
Tandai bila ada typo
Zianna menaiki tangga menuju kamarnya, diikuti oleh Keylara yang berjalan di belakang.
"Zi, ini kali pertama gue ke rumah Lo. Ternyata rumah Lo gede juga." Keylara berdecak kagum melihat kesekeliling rumah.
Zianna memutar bola matanya malas, "Gak usah norak, rumah Lo gak kalah gede dari rumah gue." Sahutnya jemu.
Keylara kembali berdecak, "Beda, Zi. Serius, rumah Lo selain gede juga kelihatan lebih hidup daripada rumah gue."
Zianna menghela nafasnya pelan. Setelah Zianna mengungkap kisahnya dengan Aryanaka pada Keylara waktu itu, Keylara menjadi menuntut untuk mengenalnya semakin jauh.
Selama ini, Keylara hanya mengenal Zianna sebatas nama dan apa yang dilakukannya sehari-hari saja. Sungguh, sulit dipercaya bahwa mereka telah berteman selama satu tahun lebih dari awal masuk SMA sampai sekarang kalau rumah masing-masing saja belum pada tahu.
Jangankan rumah, sifat sebenarnya dari Zianna saja baru Keylara ketahui akhir-akhir ini semenjak kedatangan Aryanaka. Jujur, Keylara benar-benar tak menyangka bahwa selama ini Zianna memang berniat untuk tidak membuka diri dengannya.
"Nyokap Lo tadi. Beeuuh ... anggun abis, Zi. Lembut begitu. Beda banget sama emak gue yang doyannya ngereog." Ujar Keylara antusias.
"Eh, di figura ruang tamu tadi, ada foto Lo sama nyokap bokap Lo, kan? Terus yang cowok satunya itu ... kakak Lo atau adek lo?" Tanya Keylara dengan tatapan mata tertarik. Maklum, gadis hiperaktif satu ini memang tak akan tinggal diam bila melihat hal yang ia anggap menarik sedikit saja.
"Kakak gue." Jawab Zianna lugas.
Jujur, sebenarnya Zianna malas menyebut hubungannya dengan Alshad yang bahkan jauh lebih biadab dari kaum raja Firaun sekalipun.
"Ganteng, Zi. Kenalin sama gue dong!"
Zianna sontak memasang raut ingin muntah mendengar ucapan itu. "Mata Lo dibenerin dulu deh, Key. Pantat wajan aja jauh lebih mulus ketimbang muka dia."
"Ah, Zi. Kayaknya mah mata Lo deh yang bermasalah. Muka spek Lin Yi begitu Lo bilang lebih buruk dari pantat wajan. Lo stres apa gila?" Tukas Keylara tak percaya.
Zianna sontak saja memutar bola mata malas. "Gue lebih percaya kalo kera lebih cakep dari muka dia. Kasian Lin Yi kalo Lo samain sama dia, Key." Tangannya bergerak membuka pintu kamar. Dan terpampanglah nuansa kamar Zianna yang amat hidup dan ceria. Berbeda jauh dengan imagenya di sekolah yang terkenal judes.
Lagi-lagi Keylara berdecak takjub, "Lo di luar dugaan, Zi."
Zianna tak menyahut, memilih menghampiri ranjangnya dan merebahkan diri disana. Membiarkan gadis hiperaktif itu mengelilingi kamarnya dengan sesuka hati.
Tatapan Keylara mengedar ke sekeliling kamar, banyak sekali foto-foto yang tertempel. Hingga netranya terhenti di salah satu foto dengan objek yang hampir sama dari sebagian besar foto yang ada disana.
Foto dua anak laki-laki beserta satu gadis kecil bersamanya.
"Ini foto Lo, sama siapa aja?" Tanya Keylara penasaran.
"Aryanaka." Sahut Zianna tanpa menoleh. Ia lebih memilih memainkan handphonenya dengan tenang.
"Yang satunya?"
Zianna memutar bola matanya jengah, "Otak Lo gak sebodoh itu, by the way."
Keylara menyengir sekilas, "Kakak Lo, Kan?" Ia berjalan menghampiri Zianna dan meloncat ke atas ranjang gadis itu. Membuat ranjang bergoyang keras. Zianna sampai berdecak dibuatnya.
__ADS_1
"Kalian gemoy banget deh waktu bocil. Gue pas bocil gitu juga gak, ya?"
Pandangan Zianna seketika tertoleh menatap Keylara, "Pertanyaan Lo kaya gak pernah ngerasain masa kecil aja."
Ucapan Zianna yang sebenarnya hanya berniat becanda itu dibalas tawa culas dari Keylara. "Gue emang gak tau masa kecil gue gimana, Zi."
Dahi Zianna mengeryit mendengar itu, matanya memandang wajah Keylara yang tengah menatap langit-langit kamarnya. Keylara yang merasa ditatap lantas ikut menoleh menatap Zianna. Ia mengulum senyum sejemang.
"Pengen denger sebuah cerita?"
***
"Gue bener-bener gak ngerti, yang gue inget cuma gue udah SMP, terus tinggal sama mami papi sampai sekarang. Udah, gitu aja."
Zianna terpekur. Ia memandang Keylara lekat-lekat. "Lo, gak ngecoba buat nyari tau?"
Keylara tertawa culas, "Di rumah bahkan gak ada jejak apa-apa, Zi. Foto gue pas kecil aja gak ada sedikitpun. Gue sampai heran, buat apa gitu nyembunyiin masa kecil gue?"
"Setiap gue ngecoba minta penjelasan sama mami, jawabannya cuma, gak usah diingat, nanti kamu sakit lagi. Emangnya gue sakit apa dah?"
Zianna sontak terkejut sekejap, "Serius?"
Keylara terkekeh, lantas mengangguk, "Makanya, sekali-sekali Lo ke rumah gue dong. Katanya sahabat. Ke rumah sahabatnya aja masa gak pernah." Kelakar Keylara santai seperti tak ada beban sedikitpun. Padahal baru saja dia menceritakan hal pilu dalam di hidupnya. Zianna benar-benar takjub.
"Lo mau sampai kapan disini, udah mau malam, nih." Ujar Zianna dengan nada mengusir.
"Mau malam apaan. Baru juga jam tiga. Gue gak mau pulang sebelum gue ngelihat bokap sama kakak Lo yang ganteng itu. By the way, bokap Lo lumayan keren juga."
Zianna melihat jam dinding yang ada di kamarnya, "Udah jam segini, mustahil kalau Alshad belum pulang."
"Ohh, jadi nama kakak Lo itu Alshad?" Tanya Keylara girang.
Zianna memutar bola matanya malas dibuatnya, "Turun aja, ayo. Gue pengen minum susu kotak."
Keylara lekas mengangguk cepat. Sepertinya Ia begitu bersemangat ingin bertemu dengan kakak dari Zianna ini. Sungguh, di luar nalar.
***
Zianna menuruni tangga dengan tenang. Berbanding terbalik dengan Keylara yang sudah antusias setengah mati lantaran tak sabar ingin bertemu dengan kakak dari Zianna as known as Alshad Cakra Radiandra itu.
Terdengar suara ramai dari bawah. Benar dugaan Zianna bahwa Alshad memang sudah pulang.
Lihatlah di bawah sana, tiga lelaki tengah ribut bermain PS bersama. Sampah snack dimana-mana, ada remahan biskuit juga kulit kacang yang beterbaran.
Zianna menghela nafasnya kasar. Astaga, apakah lelaki memang seberantakan ini?
Keylara yang mulanya berjalan di belakang Zianna sigap mendahului gadis itu guna menghampiri perkumpulan tiga lelaki yang tengah becanda ria sambil bermain di bawah sana.
Zianna yang melihat kelakuan sahabatnya hanya menggeleng samar.
__ADS_1
Semangat sekali.
"Wiih, seru banget. Lagi pada ngapain, nih?" Tanya Keylara sok asik. Berjalan perlahan menuju tempat dimana ketiga lelaki itu berada.
Kevandra memandang kedatangan gadisnya dengan senyum lembut. Sedangkan Aryanaka hanya memandangnya sekilas, karena netranya lebih berminat menatap wajah manis nan canting Anna-nya yang juga tengah memandangnya dengan tenang.
Alshad yang juga menyadari kedatangan gadis asing dirumahnya pun meninggikan sebelah alis. Siapa gadis sok asik ini?
"Dia Keylara, temen gue. Pacarnya cowok yang ada di samping Lo." Ujar Zianna seakan menjawab pertanyaan di balik wajah penasaran sang kakak.
Alshad hanya mengangguk dan ber oh saja. Toh, ia juga tak berminat mengenal gadis ini lebih jauh. Teman adiknya ini terlihat seperti makhluk yang harus diwaspadai. Maksudnya, ia mungkin tak akan tenang dengan sifat gadis ini yang terlihat lebih bar bar ketimbang adiknya.
Keylara yang mendengar pertanyaan itu sontak berbinar kegirangan, "Hei, bang. Nama Lo siapa?" Tanyanya sekeren mungkin. Ia meletakkan letak bajunya agar kembali rapi setelah berguling-guling di ranjang Zianna tadi.
"Alshad." Jawab Alshad seadanya.
Berbeda dengan raut Aryanaka yang tak enak saat Keylara bertanya namanya dulu, Alshad ini lebih kelihatan bersahabat.
"Gue baru tahu kalo Zianna beneran punya teman." Celetuk Alshad menertawakan Zianna. "Kasihan sama temannya, pasti tertekan punya teman kaya Zianna." Lanjutnya makin kurang ajar.
Membuat muka Zianna memerah lantaran menahan kesal.
Bugh!
"Lo gak usah cari gara-gara sama gue ya, Sat. Gue aduin papa mampus Lo kena pukul!" Sentak Zianna yang tak terima akan ucapan Alshad barusan. Tangannya kembali melempar sebuah bantal ke arah sang kakak dengan kasar.
***
"Gue pulang dulu ya, Zi." Tutur Kevandra lantas menarik lengan Keylara guna ia ajak pergi. Sedari tadi, kekasihnya ini tak ada henti mengganggu kakak Zianna. "Ayo, ay." Ajaknya sembari mengulurkan tangan ke arah gadisnya.
Selain membuatnya cemburu, kevandra juga jadi sedikit malu. Gadisnya yang hiperaktif ini kalau tidak segera diamanin takut makin kelepasan.
Zianna yang sedari tadi hanya duduk tenang lantas menarik sebuah senyuman kecil, kelakuan sahabatnya ini kadang membuatnya merasa terhibur. Walaupun lebih sering membuatnya kesal, sih.
Zianna menganggukkan kepalanya tanda menyetujui, dagunya menunjuk ke arah Keylara. "Di jaga tuh ceweknya biar gak lepas kendali." Ujarnya diakhiri dengan kekehan.
Keylara mencebik kesal dibuatnya, tapi rautnya kembali mengukir senyum lebar kala pandangannya jatuh ke arah Alshad, "Gue pulang dulu ya, Kak. Kapan-kapan gue main kesini lagi kok. Jangan kangen." Celetuknya sembari menepuk pelan bahu Alshad.
Aryanaka yang sejatinya memang sudah jengah dengan kelakuan sahabat Anna-nya itu benar-benar tak habis pikir. Bisa-bisanya ada orang yang menggoda lelaki lain di depan pacarnya secara terang-terangan.
"Lo buruan tobat deh, Key. Lo kudu ingat kalau Lo udah punya pacar." Ujar Zianna memandang sahabatnya itu, "Cowok mana lagi coba yang paling sabar ngadepin kelakuan ceweknya yang kebangetan kaya lo kalau bukan Kevandra." Lanjutnya membuat Kevandra berdehem bangga lantaran merasa dipuji.
Keylara mengibaskan tangannya di depan Zianna sembari menggeleng, "jangan puji cowok kiyowonya gue, Zi. Nanti dia gede kepala." Ujarnya dihadiahi pelototan mata dari Kevandra.
"Becanda, ay." Cengir Keylara lekas menyambut uluran kevandra dan membawanya keluar, "gue pulang ya, Zi. Cowok gue udah mau jadi arang saking kebakarnya." Kelakarnya lalu tertawa.
–to be continue–
Ini super santai, gak ada hal penting apapun disini. Maybe, cuma kisah Keylara yang agak aku bikin jadi beban part kali ini.
__ADS_1
Tapi semoga tetap dapat menghibur.