Awal Petaka

Awal Petaka
AWAL PETAKA NODA LIPSTIK BAB4


__ADS_3

Kirana perlahan membuka mata dan mengedarkan pandangan. Aroma karbol bercampur obat langsung menguar, membuatnya bertambah pusing. Dia meringis sambil beringsut duduk dan memegangi kepalanya.


“Ibu sudah bangun rupanya. Sebaiknya Ibu istirahat dulu jika masih merasa pusing.”


Suara dokter perempuan terdengar menyapa rungu. Kirana menggeleng lemah dan duduk sejenak di tepi ranjang.


“Siapa yang bawa saya ke sini, Dok?”


“Tadi ada sepasang suami istri dan seorang pria yang membawa Ibu ke sini dalam keadaan pingsan. Mereka juga yang mengangkat panggilan saat seseorang yang bernama Ibu Amelia menelepon.”


Kirana mengangguk sebelum turun dari ranjang. Dokter tadi mencoba menahan, tetapi dia menepisnya. Lalu, dengan langkah tertatih, Kirana menuju pintu keluar menuju bagian administrasi. Tak lama kemudian, Amelia—sahabatnya—datang.


“Kirana, lo enggak apa-apa? Muka lo pucet banget. Apa enggak sebaiknya lo di sini dulu?” tanya Amelia panik.


Kirana menggeleng lemah dan berjalan melewati Amelia. “Gue enggak apa-apa, Mel. Sorry, gue jadi ganggu jadwal praktik lo, ya?”


“Enggak apa-apa, Kirana. Kayak sama siapa aja, sih. Sini gue bantu!”


Amelia segera memapah Kirana menuju mobil dan mendudukkannya di bangku penumpang depan. Lalu, memutari mobil dan duduk di kursi pengemudi. Wanita itu sekilas menatap Kirana yang memejamkan mata. Wajah pucat sang sahabat membuat Amelia khawatir.

__ADS_1


“Lo yakin mau pulang, Kirana?”


“Ke apartemen gue aja, Mel. Gue males pulang ke rumah.”


Amelia mengernyit sesaat sebelum menyalakan mesin mobil dan melajukannya menuju apartemen Kirana. Sesampainya di basement apartemen, Amelia kembali memapah Kirana sampai di kondominiumnya. Dengan perlahan, dia mendudukkan Kirana di sofa.


“Makasih, Mel. Sorry, gue jadi ngerepotin lo. Lo kalau mau pulang enggak apa-apa, kok.”


“It’s okay, Kirana. Lo beneran enggak apa-apa kalau gue tinggal?”


“Hem.”


“Mungkin lo emang butuh waktu buat sendiri.”


Mendengar suara pintu ditutup, Kirana langsung menarik kedua lutut dan memeluknya erat. Lalu, suara tangis pilu terdengar begitu menyayat hati. Bayangan tentang sang suami bersama seorang anak kecil dan wanita yang mencium pipinya kembali berkelebat di kepala. Dia memukul sofa dan meraung.


“Siapa wanita itu, Mas? Siapa! Enggak mungkin dia hanya teman biasa, kan?”


Kirana terguguk dan menangisi nasibnya. Sekejap mata, kenangan tentang pernikahannya dengan Aji kembali berputar di kepala. Pria yang dia terima menjadi imamnya itu mengucap janji suci di hadapan Sang Pencipta hanya dengan sekali tarikan napas. Betapa manis kehidupan rumah tangganya saat itu. Semua perlakuan Aji berhasil membuat Kirana yakin biduk rumah tangganya akan terus bahagia.

__ADS_1


Manusia memang boleh berencana, tetapi Tuhan yang punya kuasa. Manusia punya seribu janji, tetapi ada seribu kemungkinan juga mengingkarinya. Kirana merasa dibodohi karena percaya sepenuhnya kepada seorang pria bernama Aji. Dia menganggap pria itu akan setia selamanya, tetapi Aji hanyalah manusia biasa yang bisa saja khilaf.


Tak ingin terlalu larut dalam kesedihan, Kirana menyudahi tangisannya. Dia beringsut duduk dan menghapus kasar air matanya. Lalu, merogoh ponsel di tas dan menghubungi seseorang. Setelah nada dering pertama, panggilannya diangkat.


“Cari tahu wanita yang tinggal di perumahan Astana, blok B1, nomor 3. Aku tunggu informasi secepatnya."


Kirana langsung memutus panggilan. Lalu, memejamkan mata untuk mengurangi ketegangan yang ada sambil meremas kuat ponselnya. Semua bukti sudah mengarahkan Kirana untuk mengambil kesimpulan bahwa Aji telah mendua. Namun, dia tak ingin gegabah menuduh jika tak ada bukti. Berulang kali dia menolak semua bukti temuannya, tetapi berulang kali pula dia tersentak dengan kenyataan yang ada.


Lelah berdebat dengan pemikirannya sendiri, Kirana bangkit dari duduk. Namun, dia terhuyung dan kembali terjatuh di sofa. Kirana bergeming sesaat sebelum kembali bangkit dengan perlahan. Lalu, berjalan sambil berpegangan pada tembok menuju dapur. Dia membuka lemari pendingin dan mencari bahan apa saja yang bisa dimasak.


Setelah melihat nasi rendang instan, Kirana mengambil dan memasukkannya ke microwave selama tiga menit. Lalu, mengeluarkan dan segera memakannya hingga tandas tak bersisa. Kirana bangkit untuk mengambil minum. Namun, mendadak dia merasakan mual.


Kirana berlari ke wastafel dan memuntahkan semua isi perutnya. Dia segera membasuh mulut dan menatap pantulan dirinya di cermin. Lalu, kembali untuk mengambil minum dan membawanya ke sofa. Dia mengempaskan tubuh ke sofa dan menatap sekilas ponselnya yang berkedip.


Setelah membaca nama yang tertera di layar, Kirana segera menjawab panggilan. Suara dari seberang berhasil membuat jantung Kirana bergemuruh hebat. Dia meremas kuat ponsel yang masih menempel di telinga sambil menggigit bibir bawahnya. Lalu, air matanya luruh tanpa dikomando.


Kirana segera memutus telepon karena tak tahan dengan kenyataan yang dilontarkan sang penelepon. Dia menunduk dalam dan kembali terguguk sambil memukul dada, berusaha mengurangi sesak yang membebat. Namun, belum usai menumpahkan semua kecamuk rasa, mual kembali datang. Kirana bergegas bangkit dan berjalan tergesa menuju wastafel untuk memuntahkan isi perutnya.


Usai membasuh bibir, Kirana menatap pantulan dirinya di cermin dan memejamkan mata. Dia menyugar rambut kasar dan kembali ke sofa. Tepat saat itulah ponselnya berdering. Setelah melihat nama yang tertera di layar, Kirana memilih berlalu menuju kamar dan menenggelamkan diri di ranjang. Dia meringkuk, lalu tangisnya pecah memenuhi seisi kamar.

__ADS_1


“Aku benci kamu, Mas!”


__ADS_2