Ayo Menikah Lagi!!

Ayo Menikah Lagi!!
Part 38


__ADS_3

Keesokan harinya Ray berniat menanyakan perihal Renata pada Aurora. Dengan langkah panjangnya, dia memasuki area kantor dan menuju lift. Sesekali dia melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.


"Masih ada beberapa menit sebelum rapat pagi. Aku harus segera menemui Aurora dan menanyakan tentang wanita itu." batin Ray.


Entah kenapa, sejak semalam bertemu dengan wanita bernama Renata itu, hati Ray merasa gelisah. Apalagi wanita itu mengaku kenal dan tahu tentang masa lalu Aurora.


Kembali dia mengingat-ingat semua cerita Aurora. Namun seingatnya, Aurora tak pernah menyebut nama siapa-siapa saja yang terlibat dalam masa lalunya. Seperti halnya nama Langit yang baru dia ketahui setelah mereka menjalin hubungan rekan bisnis ternyata adalah orang yang paling mempengaruhi masa lalu Aurora. Ray pun menghargai semua keputusan Aurora untuk tak menanyakan hal-hal yang tak ingin Aurora ceritakan.


Belum juga pintu lift terbuka, sudah ada Niko yang berdiri di sampingnya.


"Pak kenapa Anda menekan angka lima?" tanya Niko yang kedatangannya tak disadari oleh Ray "Seharusnya kan angka tujuh?"


"Astaga!" Ray mengelus dadanya karena terkejut dengan suara Niko. "Bisa nggak sih kalau datang bilang-bilang?!"


"Padahal saya sudah berdiri di samping Bapak sedari tadi, sejak Anda berkali-kali melirik jam tangan." Niko menghela nafas kecewa karena merasa tak kehadirannya tak di anggap.


"Bisa-bisa ini novel berubah genre jadi horor!" gumam Ray.


"Emang sebelumnya genre-nya apa, Pak?"


"Nggak tahu! Authornya nggak jelas!" ketus Ray.


Ting!


Niko dan Ray memasuki ruangan persegi tersebut setelah pintunya terbuka.


"Pak anda mau menemui Bu Aurora dulu?" tanya Niko peka. Ray menjawab dengan anggukan.

__ADS_1


"Nggak bisa pak! Kita harus segera ke ruang rapat!" sergah Niko yang langsung menekan tombol angka tujuh.


Ray hanya bisa pasrah. Karena dirinya harus profesional dan mengesampingkan masalah pribadi.


"Nanti makan siang saja, aku akan menemui Aurora." batin Ray mencoba tenang meski ada sebuah gejolak perasaan tak enak dalam benaknya.


Saat makan siang tiba, ternyata Ray masih berada dalam perjalanan menuju kantor. Dia bersama Niko selesai meeting dengan klien di luar kantor. Jalanan ibu kota siang hari sangat padat sekali. Mobil hanya bisa berjalan merangkak, sedangkan motor masih bisa saling menyalip. Membuat Ray mendengus kesal.


"Saya lihat, anda sudah menghela nafas beberapa kali, Pak." ucap Niko menoleh ke kursi belakang. "Apa meeting tadi ada yang kurang atau ada masalah lain?"


"Perasaanku sedari semalam nggak enak aja, Niko. Ada suatu hal yang harus saya bicarakan sama Aurora." kembali Ray menghela nafas.


Niko melirik jam di pergelangan tangan kirinya. Lalu kembali fokus ke depan.


"Pak, bisa cari jalan alternatif?" tanya Niko pada Pak Edi, supir Ray.


Ray membuang muka ke jendela, mengamati sesama pengguna jalan yang berusaha saling mendahului. Baru kali ini dia tak bisa sabar dengan kemacetan Ibu kota.


***


Di kantor, orang-orang menatap Aurora dengan pandangan aneh, jijik, bahkan ada yang terang-terangan menyindir ketika dirinya lewat. Ini semua karena ada beberapa orang mendapat email anonim yang menyebarkan gosip tentangnya. Entah siapa pengirim itu, namun orang tersebut seperti tahu semua tentang masa lalunya. Tak ayal hal itu menjadi santapan nikmat bagi penggosip bermulut lemes.


"Bu, apa anda baik-baik saja?" tanya Riri, karyawan satu divisinya.


Aurora mengangguk lemah. Dengan ragu Riri memberikan sekotak sandwich yang di belinya di minimarket.


"Saya tidak tahu harus apa untuk menghibur Bu Aurora, tapi saya harap Ibu bisa makan dengan tenang." ucap Riri sambil menyodorkan makanan itu di meja Aurora. Aurora membalas dengan senyum tulus.

__ADS_1


"Terima kasih, Riri. Pasti akan saya makan."


Riri kembali ke mejanya dengan penuh senyum.


Aurora melahap sandwich pemberian Riri dengan penuh nafsu. Tak di pungkiri bahwa perutnya meronta-ronta untuk di isi. Namun mengingat dirinya yang sudah jadi menu santapan hangat untuk makan siang, dia mengurungkan niat untuk pergi dari kantor. Bukan berarti dia tak berani menghadapi orang-orang dan cemoohannya. Lebih kepada dia tak mau mereka mengurai alur benang kusut tentang apa yang terjadi dengan pernikahannya. Yang pada akhirnya, mereka selalu menarik kesimpulan akhir dengan mengatakan bahwa anak yang lahir dari rahimnya adalah 'anak haram'.


Aurora akan cuek jika dia ada yang iri masalah pekerjaan dan ingin menjatuhkannya dengan berbagai cara. Karena dia sudah bertekad untuk menjadi desainer sesuai dengan mimpinya. Tapi lain hal jika itu menyangkut kehidupan masa lalunya. Kehidupan kelam yang ingin dia kubur dalam-dalam.


Saat ini dalam benaknya di kelilingi dengan pertanyaan, "siapakah orang yang sudah membuka tabir masa lalunya itu?"


Memikirkan banyak hal bersamaan membuat Aurora merasa pusing dan perutnya merasa mual. Dengan segera dia bangkit dari kursinya dan pergi ke toilet.


Di toilet, Aurora tak benar-benar mengeluarkan isi perutnya. Sebenarnya, dia hanya butuh ketenangan. Dan toiletlah tempat yang tepat. Dia menyandarkan kepalanya ke bilik sekat dengan duduk diatas tempat pembuangan yang tertutup. Memijit pelan diantara kedua alisnya.


Saat jam istirahat, toilet memang agak sedikit ramai karyawati yang keluar masuk. Mereka membuang semua sisa metabolisme atau sekedar membenahi riasan.


Dalam bilik toilet, Aurora dapat mendengar semua keluhan, curhat, bahkan gosip, termasuk gosip tentang dirinya yang masih fresh from the oven.


"Gue nggak nyangka kalau Desainer utama perusahaan kita punya skandal masa lalu." suara salah seorang karyawati. Mata Aurora membeliak ketika mendengar ucapan salah satu perempuan di luar sana. Sudah pasti desainer yang maksud adalah dirinya.


"Gue pikir dia wanita baik-baik. Tapi tega banget ngancurin pernikahan orang lain", suara perempuan lain menimpali.


"Parahnya dia ingin merebut posisi istri sah pake cara hamil segala!" percakapan antara dua perempuan itu masih berlanjut. "Siapa tahu itu bukan anak dari si pria itu. Bisa aja anak dari laku-laki lain, terus minta tanggung jawab sama si pria yang mau di rebut itu."


Hati Aurora seperti di aduk-aduk. Tangan Aurora meremas ujung rok span yang dia pakai. Dia menggigit bibir bawahnya untuk menahan air mata yang sudah membendung di ujung mata. Awalnya dia hanya ingin mendengarkan apa saja dan sampai mana gosip itu tersebar. Tapi selalu saja anaknya yang tak berdosa itu mendapat fitnah.


"Nak, seandainya saja ibumu ini tak terjebak dalam pernikahan itu, maka— ", batin Aurora sembari menangis dalam diam, tak sanggup melanjutkan kalimatnya. "Ibumu ini bodoh!" rutuknya dalam hati sambil memukul-mukul dadanya yang sesak.

__ADS_1


__ADS_2