
Setalah sampai kantor
Selepas kakak iparnya pergi, Santika mendapat dukungan dari bibi atau adik ibu mertuanya.
"Bibi lebih senang sama Nduk Santika daripada sama Restri. Restri itu angkuh. Bibi suka banget tadi ucapan Santi, bikin Restri mental," ujar Bibi Tinah dengan kekehan kecil.
Santika pun tersenyum dan mengucapkan terima kasih pada bibinya.
----
Tiga hari kemudian.
Anak kedua Bu Sundari itu mendatangi orangtuanya. Di rumah utama hanya ada sang ibu dan asisten rumah tangganya.
Panji mengeluhkan tentang Santika yang tak lagi peka terhadapnya termasuk masalah uang dan kejadian pagi tadi.
Dan respon ibunya membuatnya semakin terbakar dan sengit terhadap istrinya.
"Makanya Panji! Kamu tuh uang jangan semuanya dikasihkan ke istrimu! Kasih aja dia dua juta. Yang lima juta kamu pegang sendiri! Lagian enak banget Santi, di rumah doang tapi megang banyak uang! Atau yang lima juta dipegang ibu aja! Aman uangmu sama ibu!" ujar Diajeng Ratu Sundari itu.
Enam jam yang lalu....
Sejak kejadian penyerahan uang diluar nafkah itu, Santika dan Panji seolah ada jarak. Tersekat oleh dinding yang tak kasat mata, yaitu sebuah kecanggungan. Bahkan, Panji tak pernah lagi meminta haknya sebagai suami. Ia membiarkan istrinya begitu saja. Mereka jalan masing-masing.
Empat bulan berjalan, uang itu tidak pernah dipakai oleh ibu muda itu. Uang di luar nafkah yang baginya seperti uang upah pembantu itu disimpannya dalam dompet berwarna biru dalam lemari.
Ia melihat suaminya naik motor untuk berangkat kerja. Padahal biasanya, ia mengendarai mobil.
Kening Santika mengernyit, tapi urung bertanya karena tidak ingin merusak mood-nya sendiri di pagi hari.
Sudah empat bulan pula sejak kejadian itu, Santika tak lagi banyak bicara. Tidak pula merapikan seragam suaminya. Dan menyiapkan segala keperluannya yang dibawa ke kantor.
Karena pernah satu hari setelah malam itu, ibu muda dua orang anak itu masih menyiapkan keperluan sang suami, seperti tas, dompet dan semuanya. Namun, sang suami menangkis tangannya yang dengan cekatan memasukkan barang-barang keperluannya ke dalam tas.
"Cukup! Biar aku saja! Tugasmu urus rumah ini dan anak-anak! Cukup cuci, setrika bajuku, dan siapkan makanan untukku. Untuk merapikan barangku biar aku sendiri!" ucap Panji dengan nada ketus.
Setelah semalaman tidak pulang pasca memberikan uang sembilan ratus ribu itu, sikap suami Santika lebih acuh dan dingin.
Santika bergeming. Mata bulatnya menatap punggung sang suami yang tengah merapikan barang bawaannya sendiri. Tak ada sepatah katapun yang terucap. Sekuat tenaga wanita muda itu menahan air matanya.
Kembali ke hari ini.
Setelah memakai kaos kaki, sang suami gegas menuju pintu. Tak ada kata pamit dan kecupan hangat selama setahun belakangan ini. Dan pagi ini, semua terasa begitu dingin.
__ADS_1
Santika mengawal keberangkatan suami hanya dengan tatapan. Lidahnya kelu untuk sekadar berucap hati-hati di jalan. Menatap sang suami yang mulai melajukan kendaraan roda duanya.
Ditutupnya pintu. Ia bersiap untuk mengantar putri sulungnya ke sekolah. Aisar kecil juga sudah bangun, akan ikut mengantar sang kakak.
Sudah di motor. Aisar digendong di depan. Sedangkan sang putri membonceng di belakang. Berpegangan pinggang sang mama.
"Sudah siap?" tanyanya dengan intonasi riang. Ibu muda itu tak ingin terlihat sedih dan muram di depan anak-anaknya. Sebisa mungkin ia tampilkan wajah ceria dan bahagia.
"Udah, Ma!" jawab sang putri.
"Oke! Berdoa, dulu, yuk!"
Dan motor pun melaju membelah jalanan kampung menuju sekolah swasta dengan program full day school itu.
Sepanjang perjalanan, putri sulungnya menyanyi banyak lagu. Santika pun menikmati perjalanan dengan mendengarkan suara nyaring sang putri. Tak terasa buliran bening keluar dari mata indahnya. Namun, cepat-cepat ia seka agar tak terlihat oleh anak-anaknya.
Mereka sampai di depan gerbang sekolah. Bu guru sudah menunggu. Mereka menyapa sang anak dan juga orangtuanya. Aina mengikuti program full day school karena saat ini, Mama Santika sudah mulai banyak mengikuti kegiatan workshop ataupun seminar kepenulisan.
"Da da mama!" ucap Aina dengan melambaikan tangan sebelum masuk.
Ibu muda itu membalas lambaian tangan sang putri dengan senyum yang mengembang pula.
Tak lama, ia gegas pulang ke rumahnya. Tidak ada yang membantunya. Ia mengurus semuanya sendiri. Termasuk membersihkan rumah. Bersyukur putra kecilnya mengerti keadaan mamanya dan jarang sekali merengek.
Aisar pun mengangguk dan tersenyum memamerkan giginya yang baru ada empat. Dua gigi atas dan dua gigi bawah.
Mereka pun melakukan panggilan video pada uti atau ibunya Santika.
Sebentar saja karena uti harus ke pasar, jadi sambungan telepon video itu diakhiri. Baru saja Santika hendak melangkah ke dapur, handphone-nya berdering. Ia mengambil benda pipih itu. Keningnya mengernyit.
Mas Panji?
Segera ia menjawab telepon dari suaminya.
"Halo, Mas?"
"Kamu ini istri bod*h, ya, San! Dompetku ketinggalan! Aku gak bawa uang sama sekali!"
Hati Santika bak dirajam. Sakit sekali mendapat telepon dengan sumpah serapah dari mulut lelaki yang ia cintai.
"Gak berguna aku bayar kamu! Sekarang aku lagi di bengkel! Rantai motorku putus! Dan aku gak bawa uang sama sekali. Mau ditaruh mana mukaku! Brengs*k!" ujar Panji lagi.
Air mata Ibu muda itu lolos pula. Perkataan suaminya sungguh kasar. Ia bergeming, tak berucap satu kata pun.
__ADS_1
"Ah! Malah diam. Dasar istri gak becus!" pungkas suaminya seraya memutuskan telepon sepihak.
Tubuh wanita berambut panjang itu gemetar. Rasa sakit begitu kuat terasa. Rasanya tidak sanggup. Sudahlah ibu mertuanya juga mengata-ngatainya. Di tambah suaminya pun sekarang demikian.
Ia menarik napas panjang. Menghembuskannya perlahan. Dihapusnya air mata yang menggenang. Ia melangkah menuju dapur. Mulai meracik masakan.
Selesai meracik masakan, ia memandikan putranya. Saat sedang memandikan sang putra, ia mendengar deru motor yang berhenti di depan rumahnya.
Seperti suara motor Mas Panji ...., gumamnya lirih masih dengan menyabuni tubuh Aisar.
Brak!
Pintu dibuka dengan sedikit dibanting. Santika sampai terkejut, begitupun dengan sang putra.
"Santi! Kamu malu-maluin aku!" ucapnya dengan lantang dan wajah yang merah padam.
Santika memakaikan handuk pada tubuh sang putra, kemudian menggendongnya.
Ia bersitatap dengan suaminya. Tatapannya sendu, menyiratkan luka yang dalam.
"Tolong pelankan suara, Mas. Kasihan Aisar kalau kita ngomongnya keras-keras," ucap Santika pelan.
"Halah! Biar saja! Aku gak bawa uang sama sekali! Mau bayar biaya servis saja gak bisa! Padahal aku ini kepala departemen, uangku banyak! Cuma dua puluh lima ribu pun gak ada. Kamu ngapain aja sih, Santi!" cerocos sang suami dengan nada yang menekan.
"Masih untung rantai motorku putus pas masuk jalan kecil! Kalau tadi aku berhenti di tengah jalan raya, di belakangku ada truk besar, bisa mati aku kelindas truk! Senang kamu, ya!"
Deg! Jantung Santika seperti berhenti berdetak. Ia yang tadi membelakangi suaminya, kini berbalik menghadap sang suami dengan air mata yang sudah berlinang.
"Mas, eling! Jaga bicara, Mas! Kalau tadi pas malaikat lewat lalu mencatat apa yang Mas katakan bagaimana?" ucapnya lirih.
Gigi suaminya gemertakan. Amarahnya sudah di ubun-ubun.
"Brengs*k! Malah nyeramahin aku!"
Brak!
Panji membanting kasar pintu kamar. Mata Santika terpejam. Karena suara pintu dibanting itu keras, Aisar pun menjerit dan menangis karena kaget.
Ya Allah ... gara-gara dompet ketinggalan, kok jadi begini banget omongan Mas Panji. Aku salah apa sebenarnya? ucapnya lirih seraya memeluk sang putra dan menenangkanya.
Bersambung
Emang kebangetan sih si Panci eh Panji, ya!
__ADS_1