Awal Petaka

Awal Petaka
AWAL PETAKA NODA LIPSTIK BAB2


__ADS_3

Kirana bergegas menghampiri pintu dan membukanya. Dia mengulas senyum, tetapi hanya dibalas tatapan sekilas. Usai mencium takzim punggung tangan suaminya, dia mengekor sampai ke kamar.


“Mau makan, Mas? Biar aku angetin dulu makanannya.”


“Enggak usah, Sayang. Aku udah makan tadi. Aku capek, mau langsung tidur aja.”


Kirana menatap Aji yang berganti baju lalu naik ke ranjang. Dia menghela napas berat dan berlalu ke dapur setelah memungut baju milik Aji yang berserak di lantai. Sesampainya di depan keranjang pakaian kotor, Kirana menoleh dan memastikan tak ada yang melihatnya. Lalu, mencium jas sang suami dan menggeram kesal ketika menemukan ada bau parfum yang sama seperti sebelumnya.


Kirana meremas kuat jas itu sebelum membuangnya ke keranjang pakaian kotor. Dia memejamkan mata sejenak untuk mengurangi ketegangan. Lalu, menyugar rambut sambil menekan kuat kulit kepala yang terasa berdenyut.


Tak kuat dengan pemikiran buruk yang berkelebat di kepala, Kirana memilih duduk di meja makan. Dia menatap hampa makanan yang belum tersentuh di hadapannya. Lalu, satu helaan napas berat lolos dari mulutnya bersamaan dengan air mata yang luruh membasahi pipi.


Kirana rela menghabiskan waktu di dapur, memasak makanan kesukaan Aji demi perayaan istimewa malam ini. Namun, hanya tatapan sekilas yang didapat. Bahkan senyum pun tak dia lihat di wajah pria yang selama lima tahun ini menemaninya. Hatinya makin diremas kuat manakala Aji seperti melupakan hari istimewa mereka dan memilih tidur.


Kirana terisak. Bahunya bergetar karena sesak yang membebat rongga dada. Tak lama kemudian, dia menghapus air matanya kasar dan membenahi meja makan. Lalu, kembali ke kamar dan menatap wajah damai sang suami yang terlelap.


“Semudah itukah kamu lupakan hari ini, Mas?”


Lagi, satu tetes air mata luruh membasahi pipinya. Dia segera menghapusnya, lalu merebah dengan posisi memunggungi suaminya. Matanya hampir saja terpejam ketika mendengar suara ponsel sang suami. Dia kembali terjaga dan beringsut duduk. Lalu, meraih ponsel di nakas dan menatapnya sekilas. Namun, belum sempat diangkat, panggilan itu berakhir.

__ADS_1


Kirana hendak membuka ponsel sang suami, tetapi mengernyit heran saat mendapati hal tak biasa. Selama ini Aji tak pernah mengunci ponselnya, tetapi sekarang dilakukannya. Kirana mengernyit heran. Namun, dia hanya mengedikkan bahu sebelum meletakkan kembali ponsel Aji ke tempatnya.


Kirana menyugar rambut dan menghela napas panjang. Dia berulang kali menggeleng, lalu menatap suaminya.


“Apa yang sebenarnya kamu sembunyikan dariku, Mas?”


Lelah berdebat dengan pikirannya sendiri, Kirana kembali merebah. Dia menghela napas panjang sebelum memejamkan mata. Lalu, menjelajahi alam mimpi hingga keesokan harinya.


Tangan Kirana meraba samping tempatnya tidur dan mengernyit karena tak mendapati Aji. Dia beringsut duduk dan mengedarkan pandangan. Lalu, turun dari ranjang dan berjalan menuju ruangan wardrobe. Dia kembali dibuat heran saat melihat Aji sudah berpakaian rapi.


“Mas mau ke mana? Ini hari libur kalau Mas lupa?”


“Mas ada meeting mendadak, Sayang. Orangnya hanya ada waktu pas libur.”


“Oh, ya? Perusahaan harus membayar lebih, dong, kalau kamu lembur di hari libur, Mas?”


“Mas adalah pemilik perusahaannya, kalau kamu lupa, Sayang.”


Aji menjawil hidung mancung Kirana sebelum berlalu. Kirana berbalik dan menghela napas panjang. Tak ingin larut dengan pikiran buruk yang terus saja menggelayut sejak kemarin, dia bergegas mengekor. Namun, dia terlambat karena Aji sudah melajukan mobilnya menjauhi rumah.

__ADS_1


Mata Kirana mengembun karena perlakuan suaminya. Namun, dia segera menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan.


“Sebegitu penting meeting itu daripada aku, ya, Mas?”


Kirana memutar tumit dan berlalu menuju kamar mandi. Lima belas menit kemudian, wanita itu selesai membersihkan diri dan duduk di meja rias. Dia menatap pantulan dirinya di cermin dan tanpa sadar mengusap pipinya. Lalu, dia menunduk dan melarikan usapan ke perut ratanya.


“Apa karena aku belum bisa memberikan kamu keturunan, makanya kamu mulai berpaling, Mas?”


Air mata Kirana berderai mengingat betapa gigih usahanya untuk mendapatkan momongan. Mulai dari cara tradisional sampai medis, dia lakukan. Namun, tanda-tanda kehamilan itu belum juga nampak.


Belum selesai menumpahkan kegalauan hatinya, suara ponsel yang berdering memuat Kirana menoleh. Dia segera menghapus air matanya dan mencari sumber suara. Kakinya melangkah mendekati ranjang dan mengernyit melihat ponsel Aji berpendar.


Setelah membaca nomor tanpa nama yang tertera di layar, wanita itu mengangkat telepon. Belum sempat membuka kata, suara seseorang dari ujung telepon berhasil membuat Kirana menahan napas sekian detik sambil membekap mulutnya. Air matanya kembali luruh tanpa permisi, seluruh sendi di tubuhnya seolah-oleh kehilangan fungsi. Lalu, Kirana luruh ke lantai sambil menggenggam erat ponsel milik suaminya.


Suara sang penelepon masih terdengar. Usai menguasai diri, Kirana kembali menempelkan ponsel ke telinga.


“Halo.”


Mendadak telepon terputus. Kirana menggeram kesal sambil mengetatkan rahang. Lalu, dia hendak menghubungi kembali nomor tadi. Namun, suara deru mobil terdengar memasuki halaman. Kirana segera bangkit dan menghapus jejak kesedihan di wajahnya. Lalu, memasang wajah dingin seiring terdengar langkah mendekat. Jantungnya bertalu kencang saat melihat gagang pintu kamar diputar. Seulas senyum tipis Kirana sunggingkan kala melihat raut panik yang tergambar jelas di wajah Aji.

__ADS_1


“Cari ini, Mas?”


__ADS_2