
Zianna memandang ruang keluarga dengan datar. Tatapannya tertoleh menatap tajam Aryanaka dan Alshad yang berdiri tak jauh dari tempatnya. Mereka berdua kompak mengelus tengkuk mereka dan menyengir bodoh menyaksikan hasil dari ulah mereka sendiri.
Lihatlah, ruangan ini bahkan jauh lebih berantakan dari kapal pecah. Bungkus snacks dimana-mana, remahan biskuit serta kulit kacang juga kuaci yang beterbaran tak tentu arah, stick PS yang masih tergeletak sembarangan, juga bantal sofa yang sudah berada jauh dari tempat aslinya.
Zianna yakin, bi Sumi akan sangat pusing untuk membereskan ini semua.
"Gue gak akan biarin kalian tenang kalau ruangan ini belum bersih pake tangan kalian sendiri." Tekan Zianna dengan menatap nyalang dua lelaki yang katanya sangat tampan ini.
Cuih. Memikirkan itu membuat Zianna ingin muntah. Meskipun pada kenyataannya mereka memang tampan, tapi Zianna benar-benar tidak terima.
Alshad memandang Zianna tak terima, "Terus Lo ngapain?"
"Duduk lah." Sahut Zianna enteng, ia menghampiri sofa dan mendudukkan diri disana. Menyilangkan kedua kaki dan melipat kedua tangannya di depan dada, "Buruan, gue tungguin sampai selesai."
Alshad makin mencibir tak terima, "Gaya Lo tuh udah kaya mandor makan gaji buta! Kerja dong, kerja! Lo tadi juga ikut nyemilin jajanan, ya!" Sewotnya dengan menuding Zianna.
Bibir Alshad bergerak-gerak, kembali melayangkan protes, "Mana bungkus susu kotak main taro sembarangan lagi! Minimal tuh—"
Bugh!
"Berisik!" Sentak Aryanaka yang sedari tadi hanya memandang pertikaian kakak beradik itu dengan datar.
"Daripada banyak omong, mending gercep beresin ini semua sebelum bokap Lo balik." Lanjutnya lagi.
Zianna mengangguk angguh merasa dibela, "Bener tuh! Bentar lagi pasti Papa pulang."
Alshad mendengus kesal, bibirnya tak berhenti menggerutu dengan pelan. Ia bergerak mengambil sampah bungkus snacks dengan gerakan terpaksa yang tampak ogah-ogahan. Tangannya memasukkan sampah itu ke dalam keresek besar dengan kasar guna menunjukkan kekesalannya.
"Kenapa gue dulu mintanya adik perempuan, sih?!" Gerutunya dalam hati.
***
"Jadi kamu tidak ingin mengurusnya untuk sekarang?" Tanya Girtaja terkejut akan penuturan Aryanaka.
Pagi tadi, ketika ia baru sampai di perusahaan miliknya, Jayadipura mengatakan bahwa ia ingin mengunjunginya disini. Ia sempat heran, untuk apa Jayadipura datang berkunjung ke perusahaannya?
Tidak mungkin kan kalau dia ingin minta makan?
Tapi ternyata, dugaannya salah. Jayadupura datang bersama asisten Permadi yang beberapa waktu lalu telah dibuat babak belur oleh Aryanaka dan juga dirinya.
Jayadupura mengatakan bahwa, ia ingin menjadikan perusahaannya sebagai mitra kerja Wisnuwardhana corporations. Tentu saja ia terkejut bukan main.
Aryanaka menggeleng pelan sembari mengulum senyum tipis, "Bukan tidak ingin, Pa. Tapi belum."
Girtaja mengibaskan tanganny, "iya-iya, itu maksudku."
__ADS_1
"Aku sedikit setuju dengan keputusanmu yang ini. Statusmu sebagai pelajar memang belum pantas untuk menaunginya." Ujar Girjata lugas lalu menyeruput kopinya perlahan.
Girtaja ini memang orang yang blak-blakan. Ia akan selalu mengatakan apa yang ada dipikirannya dengan lugas, sekalipun itu membuat orang lain tersinggung. Karena pada dasarnya, apa yang dikatakan Girtaja adalah sebuah kenyataan.
Tak ayal, ucapannya ini akan selalu membungkam kicauan mulut rival kerjanya yang selalu mengajaknya berdebat. Rivalnya akan selalu kalah telak hanya lewat goresan kata yang ia keluarkan.
Aryanaka harus belajar darinya.
"Kamu harus benar-benar belajar dalam memantaskan diri. Jangan terus-terusan mengerjakan sesuatu yang tidak berguna."
Jelas-jelas Aryanaka tahu apa yang dimaksud sesuatu yang tidak berguna menurut Girtaja ini. Tentu saja sikapnya akhir-akhir ini yang mengabaikan tujuan dibalik kata terpuruk akan kehilangan bundanya.
Lagi-lagi, Aryanaka hanya mengulas senyum tipis, ia sama sekali tidak tersinggung. Selain karena ia paham seperti apa Girtaja, kata-kata Girtaja ini adalah sebuah kenyataan.
Tak ada alasan untuk menyangkalnya.
Lagipula, Girtaja ini aslinya adalah orang yang jujur dan penuh akan rasa peduli. Untuk sesorang yang belum mengenalnya sejauh ini, pasti akan selalu tersinggung atas apa yang Girtaja ucapkan.
Aryanaka yakin itu.
***
Pagi ini, Aryanaka menjemput Zianna untuk berangkat ke sekolah. Setelah mengobrol dengan Girtaja semalam, tekadnya untuk kembali melanjutkan hidup semakin menguat.
Aryanaka yang tengah memasangkan helm pada kepala sang gadis lantas terkekeh tipis melihat kekhawatiran Zianna. "Santai aja kali, belum juga jam tujuh."
***
"Sebentar lagi, kalian akan menempuh ujian akhir semester. Tingkatkan kualitas belajar kalian. Kurangi hal-hal yang tidak penting. Dan, jangan lupa utamakan kesehatan kalian agar bisa mengikuti ujian dengan sebaik mungkin."
Pengumuman yang baru saja kepala sekolah kemukakan pagi ini sontak saja membuat Zianna menoleh menatap Aryanaka yang berdiri pada barisannya. Tepat saat itu, Aryanaka juga tengah menatap padanya.
Aryanaka mengangkat senyum miring, diikuti Zianna yang terkekeh geli. Aura persaingan mungkin akan kembali tercipta diantara keduanya.
Ujian ini tentu akan Aryanaka gunakan untuk batu loncatan agar ia bisa masuk ke kelas unggulan. Kelas yang seharusnya ia tempati, bersama Anna-nya.
Bersama gadisnya.
***
"Gue mau minjem buku catatan semua mapel di tiga bulan awal semester pertama." Tutur Aryanaka sembari membuka permen karet yang baru saja ia beli dengan Zianna.
Zianna turut mengunyah permen karetnya santai, "gak mau, gue juga butuh kali."
"Pelit."
__ADS_1
Mata Zianna menajam, "Heh, masalahnya gue juga butuh, ya. Kalau gue pinjemin ke elo, gue belajarnya pake apa? Daun lontar?!" Sewot Zianna kesal.
"Kita bisa belajar bareng. Cara ada banyak kali, tinggal gimana kita ngelakuinnya aja." Sahut Aryanaka enteng, menatap gadisnya lekat.
Ayolah. Mereka memang sama-sama manusia ambis. Tapi, tak ada salahnya kan kalau kedua manusia ambis ini bekerja sama untuk menuju tujuan yang sama?
Aryanaka dan Zianna memang tak pernah bisa disatukan bila menyangkut tentang keunggulan masing-masing. Karena pada dasarnya, mereka adalah saingan dalam hal ini.
Apalagi di dunia pendidikan.
Zianna menatap Aryanaka serius, "Tujuan Lo cuma pengen masuk kelas unggulan lagi, kan?"
Aryanaka mengangguk santai.
"Berarti, Lo gak harus jadi peringkat pertama buat masuk kelas unggulan. Lo bisa jadi ranking dua, tiga, empat, atau berapapun asal jangan yang pertama. Lo tetep bisa masuk kelas unggulan, kok. Asal jangan lebih dari ranking empat puluh aja." Ujar Zianna.
Aryanaka memandang gadisnya dengan alis terangkat. Sepertinya Zianna ini ingin mengajaknya bernegosiasi untuk mengalah.
"Kalau guenya mau yang pertama, gimana?"
Bahu Zianna meluruh seketika, "Lo udah makan peringkat pertama selama enam tahun di SD ketambahan satu tahun di SMP, Ar. Belum kenyang, kah?"
Aryanaka menggeleng santai. Hatinya merasa sangat gemas sekarang. Wajah gadisnya terlihat sangat lucu.
Zianna yang melihat itu mekin kelihatan frustasi, tangannya bergerak menggoyangkan lengan Aryanaka, "gantian gue dong, Ar. Gue baru beberapa kali ngerasain peringkat pertama." Rengeknya.
Aryanaka mati-matian diri menahan gemas. Ia mempertahankan wajah santainya meski hatinya sudah menjerit ingin mencium seluruh bagian muka gadis itu.
"Gue mau belajar bareng sama Lo kalau Lo mau ngalah perihal peringkat sama gue." Ujar Zianna lagi. Wajahnya terlihat sangat meyakinkan.
"Serius?"
Zianna mengangguk mantap.
Aryanaka menahan senyum geli, "deal."
"Yes!" Zianna bersorak kegirangan. Akhirnya ia merasa aman.
Tak apalah ia menang karena Aryanaka mengalah. Asal imagenya di SMA CI tidak tercoreng akibat murid baru yang berstatus pacarnya ini. Tapi sayangnya, penuturan Aryanaka selanjutnya—
"Gue setuju kali ini doang, tapi nggak dengan kain kali."
— benar-benar berhasil membuatnya menekuk wajah berlipat-lipat.
–to be continue–
__ADS_1