
dan ke esokan hari nya aji mulai tidak mendekati
wanita lain di karna kan takut sama Karina
tapi selang beberapa tahun lalu aji menemukan sosok wanita cakep dan jga montok
lalu aji mulai mendekati wanita ituhh setelah lama berdektan aji mengajak wanita ituh yang bernama raula Amelia Wati
aji pun mulai mengajak raula makan bareng
setelah lama makan bareng aji dan raula melakukan hal ciuman dan meninggal kan noda lipstik raula ke kemeja aji
pas pulang aji biasa saja kepada Kirana
setelah kirana menyuci pakain aja Kirana menunemukan noda Lipstik yang menempel di kemeja aja Kirana pun langsung marah dstuh dan menanyakan ke aji
__ADS_1
aji :menjawab dengan santai seperti orang tidak tau apa apa .
“Ternyata kelakuanmu sama seperti wanita itu, Mel. Setelah ini, aku akan bermain-main dengan pelaku utamanya.”
Kirana menghela napas panjang dan kembali duduk di kursi sambil menatap layar komputer. Tepat saat itulah ponselnya berdering. Dia membaca nama yang tertera di layar sekilas dan memilih untuk mengabaikannya. Tak lama, panggilan itu mati dengan sendirinya.
Kirana mendengkus lirih sebelum mematikan ponsel karena tak ingin diganggu. Lalu, kembali tenggelam dalam kegiatannya.
Sementara dalam mobil yang melaju menuju perusahaan tempat Wijaya Hadi bekerja, Amelia meremas kuat jemarinya sambil menatap keluar jendela. Sesekali dia melirik Bu Ranti, tetapi kembali menatap keluar jendela.
“Ada apa ini, Ma? Siapa dia?” tanya Pak Wijaya sambil bangkit dari duduknya.
“Coba lihat foto-foto itu biar Papa ingat siapa wanita ini!” seru Bu Ranti sambil menunjuk Amelia.
Dengan tangan sedikit gemetar, Pak Wijaya mengambil beberapa foto di meja dan membeliak melihatnya. Keringat dingin sudah membasahi dahi dan punggungnya. Dia meremas kuat foto itu sebelum menatap nyalang Amelia yang beringsut bangkit.
__ADS_1
“Sekarang Papa ingat, kan, siapa wanita ini?” tanya Bu Ranti sambil mendekati Amelia dan mencengkeram erat dagunya. Lalu, satu tamparan keras dia layangkan di pipi kiri wanita itu.
“Ma, Papa bisa jelaskan semuanya. Dia ... dia yang pertama kali menggoda Papa. Jadi ... jadi Papa ....”
“Tergoda, kan? Dasar lelaki! Di mana-mana selalu sama! Kalau Papa enggak membuka celah buat dia masuk, semua ini enggak akan terjadi! Sudah berapa lama kalian berhubungan!”
“Ma, bukan ... bukan begitu maksud Papa, tapi ....”
“Jawab! Sudah berapa lama kalian berhubungan, hah! Atau perlu aku ambil semua harta yang kau banggakan itu, Pa! Ingat, kamu bisa sesukses ini karena aku, bukan dia!”
Pak Wijaya terduduk lemas di sofa sambil meraup wajahnya kasar, sedangkan Amelia mulai menitikkan air mata. Bu Ranti menggeram kesal, lantas menggebrak meja. Spontan Pak Wijaya dan Amelia terlonjak kaget.
“Papa sudah mengenal Amelia dua tahun yang lalu, Ma. Kami bertemu tak sengaja waktu makan siang di restoran. Awalnya hanya tertarik untuk mencari informasi tentang klinik yang dikelola Amelia, tapi lama-lama Papa merasa nyaman, dan hubungan itu berlanjut sampai sekarang.”
Bu Ranti menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan sebelum berbalik dan menatap tajam Amelia yang masih duduk di lantai. Dia mendekat dan menjambak rambut Amelia, memaksanya untuk berdiri. Lalu, melayangkan tatapan nyalang kepada sang suami.
__ADS_1
“Sekarang Papa pilih Mama atau wanita ini?”