AryAnna: An Eternal Story

AryAnna: An Eternal Story
Lembaran baru


__ADS_3

Zianna mematut dirinya di depan cermin. Memastikan penampilannya sudah cukup apa belum. Hari ini, ia akan kembali ke sekolah setelah mengambil cuti untuk pemakaman almarhumah Rengganis tempo hari.


Tak dapat dipungkiri bahwa duka itu masih melekat. Namun, hadup mereka masih sama-sama panjang dan tak sepatutnya mereka sia-siakan begitu saja dengan terus terpuruk akibat kejadian ini.


Rengganis, wanita yang selalu ia sebut bunda dari ia kecil itu telah meninggalkan luka bagi seluruh orang yang mencintainya. Termasuk dirinya.


Zianna memandang wajahnya di depan cermin, lantas menghela nafasnya pelan. Tak disangka, setelah tidak bertemu selama tiga tahun lebih, namun ketika bertemu kembali keadaannya sudah jauh berbeda. Bertemu dengan cara yang amat ironis. Nahas. Itu yang Zianna rasakan.


Harapannya untuk dibuatkan bekal setiap akan berangkat sekolah oleh Bunda Aryanaka itu setelah Rengganis kembali nyatanya pupus ditengah jalan dengan cara yang menyakitkan.


Sungguh, semesta sangat tidak adil pada wanita itu.


Ngomong-ngomong, mama Zianna sudah dipulangkan dari rumah sakit tadi malam. Meskipun kondisinya belum betul-betul pulih, namun sudah bisa dirawat secara pribadi dirumah. Dan Zianna sangat bersyukur akan itu.


Zianna mengambil senyum tipis. Semangat! –batinnya menyemangati diri sendiri. Karena mungkin setelah ini, ia yang harus menyemangati Aryanaka kembali.


Ah, Aryanaka.


Sejak pemakaman kemarin, Aryanaka sama sekali belum menghubunginya. Zianna tahu, selain Jayadipura, Aryanaka juga adalah orang yang paling terpukul akibat kepergian Rengganis.


Zianna menatap layar handphonenya berkali-kali guna memastikan adakah notifikasi dari Aryanaka. Namun setelah mengeceknya berkali-kali, hasilnya nihil. Aryanaka tak menghubunginya.


Sudah, ia saja yang menghubunginya kalau begitu.


Panggilan tersambung. Tak ada suara dari sana, membuat Zianna berinisiatif menyapa lebih dulu.


"Arya?"


"Hm?"


Suara Aryanaka masih terdengar serak dan parau.


"Baru bangun?"


"Iya."


Zianna menghela nafasnya pelan. Aryanaka ini kalau sedang dalam kondisi hati yang tidak baik pasti selalu bangun kesiangan. Ingat saat terlambat sekolah dan berakhir bolos waktu itu? Itu semua karena ulah Aryanaka yang bangun kesiangan, bukan?


"Anna," suara parau Aryanaka terdengar lirih dari seberang sana, membuat Zianna mulai gelisah. Apa lagi kali ini?


"Kenapa?"


"Hari ini gak usah berangkat sekolah, ya?"


Zianna menautkan kedua alisnya, "Maksud Lo?"


"Temenin gue."


Oke, Zianna mengerti. Aryanaka membutuhkannya lagi. Apa boleh buat, Zianna terpaksa membolos lagi hari ini guna mengembalikan suasana hati Aryanaka agar menjadi lebih baik. Menghibur, menyemangati, apapun deh, asal mood Aryanaka membaik.


Zianna menyisir rambutnya kebelakang menggunakan jari-jari tangannya. Lantas bergerak menuju lemari pakaian untuk mengganti seragamnya dengan pakaian biasa.

__ADS_1


***


Girtaja mengeryit heran melihat putrinya yang turun dari tangga tanpa menggunakan pakaian sekolah. "Gak sekolah?"


Tangannya bergerak menyuapi Nertaja yang ada disampingnya. Meski Nertaja berkali-kali menolak lantaran ia ingin makan sendiri, namun Girtaja tak segan akan memelototkan matanya dan mengomel pada Nertaja agar istrinya ini menurut. Keras kepala sekali.


Mendengar pertanyaan papanya, Zianna menggeleng pelan dan menggeser kursi disamping Alshad untuk ia duduki. Mengambil selembar roti dan mengoleskan selai coklat disana. "Aryanaka minta ditemenin." Tuturnya menjelaskan.


Alshad yang sedari tadi khusuk memakan makanannya lantas menengok setelah mendengar penuturan Zianna barusan. "Dia belum mau sekolah?"


Zianna hanya mengangguk sebagai balasan.


Nertaja yang sedari tadi menyimak sambil memakan makanan hasil suapan Girtaja menghela nafasnya perlahan, "Jangan cuma makan roti, Zianna. Makan nasi juga biar perutnya keisi." Ujar nertaja memperingati Zianna. Maklum, perut orang Indonesia kalau belum makan nasi maka acara makan pasti tidaklah afdol.


"Aryanaka pasti punya beban berat sekarang. Mama kemarin waktu dirumah Permadi sempat mendengar kalau, Permadi ingin mewariskan seluruh asetnya pada Aryanaka."


Semua yang ada disana nampak tak terkejut kecuali Alshad yang sudah menganga dengan nasi yang masih ada di dalam mulutnya, "Serius?"


Nertaja mengangguk lantas membuat Alshad menggeleng takjub dan tak percaya, "Gila, Aryanaka sekarang jadi sultan, dong? Lihat aja rumah Permadi kemarin, udah kaya istana negara."


Girtaja sontak saja mengetukkan sendoknya pada jidat Alshad, "Iya, Aryanaka bahkan lebih kaya dari papamu ini! Memangnya kenapa?!"


"Ya, gak papa, sih." Alshad hanya menggaruk tengkuknya dan menyengir.


Zianna menggeleng melihat kelakuan keluarganya ini. Lantas beranjak dari tempat duduk, "Ma, nasinya mau Zianna bawa ke rumah Arya aja, ya. Zianna mau makan disana."


Nertaja lantas mengangguk, "Sekalian kamu ambilin buat Aryanaka sama ayah Jayadipura juga. Mereka pasti belum sarapan." Ujar Nertaja turut bangkit dari posisinya guna membantu Zianna menata makanan.


Girtaja hendak melarang namun Nertaja tetap bersikeras. Apa, sih, Girtaja ini? Lebay sekali jadi suami!


***


"Assalamualaikum,"


Setelah satpam di depan mempersilahkannya masuk, Zianna lantas membuka pintu rumah itu dan perlahan masuk. Suasananya masih sepi. Namun sepertinya rumah ini sudah dibersihkan.


"Waalaikumussalam." Terdengar sahutan dari dalam.


Ternyata Jayadipura.


Zianna lantas menghampiri Jayadipura yang berada di dapur tengah mengambil dua buah telur dari dalam kulkas. Raut lesu dan lengkungan dibawah mata amat kentara dari wajahnya.


Zianna menghela nafasnya perlahan, lalu berjalan ke arah Jayadipura dan mengambil tangan Jayadipura untuk ia salimi.


Jayadipura tersenyum tipis, "Mau nengok, Narantaka, ya?" Tanyanya, "Tapi sepertinya dia belum bangun. Bangunkan aja dulu." Ujarnya membuat Zianna mengangguk.


Melihat jayadipura mengambil teflon dari atas rak lantas membuat Zianna segera menghampiri, "Ayah mau ngapain?"


Jayadipura menunjukkan kedua telur yang ia genggam, "Di dalam kulkas hanya ada telur. Mau ayah goreng buat sarapan sama Narantaka sekalian."


"Gak usah, Ayah." Zianna buru-buru melarang membuat Jayadipura mengeryit, "Tadi Zianna juga belum sarapan. Jadi Zianna bawa sarapannya kesini. Lumayan banyak kok. Kita sarapan bertiga bareng Arya juga, ya?" Ujar Zianna sembari menunjuk rantang yang tadi ia bawa.

__ADS_1


Lantas dengan cekatan Zianna mengeluarkan rantang rantang itu dan menatanya di atas meja. "Zianna bangunin Arya dulu, ya, Ayah."


Jayadipura yang sedari tadi melihat gerak-gerik Zianna segera mengulum senyum tipis. Putranya sungguh beruntung.


Zianna menaiki tangga dengan perlahan menuju kamar Aryanaka. Mengetuk pintu kamar Aryanaka namun tak ada sahutan dari dalam. Zianna menghela nafas dalam dan membuka pintu itu pelan.


Terlihat Aryanaka yang masih tertidur tengkurap diatas ranjangnya dan ditutupi selimut. Membuat Zianna segera menghampiri. Mendudukkan diri di ranjang itu dan memandang Aryanaka lekat. Matanya terpejam. Beneran masih tidur ternyata.


"Arya," Zianna menggoyangkan pelan lengan Aryanaka. Namun tak ada pergerakan, hembusan nafas teratur Aryanaka malah semakin terdengar.


"Aryanaka," Zianna menggoyangkan lengan Aryanaka makin keras. Nihil. Tetap tak ada pergerakan.


Zianna menghela nafasnya berusaha untuk bersabar, "Aryanaka Narantaka," panggilnya sekali lagi.


Namun, dengan kurang ajarnya Aryanaka malah membenarkan letak selimut yang membungkus dirinya. Membuat Zianna menggeram, membuka selimut Aryanaka, dan menarik lengannya agar segera duduk, "Bangun Aryaaaa,"


Namun hal tak terduga terjadi, Aryanaka malah menarik balik lengan Zianna dan membawa Zianna dalam dekapannya, memeluknya erat. Zianna memberontak pelan, "Lepas woi!"


Hal tersebut membuat Aryanaka memeluknya semakin erat, "Gak mau," suara serak khas bangun tidur Aryanaka terdengar di telinga Zianna. Kakinya ia angkat untuk mengunci pergerakan Zianna dari bawah, membuat Zianna sama sekali tak bisa berkutik.


Zianna mengumpat, membuat Aryanaka menepuk bibir Zianna pelan, "Mulutnya!"


"Makanya lepasin!"


Aryanaka tak menghiraukan itu, ia malah makin menduselkan kepalanya ke leher Zianna. Zianna menggeram, "Ayah udah nungguin di bawah, woi! Lo mau ayah Lo kelaparan karena nungguin Lo yang kelamaan?!" Sentak Zianna makin memberontak.


Mendengar Zianna menyinggung sang Ayah membuat Aryanaka tersadar, ia melupakan keberadaan sang ayah yang mulai sekarang dan seterusnya akan selalu tinggal bersamanya.


Dengan perlahan akhirnya Aryanaka melepaskan dekapan itu, dan bangun dari tidurnya.


Zianna memberengut, merapikan letak bajunya yang sudah tak terbentuk akibat dekapan Aryanaka yang terlampau erat.


"Cuci muka sana! Gak usah mandi, nanti lama!" Perintah Zianna dengan sewot. Kesal sekali rasanya.


Aryanaka memutar bola matanya jengah, "Iyaaa," Lantas berjalan lunglai ke kamar mandi guna membersihkan diri.


"Jangan lama!"


"Iyaaaa!"


***


Jayadipura duduk di kursi meja makan dalam diam. Menanti putranya juga Zianna sembari menerawang jauh ke atas sana. Istrinya, sedang apa, ya?


Memikirkan itu membuat hati Jayadipura kembali berdesir ngilu. Duka ini benar-benar menyakitkan. Semesta seakan tak mengizinkannya untuk merasakan kebahagiaan kembali bersama sang istri kendati hanya sebentar.


Rengganis ...


Jayadipura menggeleng. Tidak, ia tidak boleh lengah lagi. Sudah cukup duka yang banyak orang keluarkan belakangan ini. Sekarang tanggung jawabnya masih sangat besar. Aryanaka juga peninggalan-peninggalan Permadi harus ia urus dengan baik. Jangan sampai istrinya kecewa lagi diatas sana. Ia juga tak ingin Aryanaka kembali merasakan kesendirian.


Pagi ini, merupakan lembaran baru yang semua orang buka tanpa adanya Rengganis. Tak boleh ada penyesalan lagi hidup Harus dijalani kedepan bukan kebelakang.

__ADS_1


–to be continue–


Aku anti terpuruk dalam jangka lama, yang sudah terjadi maka terjadilah. Duka itu pasti tetap ada, namun tak perlu dilarut-larutkan, bukan?


__ADS_2