
Ini hanya cuplikan, naskah full ada di aplikasi 🙏🙏
Kirana mematung di sisi jendela yang terbuka sambil bersedekap. Dia memejamkan mata, membiarkan angin malam menerpa wajah dan memainkan rambut sepunggungnya. Lalu, membuka mata dan memanah langit malam yang penuh bintang tanpa ekspresi. Indah, tapi tak seindah kisah hidupnya. Wanita itu memutar kembali ingatan beberapa tahun ke belakang saat meminta restu kepada orang tuanya.
“Ma, Pa, tolong restui Kirana menikah dengan Mas Aji. Dia begitu tulus menyayangi Kirana.”
“Apa cinta bisa menjamin kamu bahagia, Sayang? Mama enggak yakin. Tapi jika kamu bersikeras, silakan lanjutkan apa yang menurutmu baik.”
Kirana diperam kelesah. Pernyataan sang ibu yang tidak menolak, pun mengiakan membuatnya bimbang. Namun, desakan dari Aji berhasil membuatnya mengambil keputusan untuk terus melangkah ke jenjang pernikahan.
Kirana menangis mengingat momen itu. Dia membiarkan bulir bening luruh tanpa permisi membasahi pipinya. Andai saja dia lebih mendengarkan sang ibu, pasti tidak akan seperti ini akhirnya. Namun, nasi sudah menjadi bubur, jadi tinggal nikmati setelah meracik sedikit rasa di atasnya.
__ADS_1
Perlahan bayangan tentang Ayu dan ucapannya membuat Kirana kembali terluka. Dia mencengkeram erat baju bagian depan. Lalu, membekap dirinya sendiri dan terguguk.
“Apa kurangku, Mas? Sampai kamu tega bermain di belakangku? Selama ini aku selalu berusaha menjadi istri terbaik buatmu, lalu inikah balasanmu padaku, Mas?”
Kirana bermonolog. Lalu, suara tangisnya makin kencang terdengar menyayat hati. Tak lama berselang, dia menghapus air matanya kasar. Senyum tipis dia sunggingkan sebelum menggeleng lemah.
“Enggak! Aku enggak boleh menangis lagi. Sudah cukup deritaku selama ini kamu bohongi, Mas! Aku janji akan memberikan hadiah yang tak pernah kamu duga sebelumnya. Bersiap-siaplah kamu Aji Laksana!”
Hendra kembali terkekeh. “You know, Honey. Bagi Om time is money. So, apa yang membuatmu ke sini?”
“Om akan bantu kamu, Sayang. Om enggak terima kamu diperlakukan begitu sama Aji.”
__ADS_1
“Tapi Kirana mohon jangan sampai Mama sama Papa tahu dulu, ya, Om. Kirana butuh waktu buat kasih tahu semuanya.”
“Tenang saja, Sayang. Om akan simpan rahasia ini.”
Hendra membuat gerakan seperti menarik ritsleting di mulutnya. Kirana mengulas senyum dan mengucapkan terima kasih sebelum undur diri. Lalu, kembali memasang kacamata hitam dan berlalu dari gedung itu.
Dalam mobil, Kirana bergeming sesaat karena mual yang kembali menyerang. Dia menunduk untuk mengusap perut dan tersenyum getir.
“Bantu Mama selalu kuat, ya, Sayang. Mama janji akan berikan kebahagiaan seutuhnya meskipun tanpa kehadiran Papa.”
Setelahnya, mual yang mendera perlahan menghilang. Kirana menghela napas panjang sebelum menyalakan mesin mobil dan melajukannya meninggalkan tempat. Dalam perjalanan, Kirana membelokkan mobil menuju sebuah kedai roti lapis isi. Dia turun dari mobil sambil melepas kacamata hitam dan melenggang ke dalam untuk memesan. Tanpa wanita itu sadari, ada seseorang yang menatapnya lekat dari sudut kedai.
__ADS_1
Usai memesan, Kirana mengambil duduk di dekat meja kasir. Dia mengeluarkan ponsel dan membaca semua pesan singkat yang masuk. Dia larut dengan layar benda pipih di tangannya sampai suara bariton seseorang membuatnya mendongak.
“Kirana, kan?” tanya orang di depan Kirana sambil mengulurkan tangannya. Melihat Kirana mengernyit, dia tersenyum.