
Tolong tandai bila ada typo ❤️
"Ada undangan makan malam dari Kalingga Yogaswara."
Penuturan dari Jayadipura tersebut membuat Aryanaka yang tengah memakai sepatu sekolahnya menoleh dan mengeryit.
"Dalam rangka apa?"
Jayadipura mengangkat bahu, "Mungkin perayaan atas kelanjutan kerjasama yang sempat akan terputus tempo lalu."
"Narantaka juga harus ikut?"
Jayadipura menghela nafasnya, "Justru yang paling mereka harapkan kedatangannya itu kamu."
"Tapi Narantaka lagi sibuk nyiapin ujian akhir semester nanti, Yah." Ujar Aryanaka mencoba menolak.
Bukan apa, masalahnya malam nanti ia ada janji dengan Zianna untuk belajar bersama. Entahlah nanti akan benar-benar belajar atau tidak, yang pasti Aryanaka tak mungkin membantalkan itu.
Bukannya takut Zianna akan marah. Justru, Zianna mungkin akan menyuruhnya untuk ikut dalam acara makan malam ini, tapi masalahnya Aryanaka yang tidak mau.
Aryanaka ingin bersama Anna-nya saja.
"Hanya malam ini, Narantaka."
Aryanaka menunduk menatap sepatunya, menimang-nimang bujukan ayahnya itu.
"Apa kamu ada urusan malam ini?"
Aryanaka mendongak, menatap sang ayah. "Narantaka mau ke rumah Anna."
Jayadipura menghela nafasnya, kalau urusan dengan Zianna, Aryanaka benar-benar tidak bisa diganggu gugat. "Acaranya jam delapan malam. Kamu bisa mendatanginya selepas dari rumah Zianna."
Dalam hati Aryanaka mendengus. Sungguh, kenapa harus malam ini?
"Nanti Narantaka pikirin lagi."
Jayadipura memandang putranya lamat. Sebenarnya ia juga tak mau mengganggu urusan putranya. Tapi ayolah, ini tanggung jawab. Dan ini sudah menjadi hal yang harus menjadi tanggungan Aryanaka sejak awal.
Aryanaka berdehem, "Narantaka berangkat dulu, Yah." Ujarnya lantas mengambil tangan Jayadipura dan menciumnya. "Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam."
***
Aryanaka memakaikan helm ke kepala Zianna dengan muka yang tidak bersahabat.
Suasana hatinya yang tidak baik akibat undangan makan malam yang menyebabkan waktunya dengan Zianna berkurang makin tidak baik tatkala di hadapannya sekarang sudah ada Zio yang entah ada urusan apa ke rumah Zianna.
Ayolah, ini masih pagi. Kenapa hal yang membuatnya kesal sudah datang bertubi-tubi?
Zianna mendongak menatap wajah Aryanaka yang tengah melirik kesal ke arah Zio yang bahkan tidak melakukan apapun.
Saat ini, Zio tengah duduk diatas jok motornya sembari memakai pakaian seragam biasa. Tidak ada yang aneh.
Oh, sepertinya dia melupakan sesuatu, yah— tampang Zio saat ini memang terlihat sangat mengesalkan. Pantas saja muka Aryanaka menjadi sangat kusut.
"Sebenarnya tujuan Lo kesini itu mau ngapain?" Tanya Aryanaka tak ramah.
Zio menyisir rambutnya ke belakang dengan wajah menyebalkan khas dirinya, "Rencananya sih, pengen ngejemput jodoh masa depan gue."
"—tapi berhubung orang yang lagi jagain jodoh masa depan gue udah jemput duluan, so yah, gak jadi."
Aryanaka mendelik.
Siapa yang dia maksud jodoh masa depan?
Juga, siapa yang dia maksud orang yang menjaga jodoh masa depannya?!
Sialan!
Zianna meneguk ludahnya susah payah. "Yo, Lo kalau mau aman mending berangkat aja deh. Lain kali kalau gak ada yang nyuruh ya gak usah kesini." Ujar Zianna dengan mengukir senyum kaku, "Bukannya gue mau ngusir Lo terus gak bakal nerima Lo kalau Lo kesini lagi, tapi please ... demi kesejahteraan bersama mending Lo pergi dulu aja." Lanjutnya sambil menyengir sumbang tak enak.
Zio ini walaupun menyebalkan— ralat, maksudnya sangat menyebalkan, tapi ya kalau Zianna ingin berperilaku tidak baik kepadanya, terkadang ia juga merasa tidak enak.
Maklum, Zianna ini orang yang sangat baik hati dan 'tidak pernah' berbuat jahat sedikitpun.
Maksudnya, tidak pernah berbuat jahat kalau waktu tidak mendukung. Kalau waktu dan semesta tengah mendukung, tolong jangan ditanya lagi. Singkatnya, Zianna ini adalah kriminal tinggat bawah.
Kejahatan paling dasar yang Zianna lakukan adalah, menistakan Alshad dan memeras Aryanaka. Sangat umum bukan?
Sudah cukup, kembali ke cerita saja.
Zio mendesah lesu, "Ah, Zi. Terus kira-kira, kapan jok motor gue bakal dinaikin sama Lo?"
Bugh!
"Mimpi aja lo!" Sentak Aryanaka yang sudah terlampau kesal. Kakinya bahkan sudah menendang lutut Zio yang nangkring di atas motornya sendiri.
"Anjing!" Umpat Zio mengaduh. Bahkan, motornya hampir oleng dan ambruk akibat tendangan itu.
"Lo kalau mau nendang lihat-lihat dong! Kalau motor mahal gue jatoh emangnya Lo mau ganti rugi?!" Seru Zio tak terima sembari menuding ke arah Aryanaka.
"Gue kaya, motor kayak punya Lo juga gue mampu beli sepabriknya." Sahut Aryanaka angkuh.
Oke, jiwa rendah hati Aryanaka sepertinya sudah tertelan kenyataan.
__ADS_1
***
"Se kurang kerjaan apa sih Lo sampai ngajak kita kesini?" Gerutu Zianna tatkala Keylara dengan hebohnya mengajak mereka berkumpul.
Anehnya, Keylara mengajak mereka berkumpul di bawah tangga lantai tiga di sekolah mereka. Singkatnya, bersembunyi dari para kuping gajah yang akan berpotensi merusak rencananya.
"Lo diem dulu, Zi. Gue cuma gak mau Zio ngikutin kita dulu. Lo kan tahu sendiri gimana totalitasnya dia ngintilin Lo." Dengus Keylara.
Kevandra mengangguk, "Gue rasa, walaupun Zianna pergi ke kolong meja, asalkan Zio tahu pasti tetep dikintilin." Ujarnya.
Aryanaka yang sedari tadi diam lantas berdecak, membuat mereka turut terdiam.
Zianna menghela nafasnya pelan, "Jadi Lo mau ngapain?"
Keylara lantas berdehem, memperbaiki nada suaranya, "Gini, berhubung gue sama Kevan udah tahu menahu perihal something about Lo sama Naka, so gak ada alasan lagi buat Lo nolak double date sama gue." Tutur Keylara lugas.
Mata Aryanaka memicing, membuat Keylara segera menoleh, "Aiyo, Naka. Please ... Iyain aja. Bantu gue untuk mewujudkan impian gue."
Aryanaka menaikkan sebelah alisnya tak tertarik, "Impian Lo yang mana?"
Sontak saja Kevandra dan Zianna terkikik mendengar itu, berbanding terbalik dengan Keylara yang tersenyum penuh kesabaran.
"Ay, impian Lo itu ada banyak. Jangankan Naka, gue aja gak hafal sama mimpi-mimpi Lo saking banyaknya." Kelakar Kevandra dan langsung dihadiahi geplakan maut dari sang kekasih.
"Lo diem, Ay. Jangan ngerusak momentum kali ini. Gue bakalan bereffort sekuat tenaga buat bikin Naka gak disagree sama ajakan gue kali ini." Ujar Keylara menggebu dengan bahasa yang campur aduk.
Keylara kembali berehem, ia menghadap pada Aryanaka dengan tubuh yang tegap. Ia mengambil nafasnya dalam-dalam,
"Naka, ayo double date sama gue!"
Ngiiiiiing .....
"Pfft," Suara tawa yang tertahan itu sontak merusak suasana kali ini.
Seketika semua pandangan menoleh ke arah Zianna, si sumber suara.
Zianna berdehem, mengembalikan ekspresinya dengan kaku, ia menggaruk tengkuknya tatkala mata nyalang Keylara menghunus padanya.
Duh, ini jarang terjadi.
"S-sorry, Key. Tadi gue lihat kodok gagal loncat. Iya, gagal loncat."
Keylara berdecak, "Naka, Lo jangan diam aja dong. Gue pernah dengar kalau orang yang suka diam pas diajak ngomong tuh besoknya putus sama pacarnya."
Mata Aryanaka yang tadinya tak minat lantas mendelik, ia segera menoleh pada Zianna yang mengatub bibir tak bisa berkata-kata. Melihat itu, mata Aryanaka makin memicing dengan mulut berumak-umik meminta penjelasan.
Memangnya iya kalau orang yang suka mendiami orang lain besoknya akan putus dengan pacarnya?!
Tidak mungkin!
"Naka, gue serius loh ... Emangnya Lo mau putus sama—"
Zianna segera menabok lengan Keylara saat menyadari itu, "Gak usah sembarangan deh kalau ngomong." Ia menarik kemeja seragam Aryanaka untuk berdiri didekatnya. "Kalau pengen double date ya langsung atur aja gak usah segala ngumpet-ngumpet begini buat ngajakin. Riweh tahu!"
Keylara meringsut, "Ya Sorry, Zi. Takutnya 'kan Naka gak mau."
Zianna mendengus, "Maunya kapan?"
Mata Keylara seketika berbinar cerah, "Nanti malem!"
Duar!
Tidak bisa.
Aryanaka ada janji dengan Kalingga.
Duh, bagaimana ini.
"Bisa diundur gak? Gue sama Arya lagi fokus buat nyiapin ujian." Ujar Zianna lantas membuat Aryanaka menjadi lega.
Bahu Keylara meluruh seketika, "Terus kapan dong?"
"Habis ujian." Sahut Zianna mutlak.
Mata Keylara melotot, "What the—"
"Iya, atau nggak sama sekali?"
***
Keylara memakan makanannya dengan tidak bertenaga. Acara double datenya dengan Zianna gagal terencana malam ini.
Keylara seketika merutuk, kenapa harus ada ujian di dunia ini?!
"Mukanya gak usah begitu, Ay. Zia bener, kita emang harus lebih fokus buat ujian akhir semester dulu." Ujar Kevandra memenangkan sang kekasih.
Keylara menoleh lesu, "Kenapa bukan ujiannya aja sih yang diundur?"
Zianna sontak saja memutar bola matanya malas. Saat ini, mereka tengah ada di kantin sekolah dikarenakan waktu istirahat yang diperpanjang akibat para guru yang tengah rapat pra UAS.
Zianna menunggu Aryanaka yang tengah mengambil makanan pesanannya pasca kalah suit untuk menentukan siapa yang harus mengambilkan pesanan.
Sekian menit menunggu, rakyat kantin di hebohkan oleh si murid baru— alias Nadine yang lagi-lagi mendekati Aryanaka. Entahlah apa tujuan gadis itu. Yang pasti, hal itu sangat amat membuat Zianna merasa geram.
Zianna mendengus berkali-kali menyaksikan bagaimana ulat bulu Itu mengikuti Aryanaka yang bahkan tidak terlihat peduli sama sekali.
__ADS_1
Tak berbeda jauh dengan Aryanaka yang juga menghela nafas kasar berkali-kali karena tak nyaman didekati.
Ayolah, Aryanaka tahu bahwa dirinya ini sangat tampan. Tapi, ia sedikit menyesal karena ternyata mempunyai wajah tampan tak selamanya dapat hidup tenang.
"Zi, Lo gak kesel Naka di tempeli sama lintah baru itu?" Tanya Keylara iseng.
Namun seketika ia meneguk ludahnya kasar tatkala mata tajam Zianna mengarah padanya, "Lo gak lihat muka gue ini, kah? Lo pikir muka gue ini sedang menunjukkan ekspresi wajah yang kaya gimana?!" Tanya Zianna dengan nada tak ramah.
***
"Nih,"
Zianna melirik sinis ke arah Aryanaka yang baru saja datang dengan meletakkan semangkuk mie ayam di hadapannya.
Aryanaka mengeryit, "Kenapa?"
Tak mendengar sahutan, Aryanaka lantas mendekat, "Gue salah ngambil pesanan? Mau gue pesenin yang baru?"
Aryanaka hendak mengambil kembali semangkuk mie ayam itu untuk dia tukar, namun Zianna segera menyahutnya dengan kasar.
Sontak saja hal itu membuat Aryanaka semakin heran, "Kenapa sih?"
Zianna tak menyahut, mukanya sudah sangat kusut saat ini. Membuat Aryanaka menghela nafasnya tak mengerti. Ia menoleh menatap Keylara dan kevandra meminta penjelasan, namun yang ia lihat malah Keylara dan Kevandra yang pura-pura melengos menolak untuk ditanya.
Benar-benar.
"Enteng banget ya ngasih nomornya ke orang asing." Sindir Zianna tanpa menoleh. Fokus memakan mienya yang sudah sangat merah seperti biasa.
Aryanaka mengeryit.
Tadi, Zianna melihat sendiri bagaimana si Nadine Nadine itu merengek meminta nomor WhatsApp Aryanaka. Awalnya Aryanaka memang tidak menghiraukan, namun karena terganggu, mungkin ia jadi terpaksa memberikan nomor WhatsAppnya.
Oke, Aryanaka mengerti pusat permasalahannya ada dimana. Sejujurnya, ia tidak memberikan nomornya pada Nadine kok.
Serius.
Aryanaka tersenyum miring, sepertinya mengerjai Anna-nya ini bukan ide yang buruk.
"Gue cuma pengen membangun hubungan baik," Tutur Aryanaka.
Zianna mendelik seketika. Tidak, nada bicara Aryanaka tidak terdengar mencurigakan sama sekali, namun ucapannya itu terasa sedikit aneh.
"Maksud Lo?!"
Aryanaka mengeryit sok lugu, "Salah kalau gue pengen membangun hubungan baik sama dia?"
Prang!
Zianna membanting garpu dan sendoknya dengan keras setelah mendengar itu. Dengan mulut penuh mie pedas, ia berkacak pinggang, siap mengamuk.
Aryanaka seketika terlonjak panik.
Gawat!
Ia salah perkiraan!
Mata Zianna memandang Aryanaka nyalang, "LO MAU mmpht—"
Lekas saja Aryanaka membekap mulut penuh mie itu, "Jangan ngamuk dulu, Na. Malu dilihatin orang." Ujarnya panik.
Keylara dan Kevandra yang melihat Zianna yang megap-megap akibat bekapan Aryanaka kompak melotot, "Anjing, jangan Lo bekap bego!"
Mata Aryanaka menatap nyalang keduanya, "Lo berdua diem! Gak usah ikut campur!"
Zianna melepas bekapan itu dengan paksa. Meraup udara sebanyak mungkin dan menelan mie nya sekuat tenaga, lantas memukuli bahu Aryanaka dengan keras dan membabi buta, "Gila Lo! Lo mau bunuh gue apa gimana?!"
Bugh!
Bugh!
"Aduh, ampun, Na. Gue gak sengaja. Aduh, sakit, woy!"
Sayangnya Zianna tak berhenti, membuat Aryanaka benar-benar sangat mengenaskan karena dipukuli. Dan ia terlihat lebih mengenaskan saat atensi orang-orang yang ada di kantin memandangnya dengan kasian.
"Aduh, Na. Gue gak ngasih nomor gue ke dia." Ucap Aryanaka menjelaskan dengan susah payah.
"Bohong!"
"Gue serius!"
"Bohong!"
"Gue ngasih dia nomor tukang sedot WC!" Serunya sontak berhasil menghentikan pukulan Zianna di bahunya seketika. Juga, membuat orang-orang yang berada di kantin itu kompak terkejut.
Tak terkecuali Nadine yang sedari tadi menjadi pusat permasalahan. Sontak saja ia memeriksa nomor itu, mengecek foto profilnya.
Benar saja.
Nomor itu benar-benar nomor sales sedot WC!
Sialan!
Nadine merasa dipermainkan!
–to be continue–
__ADS_1