
Pagi-pagi sekali Aurora, Lea dan Niko sudah bangun bersiap-siap. Setelah mandi, mereka kembali mengecek berkas-berkas dan kelengkapan. Lalu di lanjutkan bersiap untuk sarapan bersama.
Sudah sepuluh menit mereka berkumpul di loby, tapi Presdir belum terlihat batang hidungnya.
"Niko, kamu kan asistennya. Kenapa Pak Presdir bisa telat sih?!" tanya Lea sedikit menggerutu.
"Saya baru saja menelepon Pak Presdir, katanya dia mau Aurora yang ke kamarnya." Jawab Niko dengan ragu.
"Cepet samperin Pak Presdir, Ra. Nanti kita bisa telat. Gue juga udah laper banget."
Aurora mengangguk dan langsung melesat menuju lift. Dia menekan angka tujuh, lantai kamar Presdir berada.
Tok tok tok.
Aurora mengetuk pintu kamar Presdir. Dan tak butuh waktu lama, pintu terbuka.
"Kenapa Anda belum pake baju sih Pak?!" tanya Aurora sedikit kesal.
"Saya nunggu kamu, pilihin baju buat saya." jawab Presdir dengan santai.
Aurora menghela nafas sambil memasuki kamar Presdir.
"Kan Bapak cuma bawa satu setelan jas. Kenapa harus bingung?" tanya Aurora memiringkan kepala sambil menenteng setelan jas milik Presdir.
"Karena saya bingung kalau nggak bisa berlama-lama sama kamu." jawab Presdir sambil tersenyum.
"Ayo cepetan, Pak. Niko sama Lea sudah menunggu untuk sarapan. Belum nanti kalau kita kejebak macet. Karena jalanan di sini biasanya—"
Aurora tak melanjutkan kalimatnya.
"Jalanan di sini biasanya kenapa?" tanya Presdir memiringkan kepala. Namun Aurora tak berniat melanjutkan kalimatnya.
"Kita harus bergegas, Pak!" Aurora mengalihkan pembicaraan. Sambil memakaikan kemeja ke tubuh Presdir lalu memasang satu persatu kancingnya.
"Aku senang kalau kamu perhatian seperti ini." ucap Presdir sambil membelai rambut Aurora.
"Seharusnya hal seperti ini di kerjakan oleh sekretaris atau asisten pribadi Anda, Pak."
"Tapi aku sukanya kalau kamu yang melakukan."
Aurora hanya terdiam sambil terus mengancingkan kemeja. Lalu memasang dasi dan memakaikan jas.
Presdir hanya tersenyum melihat semua perlakuan Aurora. Meskipun penuh gerutu, tapi tangannya tetap terampil mengerjakan pekerjaannya.
Setelah semuanya siap, Presdir dan Aurora turun ke loby dan menemui rekan-rekan lainnya dan sarapan.
Di lanjutkan perjalanan menuju kantor Sky Mall.
Jalanan sedikit padat dan berisik. Butuh waktu lebih dari perkiraan untuk sampai ke tujuan.Presdir pun terlihat tidak nyaman dengan dasinya karena tak terbiasa.
__ADS_1
"Tolong tahan sebentar, Pak. Kita akan segera sampai." ucap Aurora yang mencegah tangan Presdir yang akan melepas paksa dasinya.
Presdir hanya bisa menghela nafas.
"Aku lebih suka pakai baju renang daripada pakai setelan formal seperti ini." gerutu Presdir sambil membuang muka.
Lea dan Niko yang mendengarnya berusaha menahan tawa. Kalau saja bukan Presdir yang mengatakan hal konyol tersebut, mungkin keduanya sudah tertawa terbahak-bahak.
"Lain kali coba saja memakai baju renang saat meeting, Pak!" ketus Aurora.
"Boleh juga idemu." balas Presdir sambil tertawa. Membuat Aurora makin kesal saja.
Tak lama kemudian mereka sampai di sebuah mall kelas menengah ke atas yang cukup terkenal.
"Oh ini mall baru itu, ya? Cukup mewah dan berkelas." gumam Aurora sambil melihat-lihat sekitar.
Meski terbilang mall baru, tampaknya cukup ramai. Terlihat sosialita yang berlalu lalang di dalam mall.
"Tempat para nyonya-nyonya muda menghamburkan uang ini!" celetuk Lea.
Niko yang mendengar Lea berkomentar melototkan matanya. Mengisyaratkan untuk menjaga omongan.
Mereka telah sampai di kantor mall dan di sambut oleh seorang sekretaris dari pemilik mall. Mereka di persilahkan duduk dan menunggu Presdir Sky Mall yang sedikit terlambat.
Sembari menunggu, semua bersiap dengan 'senjata' masing-masing.
"Emangnya kamu gugup?" tanya Aurora.
"Sedikiiit:." Lea mengisyaratkan dengan telunjuk dan ibu jarinya.
"Padahal bukan pertama kalinya, kan? Kenapa masih gugup?"
"Jam terbangku tak sama denganmu, Ra."
Aurora hanya memutar bola matanya.
Sepuluh menit kemudian, pintu terbuka. Seseorang masuk ke dalam ruang meeting.
Jeduaar.
Bak di sambar petir, jantung Aurora berdetak kencang tatkala melihat orang yang dia kenal masuk ke dalam ruangan. Rendi bersama si tuannya, Langit.
Seketika tubuh Aurora bergetar, tangannya berkeringat dingin. Tapi dia tetap berusaha profesional.
Mereka berempat berdiri untuk menyambut kedatangan Presdir Sky mall.
Tampak mata Rendi melotot karena terkejut, bahwasanya 'mantan nyonya' yang pernah dia layani ada di sini. Begitu juga dengan Langit. Matanya tak lepas pandangan dari Aurora yang berada di depannya.
Presdir, Lea, Niko satu persatu menyalami dan memperkenalkan diri pada Rendi dan Langit. Aurora yang berada di barisan belakang semakin memperlambat langkah kakinya. Seakan dia enggan menyalami Rendi dan Langit.
__ADS_1
"Perkenalkan, saya Aurora. Desainer dari Rowayne Corp."
Aurora menahan suaranya agar tak bergetar. Tangannya yang dingin menjabat tangan Rendi dan Langit bergantian. Seolah mereka baru pertama kali bertemu.
setelah memperkenalkan diri, mereka duduk kembali ke tempat masing-masing. Tapi Langit masih terpaku menatap Aurora yang berlalu.
"Apakah aku sedang bermimpi?" gumam Langit lirih, namun Rendi masih bisa mendengarnya.
"Ehem!" Rendi berusaha menyadarkan Langit kembali.
"Silahkan duduk, Pak." persilahkan Rendi pada Langit.
Meeting kedua perusahaan pun di mulai. Semua fokus pada Rendi yang mengawali meeting dengan beberapa presentasi dan pengenalan Sky Mall. Tapi Langit tak bisa fokus sedikit pun. Matanya selalu menatap ke arah Aurora.
Aurora yang menyadari tatapan Langit, merasa gusar. Namun dia tetap profesional dan fokus. Hingga tiba giliran Aurora mempresentasikan sampel desainnya.
Belum sampai Aurora menampilkan semua hasil desainnya, Langit menyela.
"Saya setuju dengan semua sample desain ini. Dan saya akan mengkonfirmasikan segera keputusan kami beberapa hari lagi."
"Wah saya cukup senang berbisnis dengan Anda, Pak Langit." ucap Presdir Ray yang langsung berdiri menyalami Presdir Langit.
Lalu mereka kembali berbincang dengan santai masalah pekerjaan. Karena meeting formal sudah Langit akhiri beberapa menit lalu.
Lea dan Niko sedang membuat rangkuman meeting. Aurora sibuk mengirim file desain ke email Rendi.
"Gimana kabar Anda, Nona?" tanya Rendi lirih agar tak terdengar oleh rekan-rekan Aurora.
Aurora tersentak mendengar pertanyaan Rendi. Tapi dia berusaha menyembunyikan perasaan kagetnya dan tetap berusaha profesional.
"Seperti yang Anda lihat, Pak Rendi." ucap Aurora dengan datar.
"Maaf kalau sudah membuat Anda tidak nyaman."
"Tak apa-apa. Lakukan saja tugasmu seperti biasanya."
Rendi mengangguk. Sedangkan Langit merasa kesal. Karena Rendi yang terlebih dulu menyapa Aurora.
"Sudah berapa lama desainer Aurora bekerja di perusahaan Anda?" tanya Langit.
Ray mengernyitkan alis karena merasa bahwa pertanyaan Langit sedikit menyimpang di luar topik pembicaraan.
Langit yang menyadari perubahan ekspresi Ray, langsung berdalih.
"Karena saya rasa semua karyanya luar biasa. Saya jadi penasaran."
"Aurora itu seperti berlian yang saya temukan dalam lumpur. Dia juga seperti sebuah keberuntungan bagi saya. Jadi Anda tak akan bisa menyentuhnya." ucap Ray dengan penuh penekanan.
"Saya sangat menyukai tantangan." Langit menyeringai.
__ADS_1