Awal Petaka

Awal Petaka
AWAL PETAKA NODA LIPSTIK BAB11


__ADS_3

Ini hanya cuplikan, naskah full ada di aplikasi 🙏🙏


Ayu mengangguk sebelum bangkit dari kursi dan berbaring di ranjang. Sementara, Kirana memakai masker dan sarung tangan dan mulai sesi perawatan pada wajah Ayu. Hening meningkahi keduanya sampai Ayu membuka suara.


“Dokter sudah punya suami?”


“Sudah.”


“Pasti suami dokter sayang banget, ya? Dia pasti bangga punya istri seperti Dokter yang cantik, pinter, mandiri, dan punya penghasilan sendiri.”


Di balik maskernya, Kirana menyeringai. Namun, dia tetap melakukan pekerjaan dengan profesional hingga perawatan yang memakan waktu hampir satu jam itu berakhir. Setelahnya, Ayu bangkit dari ranjang dan memperhatikan Kirana yang sedang mencuci tangan.


“Suami dokter pasti ganteng juga, ya? Dokter cantik, dapat suami ganteng. Wah, pasti bahagia banget itu.


Kirana menghentikan mencuci tangannya, lalu menatap Ayu dari pantulan cermin di depannya. Dia tersenyum tipis sebelum kembali mencuci tangan dan mengelapnya hingga kering.


“Takaran bahagia setiap orang itu berbeda. Takaran cantik dan ganteng setiap orang juga berbeda. Tapi yang pasti, saya akan bahagia jika memiliki suami yang setia hanya pada satu wanita. Dan tidak akan mendua meskipun banyak yang menggodanya.”


Kirana memberikan penekanan pada setiap kata yang diucapkannya. Seketika Ayu bergeming dan menatap penuh tanya wanita yang meremas bahunya. Lalu, dia turun dari ranjang dan duduk di depan Kirana yang menulis sesuatu di secarik kertas. Merasa terus diperhatikan, Kirana mendongak dan menatap lekat Ayu.


“Sekarang saya boleh bertanya sesuatu?” tanya Kirana dan dijawab anggukan Ayu. “Bagaimana jika suami yang selama ini menikahi Mbak ternyata sudah mempunyai istri?”


“Suami saya enggak mungkin bohong, Dok. Dia jujur, mamanya sendiri yang bilang ke saya kalau dia masih single.”


“Dan Mbak percaya?”


“Jadi Dokter menuduh suami saya berbohong?”


“Bukan menuduh, saya hanya bertanya. Jika tidak mau menjawab, tidak masalah.”


Ayu memejamkan mata sejenak untuk mengusir ketegangan yang ada. Lalu, menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan sebelum menatap Kirana. Namun, belum sempat membuka kata, Kirana lebih dulu berkata.

__ADS_1


“Kita sama-sama wanita, Mbak. Pasti akan marah jika tahu ada suami yang tega mengkhianati istrinya, kan?”


Tanpa sadar Ayu mengangguk. Melihat itu, Kirana kembali membuka mulut. “Jadi apa yang akan Mbak lakukan jika seandainya suami Mbak kedapatan berbohong dengan menyembunyikan pernikahannya?”


“Kamu egois, Mas! Kenapa kamu mau menikahiku kalau kamu masih sangat mencintainya. Kamu jahat, Mas!”


Ayu memukul punggung Aji. Air matanya kembali luruh, bahkan menderas seiring sesak yang makin membebat dada. Lalu, pukulannya memelan. Wanita itu memeluk Aji dan terguguk sambil menempelkan dahi ke punggung suaminya. Melihat wanita yang telah memberinya seorang anak itu menangis, Aji menghela napas panjang sebelum mengusap punggung tangan Ayu yang melingkari perutnya.


“Mama yang udah maksa aku untuk nikahi kamu, karena istriku belum juga memberikan keturunan setelah dua tahun pernikahan kami.”


Aji menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan sambil terus mengusap punggung tangan istrinya. Dia menoleh dan menatap Ayu yang masih terseduh.


“Maaf, aku memang egois. Aku sebenarnya sudah mau mengakhiri pernikahan kita setiap kali teringat istriku. Tapi, aku juga tak sampai hati melukaimu.”


Ayu melerai pelukan dan kembali menghapus air matanya.


“Sekarang Mas pilih aku atau istrimu itu?”


“Tapi aku juga butuh pengakuan, Mas. Selama ini aku selalu bersembunyi dan hanya menjadi istri simpananmu. Aku mau menjadi satu-satunya wanita di hatimu.”


“Tapi aku mencintai istriku!”


“Aku juga mencintaimu, Mas! Maka, ceraikan dia!”


“Enggak! Sampai kapan pun aku enggak akan menceraikannya!”


“Oke, kalau gitu biar aku yang bilang sendiri padanya untuk melepaskanmu, Mas!”


“Jangan coba-coba lakukan itu atau aku akan marah!”


“Aku enggak peduli! Aku hanya mau kamu jadikan aku istri satu-satunya kamu, Mas!”

__ADS_1


Ayu bangkit dari duduk dan melangkah pergi. Namun, Aji berhasil menyusul dan mencekal tangannya. Dia menarik wanita itu dan memepetnya ke tembok, kemudian mencengkeram erat dagunya.


“Jangan pernah lakukan itu atau aku akan menceraikanmu!”


“Dasar laki-laki egois kamu, Mas! Serakah!”


“Terserah! Silakan hina aku, tapi satu hal yang harus kamu tahu! Aku sudah memberikan apa pun yang kamu mau, menafkahi kamu, bahkan rela mengabaikan istriku! Jadi jangan pernah usik dia! Atau aku akan benar-benar menceraikanmu!”


“Oh, ya? Sebenarnya siapa istrimu itu, Mas? Seberapa berharganya dia untukmu, hah!”


“Dia lebih berharga dari apa pun di dunia ini, bahkan lebih berharga dari pada kamu!”


“Tapi kamu sudah mengkhianatinya dengan menikahiku! Itukah yang kamu sebut mencintainya? Atas dasar apa, hah!”


Aji tersentak begitu mendengar ucapan Ayu. Dia melepaskan cengkeramannya dan mundur sejengkal. Lalu, menunduk dalam dan meraup wajahnya kasar. Pria itu memutar tumit dan hendak berlalu ke meja kerja.


“Semua ucapanku benar, kan, Mas? Dan jika aku tak salah tebak, istri kamu pastilah wanita yang menjadi pemilik Klinik Kecantikan Annisa, Dokter Kirana Saraswati.”


Aji seketika menghentikan langkahnya. Dia berbalik dan kembali mendekati Ayu dengan tatapan nyalang. Melihat reaksi sang suami, wanita itu bersedekap sambil mengangkat dagu. Lalu, tertawa penuh kemenangan sebelum Aji memegang kedua lengannya dengan sangat kuat.


“Mas, sakit! Lepasin!”


“Dari mana kamu tahu semuanya, jawab!”


“Itu enggak sulit. Aku berhasil membuka ponsel kamu dan melihat foto seorang wanita yang kamu peluk dengan mesra. Aku berasumsi dia pasti istri kamu karena melihat cincin pernikahan yang dia pakai. Lalu, aku ingat wajah wanita itu saat aku bertemu dengannya tempo hari.”


“Aaargh!” pekik Aji sambil melepaskan tangan dari kedua lengan Ayu. Dia menjambak rambut sebelum kembali menatap Ayu. “Jangan pernah temui Kirana lagi! Dan jangan pernah mengusiknya!”


“Aku enggak janji, Mas. Aku akan terus menemuinya sebelum kamu penuhi mauku.”


“Lalu, apa mau kamu, Ayu?”

__ADS_1


__ADS_2