
Aryanaka memandang gedung pencakar langit yang ada di hadapannya. Gedung yang telah resmi menjadi miliknya sebagai pewaris sah Wisnuwardhana.
Berjalan masuk ke dalam gedung perusahaan tersebut dengan tenang tanpa ekspresi. Sesekali menganggukkan kepala kepada orang-orang yang membungkukkan sedikit badannya guna memberi hormat.
Aryanaka menaiki lift menuju lantai paling atas gedung itu. Lantai dimana ruangan petinggi perusahaan berada.
Jayadipura.
Melangkah santai menuju ruangan ayahnya dan tanpa mengetuk pintu ia masuk begitu saja.
Aryanaka memandang di depan sana. Sang ayah terlihat tengah mengurut kepala lantaran tumpukan dokumen yang tak ada habisnya ia kerjakan.
Jayadipura terperanjat kaget melihat kedatangan Aryanaka, ia mengelus dadanya pelan. Ia pikir siapa.
"Bagus kamu baru datang kesini hari ini. Lihatlah aku yang begitu pusing mengurus semua tanggung jawabmu yang ternyata tidak tanggung-tanggung ini." Celoteh Jayadipura begitu Aryanaka sampai di hadapannya.
Aryanaka terkekeh, "Semua aman kan, Yah?"
Jayadipura terdiam. "Yogaswara."
Aryanaka mengeryit tak mengerti.
"Yogaswara memaksa menarik saham yang ia tanam di Wisnuwardhana karena dianggap tak menguntungkan."
"Berapa saham yang dia tanam?"
Jayadipura menghela nafasnya, "Delapan persen." Lalu kembali melanjutkan, "Juga ingin memutus kerja sama antara Yogaswara corp dan Wisnuwardhana corporations."
"Apa dengan kehilangan delapan persen saham, kestabilan Wisnuwardhana corporations akan terganggu?"
"Delapan persen itu tidak sedikit, Narantaka. Kita tetap akan rugi."
Aryanaka mengurut pelipisnya yang mulai merasa pusing, "Yogaswara itu siapa?"
Wajah Jayadipura mendatar seketika, "Memang benar kamu tidak mengurus tanggungjawab ini dulu. Rekan kerja saja tidak ada yang diketahui." Kesalnya.
"Yogaswara corp, itu nama perusahaan pusat mereka, penyumbang tenaga kerja berkualitas tinggi untuk Wisnuwardhana corporations. Jika Yogaswara memutus kerja sama, kita akan kehilangan pasokan tenaga kerja. Tenaga kerja berkualitas itu sulit untuk dicari, Narantaka."
***
Aryanaka mengurut pelipisnya pelan. Ia sudah pusing tujuh turunan perihal bagaimana caranya agar bisa menaungi amanah Permadi dengan baik dan benar. Sekarang malah ditambahi oleh si Yogaswara yang bersikeras memutus kerja sama dengan Wisnuwardhana.
Sampai berakhirlah sekarang dia disini, di sebuah pertemuan beserta petinggi Yogaswara corp. Dengan tujuan, meyakinkan kembali agar Yogaswara tidak memutus kerja sama ini.
Petinggi Yogaswara corp, atau bisa kita sebut sebagai Kalingga Yogaswara. Saat ini tengah duduk di depan Aryanaka dengan wibawanya yang begitu kental.
"Aku tak menyangka bahwa ternyata kau masih begitu muda." Kelakar Kalingga sembari menumpu kedua tangannya di paha.
Aryanaka tertawa tipis, "Saya juga masih tengah belajar Pak Yogaswara."
Kalingga tergelak, "Panggil saja aku Kalingga, tak perlu dengan marga." Tuturnya. "Ku dengar, kau seumuran dengan putriku."
Aryanaka mengeryit, tak paham siapa yang Kalingga maksud, namun dia tetap mengangguk. "Mungkin begitu."
"Kau bertanya apa alasanku ingin memutus kerja sama antara perusahaanku dengan perusahaan kakekmu, bukan?"
Aryanaka mengangguk, "Sebenarnya, saya masih belum mengerti. Saya memang belum tahu menahu perihal Wisnuwardhana corporations dengan dalam, namun saya benar-benar belum mengerti mengapa anda ingin memutus kerja sama ini disaat tidak sedang terjadi masalah apapun. Maksud saya, kerja sama ini masih berjalan dengan baik-baik saja. Mengapa ingin diputus?"
Kalingga tersenyum, "Seperti yang kau katakan, kau belum tahu menahu tentang perusahaan kakekmu dengan dalam. Juga, ayahmu itu sebagai petinggi perusahaan yang baru apakah bisa kami percaya? Bagaimana kami bisa melanjutkan kerja sama ini disaat kalian belum terlihat meyakinkan?" Ujarnya lugas, tanpa rem dan tanpa penyaringan.
__ADS_1
"Aku pribadi sebagai petinggi Yogaswara corp, ingin jujur kalau kau dan Jayadipura belum bisa kami percaya. Semua ini tidak sesederhana yang kamu pikirkan, Narantaka." Lanjutnya.
Aryanaka turut tersenyum mendengar itu, "Seperti yang anda katakan, anda adalah petinggi sebuah perusahaan. Dan sebagai seorang petinggi, bukankah seharusnya Anda tahu bagaimana seseorang rekan kerja yang dapat dipercaya dan tidak dapat dipercaya? Lantas, bagaimana Yogaswara corp merekrut tenaga kerja yang berkualitas dan dapat dipercaya disaat mempercayai rekan kerja saja ia belum bisa?"
Skak mat.
"Dari sekian banyaknya mitra kerja Wisnuwardhana corporations, tak ada satupun dari mereka yang mengkomplain hasil kerja ayah dan saya. Semua baik-baik saja. Justru, laba yang kami dapat dan yang mereka terima meningkat setiap waktu dan masanya. Lantas, cela mana yang membuat anda belum mempercayai kami?"
Kalingga tergelak. Ia benar-benar kalah telak.
Kalingga takjub.
"Kamu benar-benar diluar dugaan saya, Narantaka."
***
"Serius?"
Aryanaka mengangguk santai sembari memakan bakwan buatan Nertaja disaat Zianna bertanya padanya dengan pandangan tak percaya.
"Si Yogaswara itu gak jadi mutus kerja sama cuma gara-gara omongan Lo yang gak seberapa itu?"
Aryanaka sontak saja melirik sinis. Apanya yang gak seberapa? Dia bahkan sangat bekerja keras bertarung dengan mental untuk mengucapkan kata-kata itu.
Dibanding dengan Kalingga, Aryanaka benar-benar tidak ada apa-apanya. Setidaknya ia bisa sedikit bangga kalau dia sedikit memiliki publik speaking yang bagus dan beberapa kali memenangkan perlombaan debat antar sekolah sehingga ia bisa memainkan lidahnya dengan lancar ketika menghadapi Kalingga tadi.
Alshad yang mendengar pertanyaan bodoh sang adik lantas melempar sebuah kacang ke kepala sang adik, membuat Zianna mengaduh.
"Ngomong begitu sama petinggi perusahaan gede tuh gak mudah, anjir. Gue bahkan gak yakin kalau mental Lo bakalan bisa kuat kaya Naka pas ngadepin orang penting kaya Yogaswara." Celetuk Alshad pada sang adik.
Zianna menye-menye mendengar itu. Yah, ia tahu betul bahwa itu termasuk pencapaian baik bagi Aryanaka. Juga, hal tersebut sangat berdampak untuk kelangsungan Wisnuwardhana corporations kedepannya.
Dan Zianna bangga akan itu.
"Ar, karena Lo udah berhasil ngebujuk Yogaswara corp buat gak mutus kerja sama, harusnya Lo neraktir gue dong." Celetuk Zianna sembari menaik turunkan sebelah alis.
"Gue juga, gue juga!" Seru Alshad dengan mengangkat telunjuknya heboh.
Aryanaka memandang keduanya dengan aneh, "Gue gak bawa duit." Tuturnya.
Zianna mendelik, "Pendusta!" Serunya.
Alshad yang juga tak percaya dengan ucapan Aryanaka barusan sontak saja menyambar cowok itu dan menggeledahi saku pakaiannya.
Zianna bersorak, "Bagus Al!"
Aryanaka yang terkejut dengan gerakan tiba-tiba Alshad yang menggerayanginya pun memberontak panik, "Anjing, jangan *****-***** gue!"
"Ketemu!" Seru Alshad sembari mengangkat tinggi-tinggi dompet kulit yang baru saja ia temukan di saku celana belakang Aryanaka.
Zianna menyambar dompet itu dan menggeledahi isinya, "Wow." Zianna berseru takjub, lantas memperlihatkan isi dompet itu pada Alshad yang sudah begitu antusias dengan isinya.
"Gak ada duitnya."
Wajah Alshad mendatar, menyahut dompet itu dengan kasar dari tangan sang adik. Melihat kembali isi dompet itu.
Memang tidak ada duitnya.
Tapi mata Alshad membelalak tatkala netranya terpaku pada sebuah benda yang ada di dalamnya.
__ADS_1
"Anjir, black card!"
***
Aryanaka memandang jengah kedua kakak dan adik yang begitu girang setelah keduanya mendapatkan apa yang mereka mau.
Ya.
Memeras Aryanaka.
Di tangan Zianna sudah banyak berbagai macam susu kotak yang ia borong di supermarket tadi. Begitu pula dengan Alshad yang tak henti-hentinya mengambil apapun dengan asal di supermarket.
Aryanaka bahkan heran kala ia melihat Alshad mengambil berbagai jenis makanan pokok seperti beras, tepung, minyak goreng dan lain-lain.
Ketika ditanya, ia hanya akan menyengir dan menjawab, "Lumayan, buat Mama."
Tidak terbayang bagaimana harga diri Girtaja sebagai penafkah keluarga kalau melihat kelakuan putranya hari ini.
Ketika tengah asyik memasukkan jajanan ke dalam troli, mereka dikejutkan oleh kedatangan seorang gadis yang menghampiri mereka.
"Hallo kak Naka." Sapa gadis itu riang.
Bisa kalian tebak dia siapa?
Aryanaka mengeryit melihat gadis ini. Sebentar, sebentar. Agaknya Aryanaka sedikit lupa dengan namanya.
"Lo lagi belanja juga, kak? Nyari apa?" Tanya gadis itu.
Zianna menelisik ke arah gadis itu yang ternyata adalah si murid baru!
Sok akrab! Batinnya mengumpat.
Dengan sengaja ia mendekat dan menggandeng lengan Aryanaka. Menempelinya seperti ulat, "Arya, ayo kita bayar." Ucapnya, pura-pura tak melihat kehadiran gadis itu.
Namun seketika matanya menatap si gadis, lantas ia pura-pura terkejut, "Lo si murid baru itu, ya? Lagi belanja juga?"
Seketika wajah murid baru itu mengeryit kesal memandang Zianna. Batinnya bertanya, siapa perempuan yang menempeli Aryanaka ini?
"Iya." Jawabnya dengan nada tak ramah. Ia lalu menoleh menatap Aryanaka, seketika tersenyum, "gue kesana dulu ya, kak. Bye, sampai ketemu lagi." Ujarnya sambil melambaikan tangan ke arah Aryanaka dan berlalu pergi.
Bahunya sedikit menyenggol bahu Zianna tatkala gadis itu melewatinya. Zianna melotot terkejut. Ia berbalik menatap kepergian gadis itu, tangannya ia kepalkan dan di arahkan ke depan dengan kesal.
Dasar menyebalkan!
Aryanaka terkekeh melihat kekesalan itu, tangannya tergerak merangkul Zianna untuk melanjutkan kegiatan memerasnya.
Aryanaka baru ingat, kalau gadis yang tadi itu ...
Bernama Nadine.
–to be continue–
Minggu depan aku menjalani ASPD pengganti UN. Jujur, aku sedikit ketar-ketir dengan itu. Namun mau bagaimanapun juga, aku harus tetap menghadapinya, kan?
Pun, tinggal Minggu depan aku sekolah disana. Aku harus meninggalkan kesan baik dengan mendapatkan hasil ASPD yang memuaskan. Karena kalau tidak, selain tidak akan mengesankan, hasil yang tidak memuaskan akan menimbulkan banyak kekecewaan bagi orang-orang yang menaruh harapan besar pada diriku.
Aku tidak mau itu terjadi.
Jadi, mohon doanya ya teman-teman.
__ADS_1
See ya❤️