
“Kok, bengong? Masa kamu enggak ngenalin Ibu?”
Kirana tergagap sebelum menerima uluran tangan Rahma dan menciumnya takzim. Lalu, senyum tipis disunggingkan Kirana sebelum mengajak Rahma ke ruang kerjanya. Sekilas, Kirana menelisik penampilan Rahma dari ujung kepala sampai ujung kaki. Wanita yang telah melahirkan suaminya itu sangat berbeda dari dua bulan lalu saat terakhir bertemu. Kalau biasanya Rahma selalu menggelung rambutnya dan tanpa riasan, sekarang dia memotong pendek rambutnya dan memakai riasan sedikit menor. Penampilannya lebih modern dan berkelas.
Rahma duduk di sofa, kemudian menyilangkan kaki dan melepas kacamata hitamnya. Dia mengedarkan pandangan dan tersenyum mengejek. Lalu, bersedekap dan menatap Kirana yang berdiri di depannya.
“Enak juga kerjaan kamu, ya? Tinggal duduk, ngajak ngobrol orang, terus dapat duit. Apa yang bikin capek coba kalau dipikir? Tapi ... kenapa sampai lima tahun kamu enggak hamil juga? Kamu yang salah atau Aji? Kalau Aji jelas enggak mungkin, berarti kamu yang bermasalah.”
Kirana menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Lima tahun menjadi menantu Rahma, Kirana sudah tahu betul bagaimana sifat sang mertua. Sejak awal sampai usia pernikahannya menginjak tahun kedua, Rahma masih tulus menyayanginya. Namun, menginjak usia pernikahan yang ketiga, sikap wanita itu mulai berubah. Dia terus saja bertanya kenapa Kirana belum juga hamil setiap kali bertemu.
Rahma mulai berubah saat tahun keempat usia pernikahan Kirana dan Aji. Wanita itu mulai bungkam dan sikapnya pun berubah abai dengan Kirana. Meskipun sesekali pertanyaan Rahma tentang seorang anak masih terdengar menyapa. Kirana hanya akan menanggapi dengan senyuman tipis.
Rahma mendengkus lirih sambil memaku pandangan kepada sang menantu.
“Kamu enggak nawarin saya minum?”
Kirana segera terjaga dari lamunannya. Dia mengangguk sebelum beranjak ke meja kerja dan memesan minuman kepada bagian pantri. Lalu, kembali ke sofa dan duduk di samping Rahma.
“Ibu benar-benar beda sekarang, ya? Saya sampai enggak ngenalin tadi.”
Rahma tersenyum senang mendengar pujian dari sang menantu. Dia merapikan rambut dan ujung lengannya. Lalu, kembali menatap Kirana.
“Jelas beda, dong. Sejak kenal sama seseorang, Ibu jadi pengen cantik juga. Sekarang Ibu mau perawatan muka di sini, biar kenceng dan mulus. Tapi kasih diskon, ya?”
Kirana tersenyum tipis menanggapi ucapan mertuanya. Lalu, saat mendengar suara ketukan, dia segera bangkit dan membuka pintu. Kirana mempersilakan OB yang datang sambil membawa secangkir teh hangat.
“Silakan diminum tehnya, Bu,” ucap OB tadi dan hanya ditanggapi dengan anggukan Rahma.
Kirana hendak menutup pintu, tetapi Rahma bangkit dan mendekatinya.
“Ibu mau perawatannya sekarang karena jam tujuh malam mau ada arisan sama temen-temen Ibu.”
Kirana mengulas senyum dan membawa Rahma menuju salah satu ruangan. Lalu, mempersilakan wanita itu berbaring di ranjang. Kirana lantas memakai masker dan sarung tangan sebelum memulai proses perawatan di wajah Rahma.
__ADS_1
Dua jam berselang, Kirana membuka masker dan sarung tangannya. Sementara, Rahma turun dari ranjang dan beranjak ke cermin. Dia tersenyum puas setelah mendapat perawatan dari sang menantu. Lalu, dia menyambar tas dan berlalu menuju pintu.
“Gratis aja, ya? Kan, Ibu baru pertama kali ke sini. Nanti sebagai gantinya, Ibu rekomendasi tempat ini ke temen-temen.”
“Iya, Bu.”
Kirana bangkit dari duduk dan mengikis jarak. Namun, saat hendak mencium takzim punggung tangan mertuanya, Rahma mengibaskan tangannya. Wanita paruh baya itu kembali memakai kacamata hitam dan menuju pintu. Namun, dia menoleh dan menatap lekat Kirana.
“Seharusnya sudah sejak dulu Aji pisah dari kamu karena belum bisa ngasih keturunan juga. Nyesel aku kasih restu buat kalian. Nyatanya cuma dapat mantu yang susah hamil. Untung cantik dan pinter cari duit.”
Kirana hanya mengelus dada melihat sikap dan ucapan sang mertua. Dia tak habis pikir bagaimana bisa wanita yang biasanya sederhana itu mendadak berubah drastis. Meskipun kata-kata yang dilontarkan wanita paruh baya itu sering kali menyakiti hatinya, Kirana tak ingin membalas. Bagaimanapun Rahma adalah ibunya juga.
Usai membasuh tangan, Kirana mengusap perut ratanya sambil tersenyum. “Kata-kata Nenek jangan didengerin, ya, Nak. Nenek memang suka begitu kalau ngomong, ceplas-ceplos.”
Kirana segera menurunkan tangan dar perut dan menoleh begitu mendengar pintu terbuka. Melihat Amelia yang ada di ambang pintu, dia tersenyum.
“Kenapa, Mel?”
“Makan, yuk! Udah siang ternyata.”
Amelia terkejut dan segera mendekati Kirana. Dia menarik lengan sang sahabat dan mengajaknya ke mobil. Mau tidak mau Kirana duduk di bangku penumpang dan pasrah ke mana Amelia akan membawanya.
Sesampainya di depan sebuah restoran, Amelia menghentikan mobilnya. Lalu, mengajak Kirana turun dan menuju salah satu meja yang terletak di sudut. Saat Amelia memesan makanan, Kirana mendadak merasakan mual. Dia bergegas bangkit dan berlari ke toilet untuk memuntahkan isi perutnya. Setelahnya, dia membasuh mulut dan berbalik. Namun, dia bergeming sesaat ketika melihat seseorang keluar dari bilik kamar mandi. Mereka berserobok sesaat.
Kirana mengulas senyum dan hendak berlalu. Namun, dia terkejut ketika seorang gadis kecil mendadak menabraknya hingga terjatuh. Wanita yang ditemui Kirana tadi terkejut dan segera menghampiri anak kecil itu dan menggendongnya. Dia menoleh dan tersenyum melihat Kirana.
“Maafin anak saya, ya, Mbak? Dia memang suka lari-larian.”
Kirana mengangguk sambil tersenyum. Sementara, wanita tadi mengusap kepala sang anak yang penuh dengan keringat.
“Kamu enggak apa-apa, Maura?” tanya wanita itu dan menggendongnya.
“Memangnya Papa mana, Sayang?”
__ADS_1
“Di depan.”
Maura meminta turun dari gendongan sang ibu. Lalu, berlari ke depan disusul Kirana dan wanita tadi. Gadis kecil itu berbelok dan langsung memeluk kaki seseorang yang sangat dikenal Kirana sambil berteriak.
“Papaaa!”
Kirana bergeming sesaat. Tubuhnya bergetar pelan. Lalu, tangannya terkepal menyaksikan peristiwa di depannya. Matanya mengembun seiring sesak yang membebat dada. Dan saat mata pria itu menatapnya, dia memilih berlalu menuju meja. Kirana menyambar tas kemudian menarik tangan Amelia.
“Kirana, kenapa?”
“Kita pulang, Mel. Gue mendadak pusing.”
“Tapi ....”
“Buruan, Amelia!”
Amelia tergagap dan bergegas menyambar tas sebelum menyusul Kirana yang lebih dulu berlari ke mobil. Setelahnya, dia melajukan mobil menuju klinik, tetapi Kirana memintanya mengantarkan ke rumah.
"Lo enggak apa-apa, Kirana? Kita ke dokter aja, ya? Muka lo pucat banget itu.”
“Gue enggak apa-apa, Mel. Gue cuma butuh istirahat aja.”
“Yakin lo?”
“Hem.”
“Kalau gitu gue balik dulu ke klinik. Kalau ada apa-apa, jangan lupa kabari gue.”
Kirana hanya mengangguk lemah sebelum turun dari mobil. Dia berjalan perlahan menuju rumah. Namun, saat hendak membuka pintu, gerakannya terhenti karena Aji memegang tangannya. Kirana menoleh sebelum membuka pintu dengan paksa dan berlari ke kamar. Dia hendak menutup pintu, tetapi Aji menahannya.
“Mas bisa jelasin semuanya, Sayang.”
“Apa lagi yang mau Mas jelasin, hah? Semuanya sudah jelas. Aku enggak tuli saat anak kecil itu memanggilmu dengan sebutan Papa!”
__ADS_1
Aji berhasil mendorong pintu dan membuat Kirana terhuyung. Dia hendak mendekat, tetapi sang istri mendorongnya. Sekejap mata, Kirana memegangi kepala yang terasa berdenyut hebat. Dia kembali terhuyung sebelum terkulai di lantai.