
Ini hanya cuplikan, naskah full ada di aplikasi 🙏🙏
“Hei, Kirana. Enggak nyangka bisa ketemu lo lagi. Udah pesen?”
“Yups, baru aja,” ucap Kirana sambil mengangkat kantong plastik di tangannya.
“Wah, gue ketinggalan. Ehm, siang ini ada waktu enggak? gimana kalau kita makan siang di luar?”
Kirana bergeming sesaat sebelum mengangguk. “Sure, kasih tahu aja mau makan siang di mana, ya?”
“Kalau gitu gue minta nomor lo, dong. Ya, kali gue kirim lokasinya lewat telepati.”
Kirana terkekeh sebelum menyebutkan deretan angka ponselnya. Lalu, mengangguk sekilas setelah pamit. Dia melenggang menuju mobil dan menatap Saka yang sedang berdiri di depan meja kasir. Seringai kembali menghiasi bibir Kirana.
“Umpan sudah disebar, sebentar lagi ikan datang dan memakannya. Saat itulah aku akan bongkar semuanya.”
Kirana memasang kembali kacamata hitam sebelum melajukan mobil meninggalkan tempat menuju klinik. Setibanya di sana, Kirana langsung masuk dan menuju ruangan Amelia.
“Mel, udah sarapan? Gue bawa roti lapis isi, nih!”
Amelia hanya mengangguk sekilas sebelum menyibukkan diri dengan layar komputernya. Kirana hanya meletakkan satu bungkus roti di meja sang sahabat sebelum berlalu ke ruangannya. Lalu, mengempaskan tubuh di kursi dan terkekeh. Setelahnya, dia menelepon orang suruhannya dan menyuruh mengirimkan sesuatu ke nomor ponsel Amelia. Tak lama terdengar teriakan dari ruangan Amelia sesaat setelah Kirana menutup telepon.
__ADS_1
Kirana meletakkan ponsel dan berjalan tergesa menuju ruangan Amelia. Dia segera membuka pintu dan terkejut melihat sang sahabat menjambak rambut sambil membeliak menatap layar ponselnya.
Ini hanya cuplikan, naskah full ada di aplikasi 🙏🙏
Kirana terkekeh. Dia menertawakan diri sendiri karena merasa bodoh telah mempercayai seorang Aji sekian lama, dan baru tersadar saat semua fakta tentang pengkhianatannya selama ini terungkap sedikit demi sedikit. Tak tahan dengan ucapan Aji, Kirana melerai pelukan dan menyambar tas lalu beranjak ke luar klinik.
“Yang, mau ke mana? Naik mobil Mas aja, ya?”
“Maaf, Mas. Aku sudah ada janji makan siang dengan seorang teman lama. Mungkin lain kali saja kita makan siangnya, itu pun kalau aku ingat.”
Kirana memakai kacamata hitam dan segera masuk ke mobil. Lalu, melajukannya perlahan meninggalkan Aji yang masih terpaku. Lewat kaca spion, Kirana bisa melihat bagaimana kecewanya Aji karena ditolak.
“Mungkin lebih baik kita begini saja, Mas. Dengan begitu aku akan lebih mudah melepasmu.”
“Sorry gue telat, ya?”
Saka mendongak dan mengulas senyum tipis. Dia bangkit dan mempersilakan Kirana untuk duduk. Lalu, dia kembali mengempaskan tubuh di kursi sambil melirik jam di pergelangan tangan kirinya.
“Gue juga baru datang, kok. Mau pesan apa?”
“Samain aja sama punya lo.”
__ADS_1
Saka segera menyampaikan pesanan kepada pelayan yang datang. Lalu, memusatkan perhatian kepada wanita yang duduk di depannya. Dia tersenyum tipis dan berusaha untuk memegang jemari Kirana. Namun, wanita itu langsung menarik tangannya.
“Lo masih cantik aja, Kirana. Andai lo belum nikah, sudah pasti aku akan datang melamarmu.”
Kirana tersenyum sinis dan membuang pandangan sambil mengibaskan tangannya. Setelahnya, dia kembali menatap Saka. Tak lama, dia mengambil ponsel dari dalam tas dan membuka galerinya. Lalu, mengangsurkan benda itu di hadapan Saka. Seketika Saka membeliak menatap layar ponsel Kirana. Sementara, wanita itu menyeringai dan kembali mengambil ponselnya.
“Sebenarnya gue ke sini mau nawarin kerja sama buat lo. Gue berharap lo bisa mempertimbangkan ini sebelum mengambil keputusan.”
Saka memucat di depan Kirana. Keringat dingin mulai membanjiri dahinya. Namun, segera dia hapus menggunakan sapu tangan. Dia meneguk air putih yang ada di depannya untuk mengusir ketegangan yang ada. Lalu, kembali menatap Kirana ragu.
“Da-dari mana lo bisa dapat foto itu, Kirana? Itu pasti rekayasa, kan?”
“Bisa dibilang gue dapat informasi dari sumber terpercaya. Jadi, perlukah gue sebar foto ini?”
“Katakan apa mau lo, Kirana?”
Kirana menyeringai mendengar umpannya disambar oleh Saka. Dia bersedekap dan menatap lekat pria di depannya. Lalu, tersenyum saat pelayan membawakan makanannya. Setelahnya, dia mengambil sendok dan mulai menyantap hidangan di depannya.
“Selesaiin dulu makan lo, baru kita bicara soal kerja sama.”
Saka menurut. Dia menyantap makanan dengan enggan karena fakta yang baru saja dibawa Kirana. Berulang kali dia melirik Kirana yang tampak menikmati makanannya. Baru lima suap makanan yang masuk ke perut, Saka menyudahi makan dan meneguk minuman di depannya. Dia gelisah di tempat duduk dengan mata yang bergerak liar. Lalu, saat Kirana menyelesaikan makannya, dia bergegas bertanya.
__ADS_1
“Katakan apa mau lo, Kirana?”