
Kirana masih bergeming di tempat untuk beberapa saat. Dia menggeram kesal sambil mengepalkan tangan dan mengetatkan rahang. Dia hendak beranjak meninggalkan tempat itu, tetapi terkejut melihat seseorang yang sangat dikenalnya keluar dari kamar bersama seorang wanita sambil menggendong seorang gadis kecil. Kirana segera bersembunyi di balik gorden dan menyaksikan senyum yang hadir di antara kedua pasangan itu.
Kirana meremas kuat gorden yang menutupi dirinya. Lalu, air matanya berderai membasahi pipi karena merasa ditipu mentah-mentah. Bulir bening itu makin deras menjebol pertahanannya ketika melihat pria yang dicintainya mengusap perut sang wanita. Lalu, menyematkan kecupan di keningnya. Setelahnya, mereka melenggang bersama menuju kerumunan orang yang sudah menunggu.
Kirana tak sanggup melihat senyum bahagia orang yang hadir di sana. Dia memutuskan untuk beranjak meninggalkan tempat dengan hati yang hancur. Sesampainya di mobil, dia meluapkan semua kekesalannya. Dia memukul kemudi berkali-kali dan berteriak histeris.
“Kenapa kalian tega lakukan itu padaku, hah! Kenapa kalian tega menusukku dari belakang! Apa salahku!”
Kirana meraung, meluapkan perih yang membebat dada. Bahunya bergetar hebat seiring air mata yang terus berderai. Saat masih larut dengan kesedihannya, ponselnya berdering. Kirana menoleh dan menatap sesaat benda pipih yang terus berpendar itu.
Kirana menghapus air matanya sebelum menjawab panggilan. Amarah yang sempat menguasai terpaksa dia redam sejenak.
“Iya, Mel.”
“Kenapa telepon gue, Kirana? Lo baik-baik aja, kan?”
“Hem. Tadinya gue mau ngajak lo shopping, tapi kayaknya lo lagi sibuk, ya?”
“Sorry, gue lagi di acara ultah anak salah satu pelanggan gue, Kirana. Abis ini gue ke tempat lo, ya?”
“Enggak usah, Mel. Lo pasti capek banget, gue enggak apa-apa, kok.”
“Serius?”
“Hem. Udah dulu, ya, Mel. Gue lagi masak, takut gosong.”
Panggilan terputus. Kirana melempar ponsel ke bangku penumpang sebelum kembali meraung dan memukul kemudi. Tak lama kemudian, dia menyalakan mesin mobil dan melajukannya meninggalkan tempat. Bulir bening masih saja luruh membasahi pipi wanita itu. Dia hanya mengusapnya dan meneruskan membawa mobil menuju apartemen.
__ADS_1
Sesampainya di kondominium, Kirana mengunci pintu dan segera meringkuk di sofa. Membekap dirinya sendiri dan kembali menangis. Kilasan kejadian yang baru saja dia lihat kembali berputar di kepala. Kirana menggeleng kuat, berusaha untuk mengusirnya. Namun, makin kuat dia berusaha melupakan, makin kuat pula ingatan itu tertanam di kepala.
Lelah menumpahkan tangis, Kirana tertidur dalam keadaan yang sama sejak pertama kali duduk di sofa. Lalu, terjaga saat senja datang. Dia menggeliat pelan sebelum mual kembali datang. Dia bergegas berlari ke wastafel dan memuntahkan semua isi perutnya. Usai membasuh mulut, dia luruh ke lantai dan kembali menangis.
“Di saat aku baru merasakan bahagia, di saat bersamaan aku hancur.”
Kirana mengusap perutnya dan terguguk. “Ternyata Mama enggak sekuat yang Mama kira, Sayang. Tapi Mama akan berjuang demi kamu.”
Kirana menghapus air matanya sebelum bangkit dan mencari ponselnya. Setelah menemukan benda yang dicari, dia segera menghubungi seseorang. Pada nada tunggu ketiga, panggilannya diangkat.
“Bisa kita ketemu besok, Pak? Ada sesuatu hal yang ingin saya bahas dengan Bapak. Saya tunggu di tempat biasanya.”
Kirana menyudahi telepon dan beranjak ke dapur. Dia mengambil air dingin yang ada di lemari pendingin dan menenggaknya sampai tandas. Seulas senyum tipis dia sunggingkan.
“Aku enggak mau jatuh sendirian, Mas. Aku akan membuatmu menyesal sudah membuatku hancur.”
Kirana memilih berjalan ke sisi jendela dan menatap langit malam berhias bintang yang berkelip. Dia mengulas senyum tipis sambil bersedekap karena sebuah ide tersusun rapi di kepalanya. Kirana memutar tumit dan berlalu menuju kamar mandi.
Usai membersihkan diri dan berganti baju, Kirana langsung berbaring di ranjang dan memejamkan mata. Mungkin tidur bisa menghilangkan semua kelesah dalam dada.
Keesokan harinya, Kirana terjaga karena mual yang kembali datang. Dia berlari ke wastafel dan memuntah isi perutnya. Setelahnya, dia segera membersihkan diri dan berpakaian. Lalu, beranjak ke dapur dan membuat segelas susu hamil. Dengan perlahan, dia meneguk susu itu hingga tandas. Namun, secepat cairan itu masuk ke lambungnya, secepat itu pula Kirana berlari ke wastafel untuk kembali memuntahkannya.
Usai membasuh mulut dan menghapus air mata yang menggenang di pelupuk, Kirana berlalu ke lemari pendingin dan mengambil air. Setelah minum, dia beranjak ke sofa dan mengaktifkan ponsel. Semua pesan singkat yang kebanyakan berasal dari Aji langsung memenuhi layar. Dia mendengkus kesal dan menghapus semua pesan itu.
Kirana melirik jam dinding dan bergegas menyambar tas selempang sebelum turun ke basement untuk mengambil mobil. Lalu, melajukannya menuju salah satu rumah sakit yang berada di dekat apartemennya. Setelah mendaftar, Kirana duduk di ruang tunggu sambil membuka ponsel. Dia asyik dengan layar di tangannya sampai tidak sadar namanya dipanggil.
Kirana tergagap saat seorang perawat mendekat dan menepuk bahunya. Dia segera berlalu ke dalam ruangan praktik dokter dan keluar lima belas menit kemudian. Wanita itu melangkah menuju lobi dengan tergesa, karena salah satu karyawan klinik kecantikan menelepon dan memberitahu bahwa ada pelanggan yang menunggu.
__ADS_1
Dengan kecepatan sedang, Kirana melajukan mobil menuju klinik. Usai memarkir mobil, dia berjalan tergesa menuju ruangan dan terkejut melihat seorang wanita yang duduk di ruang tunggu. Dia bergeming sesaat sebelum masuk ke ruangan. Kirana mengatur napas yang memburu sebelum memanggil wanita tadi.
Senyum teramat manis terpatri di bibir wanita itu. Kirana membalas dan menyuruhnya duduk. Lalu, beberapa pertanyaan seputar kulit dan jenis perawatan yang akan diambil wanita itu terlontar dari mulut Kirana. Setelahnya, wanita itu menyuruh sang pelanggan berbaring di ranjang, sementara dia memakai masker dan sarung tangan sebelum memulai sesi perawatannya.
Dua jam berselang, perawatan itu berakhir. Sang pelanggan turun dari ranjang, sedangkan Kirana mencuci tangan dan beranjak ke meja kerjanya. Dia menatap layar komputer dan mengetik sesuatu. Merasa diperhatikan, dia menoleh dan melihat wanita di depannya tersenyum.
“Ternyata rekomendasi mertua saya benar, di sini perawatannya bagus. Dokternya juga ramah dan cantik. Saya juga enggak nyangka ternyata kita pernah ketemu di restoran tempo hari, kan? Waktu Maura enggak sengaja nabrak Dokter.”
Kirana tersenyum sekilas dan kembali menekuri layar komputer di depannya. Dia menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan sebelum menatap sang pelanggan.
“Ya, saya ingat sekarang. Ternyata dunia sebegitu sempitnya, ya? Kita bisa ketemu lagi, Mbak ....”
“Ayu, Dok. Nama saya Ayu Pratiwi.”
Kirana tersenyum tipis sebelum menatap lekat wanita di depannya. Dia menelisik Ayu dari atas sampai bawah dan berhenti tepat di perutnya.
“Jadi ... Mbak Ayu sedang hamil?”
“Iya, Dok. Anak kedua. Sebenarnya saya enggak pengen cepet-cepet hamil lagi, tapi suami yang mendesak. Katanya biar rumah tambah rame.”
Kirana tersenyum. Namun, giginya menggeletuk menahan geram. Tangannya juga terkepal erat mendengar penuturan Ayu. Wanita itu kembali menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan.
“Sudah berapa lama Mbak nikah? Kalau saya lihat Mbak masih muda sekali.”
Ayu tersipu dan memegang pipinya. “Apa iya saya masih kelihatan masih muda, Dok? Padahal saya udah nikah tiga tahun yang lalu.”
Kirana merasakan sesak membebat rongga dadanya. Matanya memanas menahan tangis, tetapi berusaha keras dia tahan. Tepat saat itulah ponsel Ayu berdering. Wanita itu bergegas pamit sambil menjawab panggilan. Namun, satu kalimat yang diucapkan Ayu, membuat Kirana menyeringai.
__ADS_1
“Permainan akan segera kita mulai, Mas.”