AryAnna: An Eternal Story

AryAnna: An Eternal Story
Tentang perasaan, pengakuan, dan bukti


__ADS_3

tandai bila ada typo❤️


"Wih, seru banget, nih. Join dong!" Seru Zio yang baru saja datang dengan bola basket serta seragam olahraga yang melekat ditubuhnya.


Mendudukkan diri disamping Aryanaka, dengan sengaja merangkulkan tangan penuh peluh di bahu cowok itu. Membuat Aryanaka menyentaknya kuat, "Keringat Lo anjir!"


Zio menaikkan sebelah alisnya songong, "Wangi, kan? Keringat mahal, nih!"


"Najis!"


Membuat ketiga orang yang menyaksikan itu kompak menahan tawa. Kedua cowok itu jika bertemu tak henti-hentinya bertengkar mulut. Seperti, tak ada habisnya suasana sengit diantara keduanya.


"Zianna~" panggil Zio dengan nada mengalun. Membuat Zianna bergidik.


Zio berdecak pelan sambil menggelengkan kepalanya, lantas menoleh menatap Keylara, "Key, sahabat Lo ini sehebat apa, sih? Dia diem aja, gue stres." Celetuknya.


Alis Aryanaka sudah menukik menahan kekesalan. Sudah, Zio ini memang pantas diberi penghargaan sebagai manusia paling hebat dalam menaikkan tensi orang lain seperti Aryanaka.


"Zia, kalau gue ini buah. Menurut Lo buah apa yang cocok jadi gue?" Tanya Zio random sembari menaik turunkan alisnya keren.


Keylara dan Kevandra terkikik mendengar itu.


Jujur, Zio ini orangnya asik, kok. Meski agak menganggu. Tapi kalau diimbangi dengan orang yang sefrekuensi, Zianna yakin kalau mereka akan menjadi perpaduan yang sangat cocok menghibur hati orang lain.


Zianna terlihat berfikir, membuat Zio memandangnya tak sabar. Ia sudah kepedean setengah mati. Berharap Zianna mengatakan dirinya sebagai seseorang yang manis seperti buah. Atau, Zianna yang justru menjawabnya dengan kata-kata manis.


"Jadi, Zia, gue ini buah apa?"


"Durian."


"Pfft," Aryanaka, Keylara, Dan Kevandra kompak menahan tawa mereka.


Membuat Zio mendengus, "Kenapa durian?"


"Banyak durinya! Hahaha!" Seru keylara dan Kevandra bersamaan, lantas bertos menggunakan kedua tangan.


Kompak sekali.


Sangking kompaknya sampai membuat Zio harus mati-matian menahan kekesalan melihat tingkah pasangan itu. Netranya menoleh menatap Zianna meminta penjelasan. Namun yang ia lihat, Zianna malah turut menutup mulutnya menahan tawa.


Kala Zianna mengangkat kepalanya, dan pandangannya tak sengaja bertubrukan dengan Zio, Zianna lantas berdehem, "Sorry, maksud gue Lo kaya durian yang punya ciri khas sendiri."


"Gini, dimisalkan bau durian itu kaya tingkah Lo. Maksudnya tuh, kalau ada yang nggak suka, ya gak suka beneran. Tapi kalau ada yang suka, dia pasti bakalan suka banget, bahkan bisa sampai cinta mati."


Jawaban itu sontak membuat Zio mesam-mesem sendiri merasa kegeeran. "Jadi, Lo suka gak sama durian?"


"Nggak." Bukan Zianna yang menjawab, tapi Aryanaka. "Zianna gak suka sama baunya. Bikin muak." Lanjut Aryanaka dengan menekan dua kata terakhir.


Sangat kejam.


Membuat Zio melunturkan senyum, terganti dengan wajah datar. Karena secara tidak langsung, Aryanaka mengatakan kalau tingkahnya yang dimisalkan bau durian itu membuat Zianna muak.


Apakah tingkahnya memang sememuakkan itu?


Menyebalkan!


"Maaf, boleh ikut gabung, gak?"


Suara lembut seorang gadis lantas menghentikan keseruan mereka. Lekas mereka menoleh menatap sumber suara dari belakang kursi Zianna.


Si murid baru.


Alias Nadine.


Jduar!

__ADS_1


Nafsu makan Zianna hilang tersapu angin detik itu juga. Aryanaka abai. Sedangkan Keylara dan Kevandra hanya mampu tersenyum canggung. Terkecuali Zio yang terheran-heran melihat perubahan suasana yang tiba-tiba ini.


Dahinya mengernyit, "Ini orang bukannya yang digosipin sama Lo?" Bisiknya pada Aryanaka.


Membuat Aryanaka berdecak sebagai balasan. Enggan menjawab. Dan, seakan paham, maka zio tidak bertanya lagi. Sepertinya gosip itu memang menimbulkan kesalahpahaman pada sebagian orang sehingga membuat keempat orang yang duduk semeja dengannya ini merasa tak nyaman dengan si murid baru alias Nadine ini.


Melihat keempat orang itu tak punya niat untuk menjawab, maka ia saja yang akan angkat bicara. "Sorry, dek. Udah penuh. Bangku yang lain masih banyak yang kosong, anyway." Sahut Zio yang sebenarnya sangat kurang sopan.


Kata-kata itu seperti bermakna ganda. Dan, tentu saja salah jika menurut pembelajaran bahasa Indonesia. Kata-kata Zio ini, seperti mengatakan kalau tempat duduk mereka memang sudah penuh sehingga Nadine tidak bisa ikut bergabung. Tapi sebenarnya, makna dari ucapan Zio ini adalah, Nadine ini tidak diterima duduk disini, maka pergi saja, tidak usah bergabung dengan kami. Begitu.


Memang kejam, bukan?


Tapi tidak apa.


Zio los.


Terlihat, Nadine memaksakan senyuman, "Oh, iya kak. Maaf, ya."


Zio hanya mengangguk santai.


Dengan gerakan kaku Nadine berjalan meninggalkan meja itu, namun sebelum itu ia berhenti sejenak. Menarik sebuah senyuman manis menatap Aryanaka, "Kak Naka, dapat salam dari papa Lingga."


Kompak saja kelima orang di meja itu terdiam. Sedangkan Aryanaka hanya menarik senyum sejemang, "Makasih."


***


Keylara menggeleng-gelengkan kepalanya tak habis pikir setelah Nadine menjauh dari meja mereka. "Gila, halus banget."


"Apanya?"


"Taktiknya!"


Kevandra yang mendengar itu mengeryit bingung, "taktik apa?"


"Tingkahnya yang mana?" Kevandra turut menyerongkan badannya, "Tingkahnya yang nyari perhatian, atau ... dia yang ngedekatin Aryanaka pakai kode tersirat?"


Sontak saja Keylara berseru takjub, "Dua-duanya!" Lantas menakup kedua pipi Kevandra bangga, "Lo emang cowok gue, Ay."


Keylara kembali menyerongkan badannya ke tempat semula, menatap Aryanaka dengan serius. "Naka, Lo sadar 'kan kalau dia lagi berusaha buat ngedeketin Lo?" Tanya Keylara.


Aryanaka menghela nafasnya, sedangkan Zianna hanya memutar bola matanya malas. Hey, bisa hentikan pembahasan ini? Hati Zianna yang keruh menjadi makin gelap karenanya.


"Heh, gue setuju kalau Lo sama dia. Biar Zia sama gue aja." Celetuk Zio santai sembari menyeruput jus milik Aryanaka.


Membuat Aryanaka refleks menggeplak kepalanya, "Jus gue bego!"


"Alaah, nyomot dikit doang juga. Pelit amat Lo!" Seru zio tak terima.


"Jigong Lo anjir!"


"Jigong gue wangi, harusnya Lo bersyukur!"


"Najis! Minum semua aja sono!"


"Iya, Makasih!"


***


Semua orang mengakui, Nadine memang perempuan yang cantik. Perawakannya tinggi dengan tubuh yang proporsional. Wajah ovalnya dan terlihat lembut. Juga, perilakunya yang terlihat anggun seakan memenuhi kriteria fisik seluruh laki-laki yang ada di dunia ini.


Namun, persetan dengan itu. Karena dibanding segalanya yang Nadine miliki, Aryanaka akan lebih memilih Zianna. Hanya Zianna saja. Cukup hanya dengan Zianna disisinya. Tidak lebih maupun kurang.


"Gue gak peduli sama siapapun yang suka sama gue. Yah, gue akui gue ini memang ganteng tiada tanding. Tapi,"


Tunggu dulu, Zianna ingin memutar bola matanya malas sejenak mendengar kepercayaan setinggi langit milik Aryanaka itu.

__ADS_1


"Dengerin gue, Na. Mau berapapun orang yang suka sama gue, gue gak peduli. Karena yang gue mau cuma Lo. Bukan orang lain."


Aryanaka menarik kedua telapak tangan Zianna dan membawanya ke pangkuan. Menatap Zianna dalam, "Dengerin gue lagi. Karena gue gak akan ulangin kata-kata gue yang langka ini kalau Lo gak sengaja budeg." Ujarnya dengan serius.


Membuat Zianna terpekur sejemang. Batinnya terpaku. Seakan, kata yang akan Aryanaka ucapkan benar-benar akan membuatnya terkejut.


"Na, semua orang tahu kalau perasaan gak harus selalu ditunjukin lewat kata-kata. Karena kata-kata yang terucap belum tentu adalah kebenaran." Itu kalimat pembukaan dari pernyataan Aryanaka kali ini. Seakan membuat Zianna sadar dan dapat menebak apa yang akan dikatakan selanjutnya.


"Gue," Aryanaka menunjuk dirinya sendiri, "Gue jarang nyatain perasaan gue ke elo karena menurut gue, cinta itu gak cukup dengan pengakuan. Tapi bukti."


Tebakan Zianna salah. Karena dia berfikir, Aryanaka akan langsung menyatakan kalau Aryanaka mencintai dirinya. Tak dirasa kalau dia akan menjelaskan apa yang selama ini menjadi pertanyaan yang Zianna pendam lantaran dia merasa bahwa pertanyaan itu memang tidak penting.


"Na, gue pikir dengan gue ngasih bukti nyata kalau gue cinta banget sama Lo lewat tindakan itu udah cukup buat bikin semesta bungkam dan gak ngusik kita lagi. Tapi ternyata nggak," Aryanaka mengambil jeda dengan menarik nafas sejenak, lantas melanjutkan, "Kayanya semesta gak cukup dengan itu, Na. Semesta juga butuh pengakuan langsung dari gue secara nyata."


Aryanaka makin menatap Zianna yang terpaku dengan serius, "Lo harus selalu percaya sama gue. Karena tanpa gue bilang, perasaan gue ke Lo dari dulu sampai sekarang bakalan tetap sama. Gak akan berubah sedikitpun sama apapun dan siapapun. Gue," Aryanaka memejamkan matanya menarik nafas, guna mengatakan kata-kata langka yang akan ia keluarkan setelahnya.


"Gue cinta banget sama Lo, Na. Secinta dan sesayang itu sampai gue juga gak tau, rasa ini udah sebesar apa sekarang."


Entah sejak kapan, mata Zianna sudah berkaca-kaca sekarang."Arya, makasih—"


"Na, gue tahu ini terlalu berlebihan alias alay banget buat kita berdua. Tapi," Aryanaka menarik tangannya lantas menyembunyikan kepalanya di atas tekukan lutut, "astaga, Na. Gue musti gimana?" Erang Aryanaka dengan frustasinya.


Dengan air mata yang hampir menetes, Zianna terkekeh mendengar erangan itu. Mengusap sudut matanya yang berair, Zianna mengangkat kepala Aryanaka, lantas membawa tubuh itu dalam pelukannya.


"Makasih." Bisiknya, "Tanpa Lo bilang juga gue udah tahu. Gue ngerti dan gue juga sangat paham. Karena, gue juga sama kaya Lo."


Aryanaka melepas pelukan itu, memperbaiki posisi duduknya lantas kembali menatap Zianna, "Na—"


"Arya," sela Zianna, "gue juga jarang ngungkapin perasaan gue ke elo karena gue juga ngerasa kalau itu gak perlu. Yang penting kita saling tahu dan saling mengerti. Itu cukup. Tapi kayanya sekarang kita benar-benar harus nunjukin sama semesta." Jelas Zianna membuat Aryanaka terkesiap.


***


"Gue sebenarnya gak suka waktu Nadine mulai nunjukin tingkahnya yang ngedeketin Lo. Tapi yah, mau gimana lagi."


Aryanaka mengeryit, "Emangnya gue suka waktu di deketin sama dia? Ya nggak, Na." Serunya. "Lagian, 'mau gimana lagi' itu gimana maksud Lo?"


Zianna menghela nafasnya menatap Aryanaka, "Ar, perasaan seseorang itu hak milik diri seseorang masing-masing. Dan kita gak bisa menghakimi itu." Zianna mengambil jeda sejenak, "Soal perasaan Nadine ke elo, jujur gue juga gak terima. Tapi mau gimanapun, itu urusan dia. Dan kaya yang Lo bilang kemarin, kita gak punya ranah buat ikut campur sama urusan dia."


Aryanaka terkekeh geli mendengar itu, "Baru kali ini Lo berlapang dada soal beginian."


Perbincangan panjang yang diisi oleh pengakuan perasaan ini terjadi di atas gedung sekolah mereka. Well, rooftop sekolah lebih tepatnya.


Selepas dari kantin tadi, mereka mendapat pengumuman bahwa freeclass akan diperpanjang sampai istirahat kedua. Hal itu membuat siswa-siswi menjadi senang sekaligus malas. Jika akhirnya hanya akan jam kosong begini, mengapa tidak dipulangkan saja?


Atau maksudnya, kenapa mereka berangkat sekolah jika ujung-ujungnya hanya akan freeclass begini?


Dan, freeclass ini dimanfaatkan oleh Aryanaka dan Zianna untuk belajar mandiri diatas gedung sekolah. Sekaligus, bertukar pikiran dan menyatakan perasaan guna menghadapi permainan takdir yang semesta berikan.


"Ar, waktu Lo ada janji dinner sama Kalingga itu, Nadine ada nempel-nempelin Lo, gak?" Tanya Zianna asal namun aslinya juga penasaran. Tangan dan matanya fokus menulis jawaban latihan soal kala menanyakan itu.


Aryanaka yang tengah memainkan pensil dengan rautan berbentuk Dino Kuning milik Zianna lantas menghentikan aksinya, mengeryit geli, "Amit-amit. Dikira dia dedemit bisa nempelin orang? Mendingan juga ditempelin kekayaan!" Sahut Aryanaka dengan suara yang tak santai.


Sepertinya Aryanaka sudah menambahkan Nadine di list nama orang yang tidak disukainya. Sehingga ia akan menjadi sensitif bila nama orang itu diungkit.


"Yeee, santai dong. Gue kan cuma nanya. Lagian Lo 'kan udah kaya. Tanpa disuruh pun, kekayaan bakalan nempelin Lo mulu." Cibir Zianna.


"Amin." Sahut Aryanaka membuat Zianna terpaksa menerbitkan senyum sumbang.


Mereka lantas melanjutkan kegiatan belajar itu dengan santai, tenang, dan damai. Sampai akhirnya,


Brak!


"WOI, PARAH KALIAN BERDUAAN DISINI TANPA MELIBATKAN KITA!"


–to be continue–

__ADS_1


__ADS_2