
Sejak tragedi mengenaskan malam itu, Santika merasa harga dirinya sebagai seorang istri telah lenyap. Banyak serentetan peristiwa yang membuatnya berpikir, "Ini Mas Panji nyari pendamping, atau pembantu, ya? Kalau nyuruh aku ketus terus. Apa yang aku lakukan pasti selalu salah di matanya,"
Diam salah, bicara apalagi, pasti kena semprot. Itu yang dirasakan oleh wanita dengan tahi lalat kecil di bibir bagian atasnya beberapa bulan terakhir ini.
Lamunannya pun mengangkasa, ada banyak hal berat yang membuatnya jadi lebih banyak pendiam. Matanya terpejam. Selongsong ingatan akan kenangan manis bersama mantan kekasihnya itu pun melintas.
"Dek, kamu mau kan jadi istriku?" tanya Panji kala Santika masih semester tujuh, sedangkan Panji sudah bekerja di kantor pajak.
Santika yang dikategorikan sebagai remaja peralihan dewasa saat itu pun mengulum bibirnya. Merasakan sesuatu yang berdesir dalam hatinya.
"Ma-mau, Mas," jawab ia pelan. Ada rasa malu untuk mengungkapkan hal itu.
"Yes! Makasih, ya, Dek! Kita akan sukses bersama. Walaupun sekarang aku masih honorer, tapi aku janji bakal kerja keras demi masa depan kita!" ucap Panji yakin.
Santika pun terharu. Mata indahnya menatap dalam manik lelaki di hadapannya. Ia merasa mencintai dan dicintai orang yang tepat.
Setelah lulus sarjana, ternyata Panji belum jadi menikahinya lantaran sedang melanjutkan pendidikan ke jenjang magister. Ditambah terhalang restu dari orangtua lelaki berkumis tipis itu.
Bu Sundari terang-terangan menolak kehadiran Santika. Ia merasa rendah jika harus berbesanan dengan orang dari kampung yang hanya petani. Namun, karena Panji meyakinkan ibunya, akhirnya mereka menikah saat anak nomor dua Bu Sundari itu lulus, dan Santika sudah bekerja di perusahaan asuransi.
Penghujung tahun 2015 mereka mengikat janji suci sehidup semati. Panji nampak sangat bahagia, begitupun dengan Santika. Bersyukur karena pada akhirnya kisah cinta mereka bermuara pada pelaminan.
Hari-hari penuh tawa seolah melambungkan perasaan bahagianya.
"Mas Panji nih kebiasaan, deh! Naruh handuk basah di kasur! Hiiih ada lagi ini, baju udah kotor digletakin gitu aja, padahal udah berulang kali dibilangin kalau baju kotor taruh di keranjang baju kotor!" omel Santika saat mereka mulai menjajaki kehidupan satu atap.
Panji kala itu hanya terkekeh. Kebiasaan-kebiasaan baru yang tak diketahui sebelumnya oleh mereka pun seolah terbuka semua saat sudah satu atap. Santika yang bersihan dan risihan. Sedangkan Panji yang nglemproh alias jorok.
Saat Panji sakit, Santika akan terus nyerocos sembari merawat Panji.
"Makanya, Mas! Kalau udah tahu lagi hujan, ya, dipakai jas hujannya. Jadi gak gini. Baru juga kehujanan sebentar, Mas sudah tumbang. Badan meriang, kepala mual, perut pening!"
__ADS_1
Lelaki berkulit bersih itu pun tertawa mendengar omelan sang istri. Dulu, ia menikmati setiap apapun ocehan yang keluar dari bibir ranum istrinya. Ketika gemas karena sang istri terus nyerocos, akhirnya tak jarang ia mengecup dan ******* lembut bibir istrinya agar diam.
Namun, bukannya diam. Setelah ciuman singkat itu terlepas. Santika semakin panjang menceramahi suaminya. Panji dengan santai menanggapi kebawelan istrinya dengan kekehan kecil. Dulu.
Di masa sekarang....
Netra wanita berwajah ayu itupun terbuka. Kesadaran membawanya pada kenyataan. Hampir satu tahun belakangan ini, sang suami berubah menjadi dingin.
Tidak ada sapaan "Dek" lagi. Ucapan ketus dan sikap acuh mendominasi kehidupan rumah tangga mereka. Tepatnya setelah putra mereka lahir. Sikap Panji mulai berbeda.
Apa benar yang dikatakan Audrey kalau Mas Panji pernah terlihat jalan bersama seorang wanita? batinnya berkecamuk. Ia ingin menangkis semua pikiran buruk, namun, perasaannya rapuh.
---
Dua minggu berjalan maju....
"Besok ke rumah ibu! Ada acara syukuran ulang tahun bapak yang ke-65," ujar Panji dengan nada datar saat malam hari sebelum tidur.
"Kamu datang saja dari pagi. Bantu-bantu masak atau bersih-bersih kek! Kan udah aku bayar sembilan ratus ribu. Gak usah banyak nanya! Besok datang aja kesana, ingat, ya, bantuin! Jangan jadi nyonya doang kalau di sana!" tutur Panji panjang.
Hati wanita berambut panjang itu teriris setiap kali sang suami mengingatkan akan uang enam puluh dollar alias sembilan ratus ribu. Dengan syarat yang menurutnya keterlaluan.
Santika tak menjawab. Ia mendengkus pelan dan melanjutkan aktivitasnya mengganti diaper anak keduanya.
Keesokan paginya di rumah mertua.
Jarak dekat rumahnya dengan rumah mertua membuatnya sedikit banyak menahan dongkol karena sikap sang ibu mertua yang seringkali menyayat kalbunya.
Omongan secara langsung maupun gosip yang disebarkan pada tetangganya membuat Santika harus menguatkan mental dan fisik.
Pagi itu, ia datang dengan membawa Aisar. Sedangkan Aina sudah berangkat sekolah. Sudah bisa ia duga, di sana pasti menantu kesayangan ibu mertuanya sudah sampai lebih dulu.
__ADS_1
Santika sampai di ambang pintu belakang. Terdapat suara bersahutan yang tak lain sedang menggosipkan dirinya. Hingga ia pun mengurungkan niat untuk masuk. Ia menggendong Aisar dan menguping pembicaraan mereka.
"Ih, Santika itu sejak udah gak kerja jadi makin burik! Gak terawat. Gak seperti Restri nih, walaupun sudah punya tiga anak, badannya masih singset, kulitnya putih bersih, cantik lagi!" ujar ibu mertua di depan sanak saudara yang menang sengaja datang untuk membantu memasak untuk acara syukuran.
"Ditambah adanya Aisar, ah! Makin gak menarik. Makanya aku tuh nyuruh anakku buat ceraikan dia saja. Terus nikah sama Susanti. Sampai sekarang Susanti anaknya Pak Mashuri itu masih mau loh nungguin Panji!" imbuh Bu Sundari.
Darah Santika Dewi terkesiap. Ingin ia meledak, namun, ia ingat pelajaran mengendalikan emosi bahwa emosi yang meledak-ledak tidak akan menyelesaikan masalah dan akan berdampak pada kesehatannya sendiri.
Ia menarik napas panjang dan menggembuskannya pelan. Kemudian mengucapkan salam dan masuk ke dapur. Orang-orang di dalam sana terkejut dan menunduk, mungkin merasa sungkn. Namun, ibu dua anak itu menyikapinya dengan santai, seolah ia tak mendengar apapun.
Saat sedang membantu mengupas bawang, kakak iparnya datang menghampiri dengan menenteng tas berlabel GC. Ia menatap malas pada sang ipar. Sudah tahu akan kemana muara pembicaraan Mbak Restri.
"Eh, San! Kamu sih gak di sayang sama Panji! Jelas banget. Dia tuh eman-eman kalau mau belikan tas mahal branded buat kamu. Karena kamu tuh ndeso! Kampungan! Gak pantas pakai tas kayak gini! Nih, aku dibelikan suamiku tecinta, Mas Arya Kenapanu!" ujar Mbak Restri dengan menyodor-nyodorkan tas berwarna hitam metalik di hadapan Santika.
Santika sengaja memancing sang ipar untuk terus pamer. Ia bertanya, "Oh, berapa harganya, Mbak?"
Restri sangat senang karena adik iparnya itu menanyakan harga. Baginya, hal ini bisa mendongkrak kepopulerannya sebagai istri mandor proyek.
"Harganya dua puluh juta! Gaji Panji juga harus dikumpulin dulu kalau mau beli begini! Apalagi kamu sekarang pengangguran!"
Santika tersenyum kecut. "Murah amat dua puluh juta! Sudah dipastikan itu sih cuma barang KW. Eh Mbak, kalau aku pengangguran, terus Mbak apa dong?"
"Maksudmu?" tanya wanita berambut pirang panjang di hadapan Santika.
Ibu muda itu mendengkus pelan, kemudian berujar, "Oh iya, aku ingat. Mbak Res kan sekarang sudah punya kerjaan, ya! Kerjaannya julid sama adik ipar dan demen pakai plus pamer barang KW!"
Ada tawa kecil di akhir kalimat wanita muda itu. Sang ipar yang tersulut emosinya itu pun mendelik, kemudian menyentak napas dan berbalik meninggalkan adik iparnya.
Santika hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan kakak iparnya.
Menantu kesayangan sama saja dengan ibu mertuanya. Akhirnya kuapok kena mental! ujar Santika pelan dengan kekehan kecil.
__ADS_1