
Kirana terjaga dengan tubuh yang luar biasa penat. Puas menumpahkan semua kelesah dalam dada semalaman, dia merasa lebih baik. Dia masih ingin menikmati kesendirian di ranjang, tetapi desakan dari perut yang meminta untuk segera dikeluarkan, membuatnya bergegas berlari ke kamar mandi.
Usai memuntahkan isi perut dan membasuh mulut, Kirana menatap pantulan dirinya di cermin wastafel. Di saat hatinya meradang, Tuhan justru memberinya anugerah yang luar biasa. Sebenarnya saat malam anniversary tempo hari, Kirana ingin memberikan kejutan kepada suaminya. Namun, dia sendiri yang tertampar kenyataan karena mengetahui perselingkuhan Aji.
Kirana memejamkan mata sejenak sambil mengatur napas yang terasa sesak. Dia menunduk dalam dan setetes air matanya luruh membasahi pipi. Lalu, segera menghapus air mata itu dan kembali menatap cermin. Tangannya terulur mengusap perut, kemudian seulas senyum tipis dia sunggingkan.
“Mama enggak tahu harus bagaimana sekarang, Sayang.”
Tak ingin terlalu larut dalam kesedihan, Kirana menengadah. Berusaha untuk membendung air mata yang hendak tertumpah. Lalu, menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan sebelum berlalu menuju bathub untuk menyalakan air.
“Mungkin berendam air hangat bisa sedikit membuatku rileks.”
Kirana menikmati sesi berendam hingga tiga puluh menit kemudian. Setelahnya, dia membilas tubuh dan segera keluar kamar mandi. Semalaman mengabaikan ponselnya, Kirana membuka layar dan membaca satu per satu pesan yang masuk. Dari sekian banyak pesan yang ada, hanya pesan dari Aji yang belum dia baca.
Kirana melempar ponsel ke sofa dan beranjak ke lemari untuk mengambil baju. Lalu, kembali ke sofa untuk mengambil ponsel. Tepat saat itulah ponselnya berdering. Membaca nama Aji yang terpampang di layar, dia hanya tersenyum tipis. Kirana mengatur napas sejenak sebelum menjawab panggilan.
“Iya, Mas.”
“Kamu di mana, Sayang? Semalaman enggak pulang, Mas jadi khawatir.”
Kirana menyeringai sambil menggeleng mendengar ucapan Aji dari ujung telepon. Lalu, memutar bola mata malas sebelum kembali membuka kata.
“Aku nginep di rumah Amelia, Mas. Soalnya bosen di rumah selalu kesepian. Kamu terlalu sibuk kerja sampai pulang larut malam setiap hari, bahkan hari libur pun kamu tetap kerja.”
“Maaf, Yang. Bukan maksud Mas begitu, tapi kerjaan di kantor memang lagi banyak-banyaknya. Semalam Mas bela-belain pulang cepat padahal, karena mau ngerayain anniversary kita.”
“Maaf, ya, Mas. Gantian aku yang lupa, soalnya enggak penting juga, kan, dirayain.”
__ADS_1
“Yang, Mas minta ma—“
“Udah dulu, ya, Mas. Amel ngajakin berangkat ke klinik sekarang. Takut kena macet.”
Kirana langsung mematikan panggilan tanpa menunggu jawaban dari suaminya. Dia segera memasukkan ponsel ke tas dan melangkah meninggalkan kondominiumnya. Seulas senyum tipis dia sunggingkan di bibir yang telah dipoles dengan lipstik berwarna nude.
Kirana merasa kembali segar setelah menyendiri semalaman. Kondominium yang dibeli Kirana sebulan yang lalu itu belum diketahui Aji. Rencananya wanita itu ingin memberi tahu saat anniversary, tetapi gagal. Dan memang lebih baik jika Aji tak mengetahuinya sampai kapan pun.
Dalam lift yang mengarah ke lantai satu, Kirana tersenyum tipis sambil menatap cincin pernikahan yang selama lima tahun menghiasi jari manisnya.
“Kamu mau bermain-main denganku, Mas? Jangan salahkan jika aku hanya mengikuti alur yang kamu buat.”
Kirana melangkah keluar ketika pintu lift terbuka. Dia menuju lobi dan mulai memesan taksi online karena mobilnya sudah diantarkan orang ke klinik usai pingsan kemarin. Setelah kendaraan yang dipesan datang, Kirana langsung naik. Selama perjalanan, dia hanya bungkam dan menatap keluar jendela.
Sesampainya di klinik, Kirana melangkah masuk sambil memasang topeng kebahagiaan bernama senyuman kepada karyawannya. Setelahnya, dia segera masuk ke ruangannya dan mengempaskan tubuh di kursi kebesaran. Tak lama berselang, suara ketukan membuat Kirana menoleh. Senyum kembali disematkan Kirana ketika melihat Amelia masuk dan duduk di depannya.
Kirana menggeleng. “Memang gue kenapa, Mel?”
“Gue ngerasa ada sesuatu yang terjadi sama lo. Dari kemarin gue kepikiran lo terus. Mana chat sama telepon gue enggak lo angkat.”
Kirana terkekeh sebelum bangkit dari duduk dan berjalan menuju jendela. Dia bergeming di sisi jendela sambil menatap taman yang terhampar di depannya. Lalu, berbalik dan menatap Amelia.
“Sorry, Mel. Gue ketiduran semalam, lelah hayati, Neng.”
“Beneran?”
“Ya, emang lo pikir apaan? Udah, ah, jangan negatif thinking mulu sama gue. Beidewe, lo udah sarapan, Mel?”
__ADS_1
“Belum. Gue sengaja nungguin lo buat makan bareng. Gue masak nasi goreng tadi, makan dulu, yuk!”
Kirana mengangguk sebelum mengekor Amelia menuju pantri. Dia terus mengulas senyum dan bersyukur karena memiliki sahabat seperti Amelia yang selalu perhatian dan sayang kepadanya tanpa pamrih.
Usai mengucapkan terima kasih atas makanan yang diberikan sang sahabat, Kirana menyuapkan nasi ke mulut. Dia menikmati setiap suapan nasi yang masuk ke perut hingga tandas. Namun, tak berselang lama, dia bergegas bangkit dan berlari ke kamar mandi. Khawatir dengan keadaan sang sahabat, Amelia mengikuti dan mengetuk pintu perahan.
“Kirana, lo kenapa?”
Lima menit berselang, pintu kamar mandi terbuka. Melihat wajah pucat sang sahabat dengan air mata yang merembes, Amelia tahu ada yang tidak beres. Dia bergegas merengkuh Kirana dalam dekapan. Lalu, pecahlah tangis yang sejak tadi tertahan.
“Apa yang sebenarnya terjadi, Kirana?”
Kirana melerai pelukan dan menggeleng lemah. Lalu, kembali duduk di pantri sambil menyusut air matanya. Sementara, Amelia bergegas membuatkan teh hangat dan menyodorkannya kepada sang sahabat.
“Lo kalau ada masalah, cerita ke gue, Kirana. Jangan lo pendam sendiri, enggak baik.”
Kirana menyesap teh hangat di tangannya sebelum menatap Amelia. Dia menggeleng lemah dan tersenyum tipis.
“Gue enggak apa-apa, Mel. Cuma enggak enak badan aja, kok.”
“Beneran?”
“Hem.”
Kirana dan Amelia menyudahi pembicaraan mereka di pantri. Lalu berjalan menuju ruangan masing-masing. Namun, mereka berhenti melangkah ketika salah seorang karyawan klinik memanggil.
“Ada pelanggan baru yang mau konsultasi, Bu.”
__ADS_1
Kirana mengangguk sekilas sebelum berlalu menemui pelanggan yang dimaksud. Dia menelisik wanita yang berdiri memunggunginya. Lalu, bergeming saat wanita itu berbalik dan tersenyum kepadanya sambil mengulurkan tangan.