
Matahari sudah naik tinggi, menandakan hari yang sudah beranjak siang.
Dengan sedikit mengerahkan tenaga, Langit bangun dari ranjang. Matanya menyapu seisi kamarnya. Dia tak menemukan sosok Renata.
Dia meraih ponsel yang ada di nakas. Terlihat satu pesan dari Renata.
Sayang hari ini aku ada janji dengan salah satu brand, aku pergi pagi sekali. Kalau kamu udah bangun, jangan lupa makan dan minum obat, ya? Love U, babe.
Langit hanya bisa menghela nafas.
Dengan sedikit terhuyung, dia berjalan menuruni anak tangga menuju ruang makan.
Dia berhenti sejenak di depan pintu kamar Aurora. Memandangnya sekilas, lalu melanjutkan langkahnya.
Sesampainya di ruang makan, suasana tampak hening. Bahkan tak ada makanan yang tersedia di meja.
Langit duduk di kursi sambil memijit keningnya yang berdenyut karena sakit kepala.
Tiba-tiba terdengar suara pintu depan diketuk seseorang.
"Mungkinkah itu Rendi?" batin Langit.
Dengan payah dia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke arah pintu.
Saat pintu terbuka, tampak dua orang sedang berdiri menatapnya dan memberi salam. Satu orang perempuan muda berhijab dan seorang lelaki tampan.
"Tunggu sebentar! Bukankah dia adalah lelaki yang di temui gadis itu?" batin Langit setelah melihat Abi yang berdiri di depannya.
Dia sangat mengenali wajah lelaki itu, karena dia sangat kesal saat melihat Aurora bercengkerama dan tertawa bersama lelaki yang ada di hadapannya.
"Ada apa kamu kesini? Apa kamu mencari kekasihmu?!" tanya Langit secara frontal tanpa basa-basi.
Abi dan rekannya Widya sangat kebingungan dengan maksud Langit. Abi mengernyitkan alis kearah Widya, tapi Widya mengangkat bahunya menandakan sama-sama tak paham.
"Maaf, Pak. Kami dari team Event Organizer Happy Hour. Apa benar disini kediaman Kak Aurora?" tanya Widya profesional.
"Iya Aurora tinggal disini. Tapi apa maksud kedatangan kalian?!" tanya Langit tegas.
Mendengar suara bariton yang sangat tegas, tiba-tiba nyali mereka menciut.
__ADS_1
"Se-sebelumnya perkenalkan. Nama saya Widya dan rekan saya ini Nabila, biasa di panggil Abi. Kami team EO Happy Hour, klien kami—"
"Tunggu, tunggu! Jadi kamu ini perempuan?" tanya Langit dengan wajah terkejut.
Abi meringis sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Widya menyenggol bahu Abi, mengisyaratkan untuk menjawab.
"I-iya Pak." jawab Abi gugup.
"Kalau begitu, masuk dan jelaskan semua ke saya. Apa maksud semua ini!" titah Langit sambil mempersilahkan mereka berdua masuk.
Setelah lebih lanjut memperkenalkan diri, Widya dan Abi menjelaskan maksud kedatangan mereka.
Abi menjelaskan bahwa Aurora telah bekerja sama dengan mereka untuk membuat sebuah pesta kejutan ulang tahun untuk Langit. Namun sayangnya, kemarin Aurora dan Langit tak datang sampai batas waktu yang mereka tentukan. Ponsel Aurora juga tak bisa di hubungi. Akhirnya mereka sepakat membatalkan acara pesta yang sudah di susun sedemikian mungkin.
Mendengar penjelasan dari Abi, tangan Langit mengepal erat. Dia sangat kecewa dengan sikapnya sendiri yang impulsif. Dia hanya melihat dari sudut pandangnya saja dan menuduh Aurora. Apalagi dengan perlakuan kasar yang dia lakukan. Dirinya menyesal karena termakan emosi sesaat.
"Kedatangan kami kesini untuk mengembalikan kado yang akan diberikan kepada Saudara Langit. Dan untuk biaya, kami tidak bisa mengembalikannya karena ini adalah pure kesalahan dari klien kami."
Abi menyodorkan kotak kado yang terbungkus rapi dengan pita dan sebuah kertas berisi tanda terima. Lalu Langit menanda tangani kertas tersebut.
Widya berusaha menjelaskan, namun kembali di potong oleh Langit.
"Aku tak peduli dengan semua biaya itu. Kalau ada yang kurang, bilang saja nominalnya. Bukankah yang terpenting adalah kado ini?!" Nada bicara Langit sangat tegas dan penuh penekanan. Membuat mereka berdua kembali menciut.
"Ba-baiklah. Kalau begitu kami akan pamit." Abi pamit mengundurkan diri.
Setelah mengantar Widya dan Abi keluar, Langit berniat membuka kotak kado tersebut. Dia sangat penasaran, apa yang ada di dalamnya. Tapi dia ingat sikap kasarnya kemarin. Dia ingin meminta maaf terlebih dulu pada Aurora.
"Setidaknya aku akan meminta maaf dulu padanya." gumam Langit menuju kamar Aurora sambil membawa kotak itu.
Diketuknya pintu kamar Aurora berkali-kali, tapi tak ada jawaban. Dan dia memutuskan untuk langsung membuka pintu tersebut.
Kamar tampak sepi dan tak ada tanda-tanda keberadaan Aurora. Langit melihat sprei yang berantakan dan kamar mandi yang tertutup. Mungkin Aurora baru bangun dan sedang mandi, pikirnya.
Langit duduk di tepi ranjang, sambil membuka kotak berpita itu. Matanya langsung menangkap dua buah kotak lagi di dalamnya. Satu kotak kecil berbentuk persegi dan satu kotak pipih persegi panjang.
Pertama-tama Langit membuka kotak persegi. Setelah kotak kecil itu terbuka, terdapat sepasang cufflink* hasil desain Aurora sendiri. *(kancing manset kemeja).
__ADS_1
Senyum terkembang dari bibirnya.
"Pasti ini hasil karyamu." gumamnya.
"Niat sekali ya, kamu menyiapkan semua ini?"
kemudian dia melanjutkan membuka kotak kedua.
Senyum yang semula terkembang dari bibirnya seketika mengendur ketika melihat isi dari kotak kedua.
Sebuah testpack bergaris merah dua dan selembar foto hasil USG beserta secarik kertas berisi tulisan tangan ke Aurora :
Selamat Ulang Tahun, Mas. Semoga kita bisa selalu bersama bertiga kelak.
Selamat Ulang Tahun , Papa. Sampai ketemu sembilan bulan lagi.
Langit segera berdiri menuju kamar mandi. Saat pintu terbuka, dia tak menemukan sosok Aurora di sana.
Dengan keras dia memukul pintu kamar mandi dan pergi meninggalkan kamar Aurora menuju garasi.
Dia melajukan mobilnya dengan kencang menuju ke suatu tempat.
Sekitar lima belas menit kemudian, dia sampai di sebuah Rumah Sakit Swasta terbesar di kota itu. Dengan segera dia menelepon Dokter Hans yang sedang bertugas.
Beruntung Dokter Hans tak sedang menangani pasien darurat. Setelah Dokter Hans menerima teleponnya, Langit segera menemui Dokter yang selama ini dia percayai.
"Kenapa tiba-tiba?" tanya Dokter Hans yang menemui Langit.
Lalu Langit menjelaskan semua dari awal. Mulai dari dia melakukan pemeriksaan kesuburan bersama Renata sebelum mereka memutuskan untuk menikah. Sampai beberapa jam lalu dia menerima kado berisi hasil foto USG calon anaknya.
"Pemeriksaan seperti itu biasanya tak sembarangan klinik atau dokter yang menangani. Dugaan awal saya, dokumen hasil pemeriksaan bisa saja di rekayasa atau kemungkinan lain bahwa itu bukan anak Anda."
Mata Langit tampak merah karena menahan gejolak emosi yang sudah dia tahan. Dirinya terlihat seperti keledai bodoh yang mudah dipermainkan oleh dua wanita itu.
Melihat Langit yang gusar, Dokter Hans langsung peka .
"Jika Anda tidak keberatan, Saya akan merekomendasikan Dokter untuk pemeriksaan kondisi kesehatan Anda lebih lanjut."
"Ya. Lakukan secepatnya!" titah Langit.
__ADS_1
Kemudian dia pergi menemui dokter yang sudah di rekomendasikan oleh Dokter Hans dan melakukan berbagai pemeriksaan untuk mengetahui kondisi kesehatan reproduksinya.