
tandai bila ada typo❤️
Keylara dan Kevandra kompak terkikik menertawakan ekspresi Nadine di seberang sana. Mukanya sungguh mengenaskan. Ingin kasihan tapi mereka lebih kasihan pada Aryanaka yang jauh lebih mengenaskan selepas dipukuli oleh Zianna.
Zianna menahan tangannya diudara, menghentikan gerakan ingin memukul bahu Aryanaka entah yang keberapa kali. Mendengar Aryanaka memberikan nomor sales WC pada Nadine jujur sangat membuatnya terkejut.
Sikap Aryanaka sungguh diluar dugaannya.
Yah— Zianna tahu ini bukan pertama kalinya ada perempuan yang mendekati Aryanaka, tapi biasanya ... Aryanaka hanya akan acuh! Tak peduli sama sekali.
Seperti, dia merasa bahwa orang yang mendekatinya ini sama sekali tidak nampak pada pandangannya.
Jadi Aryanaka hanya akan abai.
Tapi ini,
Ini sungguh,
Zianna menggelengkan kepalanya lalu menarik tangannya kembali.
"Lo gak lagi suka sama murid baru itu 'kan?" Tuding Zianna merasa overthinking oleh sikap Aryanaka yang berbeda saat menghadapi perempuan yang mendekatinya.
Sontak saja Aryanaka melotot.
Apa-apaan pertanyaan itu?!
"Ngaco ah!" Sahut Aryanaka sembari menurunkan jari telunjuk yang menuding ke arahnya. Menggenggamnya erat, "Dia gak semenarik dan secantik Lo, jadi atas dasar apa gue suka sama dia?"
Zianna membuka mulutnya, hendak menjawab. Namun ia seakan gagap saat itu juga, "Ya— ya pokoknya Lo jangan coba-coba selingkuh dari gue deh!" Tukasnya sedikit melenceng.
Kenapa sampai berucap sejauh itu?
Selingkuh?
Istilah konyol macam apa itu?
Aryanaka tergelak saat itu juga. Perlu kalian tahu, selingkuh bukan gaya Aryanaka sama sekali. Menurutnya, di dunia ini tak ada yang layak untuk disandingkan dengannya kecuali Zianna. Tak ada alasan untuknya mengambil jalan itu karena pada dasarnya ia hanya ingin Zianna.
Hanya Zianna saja.
Kata bahwa 'Zianna saja cukup' seakan kurang tepat untuk disematkan. Karena pada kenyataannya, Zianna lebih dari sekedar cukup untuk dirinya miliki.
"Gue gak akan selingkuh dari Lo. Tenang aja kali."
"Itu harus! Karena kalau Lo sampai berani selingkuh," Zianna lantas menunjuk kaki Aryanaka, "gue patahin kaki Lo saat itu juga." Ancamnya.
Aryanaka pura-pura bergidik, "Kalau kaki gue patah, gue gak akan bisa ngejagain elo lagi." Ujarnya jenaka.
Zianna mendengus, "Gue bisa jaga diri gue sendiri."
"Terserah. Karena soal siapapun yang ngejagain elo itu urusan Lo. Tapi kalau ngejagain Lo dengan baik itu baru kewajiban gue."
Prok! prok! prok!
Tepukan tangan dari Keylara dan Kevandra lantas memecah suasana antara Zianna dan Aryanaka.
Membuat Aryanaka mendengus, "Gulma!" Umpatnya.
Membuat ketiga orang disekitarnya itu mengeryit. Lantas Aryanaka memandang mereka bergantian, sampai pandangannya terhenti pada Kevandra. "Tahu gulma gak?"
Kevandra mengeryit, "Tanaman penganggu bagi tanaman utama?"
Oh, ayolah, semua orang tahu itu. Apalagi bagi anak IPA seperti mereka. Sangat keterlaluan bila tidak tahu menahu tentang tumbuhan itu.
Aryanaka menjentikkan jari membenarkan, " Dia persis kaya Lo berdua." Jarinya menunjuk Kevandra dan Keylara bergantian, lantas melanjutkan, "Bedanya kalau gulma itu mengganggu kehidupan tanaman utama, kalau Lo berdua penganggu kehidupan gue sama Zianna."
Oke, cukup.
Ini terlalu kedjam untuk pasangan kiyowo Keyla dan Kevan.😞
"Naka,"
Pandangan Aryanaka teralih pada Keylara, menatap wajah gadis itu tak minat.
"Apa?"
"Kukira kita spesial ... "
Plak!
__ADS_1
***
Saat ini sudah sekitar pukul empat sore. Aryanaka dan Zianna sudah pulang dari sekolah sejak beberapa jam yang lalu.
Mereka berdua tengah mengumpulkan niat untuk meningkatkan semangat belajar bersama yang bahkan belum terlaksana sama sekali sejak rencana pertama.
Lihatlah sekarang, saat ini Zianna malah tengah membaca novel sambil bersandar pada sofa dengan Aryanaka yang tertidur di pahanya sambil sesekali melemparkan pilus ke atas dan melahapnya.
"Masuk!" Seru Aryanaka girang setelah pilus yang ia lempar berhasil masuk ke mulutnya.
Pasalnya, sudah puluhan pilus yang ia lempar tapi yang masuk ke dalam mulut tidak lebih dari sepuluh butir. Membuang makanan saja!
Masih mending kalau pilus yang jatuh dipungut lagi, lah ini tidak. Padahal jatuhnya hanya di atas sofa. Tidak ke lantai sama sekali.
Zianna menghela nafasnya, "Kalau cuma mau dibuang-buang begitu mending gak usah ngambil." Tuturnya jengah akan kelakuan sang pacar. Geram sendiri melihat bagaimana pilus itu jatuh mengenaskan dan berceceran di atas sofa lalu menggelinding ke pojokan.
"Ini tuh namanya melatih skill, Na." Sangkal Aryanaka ngeyel.
"Skill ngebuang-buang makanan maksud Lo?!" Sentak Zianna kesal.
Aryanaka mengibaskan tangannya, "Yang namanya latihan itu pasti ada yang namanya kegagalan, Na. Nah, pilus yang jatuh itu adalah bentuk kegagalan dari latihan skill gue kali ini. Harusnya Lo bersyukur karena punya pacar yang pantang menyerah kaya gue karena mau mengulang kembali dan memperbaiki kegagalan yang sempat terjadi." Jelas Aryanaka dengan menyombongkan diri.
Jujur saja, Zianna benar-benar malas menyerapi kata-kata Aryanaka kali ini yang sebenarnya sangat sederhana meski makna dan filosofinya cukup besar. Tapi berhubung Zianna ini adalah orang yang senang mencari aman, maka iyakan saja penjelasan Aryanaka itu agar tidak ribet.
"Mulai belajar aja, yuk!" Ajak Zianna yang Alhamdulillahnya sudah punya cukup niat.
Aryanaka lantas mengiyakan.
Mereka lalu memulai kegiatan belajar bersama mereka dengan sesekali bertukar pikiran, bercanda dan bergurau. Dengan ditemani berbagai macam snack serta susu kotak, mereka mempelajari apa yang ingin mereka pelajari dengan santai.
"Eh, jam delapan malem nanti bakalan ada drama action baru. Nonton, yuk!" Ajak Zianna tatkala mengingat drama yang akan tayang malam ini. Drama yang kebetulan sangat mereka tunggu.
Aryanaka tersedak ludahnya sendiri.
Gawat.
Ia belum memberi tahu Zianna perihal acara makan malamnya dengan Kalingga malam ini!
Aryanaka mengusap tengkuknya gusar, "Anu, Na. Habis isya gue udah harus pulang."
"Loh, kenapa?"
Mata Zianna melotot seketika, "yogaswara yang waktu itu?"
Aryanaka mengangguk mengiyakan, membuat Zianna mendekat dengan mata tertarik, "dia sendiri, ngajakin Lo doang?"
Aryanaka mengangguk ragu, membuat Zianna makin melebarkan matanya, "Kok SUS?!" Tudingnya heboh.
"Oh my God! Bukannya Lo belum andil besar sama Wisnuwardhana corporations, ya? Kok yang dia ajak dinner itu elo bukan ayah Jayadipura yang notabennya adalah petinggi perusahaan yang baru?!" Tanyanya runtut dengan heboh.
Aryanaka mengangkat kedua bahunya, "Dia tertarik sama gue, maybe. Yah, secara pacar Lo ini adalah orang yang memiliki daya pikat di atas rata-rata. Makanya Lo harus bersyukur dengan itu, Na."
Bugh!
"Bodo ah!"
***
"Maaf, saya sedikit terlambat." Ujar Aryanaka sembari menjabat tangan Kalingga lalu mendudukkan diri di samping Jayadipura.
Kalingga terkekeh, "Santai saja, lagipula ini bukan pertemuan penting."
Jayadipura turut tersenyum, lantas Aryanaka hanya mengangguk.
"Sebelumnya, saya ingin berterima kasih pada anda yang bersedia melanjutkan kerjasama dengan Wisnuwardhana kali ini."
Kalingga mengibaskan tangannya, "Justru aku senang melanjutkan kerjasama dengan orang-orang tak terduga seperti kalian. Maaf sempat berprasangka buruk tempo hari."
"Oh, ya. Hari ini putriku juga ikut. Mungkin sekarang sedang ada diperjalanan."
Ujaran itu lantas membuat Aryanaka mengeryit. Untuk apa?
"Hai, Pah."
Suara seorang gadis mengalihkan atensi mereka.
Kalingga tersenyum, menunjuk gadis itu, "Itu putriku." Lantas menepuk sofa disampingnya, "Sini sayang."
Aryanaka terkejut sejemang. Putri Kalingga ini ... Nadine?
__ADS_1
***
"Hahaha, lagi-lagi ini diluar dugaanku. Ternyata kalian sudah saling mengenal."
Nadine menjawab ucapan sang Papa dengan senyuman, "Kak Naka ini kakak kelas Nad di sekolahan yang baru, Pa."
"Begitukah?"
Nadine mengangguk dengan senyuman. Mereka lantas berbincang ringan sembari menunggu hidangan makan malam yang belum datang.
Sedangkan, Aryanaka menyaksikan hal itu dalam diamnya. Masih menyerapi apa yang sebenarnya terjadi. Jujur saja, dibanding Kalingga yang tak menduga bahwa Nadine telah mengenalnya, ia bahkan lebih tidak menduga bahwa ternyata Nadine adalah putri Kalingga.
Aryanaka menghela nafasnya. Semoga hal ini tidak akan menjadi masalah buruk.
Makan malam mereka akhirnya datang. Dan sama seperti tadi, mereka memakan makanan itu dengan santai dan tenang sembari sesekali berbincang.
Sampai tak terasa, sekarang sudah pukul sepuluh malam. Aryanaka memandang mereka bertiga, sepertinya belum ada tanda-tanda untuk menyudahi acara ini.
Membuat Aryanaka lagi-lagi hanya mampu menghela nafasnya.
Aryanaka berdehem, "Maaf, saya ijin ke belakang dulu." Ujar Aryanaka membuat perbincangan diantara mereka terhenti. Mereka lantas mengiyakan saja. Sedangkan Nadine, entahlah— sejak tadi tak henti-hentinya ia melirik ke arah Aryanaka dengan pandangan aneh yang tidak bisa dijelaskan.
***
Aryanaka memandang dirinya di kaca toilet setelah membasuh wajahnya, mengambil handphone lantas menghubungi seseorang yang sejak beberapa jam yang lalu ia rindukan.
Apakah Zianna sudah tidur, atau malah masih menonton drama baru yang malam ini pertama kali tayang? Melihat pesan dari Zianna yang terlihat antusias menceritakan drama baru malam ini membuatnya gemas dan segera memencet tombol telepon disana.
Panggilan pertama, setelah menunggu beberapa saat akhirnya telepon itu tersambung.
"Hallo?"
Aryanaka tersenyum mendengar suara itu.
"Arya?"
"Hm?"
"Asli, kenapa Lo gak bales chat gue? Drama yang tadi itu keren abis, Ar. Gue yakin Lo bakal nyesel karena gak nonton perdana malam ini."
Aryanaka terkekeh, "Selagi Lo bisa cerita, gue gak perlu buat nonton."
Terdengar decakan di seberang sana, "Tapi bakalan lebih seru kalau Lo nontonnya langsung bareng gue!"
"Besok kita bisa nonton bareng di episode dua."
Zianna membalas dengan seruan, "Gak bisa! Ini kan drama movie!"
Aryanaka pura-pura terkejut, "Loh, emang iya?"
Dan berlanjutlah perbincangan tak langsung itu sampai akhirnya, chat dari Jayadipura yang mengatakan bahwa acara ini sudah hampir disudahi membuat Aryanaka terpaksa memutus sambungan telepon.
Sebenarnya ia agak sedikit kesal lantaran obrolannya dengan Zianna jadi terputus. Tetapi tatkala menyadari bahwa sedari tadi dia menelpon Zianna sembari mondar-mandir di toilet sambil tersenyum dan tertawa sendiri sontak membuatnya terkejut.
Sudah berapa lama dia di toilet ini?!
***
"Terimakasih atas malam ini Jayadipura, Narantaka." Ujar Kalingga sembari menjabat tangan Jayadipura dan juga Aryanaka.
"Kami juga berterimakasih, Kalingga." Balas Jayadipura sambil tersenyum.
Kalingga serta Nadine lantas mesuk ke dalam mobil mereka. Lekas menancap gas dan perlahan menjauh dari jangkauan Jayadipura dan Aryanaka.
Jayadipura memandang kepergian mereka dengan pandangan aneh, "Kalingga memperlakukan Nadine seperti bukan putrinya."
Sontak saja Aryanaka mengeryit tak mengerti, "Maksud Ayah?"
Jayadipura mengendikkan bahu enggan menjelaskan, lantas berjalan mendahului Aryanaka, "Ayo pulang!"
Aryanaka memandang Jayadipura yang berjalan menjauhinya dengan heran, Jayadipura ini berbicara apa, sih?
"Ayah, tungguin Narantaka!"
"Ayo cepat!"
—to be continue—
Ada yang tahu maksud dari ucapan Jayadipura tadi?
__ADS_1