Awal Petaka

Awal Petaka
AWAL PETAKA NODA LIPSTIK BAB 16


__ADS_3

“Gue tahu lo yang udah kirim foto-foto itu ke Bu Ranti, Kirana? Lo sengaja lakuin ini ke gue, buat apa? Teganya lo sama gue? Teganya lo nusuk gue dari belakang? Lo jahat, kirana!”


Kirana tertawa kering sebelum melepaskan tangan Amelia dari kerah bajunya. Dia balik menatap tajam wanita yang masih diperam amarah di depannya. Dengan gerakan sangat pelan, dia mengusap bahu Amelia dan memutarinya. Menelisik wanita yang sudah menjadi sahabatnya itu dari ujung kepala sampai ujung kaki sebelum kembali tergelak.


“Lo bilang gue tega? Lo bilang gue nusuk dari belakang? Sebelum lo bilang itu, apa lo udah ngaca dulu, Amelia?”


Amelia membeliak mendengar ucapan Kirana. Dia mengernyit heran sebelum membuka mulut untuk bicara, tetapi tangan Kirana terangkat dan dia kembali menutup mulut rapat.


“Seorang pelakor berteman dengan pelakor lain dan mereka sepakat menyembunyikan kebusukan yang sudah dipendam selama tiga tahun. Apa itu bukan tega namanya? Jawab, Amelia!”


“Kirana, gue ... gue ....”


“Lo yang udah nusuk gue dari belakang! Lo yang bikin rumah tangga gue hancur berantakan, Amelia! Lo tahu Mas Aji bermain api di belakang gue, tapi lo diem dan berlagak seolah-olah tak ada yang terjadi. Di mana hati nurani lo, Amelia!”


Kirana menjambak rambut dan memukul dada kiri karena sesak yang terasa membebat. Dia beranjak ke sofa dan melemparkan bantal ke tubuh Amelia.


“Teganya lo sama gue, Mel! Teganya lo buat gue sakit! Sekarang jawab, gue atau lo yang jahat! Jawab, Amelia!”


Kirana menghampiri Amelia dan memegang kedua lengannya, mengguncang keras dan terus berteriak. Dia luapkan semua rasa kecewa yang bercokol dalam dada kepada wanita yang ada di depannya.


“Gue benci sama lo, Mel! Gue benci! Lo kira selama ini gue diem karena bodoh! Enggak Amelia, gue diem karena sedang menyusun rencana buat bikin lo hancur! Sama kayak gue!”


Amelia tak mampu mengucapkan sepatah kata karena semua yang dilontarkan Kirana benar adanya. Wanita itu hanya bisa terguguk dan menunduk dalam karena penyesalan yang besar. Amarah yang awalnya membuncah, lindap karena melihat sahabatnya lebih terluka.

__ADS_1


“Maaf ... maafin gue, Kirana.”


“Maaf lo udah enggak ada gunanya lagi, Mel. Gue udah kehilangan semuanya sekarang! Gue hancur! Gue bahkan kehilangan anak yang udah gue tunggu selama lima tahun! Tega lo sama gue, Mel!”


Amelia luruh ke lantai sambil membekap mulutnya. Dia tidak menyangka bahwa sang sahabat sangat terluka. Mendadak dia terguguk dan meraih tangan Kirana untuk digenggam. Namun, Kirana segera menepisnya kasar.


“Puas lo sekarang, hah! Puas lo! Lo seneng, kan, lihat gue berantakan? Lihat gue menderita, tanpa suami dan anak! Sekarang pergi dari sini! Gue enggak mau lihat muka lo lagi! Pergi!”


“Please, Kirana. Gue minta maaf. Gue tahu udah banyak banget kesalahan yang gue lakukan. Tapi ....”


“Tapi apa, Mel? Lo mau ngasih penjelasan apa lagi, hah! Gue udah enggak mau dengar ucapan lo lagi, pergi!”


Kirana berbalik dan melangkah meninggalkan area pemakaman. Namun, langkahnya terhenti kala Ayu menyusul dan menarik tangannya. Kirana berbalik dan spontan Ayu mendaratkan tamparan di pipi kirinya. Kirana hanya tertawa kering sebelum membuka kacamata hitamnya.


Kirana menggeleng lemah dan tertawa kering. Lalu, menatap lekat Ayu yang diperam amarah. Dia mendekat dan memegang kedua bahu wanita yang ada di depannya.


“Sebaiknya jaga ucapan lo. Gue cuma bilang yang sesungguhnya ke Amelia kalau pelakor memang sudah sepantasnya mati.”


Kirana sengaja menekan setiap kalimat yang terlontar dari mulutnya. Dia menyeringai sebelum melepaskan tangannya. Lalu, memakai kacamata hitam dan menatap Ayu.


“Sebentar lagi giliran lo yang akan bernasib sama seperti pengkhianat itu.”


Kirana memutar tumit dan meninggalkan tempat diiringi seringai menakutkan. Sementara, Ayu membeku di tempat dengan tubuh sedikit bergetar. Perlahan, dia luruh ke tanah dan membekap mulutnya. Matanya bergerak liar lalu air matanya luruh membasahi pipi. Mendadak ketakutan membebat raganya setelah mendengar kalimat yang dilontarkan Kirana.

__ADS_1


“Gue enggak boleh kalah, gue enggak boleh lengah, gue harus bisa hancurin dia lebih dulu.” Ayu menatap punggung Kirana yang perlahan membentang jarak sebelum beringsut bangkit. Amarahnya perlahan membuncah. “Awas lo, Kirana! Tunggu pembalasan gue!”


Kirana mencengkeram erat kemudi setibanya di mobil. Ketegaran yang tadi coba ditunjukkan pada semua orang, runtuh begitu saja. Dia menelungkup di antara kedua tangan yang memegang kemudi. Lalu, air matanya luruh membasahi pipi. Namun, tangisan itu terhenti kala mendengar ada yang mengetuk kaca mobilnya.


Kirana menghentikan tangisnya dan segera menghapus air mata sebelum menoleh. Melihat Aji yang ada di luar, dia mendengkus kesal dan menyalakan mesin mobil. Namun, mendengar Aji masih terus mengetuk, Kirana membuka kaca mobilnya. Dia langsung membuang pandangan dan mendengkus lirih.


“Yang, kamu enggak apa-apa?”


“Maksudnya?”


“Mas tahu kamu pasti sedih karena kepergian Amelia. Kalau kamu mau, Mas bisa antar kamu pulang sekarang.”


“Enggak usah sok peduli sama aku, Mas. Urus aja wanita itu. Dia lebih butuh kamu daripada aku.”


“Yang ....”


Kirana segera menutup kaca mobil dan melajukan mobilnya meninggalkan area pemakaman. Dia bisa melihat Aji masih membeku di tempat sambil berkacak pinggang. Kirana menggeleng lemah dan menginjak pedal gas kuat agar cepat pergi dari tempat itu.


Kirana melajukan mobil menuju klinik. Hatinya berdenyut nyeri kala melihat karangan bunga duka cita berjajar di depan klinik. Dia menghela napas panjang dan bergeming sesaat sebelum turun dari mobil. Lalu, melangkah masuk dan menatap ruang kerja Amelia.


Kirana memutuskan masuk ke ruang kerja sang sahabat. Perlahan, dia membuka pintu dan melongok ke dalam. Ruangan yang meninggalkan banyak kenangan bagi mereka berdua, karena banyak cerita suka dan duka yang terjadi. Dia kembali menghela napas panjang sebelum melangkah masuk dan duduk di belakang meja kerja Amelia.


Tangan Kirana menyentuh semua benda yang ada di meja itu sambil tersenyum getir. Setelahnya, dia bangkit dan hendak berlalu. Namun, sebuah buku agenda yang teronggok di sisi kanan meja menarik perhatiannya. Dia mengambil benda itu dan membukanya. Dia membaca setiap kata yang tertulis di buku itu sampai matanya menangkap lipatan kertas mirip surat. Kirana mengambil surat itu dan membacanya.

__ADS_1


Hayo kira2 apa isi suratnya ya? 😁😁


__ADS_2