Awal Petaka

Awal Petaka
AWAL PETAKA NODA LIPSTIK BAB14


__ADS_3

“Bukan, Yang. Mana mungkin Mas punya pacar. Mas, kan, cintanya sama kamu aja. Ehm, nomor itu memang suka telepon, tapi enggak ngomong apa-apa.”


“Oh, ya? Kenapa enggak diblokir aja kalau emang ganggu, Mas?”


“Iya, Mas akan blokir nanti.”


“Aku harap Mas jujur, ya. Karena aku enggak suka pembohong dan pengkhianat. Jika Mas ketahuan bermain api di belakang, aku akan segera pergi.”


Aji kembali menelan ludah yang terasa panas saat melewati kerongkongannya. Dia meraup wajah sambil menghela napas panjang sebelum kembali menatap Kirana.


“Mas jujur, Yang. Nih, Mas blokir nomornya di depan kamu biar percaya, ya?”


Kirana tersenyum tipis saat Aji memperlihatkan sudah memblokir nomor yang tadi meneleponnya. Untuk sesaat, wanita itu puas dengan tindakan Aji. Namun, dia harus tetap waspada karena yang dihadapinya adalah manusia-manusia licik. Setelahnya, Kirana berusaha memejamkan mata karena kantuk datang menyapa. Aji setia menunggu sang istri di kursi sambil menggenggam jemarinya.


Melihat Kirana sudah tertidur, Aji perlahan mengambil ponsel dan berjalan keluar kamar. Dia duduk di bangku besi dan menghubungi Ayu. Begitu panggilan dijawab, suara wanita itu langsung terdengar kesal.


“Kamu di mana, sih, Mas? Kenapa istri kamu yang jawab? Terus kenapa tadi nomorku diblokir? Apa suruhan istri kamu juga, iya? Beraninya dia sama aku. Emang dasar wanita tak berguna. Mana bisa dia kasih kamu keturunan.”


“Cukup, Ayu! Jangan pernah hina Kirana! Dia istriku!”

__ADS_1


“Aku juga istrimu, Mas! Aku bahkan sudah memberikanmu Maura, dan sebentar lagi adiknya. Sedangkan istri kamu itu kasih kamu apa, hah?”


“Ayu! Sekali lagi kamu hina Kirana, aku akan stop jatah bulananmu!”


“Oh, sekarang kamu berani mengancamku, Mas? Asal kamu tahu, ya, Mas. Istri kamu sudah tahu kalau aku adalah istri kedua kamu. Aku baru memberitahunya siang tadi.”


“Apa! Beraninya kamu menemuinya, Ayu! Bukannya sudah kubilang jangan menemuinya lagi!”


“Karena sudah saatnya istri kamu tahu kalau selama ini suaminya sudah mendua, setidaknya dia menerima dan ikhlas jika berbagi suami denganku.”


Aji menjambak rambut karena frustasi. Lalu, memejamkan mata dan mengantuk-antukkan kepala ke dinding karena pusing yang mendadak datang. Dia menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan sebelum kembali berkata.


“Mulai sekarang jangan pernah hubungi aku sebelum aku yang menelepon dulu.”


Aji kembali memasukkan ponsel milik Kirana ke saku celana sebelum keluar kamar dan menguncinya. Sementara, Kirana mendengkus kesal sebelum kembali luruh ke lantai dan menangis. Bukan, bukan begini harusnya kisah rumah tangga yang dibangun atas nama cinta. Kirana hanya mau membangun biduk rumah tangganya dengan penuh bahagia meskipun belum adanya seorang anak. Namun, impian hanyalah impian, karena semuanya tak pernah jadi kenyataan.


Kirana menyugar rambut dan kembali bangkit setelah menghapus air matanya kasar. Dia berlalu ke tepi ranjang dan menatap sendu nampan berisi makanan yang disiapkan Aji. Kirana menunduk dan mengusap pelan perut ratanya.


“Maafin Mama sama Papa, ya, Sayang. Mama udah enggak kuat lagi harus terus tersiksa begini.”

__ADS_1


Lagi, setetes air mata luruh bersama sesak yang mengimpit dada. Kirana tak menyangka akan begini nasibnya. Usai meluapkan kemarahan, kekesalan, dan kekecewaan, Kirana menghapus air mata dan meraih gelas susu. Dengan perlahan, dia meneguk susu itu hingga tandas. Lalu, beralih kepada buah pisang yang dibawakan Aji. Namun, belum sempat mengupas kulit pisangnya, mual datang menyerang. Dia bergegas ke kamar mandi dan kembali memuntahkan susu yang baru saja menyentuh lambungnya.


Kirana membasuh mulut dan menatap pantulan dirinya di cermin. Dia memejamkan mata sejenak karena mual kembali datang. Bahkan sekarang lebih parah dari sebelumnya. Kembali dia memuntahkan isi perutnya dan mengerang kesakitan kala keram membebat perut bagian bawahnya.


“Akh, sakit ....”


Kirana menggigit bibir bagian bawah sambil memegang perutnya untuk menahan sakit. Dengan tertatih, dia kembali ke ranjang dan meringkuk di bawah selimut. Air mata tak terbendung seiring sakit yang terus membebat perut bagian bawahnya. Dia meremas kuat seprai dan memejamkan mata. Tak tahan dengan sakit yang kian membebat, Kirana tenggelam dalam kegelapan.


Sementara itu, Aji yang masih dalam perjalanan ke kantor, mendadak merasakan gelisah. Dia merasa sangat bersalah dengan tindakannya kepada Kirana. Tak ingin makin larut dalam penyesalan, dia memutar balik kemudi dan kembali ke rumah.


Setibanya di rumah, Aji langsung berlari ke kamar dan membuka pintu. Masih dengan napas yang memburu, dia mendekati ranjang di mana Kirana memejamkan mata. Tangannya terulur mengusap pipi sang istri dan menatapnya sendu. Namun, dia terkejut ketika merasakan tubuh wanitanya sedingin es.


Dengan perlahan, Aji mengguncang tubuh Kirana pelan sambil memanggilnya. Melihat tak ada reaksi, dia menyingkap selimut dan terkejut ketika melihat seprai yang awalnya berwarna putih sudah berubah menjadi merah.


Aji segera membopong Kirana keluar kamar. Matanya mengembun, melihat wajah pucat wanitanya dengan tubuh sedingin es. Dengan perlahan, dia memasukkan sang istri ke mobil sebelum membawanya ke rumah sakit. Selama perjalanan, pria itu tak henti merapal doa agar apa yang ditakutkannya tak pernah terjadi.


“Aku mohon jangan pergi, Kirana.”


Sesampainya di rumah sakit, Aji kembali membopong Kirana ke UGD. Hatinya masih tak tenang, meskipun sang istri sudah ditangani oleh dokter. Dia menunggu di bangku besi sambil menunduk dalam. Berulang kali dia mendongak untuk menghalau air mata yang hampir saja tumpah. Menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan sebelum kembali menunduk dalam.

__ADS_1


Aji makin diperam kelesah ketika melihat telapak tangannya berwarna merah dengan bau anyir yang menyengat. Dia kembali menghela napas panjang sebelum beranjak untuk mencuci tangan. Saat kembali, dia melihat seorang dokter yang memanggil namanya.


“Saya suaminya pasien yang tadi, Dok. Jadi gimana istri saya?”


__ADS_2