Awal Petaka

Awal Petaka
AWAL PETAKA NODA LIPSTIK BAB 14.


__ADS_3

Aji segera mendekat dan memeluk erat Kirana dari belakang. Namun, wanita itu berontak dan melepaskan pelukan suaminya. Kirana berbalik dan menatap tajam pria yang ada di depannya.


“Kamu yang membuat anakku pergi! Kamu yang membuat semua ini terjadi! Kamu yang telah membunuhku pelan-pelan! Puas kamu sekarang, hah! Puas!”


Kirana mengikis jarak dan langsung memukul dada bidang suaminya. Dia menumpahkan semua kemarahan pada Aji. Kirana bahkan menjambak rambut dan mengguncang kuat tubuh pria itu. Namun, Aji memilih bergeming dan menerima semua perlakuan istrinya.


Usai menumpahkan semua kemarahan dan kekecewaannya, Kirana luruh ke lantai dan terguguk. Bahunya berguncang kuat karena sesak yang membebat rongga dada.


Aji ikut duduk di lantai dan merengkuh Kirana dalam pelukan. Meskipun awalnya ditolak, lama-kelamaan Kirana bergeming. Dia kembali terguguk dalam dada suaminya.


“Kamu jahat, Mas! Kamu jahat!” seru Kirana sambil kembali memukul dada suaminya.


“Iya, Mas memang jahat, Yang.”


“Gara-gara kamu, aku kehilangan anakku, Mas! Anak yang sudah aku tunggu selama lima tahun!”


“Mas tahu, Yang. Mas juga sama sedihnya kayak kamu.”


“Bohong! Kamu pasti seneng, kan, sekarang! Di sini hanya aku yang sakit, sedangkan kamu sudah punya anak dari wanita itu! Jadi enggak usah sok peduli sama aku!”

__ADS_1


“Mas enggak mungkin enggak peduli sama kamu, Yang. Kamu masih istri Mas.”


“Lalu, kenapa kamu tega lakukan ini ke aku, kenapa!”


“Maafin Mas, Yang. Maaf.”


Kirana mendorong dada Aji menjauh dan menghapus kasar air matanya. “Aku mau kita pisah, Mas. Aku enggak sanggup lagi terus berbohong dan bilang aku baik-baik saja, padahal nyatanya aku tersiksa.”


“Maaf, Yang. Mas minta maaf, Yang. Mas salah, tapi tolong jangan minta satu hal itu.”


“Kenapa? Mau berapa banyak lagi kamu nyakiti hati aku, Mas? Kamu mau lihat aku mati, iya?”


“Kamu egois, Mas!”


“Terserah kamu mau anggap Mas apa, tapi Mas enggak akan pernah setuju kalau kamu minta pisah.”


“Aaargh! Aku benci kamu, Mas!” Pekik Kirana sambil menjambak rambut. Dia kembali menolak saat Aji hendak menyentuhnya. “Jangan sentuh aku dengan tanganmu itu, Mas!”


“Oke, Mas paham. Memang lebih baik kalau kita menjauh sesaat untuk berpikir jernih dan merenung. Mas akan pulang ke rumah Ibu untuk sementara waktu.”

__ADS_1


“Enggak usah! Biar aku yang pergi dari sini!”


“Enggak, Yang. Mas beli rumah ini memang untuk kamu, jadi biar Mas yang pergi dari sini.”


Aji menghela napas panjang sebelum beringsut bangkit. “Mas akan pergi sekarang, Yang. Tapi berjanjilah untuk tidak melukai dirimu sendiri, yah?


maaf kan aku yahh telah nglakuin hal bodoh dalam hidup kuh semoga kamu sehat selalu yhh Kirana


Kirana : hmmmm kamu jangn pergi yah mas tapi kamu janji jangn buat kesalah ini lagi mas


aku mau maafin kamu sekali ini saja mas tapi kamu janji yah ga bakalan ngulangi kesalah yang kaya bgini lgii


aji:hmm terimakasih yah syg kamu mau me maafkan


kesalah aku ini aku janji ga bakalan buat kesalahan bgini lagi


aku mau kita tetap bersama dan jangn ada yg pergi aku janji sayang


Kirana :Iyah mass kita bakalan tetep bersama semoga kamu ga bakalan ngulangi kesalah kamu yang sama lgi yahh sygg karna sejati nya laki laki adalah janji nya semoga kamu nepatin janji kamu untuk selama lama nya

__ADS_1


ajii:iya aku ga bakalan ngulangi kesalah aku lagi yang sama karna aku bner bner mencintai muhh kirana


__ADS_2