuk ke arah si murid baru yang ternyata juga tengah memperhatikan mereka dengan pandangan yang — entahlah. "Itu si murid baru." Sahutnya. "Orangnya cantik kan?"


Aryanaka menoleh memandang murid baru itu sejenak lalu kembali menatap Zianna. Dirinya berdecih, "Cantik dari mananya ..."


Zianna membuka mulut hendak menyahut—


" ... Cantikan juga Zianna."


—namun ucapan Aryanaka setelahnya membuat Zianna berhasil menelan kembali ucapan yang akan ia keluarkan.


"Gak usah geer. Gue cuma ngomong kenyataan."


Sepertinya gengsi Aryanaka kembali bergejolak tatkala ia keceplosan memuji Zianna.


Keylara dan Kevandra yang mendengar itu mesam-mesem melihatnya. Berbanding terbalik dengan Zio yang memandang aneh ke arah mereka lalu memasang raut wajah seperti ingin muntah.


"Zi, di sebelah barat sekolah ada warung seblak baru. Mau nyoba gak?" Ajak Keylara ketika ingat berita yang heboh di kalangan anak perempuan baru-baru ini.


Berita mengenai warung seblak baru yang katanya menjual seblak yang super enak.


Zianna mengangguk santai, "Boleh. Mau kapan?"


"Bubar sekolah mau gak? Sama Kevandra juga."


Kevandra mengangguk-angguk membenarkan.


"Gue juga ikut dong!" Sambar Zio. "Gue udah sempet nyoba sih, kemarin. Tapi gue juga mau join. Boleh gak?"


Keylara hanya mengangguk-angguk, "Makin banyak temen makin seru." Ujarnya sambil tersenyum manis.


Aryanaka yang sedari tadi hanya mendengar perbincangan itu hanya menengok kesana kesini memandang siapa yang berbicara. Sampai disaat Zio mengajukan diri untuk ikut, matanya memicing seketika.


"Gue juga ikut." Katanya.

__ADS_1


Seketika kepala Zianna tetoleh memandang heran Aryanaka. "Lo mau beli seblak juga?"


Tentu saja Aryanaka menggeleng, "Gue mau beli bakso."


Sontak saja jawaban itu memicu tawa Zio, Keylara, juga Kevandra mengudarara.


"Anjir, gimana ceritanya ke warung seblak tapi malah beli bakso." Ujar Zio tergelak.


Zianna menghela nafasnya pelan, tatapannya menoleh pada Keylara, "Key, menu disana cuma ada seblak doang?"


Keylara menggeleng, "Kurang tempe, Zi. Rencananya kan gue pertama kali kesana mau bareng Lo sama Kevan."


"Ada mie gacoan pedas juga, kok." Sahut Zio yang memang sudah pernah pergi kesana.


Zianna mendengus, percuma saja jika ada menu lain kalau ujung-ujungnya ada kata pedasnya. Aryanaka juga tidak akan mau memakannya.


Tidak mungkin kan, Aryanaka pergi ke sana tapi malah makan bakso hasil beli dari warung lain?


Tolong, itu tidak lucu sama sekali.


Dan itu sama sekali tidak ada bedanya dengan 'numpang makan di warung orang'.


"Tapi bisa request yang gak pedes, maybe." Sahut Keylara berspekulasi.


Kevandra mengangguk membenarkan, "Meski gak ada di menu, mungkin bisa pesen biar gak dipedesin."


***


Zianna, Keylara dan Kevandra berjalan riang menuju parkiran. Meraka benar-benar tidak sabar untuk segera memanjakan lidah di warung seblak yang katanya super enak itu.


Sesampainya di parkiran, ternyata sudah ada Aryanaka dan Zio yang tampak menunggu mereka dalam diam. Namun sesekali, terlihat mereka akan saling melayangkan tatapan sinis satu sama lain.


Zianna menghampiri Aryanaka dengan senyuman tipis. Melihat Aryanaka yang terlihat bad mood lantaran lama menunggu bersama sang musuh benar-benar menghiburnya.


"Zia, gak mau ngebonceng gue aja? Jok motor gue lebih empuk loh. Dijamin Lo nyaman sampai tujuan. Nyaman sampai pelaminan juga boleh." Tawar Zio sembari mengedipkan sebelah matanya ke arah Zianna. Membuat Zianna bergidik mendengarnya.


Wajah Aryanaka yang bad mood makin kusut mendengar tawaran tengil Zio pada Zianna barusan. Helm yang akan ia pakaikan pada Zianna nyaris saja ia lemparkan ke kepala zio jika saja tatapan Zianna tidak memperingatinya.


"Zi, helm Lo lucu juga, ya. Gambar Dora." Celetuk Keylara sembari terkikik lucu melihat helm yang baru saja Aryanaka kenakan di kepala Zianna.


Zianna hanya meliriknya sinis tanpa menyahut.


"Gak mau semobil aja?" Tawar Kevandra menunjukkan kunci mobilnya.


Keylara sontak mengangguk, "Iya woy, panas nih. Mending pakai mobil aja."


Zianna hendak menyahut, namun Aryanaka segelas menolak ajakan itu, "Motor gue mahal. Kalau ditinggal terus hilang, Lo berdua mau tanggungjawab?"


Kevandra dan Keylara kompak meneguk ludah mereka kasar, mereka menggoyangkan kedua tangan dan menggelengkan kepala tanda tidak ingin.


"Ini mobil aja masih dibeliin bokap, Ka. Gimana gue ganti motor mahal Lo kalau beli mobil aja gue belum bisa?"


Zianna yang baru saja hendak menyetujui ajakan Kevandra sontak mengatub bibir kala mendengar penolakan Aryanaka. Duh, jujur saja ia juga kepanasan kalau harus naik motor.


Bukan apa, tapi cuaca hari ini entah mengapa terasa sangat menyengat.


Aryanaka yang melihat kegusaran sang gadis seakan mengerti apa yang dirasakan oleh gadis itu. "Anna aja yang ikut mobil Lo. Biar gue bawa motor gue sendiri." Ujarnya pada Kevandra.


Sontak saja Zianna terkejut akan penuturan Aryanaka barusan, ia menoleh menatap Aryanaka. Membuat Aryanaka turut menatapnya sembari mengukir senyum tipis.


"Gue cuma mau make sure kalau Lo gak bakal kepanasan hari ini. Gue pengen Lo nyaman sama apapun yang Lo terima."


***


Seblak yang mereka pesan sudah tiba. Warnanya merah dan terlihat sungguh menggoda. Membuat mereka kompak menahan air liur agar tidak menetes saking tergodanya.


Terkecuali Aryanaka yang hanya mampu bergidik ngeri melihat wujud seblak yang beraneka ragam di hadapannya. Ia membayangkan bahwa mungkin ia akan tamat bila memakan seblak itu.

__ADS_1


Ia memandang Zianna yang nampak menikmati makanannya. Zianna yang sangat menyukai pedas terlihat tidak tersiksa sama sekali oleh rasa pedas yang ia terima. Ia justru terlihat sangat menikmatinya.


Aryanaka yang sejatinya sudah sangat amat sering menyaksikan Zianna memakan segala bentuk makanan pedas masih saja selalu heran dengan Zianna. Mengapa dia tetap menikmati penyiksaan itu, meski mulut dan perutnya seperti sudah terbakar?


"Lo natap seblak kaya lagi natap monster, anjir. Emangnya seserem itu apa?" Celetuk Zio diikuti dengan gelak tawa.


Ekspresi wajah Aryanaka sungguh seperti hiburan di tengah cuaca panas hari ini.


Setidaknya, acara makan-makan ini menjadi lebih seru dengan Aryanaka sebagai bahan candaan.


***


"Kalau udah ada makanan pedes, harga diri gue kaya tercoreng gitu aja, anjing."


Alshad sontak saja tergelak dibuatnya, "Habisnya Lo aneh banget, bjir. Emangnya rasa pedes tuh semenyiksa itu apa?"


Aryanaka membelalak, lalu menggeleng tak habis pikir, "Lo bener-bener gak paham kalau rasa pedes itu lebih menakutkan dari dajjal, Sat."


"Pedes itu iblis!" Lanjutnya menggebu.


Alshad benar-benar tertawa ngakak mendengar itu. Alshad tahu, selera orang memang berbeda-beda, tapi apakah wajar kalau ada yang membenci rasa pedas sampai segininya?


"Kalau gue mampu, gue bakal musnahin segala macam bentuk makanan pedas yang ada di dunia ini ... "


" ... Sekarang juga ... "


" ... Sampai gak ada satupun yang tersisa."


Ucap Aryanaka dengan wajah serius dan penuh tekad.


Lagi-lagi Alshad hanya tergelak.


Saat ini, mereka berdua tengah bermain PS bersama di kamar Alshad.


Selepas dari acara makan seblak minus Aryanaka yang makan mie gacoan tadi, Aryanaka dan Zianna berencana untuk melaksanakan niat mereka yang ingin belajar bersama guna mempersiapkan ujian akhir semester nanti.


Namun, nyatanya sampai saat ini mereka hanya bermain saja. Aryanaka yang bermain PS bersama Alshad, dan Zianna yang tengah menonton drama di atas kasur kakaknya sembari meminum susu kotak kesukaannya.


Apanya yang ingin belajar bersama?


Benar-benar omong kosong.


***


Zianna cekikikan di atas kasur, mesam-mesem sendiri, berteriak, dan berkali-kali menggigit bantal kakaknya gemas lantaran scane di drama yang ia tonton sungguh sangat seru dan membuat perasaannya terombang-ambing.


Membuat Alshad berkali-kali mencibirnya dengan mengatakan bahwa Zianna ini sangat berisik dan mengganggu kefokusannya dalam bermain game. Hal itu sontak saja membuat Zianna berseru tak terima.


"Lo tuh gak tahu apa-apa! Mending diam aja deh. Dasar cowok gak punya perasaan!"


Alshad hanya melongo mendengar itu, ia menunjuk dirinya sendiri, "Salah gue apa?"


Aryanaka terkekeh melihatnya, ia menepuk bahu Alshad pelan, "Sabar, cowok emang selalu salah. Kecuali gue."


Alshad melirik Aryanaka sinis, "Iya, kecuali Lo. Soalnya Lo kan bukan cowok tulen." Sewotnya.


Aryanaka melotot terkejut, "Sembarangan!"


Alshad mendengus, namun setelahnya ia kembali menengok sang adik, "Gue gak mau tahu ya, Zi. Bantal gue kudu Lo cuci sampai bersih. Gue gak mau tidur pakai bantal yang ada bekas liur Lo disana." Omelnya.


"Lagian kuker banget pakai segala gigitin bantal. Dikira roti?!" Sungutnya lagi.


Zianna berdecak, matanya menyorot sinis ke arah Alshad, "Lo budeg apa gimana sih? Gue suruh diem malah nyerosos kaya beo! Lagian kenapa kalau lo tidur pakai bantal bekas liur gue? Liur gue kan wangi." Ketusnya.


Alshad kembali membuka mulutnya mendengar itu, "Nanti gue kena rabies kalau pakai itu! Liur Lo kan sejenis liur anjing."


Astaghfirullah.

__ADS_1


Zianna memberengut tersinggung, "Mama, Alshad ngatain Zianna anjing, ma!"


–to be continue–


__ADS_2