
"PARAH KALIAN BERDUAAN DISINI TANPA MELIBATKAN KITA!"
Aryanaka dan Zianna kompak terlonjak kaget.
Aryanaka refleks mengelus dadanya, sedangkan Zianna mengurut pelipisnya selepas terkejut mendengar teriakan Keylara yang kelewat nyaring. Gadis itu dengan tak santainya membuka pintu rooftop menggunakan kekuatan penuh.
Zianna jadi khawatir kalau-kalau pintu itu jebol akibat ulah Keylara.
Dengan hebohnya Keylara menghampiri dua insan ini. Diikuti oleh Kevandra dan Zio dibelakangnya.
Ah Zio, padahal Keylara tidak pernah berniat untuk mengajaknya. Namun entah kesialan apa, selepas Keylara mengatakan kalau ia ingin mencari Zianna, Zio langsung mengikutinya kemana-mana. Katanya, dia mau ikut.
Sungguh, Keylara tak mengerti, daya tarik Zianna ini sebesar apa sih?
Aryanaka mendengus sebal melihat Zio menghampiri Zianna dengan menampilkan raut wajah tengil yang entah mengapa terlihat sangat menyebalkan dimata Aryanaka.
"Mau duduk dimana Lo?" Tanya Aryanaka was-was kala Zio benar-benar mendekat ke arah Zianna.
Oh tidak, ia mulai menyesal karena tidak duduk sebangku dengan Zianna tadi. Bangku yang ditempati Zianna sekarang tersisa satu tempat. Tentu saja zio akan duduk disana.
Zio memasang raut songongnya kala tubuhnya akan ia dudukkan disamping Zianna.
Mata Aryanaka menajam menatap Zio penuh peringatan, "Lo gak usah duduk disana ya anjir!"
Dagu zio terangkat angkuh, "emangnya ini bangku punya nenek moyang lo?"
Zianna menghela nafasnya mendengar prolog perdebatan itu, mangangkat tangannya guna menghentikan mulut Aryanaka yang terbuka hendak membalas ucapan Zio.
"Yo, Lo kalau mau duduk disini ya tinggal duduk aja. Gue mau pindah kesana." Tutur Zianna damai dengan menunjuk bangku disamping Keylara yang sudah diduduki Kevandra.
"Kev, Lo pindah kesini. Biar gue disitu."
Tak ada jalan lain bagi Kevandra selain menurut. Kendati ia harus menjauh dari pacarnya, tapi itu lebih baik daripada melihat perang dunia ketiga disini.
Zio memandang sedih Zianna yang menjauh darinya. Wajah tengilnya memudar, terganti dengan tampang merana. Zio membatin, apakah pesonanya benar-benar sudah kadaluarsa hingga Zianna sama sekali tidak terjerat?
Tepukan dari Kevandra mendarat di bahunya, "Yang sabar bro, dari awal Lo emang udah kalah."
Bangsat! Umpat Zio dalam hati.
"Kalau gak berhasil ambil hatinya, ambil aja hikmahnya." Nasehat Keylara sok bijak dengan raut menertawakan.
Zio mendengus, "emangnya tampang gue kaya tampang orang yang gampang putus asa? Kalau gue gak berhasil ambil hatinya, ya gue ambil aja jantungnya. Sekalian gue jual aja ke pasar gelap. Gue anti rugi." Sahut zio dengan nada kesal.
Seketika tatapan horor dari keempat orang yang ada disana terpusat pada dirinya, membuat zio merinding. "Gue becanda elah! Emangnya muka gue ini kelihatan kaya kriminal?!" Sewotnya.
Keylara menatap Zio ngeri, "Gue lebih percaya kalau sebenarnya, Lo itu sikopat, Yo."
"Anjing!"
***
"Eh, gue laper. Tapi gue males turun buat ke kantin." Celetuk Zio sembari mengelus perutnya.
Keempat orang lain yang tengah fokus pada materi yang mereka pelajari lantas mengangkat kepalanya menatap Zio. Mata Zio berkedut melihat bagaimana Aryanaka menatapnya.
Sumpah demi tuhan, tatapan Aryanaka kali ini jauh lebih menakutkan dari sikopat di film-film action yang sering dia tonton.
Zianna menghela nafasnya, lantas memberesi peralatan belajarnya dan memasukkannya ke dalam tas. Membuat teman-temannya termasuk Aryanaka mengeryit.
"Key, Lo punya nomor mbak kantin yang jual pecel kan?"
Keylara mengangguk, "Punya."
"Pesen itu aja, suruh nganterin kesini." Suruh Zianna membuat Zio kegirangan lantaran merasa diperhatikan.
Padahal, Zianna juga tengah lapar. Makanya ia ingin pesan. Bukan karena ingin menanggapi Zio.
Lain halnya dengan air muka Aryanaka yang sudah menggelap. Alisnya menukik salah paham. Sialnya dia juga mengira kalau Zianna tengah memberi perhatian pada Zio.
Keylara mengangguk, kebetulan ia juga sedikit lapar. Pecel itu lumayan untuk mengganjal perutnya.
__ADS_1
Zianna berjalan menghampiri tempat Aryanaka. Tangan Zianna bergerak membereskan buku-buku Aryanaka dan memasukkan ke dalam tas cowok itu, "Kita makan dulu. Udah waktunya istirahat kedua." Ujarnya namun tidak ditanggapi oleh Aryanaka.
Aryanaka diam dengan wajah yang sudah keruh. Sayangnya Zianna belum menyadarinya.
Zianna teringat sesuatu, menunjuk Keylara yang tengah mengetik, "Yang satu jangan dipedesin." Pesannya.
Dibalas dengan Keylara yang membulatkan jari telunjuk dan jempol sebagai simbol 'oke'.
Zianna menoleh menatap Aryanaka, "Sori, ya. Tadi lupa." Ujarnya. Namun ia mengeryit kala melihat raut wajah Aryanaka yang terlihat badmood. "Kenapa?" Tanyanya.
Zio yang suasana hatinya sudah menjadi sangat baik dan mesam-mesem sendiri sejak tadi sontak menyahut, "Kebelet boker kali tuh!" Serunya dengan asal. Membuat Aryanaka menatapnya tajam.
"Apa Lo?!" Seru Zio menantang, "makan pecel gak dipedesin aja sok iya!"
Bibir Aryanaka berkedut menahan emosi.
Apa maksudnya itu?!
Ia hampir saja memukul Zio, namun segera dihentikan oleh Zianna yang duduk disampingnya, "Udah, gak usah ditanggapi. Nanti stres sendiri."
Aryanaka mendengus. Memalingkan wajahnya ke arah lain enggan menatap Zianna.
Tentu saja Zianna terheran-heran, "kenapa, sih?"
Aryanaka menggeleng. Namun anehnya wajahnya tetap enggan menatap Zianna.
"Lo gak mau pecel? Mau dipesenin yang lain?" Tanya Zianna baik-baik. Tolong, ya, teman-teman. Zianna ini bukan orang yang sepeka itu. Jadi, yah maklumi saja.
Lagi-lagi Aryanaka hanya menggeleng. Membuat Zio mencibirnya, "Lebay banget Lo taik! Cemburu tuh bilang. Iri kan Lo sama gue?"
Aryanaka berdecak, menoleh menatap zio dengan pandangan penuh permusuhan, "Lo diem ya asu!"
Zianna menghela nafasnya lelah. Jika dengan Zio, Aryanaka akan mengeluarkan kata-kata kasar yang jarang dia keluarkan semacam itu. Jika dengan Alshad, perasaan tidak separah ini. Entahlah ini karena zio yang menjadi pengaruh buruk, atau memang ini adalah salah satu jati diri Aryanaka yang terpendam.
***
Aryanaka mengganti seragam sekolahnya dengan pakaikan santai. Berjalan menuju dapur sambil memainkan handphonenya. Mengecek, bagaimana statistik perusahaan saat ini. Karena, akhir-akhir ini ia mungkin akan jarang mengurusnya karena akan menghadapi PAT Minggu depan.
Aryanaka membuka pintu kulkas dan mengambil air dingin dari sana. Menuangnya ke dalam gelas dan meminumnya hingga tandas.
Sombong.
Tapi apa pedulinya?
Tiba-tiba handphone yang dia pegang berdenting. Menampilkan nontifikasi WhatsApp dari seseorang.
//Anna❤️ send a picture
Sontak saja raut Aryanaka menjadi secerah mentari. Membuka nontifikasi itu segera.
Disana ditampilkan bahwa Zianna mengirim sebuah foto bahan-bahan masakan. Ada telur, ayam suwir, sosis, nasi, dan banyak lah bumbu-bumbu yang lain.
Lagi, handphone itu berdenting, menampilkan chat Zianna selanjutnya.
Anna❤️: Hari ini bunda mau ngajarin gue masak nasi goreng. 😌
Aryanaka terkikik geli membaca itu. Tangannya mengetik sebuah balasan.
Aryanaka: Awas gosong.
Anna❤️: Nggak akan. Gue yakin kali ini gue bakalan berhasil.😎
Sudah. Aryanaka sudah tidak tahan. Ia segera memasukkan handphonenya ke dalam saku celana. Berlari menuju kamar dan menyambar jaket kulit serta kunci motornya. Lantas segera melesat menuju rumah Zianna.
Ia tidak akan menyia-nyiakan pertunjukan ini. Ia akan melihat bagaimana Zianna menghancurkan dapur mamanya. Ia sangat tidak sabar dengan itu. Karena sejujurnya, ia hanya ingin melihat Zianna. Ia hanya ingin, menuntaskan rindunya dengan melihat Zianna.
***
Aryanaka memutar-mutar kunci motornya menggunakan jari. Bersenandung ria sembari berjalan masuk ke dalam rumah Zianna selepas mengucapkan salam.
Di ruang tamu menuju dapur, ia sayup-sayup sudah mendengar keributan kecil dari sana.
__ADS_1
"Mama, ini kecapnya gimana? Nasinya hitam!"
"Jangan dituangin sebanyak itu, Zia! Kecapnya kebanyakan itu, astaga."
"Tadi katanya dikira-kira, menurut Zianna, ya kira-kira segini!"
Aryanaka menarik sudut bibirnya, ia sudah bisa membayangkan bagaimana frustasinya Nertaja menghadapi tingkah Zianna saat ini. Berjalan santai menuju dapur, Aryanaka lantas berdiri menyaksikan bagaimana keributan itu terjadi.
"Aryanaka!" Seru Nertaja segera menghampiri Aryanaka dengan tergesa, "Ya ampun, kenapa gak bilang mau kesini?" Dia menunjuk ke arah Zianna yang terlihat amatir mengaduk nasi dalam wajan, "Lihat, Zianna berencana menghancurkan dapur mama lagi."
Aryanaka terkekeh, lantas menarik tangan Nertaja dan menciumnya.
"Aduh, tangan mama kotor. Bau bawang."
Aryanaka tergelak, "Gak papa, Ma." Aryanaka lantas menunjuk Zianna, "Aryanaka mau ikut gabung, boleh?"
Nertaja menengok Zianna sekilas lantas kembali menatap Aryanaka, "Yakin kamu?" Tanyanya lantas dibalas anggukan oleh Aryanaka.
"Yaudah sana. Mama udah stres menghadapi anak itu."
Aryanaka tersenyum. Lantas berjalan menghampiri Zianna yang sumpah demi apapun terlihat lucu sekali. Wajahnya sudah buluk terkena uap. Peluhnya dimana-mana. Astaga, ini bahkan hanya membuat nasi goreng, kenapa perjuangannya seperti tengah menghadapi perang dunia kedua?
Bibir Aryanaka berkedut menahan tawa. Membuat Zianna mendengus dan meliriknya sinis. "Kalau mau ketawa, ya, ketawa aja!"
Aryanaka segera melipat bibirnya kedalam, "Nggak. Yang mau ketawa juga siapa?"
Zianna mencebik, lantas menunjuk masakannya, "Ini biar gak kehitaman gimana?" Tanyanya kesal.
Aryanaka menengok menatap nasi dalam wajan itu, tersenyum menyebalkan, "Katanya bakalan berhasil? Mana?"
Zianna menghentakan sebelah kakinya, "Ya ini gimana dulu, ditanyain juga!"
Aryanaka tergelak, mengambil sepiring nasi dan membawanya ke arah Zianna, "Ditambah nasi, tapi nanti ditambahin garam juga." Ujarnya lantas memasukkannya ke dalam wajan. "lagian Lo nuang kecapnya seberapa? Nyampe berkuah begini." Ujarnya sambil tertawa.
Zianna mendengus sebal, namun tidak menyahut. Ia tidak sengaja menuangkannya sebanyak itu kok. Serius.
Aryanaka mengambil alih spatula dari tangan Zianna, "Ngaduknya tuh begini biar kecapnya merata." Ujarnya.
Zianna memperhatikan itu dengan saksama. Oke, sekarang ia sudah mengerti. Karena jika dengan Nertaja tadi, Nertaja hanya akan memberi tahu caranya tanpa memperlihatkan prakteknya. Jadi dia tidak mengerti.
"Gantian, nih." Ujar Aryanaka sembari menyerahkan spatula itu. Diterima oleh Zianna dan dipraktekannya seperti yang ia lihat tadi.
Tidak buruk juga.
"Coba dirasain, deh. Ada yang kurang apa nggak."
Zianna menurut, mengambil sejumput nasi dan memasukkannya kedalam mulut. "Kurang asin." Ujarnya, namun ia kembali menjumput nasi dan menyodorkannya pada Aryanaka, "cobain, deh."
Aryanaka memandangnya sejenak, namun ia tetap menerima suapan itu.
"Kurang asin kan?"
Aryanaka mengangguk, "Ambil garam sama kaldu bubuk coba. Tuangin sedikit-sedikit, diudak terus dirasain lagi."
Zianna lagi-lagi menurut, "Segini?" Tanyanya dengan menunjukkan takaran garam dan kaldu bubuk di tangannya.
"Iya."
Zianna lantas memasukkan itu kedalam wajan, mengaduknya lagi, "Begini kan?"
Aryanaka mengangguk, "iya." Jawabnya sabar.
"Terus ini udah mateng?"
"Ditunggu tanak dulu."
"Tanaknya gimana?"
"Nanti gue kasih tahu."
"Kalau ini udah belum?"
__ADS_1
"Belum."
–to be continue–