
Aji menelan ludah dengan susah payah ketika melihat Kirana memegang ponselnya. Wajahnya memucat dengan keringat dingin mulai membasahi dahinya.
Kirana tersenyum tipis dan berlalu ke meja rias untuk mengambil tisu. Lalu, melangkah mendekati sang suami dan mengelap keringatnya.
“Ini masih pagi, lho, Mas. Sepanas itukah cuaca sekarang ini?”
“I-iya, Yang.”
Usai mengelap keringat, Kirana menyerahkan ponsel ke dada bidang suaminya.
“Mas pasti kembali hanya untuk ini, kan?”
“I-iya, Yang.” Kirana tersenyum tipis. Lalu, memainkan telunjuknya ke dada bidang suaminya membentuk lingkaran. Setelahnya, dia menatap lekat pria yang ada di depannya.
“Mas sekarang pelupa, ya? Bukan hanya hari istimewa kita, bahkan ponsel yang merupakan benda sangat penting pun sampai lupa.”
Aji membeliak mendengar ucapan istrinya. Spontan, dia menoleh dan terkejut melihat lingkaran pada kalender. Lalu, kembali melarikan tatapannya kepada sang istri.
“Maafkan Mas, Yang. Mas benar-benar lupa kalau kemarin itu anniversary kita. Gimana kalau sekarang kita rayain.”
Senyum tipis masih tersungging di bibir merah Kirana. Dia menunduk sebelum menjauhi suaminya. Dia bersedekap dan menghela napas panjang sebelum memutar tumit dan menghadap suaminya.
“Bukannya Mas ada meeting pagi ini? Apakah Mas lupa juga?”
“Ah, iya. Mas hampir lupa. Kalau gitu nanti malam saja kita dinner. Mas janji akan pulang cepat.”
“Pergilah, Mas. Klien Mas pasti sudah menunggu sejak tadi.”
Aji mengikis jarak dan hendak menyematkan kecupan di kening Kirana. Namun, wanita itu memilih mundur sejengkal dan menahan dada sang suami dengan telapak tangannya.
__ADS_1
“Urusan Mas lebih penting, kan? Sebaiknya Mas bergegas.”
Aji mengangguk lemah dan berbalik. Namun, langkahnya terhenti ketika mendengar ucapan istrinya.
“Tadi ada yang telepon dan maaf aku terpaksa menjawabnya, Mas. Kalau tidak salah dengar, suaranya perempuan.”
Aji kembali menelan ludah dengan susah payah. Dia mengatur napas karena gemuruh dalam dada yang hampir saja meledak. Lalu, menarik sudut bibirnya sebelum berbalik menatap sang istri. Namun, belum sempat membuka kata, Kirana lebih dulu bicara.
“Perempuan sekarang sok kenal banget, ya, Mas. Masa enggak kenal, manggilnya ‘Mas’. Mana suaranya lembut banget. Aku jadi cu—“
“Mas bisa jelaskan, Yang. I-itu ... itu ....”
Kirana menikmati kepanikan yang terpancar dari wajah Aji. Dalam hati dia ingin tertawa kencang karena tanpa sengaja sudah membongkar sedikit kecurangan yang dilakukan suaminya. Tepat saat itulah ponsel Aji berdering. Pria itu masih bergeming. Sementara, Kirana makin menikmati kekalutan suaminya.
“Kenapa enggak diangkat, Mas? Siapa tahu dari perempuan tadi, kan?”
“Klien Mas, kan?”
Kirana mengikis jarak dan mengalungkan kedua tangan ke leher sang suami. Lalu, mencium bibir Aji sekilas sebelum menatap iris matanya.
“Pergilah, Mas! Klien Mas pasti sudah nungguin.”
Tanpa sadar Aji menghela napas lega. Dia segera mencium pipi Kirana sebelum melangkah pergi. Namun, sampai di ambang pintu kamar, dia berbalik dan menatap istrinya.
“Mas janji akan pulang cepat malam ini, Yang.”
Setelahnya, Aji kembali membentang jarak. Lalu, suara deru mobil perlahan meninggalkan rumah. Tanpa pria itu sadari, Kirana menyeringai sambil mengepalkan tangan.
“Jangan mudah berjanji, Mas. Karena aku tak suka orang yang mudah mengucap janji dan mudah pula mengingkarinya.”
__ADS_1
Kirana segera menyambar kunci mobil lalu berlari menuju garasi. Dengan tergesa, dia menaiki mobil dan melajukannya untuk membuntuti sang suami. Dia memaku pandangan pada mobil putih yang ada di depannya. Tangannya mencengkeram erat kemudi sampai buku-buku jarinya memucat.
Kirana terus membuntuti mobil Aji. Namun, dia mengernyit heran ketika melihat suaminya memasuki kawasan perumahan elit. Wanita itu makin diperam kelesah saat mobil Aji berhenti pada salah satu rumah berpagar putih.
Kirana masih bergeming di dalam mobil sambil mengawasi suaminya. Dia menahan napas sesaat ketika Aji turun dari mobil dan langsung disambut pelukan hangat seorang anak kecil. Lalu, hatinya bagai diremas kuat ketika seorang perempuan datang dan mencium pipi kiri suaminya. Mendadak mata Kirana memanas, kemudian air matanya berderai membasahi pipi.
“Jadi ini yang kamu sembunyikan dariku, Mas. Teganya kamu khianati aku!”
Kirana memukul kemudi berulang kali sebelum menenggelamkan kepala dia antara kedua tangannya. Bahunya bergetar hebat seiring sesak yang mengimpit. Lalu, suara ponsel mengalihkan perhatiannya.
Kirana menghapus kasar air matanya sebelum merogoh ponsel dan membaca nama sang sahabat yang tertera di layar.
“Ada apa, Mel?”
“Lo di mana? Ada pelanggan baru, nih.”
“Sebentar lagi gue ke sana.”
“Lo enggak apa-apa, kan? Kok, suara lo kayak abis nangis.”
“I’m fine, Mel. Gue matiin teleponnya, ya?”
Telepon terputus. Kirana menatap sekali lagi rumah di mana Aji memarkir mobilnya. Dia mendengkus kesal sebelum memutar mobil dan melaju menuju kliniknya. Selama perjalanan, pikirannya berkecamuk. Pengkhianatan yang dilakukan sang suami di depan matanya terus saja berkelebat di kepala.
Kirana berulang kali menghapus air matanya, tetapi berulang kali pula bulir bening itu luruh. Dia beberapa kali menepikan mobil hanya untuk mengatur napas dan kepala yang terus berdenyut. Wanita itu memejamkan mata sambil mengantuk-antukkan kepala pada sandaran kursi. Namun, bukannya enyah, rasa sakit itu makin dalam membebat.
Kirana memijat pelan pelipisnya, tetapi pandangannya mendadak mengabur. Dia masih sempat mengambil ponsel untuk menghubungi sang sahabat. Namun, belum sempat membuka kata, dia sudah tenggelam dalam kegelapan.
Tbc.
__ADS_1