AryAnna: An Eternal Story

AryAnna: An Eternal Story
Nertaja sang pengobat rindu


__ADS_3

Zianna menggeram berkali-kali kala tangan Aryanaka tak henti-hentinya mencolekakn busa dari sabun cuci piring ke arah pipinya.


Saat ini, kedua sejoli ini tengah mencuci piring bekas mereka makan siang tadi beserta alat-alat yang telah Aryanaka gunakan untuk memasak.


Berkali-kali Aryanaka mengganggu Zianna dengan mencolek-colekkan busa ke bagian muka manapun milik Zianna. Membuat Zianna berteriak kesal.


Zianna menepis tangan Aryanaka dari pipinya, "Lo bisa diem, gak, siihh?!" Teriaknya.


"Mau gue guyur pake mama lemon apa gimana?!"


Aryanaka tergelak keras, menunjuk wajah Zianna, "Muka Lo lucu tuh, putih-putih."


Zianna mencebik kesal, ingin meraup wajahnya sendiri tapi tangannya saja juga penuh akan busa karena tengah mencuci. Aryanaka yang tugasnya hanya membilas saja malah asik bermain busa. Dasar!


Aryanaka lagi-lagi ingin mencolekkan busa ke wajah mungil Zianna, Zianna yang terlampau kesal lekas saja meraupkan tangannya yang penuh busa pada wajah Aryanaka. Membuat Aryanaka berteriak dan meringis lantaran busa yang sedikit masuk de dalam mata.


Rasakan!


"Aduh, Na. Perih nih, mata gue perihh." Aryanaka kelimpungan sendiri.


Zianna tertawa mengejek dibuatnya, "Syukurin!"


"Bantuin, woi!" Teriak Aryanaka yang sepertinya benar-benar kesakitan. Matanya tertutup dan kedua tangannya meraba-raba ke sembarang arah guna mencari sesuatu untuk meredakan rasa perih pada matanya.


"Anjing, kran gue kemana?" Dengan mata tertutupnya Aryanaka mengumpat.


Zianna yang awalnya menertawakan pun menghentikan tawanya. Lama-lama ia jadi tak tega. Ia lekas mencuci tangannya dan membasuh wajah Aryanaka berkali-kali.


"Masih perih, gak?"


Mata Aryanaka mengerjap-erjap, menyesuaikan kembali cahaya yang perlahan masuk, tapi matanya kembali tertutup kala rasa perih kembali bersemayam, "Ck! Masih, nih."


Zianna lantas kembali membasuh mata Aryanaka. Duhh, dia jadi merasa bersalah. Tapi, sesekali membalas perlakuan menyebalkan dari Aryanaka tidak ada salahnya, kan?


***


Aryanaka melipat kedua tangannya di depan dada. Ia duduk di atas ranjangnya dengan wajah kusut. Menyeramkan sekali.


Selepas tragedi busa sabun cuci yang masuk ke mata tadi, mulut Aryanaka sama sekali tak bersuara. Aryanaka merajuk. Matanya masih sedikit perih sekarang, juga menjadi agak merah.


Zianna yang baru saja membelikan obat tetes mata berjalan kaku ke arah Aryanaka. Ia meneguk ludahnya kasar, muka Aryanaka sungguh sangat menyeramkan. Gelap sekali seperti langit yang tengah mendung.


"Ini obat tetes matanya, tuan." Ujar Zianna sedikit berjenaka. Ia berharap Aryanaka tidak menerkamnya sekarang.


Aryanaka memandang Zianna sinis, namun hanya sekilas lantaran mata yang kembali perih. "Tetesin ke mata gue. Gue gak bisa!" Sahut Aryanaka sedikit ketus.


Dengan segera Zianna menuruti perintah itu. Oke, anggap ini sebegai penebus rasa bersalah.


"Lo baring dulu." Titah Zianna pada Aryanaka.


Tanpa menyahut Aryanaka lekas membaringkan tubuhnya di atas ranjang, lalu memejamkan mata.

__ADS_1


"Heh, ini gimana gue netesinnya kalo mata Lo aja ketutup?!" Sentak Zianna kesal. Bagaimana, sih Aryanaka ini?


Aryanaka mendengus pelan, namun tetap membuka mata setelahnya, ekspresinya sedikit was-was, "pelan-pelan, aja." Peringatnya.


"Iya-iya, ini juga mau pelan-pelan."


Dengan penuh kehati-hatian, Zianna membuka tutup botol kecil itu dan mengarahkannya pada mata Aryanaka. Menekan botol kecil itu pelan dan menunggunya hingga menetes.


"Udah belum?" Tanya Aryanaka gelisah. Agaknya ia sedikit takut. Juga, mata perihnya menjadi semakin perih lantaran terus terbuka menunggu obat itu menetes.


"Kok gak netes-netes?" Tanyanya tak sabar.


Zianna menggumam, "Iya, kok gak netes-netes, ya?" Ia lalu memandang botol itu lamat-lamat, kemudian tersadar.


"Oh, gue lupa. Botolnya musti di bolong dulu bagian atasnya." Sahutnya santai lalu beranjak guna mencari jarum.


"Monyet!" Umpat Aryanaka dari tempatnya. Matanya perih sekali, bung!


"Hehe, udah nih." Zianna lekas kembali menghampiri Aryanaka. Dengan pelan-pelan ia mengarahkan botol itu ke arah mata Aryanaka dan menekannya.


Berhasil.


Mata sebelah kanan beres.


Sekarang tinggal yang sebelah kiri. Tapi sepertinya Aryanaka masih belum terbiasa dengan tetesan ini. Cowok itu mengerjap-erjapkan matanya berkali-kali.


"Jangan ngerjep-ngerjep, dong. Kalo habis ditetesin, tuh di pejamin." Peringat Zianna.


Aryanaka mendengus gusar, "iya-iya!"


***


Aryanaka mendekap tubuh Zianna erat-erat setelah Zianna selesai mengobati matanya. Pasalnya, sekarang Zianna sudah ingin pulang. Dan ia tidak akan memperbolehkan itu terjadi.


Guna mencegah Zianna, Aryanaka lantas saja mendekap tubuh gadis mungil itu. Tak mengizinkannya untuk bergerak sedikitpun.


"Jangan pulang dulu."


Zianna mengerang kesal, "Keylara udah nungguin di rumah, Arya. Mau ngasih catatan pelajaran hari ini." Jelasnya supaya Aryanaka mengerti.


Tapi sepertinya kepala keras Aryanaka itu tidak memperdulikan ucapannya sama sekali. Ia malah makin mendekap Zianna dengan erat.


"Halah. Kan tinggal dititipin, Lo gak perlu pulang." Sangkal Aryanaka.


"Gue ada urusan sama dia."


"Urusan apa?" Tanya Aryanaka tak mau kalah.


Zianna memandang Aryanaka kesal, "Urusan cewek! Lo gak usah kepo."


"Urusan cewek kok dia bawa cowoknya juga?!"

__ADS_1


Zianna terkejut dibuatnya, "Gak usah sok tahu!"


"Tahu! Orang gue juga lihat chat dia ke elo." Sahut Aryanaka.


Zianna melototkan matanya pada Aryanaka, "Tukang ngintip!" Serunya.


"Biarin!"


***


Karena Aryanaka yang tak mau ditinggal, maka membawa Aryanaka adalah pilihan Zianna sekarang. Ya, sudahlah. Daripada ia tertahan di rumah Arya-nya yang tersayang ini dan tak berhasil menemui Keylara, maka dia akan membawa Aryanaka ke rumahnya saja.


Dasar!


Zianna juga tak mengerti kenapa Aryanaka jadi serewel ini. Padahal, biasanya juga tidak. Zianna sedikit memaklumi, karena pada dasarnya, suasana hati Aryanaka belum sepenuhnya pulih. Ia hanya tak mau ditinggal pergi lagi. Ia tak mau kehilangan lagi.


"Assalamualaikum," salam Zianna dan Aryanaka sembari membuka pintu rumah Zianna.


"Waalaikumussalam." Terdengar sahutan dari dalam.


Zianna lekas menghampiri. Diikuti Aryanaka di belakangnya. Ternyata di ruang tamu memang sudah ada Keylara dan kevandra yang menunggu dengan ditemani Nertaja sembari mengobrol ringan.


Zianna menyalimi tangan sang mama, begitu pula Aryanaka. Ia lantas mengkode ke arah Keylara supaya mengikutinya keatas, menuju kamarnya. Keylara yang mengerti langsung saja beranjak dan mengikutinya. Namun sebelum itu ia menepuk paha sang kekasih guna memberi tahu. Kevandra hanya mengangguk membalasnya, seolah paham.


Aryanaka yang melihat itu sontak saja mengeryit. Tak paham akan apa yang sebenarnya terjadi. Serahasia apa, sih urusan cewek itu?


"Aryanaka,"


Panggilan dari Nertaja itu sontak membuat Aryanaka kembali pada kesadaran. Mengerjap pelan, ia menatap Nertaja, "iya, ma?"


"Aryanaka sudah makan?"


Terpekur sejemang, Aryanaka lantas mengulas sebuah senyuman. Sifat dan sikap Nertaja benar-benar tak jauh beda dari Rengganis, membuatnya merasa nyaman. Membuat kerinduan pada sang bunda sedikit terobati dengan adanya Nertaja.


Dengn senyumannya Aryanaka menjawab, "Tadi udah."


Nertaja turut tersenyum lembut dibuatnya, ia sedikit merasa lega. Kendati raut muka Aryanaka terlihat baik-baik saja, tapi dapat terlihat dari sorot mata kelu dan kantung matanya yang amat kentara sama sekali tak bisa ikut berbohong. Hal itu justru makin memperlihatkan bahwa sejatinya Aryanaka benar-benar belum sepenuhnya pulih dari dukanya.


Melihat senyuman lembut Nertaja, Aryanaka sungguh sangat merasa bersyukur. Setidaknya masih ada orang yang benar-benar peduli dengannya, juga pada ayahnya.


Memikirkan itu, ia jadi teringat Ayahnya. Jayadipura pasti sedang pusing mengurus perusahaannya sekarang. Biarlah, siapa tahu dengan bekerja begini, duda anak satu itu jadi bisa sedikit mengenyahkan duka yang masih melekat.


Aryanaka terkekeh dalam hati. Duda anak satu, ya?


–to be continue–


Hufft ... Jujur, ini random banget. Aku cuma nulis apa yang pengen aku tulis. Karena yang aku pikirin cuma, part ini harus selesai bagaimanapun alurnya.


Dan, ya. Sedikit curhat, hari ini adalah last day menuju ujian kelulusanku. Bener-bener berekspektasi tinggi banget sama hasilnya, karena gak cuma ekspektasiku saja yang aku bawa, tapi ekspetasi orang-orang di sekitar aku juga.


Makanya aku berharap kalau, hasil dari harapan ini gak mengecewakanku sama sekali. Cita-citaku yang lumayan tinggi bener-bener bergantung sama hasil ujian kali ini.

__ADS_1


So, siapapun yang baca part ini, please ... Bantu doakan aku agar hasilnya sesuai sama yang aku impikan, ya!


Thanks, and See ya teman-teman❤️


__ADS_2