Awal Petaka

Awal Petaka
AWAL PETAKA NODA LIPSTIK BAB12


__ADS_3

“Terserah Ibu! Aku hanya mau menagih janji Ibu yang akan menjadikanku istri satu-satunya di hati Mas Aji! Kalau Ibu enggak bisa, maka aku yang akan melakukannya sendiri.”


Ayu meninggalkan kamar dan kembali menaiki mobil sebelum melajukannya tanpa tujuan. Dia berputar-putar sebelum memutuskan berhenti tepat di depan Klinik Kecantikan Annisa. Dia menatap lekat bangunan di depannya sambil mencengkeram erat kemudi. Lalu, kembali melajukan mobilnya membelah jalanan yang mulai padat merayap.


Lelah mengendarai mobil tanpa tujuan, Ayu berhenti di depan sebuah rumah makan. Dia turun dan melangkah masuk sambil mengedarkan pandangan. Lalu, terkejut saat melihat seseorang yang sangat dikenalnya. Dia mengikis jarak dan langsung duduk di depannya.


“Tempat ini kosong, kan, Dok?”


Kirana mengalihkan tatapan dari makanan yang ada di depannya kepada Ayu. Lalu, mengangguk sekilas sebelum kembali menikmati hidangannya. Di depannya, Ayu menyeringai dan melambaikan tangan untuk memesan makanan. Tak lama, seorang pelayan datang dan menanyakan pesanan.


“Samain aja kayak punya temen saya itu, ya? Makasih.”


Usai pelayan itu pergi, Ayu menatap lekat Kirana yang tak terganggu dengan kedatangannya. Kirana segera menyelesaikan makan dan bangkit dari duduk. Namun, Ayu menahan tangannya.


“Bisa kita bicara sebentar, Dok? Ada hal penting yang mau saya sampaikan.”


“Maaf, saya masih banyak urusan setelah ini. Permisi.”


Kirana melepaskan tangan Ayu dan kembali melangkah. Namun, suara Ayu yang menyapa rungu berhasil membuatnya bergeming sesaat.


“Padahal saya membawa kabar penting soal suami dokter, lho.”


Kirana menyeringai dan kembali melangkah. Merasa diabaikan, Ayu bangkit dari duduk dan menghadang Kirana.

__ADS_1


“Bagaimana kalau saya tahu bahwa suami dokter sudah menikah lagi dengan wanita lain?”


Kirana tersenyum tipis dan menggeleng. Meskipun jauh di lubuk hatinya sakit bagai ditusuk sembilu, tetapi dia harus bersikap tenang dan berusaha menyembunyikan lukanya. Tangan Kirana terulur memegang kedua lengan Ayu dan menatapnya lekat.


“Saya percaya suami saya. Dia pasti setia dan tidak akan pernah berkhianat.”


“Oh, ya? Bagaimana kalau Dokter salah?”


Kirana melepaskan tangannya dan berjalan melewati Ayu. Namun, wanita itu kembali menghadangnya.


“Bagaimana kalau wanita itu adalah orang yang Dokter kenal?”


Lelah yang bertumpuk setelah seharian bekerja, ditambah sikap Ayu yang mulai menguras emosi, membuat Kirana menghela napas berat. Dia tak tahan lagi karena diganggu. Dia memejamkan mata sejenak sebelum menatap tajam wanita di depannya.


“Mana suami kamu, Kirana? Di saat seperti ini dia malah menghilang dan enggak bisa dihubungi.”


Kirana mengulas senyum tipis sebelum mengusap punggung tangan pria yang menjadi cinta pertamanya.


“Mas Aji masih banyak kerjaan mungkin, Pa. Jadi enggak sempat megang HP.”


“Halah, kerjaan apa? Seberapa penting kerjaan itu dibanding kamu, Kirana? Asal kamu tahu, ya, Hendra bilang perusahaan Aji itu sedang di ambang kebangkrutan. Banyak pembayaran ke klien yang tertunda karena dana yang ada entah disembunyikan ke mana sama suamimu itu.”


Kirana memejamkan mata sejenak, berusaha mengurangi ketegangan yang ada. Lalu, kembali menatap Teguh. Namun, belum sampai membuka mulut, suara pintu dibuka membuat mereka kompak menoleh. Tampak Aji berdiri di ambang pintu sambil membawa satu keranjang buah.

__ADS_1


“Ma, Pa, maaf Aji telat datang. Masih banyak kerjaan tadi di kantor, terus sempat kejebak macet juga pas mau ke sini.”


Aji meletakkan keranjang buah di nakas, juga mengisi daya ponselnya sebelum mencium takzim punggung tangan Widya.


Teguh menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan sebelum bangkit dan menatap lekat menantunya. Melihat kemarahan yang terpancar di mata sang ayah, Kirana menggenggam erat jemarinya.


"Pa ... Kirana mohon, jangan.”


Perlahan, Teguh melepaskan tangan Kirana, kemudian mengikis jarak dan menatap tajam Aji. Sementara, Kirana beringsut duduk dibantu sang ibu. Mata wanita itu sudah basah oleh air mata. Dia tak ingin sesuatu yang buruk terjadi kepada dua pria beda generasi itu.


“Pa, Kirana mohon.”


Teguh menoleh sekilas sebelum kembali menatap Aji yang bergeming di depannya. Amarah sudah menguasai dirinya sejak tiba di rumah sakit saat tidak melihat sang menantu ada di samping Kirana. Pria paruh baya itu mendengkus lirih sebelum meremas kuat kedua bahu sang menantu.


“Sejak awal Papa sudah berpesan agar kamu menjaga Kirana, menyayangi Kirana, dan tidak pernah meninggalkannya. Waktu itu kamu menjawab dengan bersungguh-sungguh, jadi Papa lepaskan Kirana buat kamu. Tapi kenapa sekarang kamu seolah-olah abai sama istri kamu sendiri, Aji?”


Teguh memberikan tekanan pada setiap kata yang keluar dari mulutnya. Hatinya terluka melihat sang anak terbaring sendirian tanpa kehadiran Aji. Hatinya makin menjerit pilu kala wajah pucat Kirana hadir di pelupuk mata. Dia menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan sebelum kembali berkata.


“Papa tahu kerjaan kantor memang penting, tapi apa Kirana tak lebih penting, Aji? Sesibuk itukah kamu sekarang?”


Aji menunduk di depan sang mertua. Dia tak membantah, pun mengiakan semua ucapan Teguh, karena memang seperti itu kebenarannya. Aji sudah kehilangan banyak waktu dengan sang istri dan belum sempat memperbaikinya. Dia memang pantas ditegur, bahkan pantas untuk dimaki karena sudah terlalu banyak kesalahan yang dilakukannya.


“Maaf, Pa. Aji tahu sudah berbuat salah.”

__ADS_1


“Papa harap ini yang terakhir kali kamu begini, Aji. Jika kamu merasa Kirana sudah tak pantas lagi menjadi istri, Jangan pernah menyakiti hati dan fisiknya, karena Papa enggak akan rela kamu lakukan itu. Tolong kembalikan saja dia kepada Papa secara baik-baik. Papa akan dengan lapang dada menerimanya kembali.”


__ADS_2