
Kirana meremas kuat kemeja sang suami yang terdapat noda lipstik berwarna merah pada bagian bahunya. Dia memejamkan mata sesaat untuk mengurangi ketegangan yang datang. Namun, semakin dia berusaha mengenyahkan pikiran buruk yang datang, semakin kuat kenyataan yang menyentak.
Belum hilang rasa terkejutnya, Kirana kembali dihadapkan pada bau parfum beraroma mawar yang tercium dari jas yang dipakai suaminya semalam. Wanita itu meletakkan kemeja dan jas di atas mesin cuci dan menatapnya lekat. Hatinya berdenyut nyeri saat kemungkinan terburuk yang ada dalam tempurung kepalanya berkelebat.
Kirana menunduk sejenak sebelum menyugar rambutnya kasar. Lalu, merogoh saku daster yang dipakai dan mengeluarkan secarik kertas. Dia buka kembali kertas yang sudah tak berbentuk karena diremasnya kuat, lalu membacanya sekali lagi. Sejumlah angka nominal telah ditransfer sang suami ke rekening seseorang yang diyakini Kirana adalah nama seorang wanita.
“Ayu Pratiwi.”
Kirana menggeleng kuat, menarik napas panjang, dan mengembuskannya perlahan. Lalu, memasukkan kemeja dan jas tadi ke dalam mesin cuci dengan sedikit kasar. Dia masih bergeming dan mengusap dahi yang sudah berkerut dalam. Memikirkan lipstik dan parfum milik siapa yang dengan kurang ajarnya menempel di kemeja suaminya, membuatnya sedikit pusing.
Belum sempat menyudahi pikiran buruk yang mulai memenuhi tempurung kepalanya, suara panggilan dari arah belakang membuat Kirana tersentak. Dia segera memasukkan kembali kertas yang tadi ditemukannya ke saku daster. Lalu, mengulas senyum ketika Aji—suaminya—memeluk dari belakang seraya menyematkan kecupan di bahunya. Sejenak, wanita itu meremang dan bergidik geli.
“Mas, ini masih pagi, lho.”
“Memangnya kenapa, Sayang? Adakah larangannya kalau Mas ngerjain istri sendiri, hem?”
“Enggak ada, sih. Tapi ....”
Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Kirana terkejut saat Aji mendadak membopongnya ke kamar. Lalu, membaringkannya ke ranjang. Dengan perlahan, pria itu menyibak anak rambut yang menutupi dahi Kirana sebelum mengecupnya.
Sekilas, Kirana melirik jam dinding dan mendorong pelan dada prianya.
“Mas, ini udah terlalu siang untuk ....”
__ADS_1
“Sebentar aja, Sayang. Masih sempat, kok.”
“Tapi kerjaan kamu?”
“Akulah pemilik perusahaan itu, kalau kamu lupa, Sayang. Terlambat sedikit tidak akan mengubah keadaan.”
Kirana tersipu dan mengangguk ketika Aji menatapnya lekat. Untuk sesaat pikiran yang berkecamuk tentang temuannya pagi ini, menghilang bersama deru napas penuh gairah. Lima menit usai menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri, Kirana berjalan ke kamar mandi dan membersihkan diri. Namun, dia bergeming di ambang pintu ketika Aji kembali memeluknya dari belakang.
“Makasih, ya, Sayang.”
Kirana mengangguk dan pasrah ketika Aji menggiringnya masuk ke dalam kamar mandi. Lima belas menit berlalu, mereka selesai mandi dan berpakaian.
Kirana lebih dulu turun ke dapur dan membuat roti bakar serta susu. Begitu melihat sang suami yang duduk di meja makan, dia segera mengangsurkan piring dan gelas di depannya.
“It’s okay, Sayang.”
Kirana memaku pandangan kepada pria yang sudah menikahinya selama lima tahun itu atas dasar cinta. Meskipun orang tuanya sempat meragukan Aji, tetapi Kirana terus berjuang agar restu itu datang. Biduk rumah tangga yang dijalani Kirana dan Aji begitu sempurna meskipun sampai sekarang belum ada seorang anak pun yang hadir.
Kirana sempat terpukul ketika semua program hamil yang dia jalani belum juga membuahkan hasil. Padahal kandungannya tidak mengalami masalah, tetapi sampai tahun kelima pernikahannya, belum juga ada tanda-tanda akan datangnya seorang keturunan.
Beruntungnya Aji selalu memberikan dukungan kepadanya. Memberikan penguatan dan kata-kata penyemangat agar Kirana tidak terus-menerus memikirkan masalahnya. Kirana mencoba abai, tetapi tentu saja hal itu tetap saja mengganggu pikirannya.
Memikirkan tentang anak, membuat Kirana sering melamun bahkan di depan suaminya. Seperti pagi itu, dia bergeming di ambang pintu saat mengantarkan Aji berangkat kerja.
__ADS_1
“Sayang, Mas berangkat dulu, ya?”
Melihat uluran tangannya diabaikan Kirana, Aji mengernyit. Dia melambaikan tangan di depan wajah sang istri dan memanggilnya.
“Sayang, kok, ngelamun. Mikir apaan?”
Kirana segera tersadar dari lamunannya. Dia tergagap dan berusaha mengulas senyum. Lalu, mengambil tangan kanan Aji sebelum diciumnya.
“Hati-hati di jalan, ya, Mas.”
Merasa pertanyaannya diabaikan, Aji mengedikkan bahu sebelum mengecup kening sang istri. Lalu, mementang jarak dan masuk ke mobil sebelum melajukannya menuju kantor.
Sepeninggal Aji, Kirana kembali ke mesin cuci yang sudah sejak tadi berhenti berputar. Dia mengeluarkan satu per satu baju yang tadi dicuci. Gerakannya terhenti ketika memegang kemeja yang tadi terdapat noda lipstiknya.
“Nodanya memang bisa hilang, tapi ingatannya tak akan pernah bisa.”
Kirana bermonolog. Lalu, menyelesaikan pekerjaan rumah dengan cepat sebelum berangkat ke tempat usahanya. Iya, Kirana mempunyai sebuah klinik kecantikan yang dibangun dan dikelola sejak tujuh tahun yang lalu. Usaha itu dirintis dari nol dengan biaya sendiri tanpa campur tangan dari orang tuanya. Meskipun sejak kecil Kirana selalu hidup dengan harta berlimpah, tetapi dia tak ingin menunjukkannya.
Usai mematut diri di cermin, Kirana menyamar kunci mobil dan tas sebelum meluncur ke kliniknya. Sesampainya di sana, beberapa karyawan menyambut dengan senyuman. Kirana membalas dan terus berjalan menuju ruangannya.
Waktu bergulir begitu cepat sampai tanpa terasa senja datang. Kirana bergegas pulang karena harus menyiapkan makan malam untuk Aji. Lima menit menjelang jam tujuh malam, semua masakan sudah tersaji di meja. Dia tersenyum puas dan segera membersihkan diri.
Kirana menunggu kedatangan Aji di sofa, tetapi lelah yang mendera membuatnya tertidur. Dia tergagap bangun ketika mendengar deru mobil memasuki halaman. Kirana sekilas menatap jam dinding dan terkejut.
__ADS_1