
"kayanya gue emang harus serius belajar masak deh, Ar." Tutur Zianna lesu kala mereka telah ada di ruang keluarga sembari menonton televisi.
Alshad yang mendengar itu sontak mengeryit. Tunggu, apakah dia ketinggalan sesuatu saat dirinya mencuci tangan di kran tadi?
"Kalau gak mau gak usah dipaksain. Gak papa."
Zianna menggeleng, "Gue mau kok, nanti ajarin, ya?"
Aryanaka menyerongkan badannya menghadap Zianna. Tangan tergerak mengusap pucuk kepala Zianna yang tengah duduk dihadapannya. "Iya, nanti diajarin. Pelan-pelan aja. Gak usah dijadiin beban pikiran."
Tungu, tunggu. Alshad makin mengeryit tak paham. "Kalian kenapa, sih?"
Zianna enggan menjawab, sedangkan Aryanaka pura-pura tidak mendengar. Membuat Alshad menggeram kesal, "Lo diulti sama mama lagi, Zi?"
Sial.
"Bukan diulti, cuma ngasih tahu." Sahut Nertaja dari arah dapur. "Jangan dibawa berat, Zia. Tadi mama cuma becanda. Tapi alangkah baiknya kalau kamu beneran bisa." Lanjut Nertaja.
Sebenarnya wanita lembut itu juga merasa bersalah karena ucapannya jadi membebani pikiran putrinya. Tapi mau bagaimanapun, seorang ibu pasti akan mengharapkan yang terbaik untuk anak-anaknya, bukan?
"Gara-gara ucapan mama tadi, Zianna jadi ambis buat belajar masak lagi." Sahut Zianna.
Alshad melipat kedua bibirnya menahan tawa, "Emangnya Mama nanti gak bakal nyesel kalau dapurnya kebakaran lagi?"
"Mama gak masalah kalau dapurnya kebakar, asal Zianna tanggung jawab buat ngerenov sampai jadi seperti sedia kala aja."
***
"Waktu kita buat nyiapin ujian tinggal minggu ini doang. Lo gak capek mikirin agenda double date mulu?" Tanya Zianna jengah dengan Keylara yang tak henti-hentinya mengeluh.
Selepas upacara bendera hari Senin tadi, Keylara benar-benar seperti tak memiliki gairah. Mundurnya agenda double datenya dengan Zianna sepertinya menjadi mimpi buruk yang membuatnya tidak bisa tidur nyenyak.
"Gue galau, Zi." Keluh Keyla lagi yang sudah kesekian kali.
Zianna hanya mampu berdecak dan memutar bola matanya malas. Terserah Keylara saja.
Hal itu membuat keylara mendengus. Lagian, memangnya Zianna ini sesibuk apa, sih? Bukannya kerjaannya hanya santai-santai saja dari kemarin?
Dengan malas Keylara membuka handphonenya, mencoba mencari sesuatu yang dapat mengalihkan kegalauan hatinya kali ini.
"Bentar lagi guru dateng. Gak usah main HP." Peringat Zianna.
Keylara meliriknya malas, "Guru-guru lagi ada rapat pra ujian semesteran. Pikun Lo?"
Zianna meninggikan alisnya, lantas ber-oh saja. Seakan tidak merasa salah sedikitpun.
"Oh my God!" Keylara menutup mulutnya tak percaya melihat sebuah hal di layar handphonenya.
"Apa, sih?"
Dengan heboh Keylara menunjukkan apa yang membuatnya terkejut. Sebuah postingan dari akun gosip sekolah yang menyatakan kedekatan tak terduga Aryanaka dengan si murid baru, Nadine. Disertai dengan foto mereka berdua saat di kantin sekolah yang ditangkap dengan angel semirip mungkin seperti dua insan yang telah akrab.
Namun, bukan itu yang membuat Zianna terkejut kali ini. Ia tahu foto saat di kantin sekolah itu tidak menyatakan keadaan yang sebenarnya. Tapi, hal yang lebih membuatnya terkejut adalah, foto Aryanaka dan Nadine yang tengah makan bersama di dalam sebuah restoran. Hanya berdua.
Keylara menarik kembali handphonenya kala melihat raut wajah Zianna yang mulai menggelap. "Zi, gue bakalan pastiin ini bener atau nggak. Lo bisa—"
SRAK!
Zianna mendorong kursinya ke belakang dengan kasar. Beranjak pergi keluar kelas menghampiri seseorang yang saat ini membuat hatinya menjadi keruh.
Aryanaka.
***
Dengan langkah penuh kekesalan Zianna berjalan menuju kelas Aryanaka. Ketika sampai di depan pintu, ia mengatur nafasnya yang mulai memburu. Menghirup dan menghembuskannya pelan. Lantas berjalan masuk.
Menghampiri meja Aryanaka yang berada paling pojok dan paling belakang. Terlihat, Aryanaka tengah tertidur dengan menumpu kepala di atas meja dengan kedua tangan yang terlipat.
Kedatangan Zianna itu sontak membuat kegiatan para murid IPA 2 terhenti dan mengalihkan atensi ke arah Zianna. Terheran-heran, ada apa gerangan asetnya SMA CI ini datang ke kelas mereka?
Zianna memandang Aryanaka yang tertidur didepannya, "Ehem!"
Aryanaka tak terlihat terganggu sedikitpun.
"EHEM!" dehem Zianna semakin keras.
Terdengar decakan dari Aryanaka. Perlahan, kepala yang tertidur itu mulai terangkat. Menatap siapa gerangan yang berani mengganggu tidurnya kali ini.
Aryanaka mengeryit, memandang wajah Zianna yang terlihat sama sekali tidak bersahabat. Dalam hati dia bertanya-tanya, apakah dia melakukan kesalahan?
"Ikut gue."
Mulut Aryanaka terbuka hendak bertanya, "Na, tap—"
"Ikut. Gue. Sekarang."
Maka sudah. Kalau sudah begini maka ucapan Zianna ini adalah mutlak dan tidak bisa diganggu gugat. Tidak ada alasan untuk Aryanaka menolaknya. Dan menurut adalah jalan satu-satunya yang Aryanaka miliki.
***
Zianna menyodorkan handphonenya tepat didepan wajah Aryanaka dengan kasar. Menampilkan bagaimana akun gosip itu membuat kebohongan dengan begitu menarik tapi justru membuat Zianna kesal setengah mati.
__ADS_1
Zianna belum menampilkan foto dimana Aryanaka terlihat makan dengan Nadine di sebuah restoran. Membuat Aryanaka yang melihat itu menyangkal dengan segera.
"Lo percaya sama gosip murahan begini?"
Zianna terkekeh, "Yang gue permasalahin itu bukan yang ini." Zianna lantas menscrollnya ke bawah, "Tapi ini."
Mata Aryanaka sontak membelalak melihat itu. Astaga, itu foto saat mereka dinner waktu itu. Masalahnya, disitu bukan hanya ada dirinya dan Nadine saja, tapi ada Jayadipura dan Kalingga juga, kan?
Aryanaka menggeleng panik, "Na, itu emang gue sama si murid baru. Tapi sumpah, disitu ada ayah sama Kalingga juga. Gue gak bohong."
Zianna memutar bola matanya, lantas berkacak pinggang. "Gue tahu."
"Ya makany— hah?"
"Gue tahu ini cuma editan."
Lekas Aryanaka menghela nafasnya lega. "Lo bikin gue takut."
"Takut kenapa?"
"Takut kalau Lo bakal lebih percaya sama gosip itu ketimbang sama gue."
Zianna kembali merotasikan mata, "Gue selalu percaya sama Lo. Tapi malah Lo yang bohongin gue kali ini."
Aryanaka mengeryit heran, "Kapan gue bohongin Lo?"
"Dari waktu Lo dinner sama Kalingga Yogaswara, sampai sekarang."
Aryanaka makin mengeryit heran, "Soal apa?"
"Soal ternyata ada Nadine juga disana." Jawab Zianna, "Kenapa Lo gak cerita?"
Aryanaka menghela nafasnya. Ternyata hanya karena ini. Aryanaka bukannya tidak mau cerita. Tapi bukankah ini hanya persoalan yang sama sekali tidak perlu diceritakan?
"Lo gak nanya, sih. Jadinya gue gak cerita." Jawaban santai Aryanaka itu sontak membuat Zianna menatapnya tak percaya.
"Ya harusnya Lo inisiatif sendiri dong, buat cerita!" Sahut Zianna kesal. Jadi, sebelum Aryanaka bercerita, maka dia harus bertanya dulu begitu? Menyebalkan!
"Buat apa gue nyeritain hal gak penting yang ujung-ujungnya cuma bakal bikin Lo kesal?" Tanya balik Aryanaka memandang Zianna, "Na, ini bukan soal gimana kita yang harus selalu berbagi cerita. Tapi ini tentang gimana gue bikin Lo nyaman sama setiap hal yang gue ceritain ke elo."
Zianna terpekur sejemang, "Jadi ini alasan kenapa Lo gak pernah cerita tentang masalah Lo ke gue?"
Artanaka menyisir rambutnya kebelakang lantas menghela nafasnya pelan, "Tentang masalah itu, gue bukannya gak mau cerita. Tapi belum mau." Tutur Aryanaka, "Gue bakal cerita kalau gue udah siap. Itu aja. Tapi soal yang ini, gue emang gak pernah punya niat buat cerita ke elo, sih."
"Kenapa? Gak mungkin karena gue gak pernah nanya, kan?"
Aryanaka terkekeh, "Ini bukan hal penting. Jadi gue gak perlu cerita ke elo. Apalagi hal gak penting ini bakalan bikin Lo kesal."
Aryanaka mengangkat bahunya, "Well, sebenarnya gue emang gak pernah punya niatan buat cerita tentang itu, sih."
"Memang babi."
"Heh!"
"Becanda." Sahut Zianna sembari menyengir. Lantas menarik lengan Aryanaka, "Kantin yuk!"
***
Suasana kantin saat ini lumayan sepi. Hanya ada satu dua anak saja yang terlihat makan disana. Maklum, sudah bel masuk. Walaupun kelas sedang free, sebenarnya guru-guru juga tidak mengizinkan murid-murid untuk keluar dari dalam kelas.
"Bu, baksonya dua, ya!"
"Siap, neng Zia!"
Zianna dan Aryanaka lantas mendudukkan diri di bangku kantin. Menunggu pesanan mereka dengan sesekali bersenda gurau.
Tiba-tiba saja Aryanaka beranjak dari duduknya, membuat Zianna bertanya-tanya. Mau kemana dia?
"Pesan minum, gak mungkin kita makan tanpa minum."
Oh iya. Zianna lupa tadi.
"Nih."
Zianna menerima minuman itu sembari mengukir sebuah senyuman. Menyeruputnya sedikit. Membuat sensasi segar itu mengalir di kerongkongannya.
Zianna melipat kedua tangannya diatas meja, menumpu dagunya dan memandang ke arah Aryanaka, "Sori, kalau bahas ini lagi. Tapi gue beneran penasaran kenapa Nadine bisa ikut dinner bareng Lo kemarin."
"Dia anaknya Kalingga."
Zianna kembali menegakkan tubuhnya, menarik kursinya untuk mendekat dengan pandangan tertarik, "Serius?"
Aryanaka mengangguk santai sembari menyeruput minumannya. Membuat Zianna yang mendengarnya terlihat makin tertarik, "Arya, sekali lagi sori. Tapi gue jadi pengen ghibah."
Aryanaka mengeryit, turut menoleh mentap Zianna. Membuat mereka saling tatap dengan jarak yang sangat tipis. Oke, posisi ini terlalu dekat. Bukan apa, mereka memang sudah terbiasa seperti itu. Tapi masalahnya mereka sedang ada di lingkungan sekolah. Gawat kalau Aryanaka kelepasan.
Tapi tidak apa. Terobos saja.
"Ghibah soal apa?"
"Soal Nadine."
__ADS_1
Aryanaka memutar bola matanya malas, kembali memusatkan pandangan pada minumannya. Terlihat sangat tidak minat tentang pembahasan kali ini. Membuat Zianna menggoyangkan lengannya, "Dengerin dulu."
"Apa?"
"Lo bilang Nadine anaknya Kalingga?"
"Iya."
"Tapi katanya dia itu yatim." Seru Zianna dengan suara pelan.
"Hus!" Sontak saja ucapan itu membuat Aryanaka menepuk mulut Zianna pelan. "Jangan sembarangan ngomong, buktinya Kalingga masih hidup?" Tutur Aryanaka dengan menggantung kata terakhir sebagai pertanyaan.
Membuat Zianna menuding mulutnya, "Kann, Lo aja gak yakin."
Aryanaka menghela nafasnya, bukannya ia ingin membela Nadine, tapi mengatakan seseorang yatim tanpa bukti akurat adalah sebuah kesalahan bukan?
Ia hanya takut, Zianna akan disalahkan.
"Lo percaya kalau itu bener?" Tanya Aryanaka kembali memusatkan pandangan pada Zianna.
Zianna menggeleng ragu, "Gue cuma dengar desas-desus yang beredar. Tapi, kalau Kalingga beneran Ayahnya Nadine, kenapa Nadine gak pakai marga Yogaswara?"
Pertanyaan Zianna kali ini benar-benar tidak salah. Hanya saja, kurang tepat bila Zianna yang bertanya.
Sial. Aryanaka tidak bisa mengabaikan pertanyaan Zianna saat ini. Karena kalau ia tidak menjawab, maka Zianna tidak akan berhenti bertanya, dan parahnya akan memunculkan spekulasi spekulasi yang bisa membuatnya makin menjadi runyam.
"Na, kita gak punya ranah buat ngurusin itu. Jadi gak usah dipeduliin, oke? Biarin itu jadi urusan mereka sendiri."
Aryanaka berharap, jawabannya ini bisa diterima oleh Zianna. Dan sepertinya begitu, Zianna jadi mengangguk-angguk tak bertanya lagi. Dipikir-pikir, pertanyaan Zianna ini memang tidak seharusnya dikemukakan. Karena, jawabannya pasti adalah privasi milik Nadine. Tidak seharusnya ia penasaran akan itu. Biarlah ini menjadi urusan orang yang bersangkutan, Zianna dan Aryanaka sama sekali tidak punya hak.
***
Entah berapa lama dua insan ini bercengkerama di kantin sekolah, hingga akhirnya bel tanda istirahat berbunyi. Tak lama, Keylara juga Kevandra menghampiri dua insan itu dengan tergesa.
"Gila, sih. Nekat banget kalian ke kantin pas belum bel."
Zianna menunjukkan raut wajahnya yang mendatar, "Apakah gue kelihatan peduli?"
Keylara berdecak. Namun setelah itu ia memicing menatap keduanya, "Lo berdua gak habis perang?"
Zianna mengeryit, "perang gimana?"
"Ya perang."
"Perang apa?"
Keylara sontak saja mencebik, mengalihkan atensi pada Aryanaka, "Lo selingkuh sama Nadine ya, Ka?" Tuding Keylara pada Aryanaka.
Membuat Aryanaka tersedak.
Bicara apa sahabat Zianna ini?
Zianna menghela nafasnya lelah mendengar itu, "Key, Lo gak sebodoh itu buat gak menyadari kalau foto itu cuma palsu, kan?"
Alis Keylara menukik, "Maksud dari palsu Lo ini gimana?"
"Itu cuma editan, Ay." Sahut Kevandra yang sedari tadi diam.
Raut Keylara meringsut tak terima, "Gue tahu itu editan. Tapi itu tuh gak palsu kaya yang Zianna bilang!" Ucap Keylara. "Naka sama Nadine beneran ada disana. Sebenarnya gue juga gak ngerti letak editannya dimana. Tapi gue yakin banget kalau itu tuh asli Naka sama Nadine." Tuturnya menggebu.
Zianna mengangkat tangannya sedada, "Oke, tenang. Gue jelasin pelan-pelan, oke?"
Aryanaka yang menjadi bahan pembicaraan lantas meminum jusnya meredakan rasa sakit di tenggorokan akibat tersedak. Sialan Keylara.
"Arya sama Nadine emang beneran ada disana. Tapi, yang ada disana itu bukan cuma mereka berdua. Masih ada dua orang lagi. Dan, dua orang inilah yang di edit biar kelihatan gak ada." Jelas Zianna menjawab spekulasi yang Keylara berikan tadi.
***
"Gue gak habis thinking sama otak admin akun gosip ini. Nyari sensasi kok segala nyebar berita gak berbobot. Palsu pula!" Gerutu Keylara setelah medengar penjelasan Zianna.
"Gue lebih gak habis thinking sama Lo yang hampir percaya sama berita gak berbobotnya dia." Sahut Zianna tepat sasaran.
Membuat Keylara memutar bola matanya setengah malu.
Kevandra dan Zianna yang melihat itu kompak terkekeh. Jauh berbeda dengan Aryanaka yang mendatarkan mukanya setelah kedatangan Keylara tadi.
Apa-apaan.
Datang-datang main menudingnya. Sudah begitu salah pula!
Menyebalkan.
"Naka,"
Aryanaka menaikkan sebelah alisnya mendengar panggilan dari Keylara. Menatap gadis itu malas.
"Gue minta sori ya, Ka? Gue tadi cuma becandaan nuduh lo-nya." Keylara mengedip-ngdipkan matanya, "Naka handsome banget kalau murah hati dan mau memaafkan kesalahan orang lain."
"Najis!"
Astaghfirullah.
__ADS_1
–to be continue–