
Aji membeliak melihat Kirana tak sadarkan diri. Dia bergegas membopong sang istri dan membaringkannya di ranjang. Pria itu mengusap lembut kepala Kirana, lalu menggenggam jemarinya sambil mengucapkan kata maaf.
Aji melepaskan genggamannya dan membuka laci nakas untuk mencari minyak angin. Namun, benda itu tidak juga ditemukannya. Dia langsung beranjak ke meja rias dan kembali mencari minyak angin. Mendengar suara erangan lirih Kirana, Aji menoleh dan bergegas mendekat.
“Sayang, kamu enggak apa-apa? Maafin Mas, ya? Mas enggak bermaksud buat kamu kayak gini.”
Kirana beringsut duduk. Namun, saat suaminya membantu, dia menepisnya. Lalu, wanita itu menatap pria yang duduk di depannya dengan mata yang sudah mengembun. Jantungnya bagai diremas kuat mengingat kejadian yang baru saja terjadi di restoran. Kalimat yang sudah hendak dimuntahkan, kembali tertelan ke perut. Kirana mendekap dirinya sendiri lalu terseduh. Dia menenggelamkan kepala di antara dada dan lutut yang ditekuk.
Aji panik melihat sang istri menangis. Dia bangkit dari duduk dan menjambak rambut. Lalu, meraup wajahnya kasar sambil menghela napas berat sebelum kembali duduk di depan Kirana. Dengan perlahan, tangannya terulur mengusap kepala sang istri. Namun, Kirana menepisnya kasar.
Dengan mata penuh air mata, Kirana berusaha menatap lekat pria yang ada di depannya. Dia menguatkan diri untuk bertanya setelah semua bukti ada di depan mata. Namun, suara dering ponsel Aji membuatnya kembali menelan kecewa.
Aji bergegas menjawab panggilan begitu melihat nama yang tertera di layar. Dia menyingkir ke sisi jendela dan menatap ke halaman belakang.
“Ada apa? Harus sekarang? Baik, saya siap-siap sekarang. Segera pesankan tiket pesawat secepatnya.”
Aji menutup panggilan dan menghela napas berat sebelum memutar tumit dan menghampiri Kirana. Dia duduk di depan sang istri dan menatap lekat wanitanya. Tangannya terulur menghapus air mata yang membasahi pipi Kirana, meskipun sempat ditolak.
“Mas harus pergi ke kantor cabang di Surabaya, Yang. Mendadak ada masalah yang harus segera Mas tangani. Nanti kita bicarakan masalah ini setelah Mas pulang, ya?”
__ADS_1
Melihat Kirana tak menjawab, Aji kembali menghela napas berat sebelum beranjak ke lemari dan menurunkan koper. Lalu, memasukkan satu per satu baju ke koper. Namun, gerakannya terhenti sesaat ketika melihat Kirana mengikis jarak dan membantunya. Aji tersenyum dan hendak merengkuh tubuh sang istri dalam dekapan, tetapi Kirana menghindar.
“Aku akan tunggu penjelasan dari Mas.”
“Iya, Yang. Mas janji akan jelaskan semuanya sepulang dari kantor cabang nanti.”
Aji hendak menyematkan kecupan di kening Kirana, tetapi lagi-lagi ditolak. Kirana menghindar dan menatap dari kejauhan sampai sang suami masuk ke mobil. Dia bersandar di ambang pintu sambil bersedekap saat mobil yang ditumpangi sang suami perlahan menjauh.
Kirana memutar tumit dan kembali ke kamar. Dia menatap hampa foto pernikahan yang ada di nakas. Lalu, menunduk dalam dan menangis dalam diam. Tak ingin terlalu larut dalam kesedihan, Kirana meraih foto pernikahannya dan memasukkan ke nakas.
“Alasan apa yang mau kamu ucapkan, Mas?”
Kirana menghapus air matanya sebelum beranjak ke kamar mandi. Dia mengisi bathub dengan air hangat, menuangkan garam laut, dan menyalakan lilin aroma terapi. Setelahnya, wanita itu berendam sambil memejamkan mata. Melupakan sejenak masalah yang datang menerpa dan memanjakan diri adalah pilihan yang tepat.
“Mama sekarang hanya punya kamu, Sayang. Kita harus kuat menghadapi semuanya. Mama akan berjuang buat kamu.”
Tiga puluh menit kemudian, Kirana menyudahi acara berendamnya. Dia membilas tubuh sebelum memakai handuk kimono dan melangkah ke kamar. Lalu, membuka ponsel dan membaca semua pesan singkat yang masuk. Dia tersenyum saat membaca pesan yang dikirimkan Amelia.
Kirana segera menekan nomor sang sahabat, tetapi sampai dering terakhir, panggilannya belum juga diangkat. Wanita itu mengernyit dan mengedikkan bahu sebelum meletakkan kembali ponsel ke nakas. Kirana segera berganti baju dan melangkah menuju dapur. Dia membuka lemari pendingin dan bergeming sesaat.
__ADS_1
“Ternyata bahan makanan juga udah habis.” Kirana bermonolog, lalu menunduk dan mengusap perutnya. “Haruskah kita belanja sekarang, Sayang?”
Kirana mengangguk sekilas sebelum menutup lemari pendingin dan kembali ke kamar. Dia menyambar kunci mobil dan tas selempang sebelum beranjak ke garasi. Dengan perlahan, dia melajukan mobil menuju salah satu pusat perbelanjaan. Usai memarkir mobil, Kirana menuju gerai semua kebutuhan rumah.
Selama dua jam, Kirana berkeliling membeli semua kebutuhan dapur. Dia memilih beberapa sayuran, buah, dan protein hewani untuk memenuhi lemari pendingin di rumah. Saat melewati rak yang memajang susu hamil, dia bergeming sesaat.
Kirana tersenyum tipis sebelum mengambil salah satu susu dengan rasa cokelat.
Lelah berputar mencari kebutuhan rumah, Kirana memutuskan untuk duduk di depan gerai makanan cepat saji. Dia mengedarkan pandangan sebelum merogoh ponsel dan mengeceknya. Satu helaan napas panjang berhasil lolos dari mulut wanita itu saat melihat ponsel. Hatinya berdenyut perih karena sejak kepergian sang suami, belum ada satu pun pesan darinya yang masuk.
Biasanya Aji akan setia mengirimkan pesan singkat yang membuat Kirana merasa ada. Meskipun kalimat sederhana, tetapi dia merasa diperhatikan. Bodohnya Kirana baru menyadari itu. Kirana menunduk dalam, mencoba menetralisir gelebah dalam hati dengan menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Lalu, kembali mendongak dan tersenyum. Setelahnya, Kirana bangkit dan membawa belanjaannya menuju tempat parkir.
Usai memasukkan semua belanjaan, Kirana melajukan mobilnya perlahan. Padatnya jalanan membuat wanita itu harus menahan sabar. Dia mengedarkan pandangan dan terkejut saat melihat mobil yang biasanya dipakai Amelia. Kirana mengulas senyum dan berniat mengikuti sang sahabat.
Dua puluh menit lepas dari padatnya jalanan, Kirana mengekor mobil Amelia. Senyum masih mengembang di mulut wanita itu. Namun, saat melihat Amelia berhenti di depan sebuah toko mainan, Kirana mengernyit. Kepalanya sudah penuh dengan pertanyaan, tetapi dia memutuskan untuk menunggu dalam mobil. Setelah melihat Amelia keluar dari toko mainan sambil mengulas senyum dan masuk kembali ke mobilnya, Kirana kembali mengikutinya.
Rasa penasaran makin membuncah ketika Amelia masuk ke kompleks perumahan Astana. Kirana mengernyit heran, tetapi tetap melajukan mobilnya mengikuti sang sahabat. Saat melihat Amelia berhenti dan turun dari mobil di depan salah satu rumah, perasaan Kirana makin berkecamuk. Mendadak kepala wanita itu berdenyut nyeri. Dia memejamkan mata sejenak untuk meredam ketegangan yang ada.
Kirana membuka mata dan menghela napas panjang sebelum memutuskan turun dari mobil. Rasa penasaran yang memenuhi tempurung kepala, membuatnya perlahan melangkah mendekati rumah itu. Banyaknya mobil yang terparkir, mengisyaratkan ada acara yang sedang berlangsung di rumah itu.
__ADS_1
Kirana makin melangkah masuk dan bergeming sesaat membaca tulisan yang terpasang di pintu masuk. Hatinya kembali berdenyut nyeri. Dia memejamkan mata sejenak sebelum kembali melangkah ke dalam. Tawa riang langsung terdengar ketika Kirana melangkah makin ke dalam rumah. Jantungnya berdentam kencang seiring langkah yang makin mendekati sumber suara. Lalu, dia terkejut saat melihat apa yang sedang terjadi di depannya.
“Jadi beginikah kelakuan kalian di belakangku?”