
Jalanan begitu padat karena jam mobilitas pulang kerja. Mobil Langit merayap diantara ratusan kendaraan lain. Rasanya sudah tak sabar ingin segera sampai di rumah.
Andai saja dia punya pintu kemana saja milik Doraemon, maka Langit tak perlu segelisah ini.
Berkali-kali dia memukul setir lalu menggenggamnya dengan erat. Terus berulang seperti itu selama perjalanan. Dadanya terasa membuncah ingin segera meluapkan emosi.
Berkali-kali dia menekan earphone yang terpasang di telinganya untuk menghubungi ponsel Aurora. Namun tetap saja, hanya ada suara operator yang menginformasikan bahwa nomer Aurora sudah tidak aktif.
Lalu dia memandangi secarik kertas hasil pemeriksaan yang telah dia lakukan tadi. Di sana tertera bahwa reproduksi Langit normal dan tak ada kelainan apapun.
"Sialan! Sialan!" umpat Langit berkali-kali sepanjang perjalanan.
Butuh 45 menit perjalan dari Rumah sakit sampai ke rumah. Selama itu pula pikirannya sangat kacau.
Menjelang maghrib Langit baru sampai di rumah. Dia melihat mobil Renata yang sudah terparkir di halaman depan.
"Dasar perempuan sialan!" runtuk Langit sembari kakinya melangkah masuk rumah.
Dia melihat Renata sedang berbaring di ranjang kamarnya di lantai dua.
Melihat Renata yang terlihat polos namun ternyata menyimpan kebusukan, rahang Langit seketika mengeras.
"Sayang, kamu darimana aja? Udah enakan belum badan kamu?" tanya Renata dengan nada manja sambil menempelkan punggung tangannya di dahi Langit.
Plak!
Langit menangkis tangan Renata, lalu melempar kertas hasil pemeriksaannya ke wajah Renata.
"Sayang! Kamu kenapa kayak gini sih?!" pekik Renata yang tak terima dengan perlakuan kasar Langit.
"Baca itu baik-baik!" perintah Langit.
Renata memungut kertas yang jatuh, membukanya dan di baca. Seketika matanya melebar karena terkejut.
"Sa-sayang, akhirnya kelainan kamu sembuh. Selamat, ya."
Renata mencoba berakting di depan Langit. Dia ingin memeluk Langit sebagai tanda ucapan selamat. Tapi usahanya sia-sia. Langit mendorong tubuhnya dengan cepat. Sehingga tubuh langsingnya itu tersungkur diatas ranjang.
"Kemasi semua barang-barangmu! Dan tinggalkan segera rumahku. Aku tak ingin lagi melihatmu!" perintah Langit.
__ADS_1
"Sayang. Ini pasti hanya kesalah pahaman di antara kita. Mari kita bicara baik-baik." rayu Renata.
Tangan Langit mengepal erat ingin segera melayangkan tinjunya. Namun dia tak sampai hati melukai orang yang pernah dia cintai.
"SEGERA!!" bentak Langit penuh emosi.
Tubuh Renata langsung bergetar dan nyalinya menciut. Seluruh badannya seketika berkeringat dingin.
Setelah membentak Renata, Langit keluar dari kamarnya dan turun menuju kamar Aurora.
Dia baru menyadari bahwa Aurora telah meninggalkan rumah setelah melihat meja rias Aurora yang bersih tak ada satupun barang miliknya. Dan saat membuka lemari, semua pakaian Aurora sudah tak ada. Tinggal kotak kado pernikahan dari Mika yang berisi lingerie yang tak sempat Aurora pakai. Serta aroma coklat favoritnya yang sudah mulai memudar di dalam kamar.
Dia memungut kembali kertas pesan yang sebelumnya dia re mas dan membacanya kembali.
"Anakku." panggilnya lirih dan lembut sambil mengusap gambar abstrak di selembar kertas kecil.
Tiba-tiba dia tertawa kencang. Lalu menitikkan air mata.
"Tenang saja, Nak. Papa akan membawamu dan Mama kembali ke sini." racau Langit. Dia pun terlelap di ranjang Aurora sambil memeluk foto USG calon anaknya.
Di sisi lain..
"Zal, nih buah. Makan dulu." titah Mika yang menyodorkan sepiring kecil apel dan jeruk yang sudah di kupas.
Dengan malas Aurora bangun dari tempat tidur.
"Gue udah pesan tiket buat kita berdua. Kereta berangkat jam 8 malam." ucap Mika sambil mengemas beberapa barang.
"Makasih, Mik. Lo selalu gue repotin." Aurora memakan satu persatu potongan buah.
"Gue nggak masalah sih kalo lo repotin. Tapi sakit Zal hati gue lihat keadaan lo kayak gini. Dari awal kan udah gue bilang kalo—"
"Iya, Mik, iya. Gue salah nggak dengerin semua kata-kata lo. Lo udah bilang itu dari kemarin sampe puluhan kali."
Mika menghela nafas sejenak. Lalu berjalan mendekat ke Aurora dan memeluknya.
"Gue nggak suka sodara gue sedih." Mika mengelus punggung Aurora.
"Ayo kita hajar itu om-om eskimo!!" teriak Mika membara penuh semangat.
__ADS_1
"Mikaaaa! Jangan teriak-teriak! Udah malem!" terdengar teriakan Buk Ning, ibunda Mika, dari lantai bawah.
"Lah ibu juga teriak-teriak!" balas Mika dengan teriakan.
"Udah jangan teriak-teriak! Dasar dibilangin malah ngebantah mulu!" balik Buk Ning teriak lagi.
Aurora hanya cekikikan melihat ibu dan anak saling teriak meramaikan suasana hati Aurora yang sedang kalut.
"Nah gitu dong! Senyum dan semangat!" ucap Mika sambil mengepalkan kedua tangannya untuk menyemangati Aurora.
Aurora memeluk kembali Mika dengan tulus.
"Kalo nggak ada lo, mungkin gue berakhir di berita koran pagi." bisik Aurora.
Tuing!
Mika menoyor kening Aurora dengan gemas. Bisa-bisanya dia memikirkan hal-hal yang di luar dugaan.
Mereka kembali tertawa bersama. Meskipun dalam hati, batin Aurora menjerit.
Bagaimana dia tak sedih dan kecewa. Dalam sekejap, dia menjadi pengantin pengganti, tak di anggap dan di sepelekan oleh Langit. Lalu dalam sekejap, dia dan Langit seperti dua orang yang tak akan pernah terpisahkan. Kemudian tiba-tiba dia berakhir menangis tersedu-sedu bersama calon anaknya di rumah Mika.
Hidup memang kadang-kadang penuh kidding (bercanda).
Malam ini malam yang penuh dengan pikiran yang sesak untuk Renata, Langit dan Aurora. Mereka mengalami jungkir balik kehidupan dalam sekejap mata.
Kini Renata kembali ke apartemen miliknya sendiri. Karena Langit sudah menarik semua akses, properti dan segala kemewahan yang dia berikan.
"Emang dia pikir siapa? Lihat aja! Gue bisa dapetin yang lebih dari lo, Langit!" rutuk Renata.
Langit bergulat dengan rasa bersalahnya terhadap Aurora dan calon anaknya. Dia bertekad akan mencari Aurora kemanapun dia pergi dan membawanya kembali di sampingnya. Langit juga sudah memerintahkan Rendi untuk mengurus gugatan cerai untuk Renata.
"aku janji akan menjadi ayah dan suami yang baik." gumam Langit.
Sedangkan Aurora berkecamuk dengan pikiran tentang membesarkan anaknya meski tanpa sosok kehadiran Langit.
"Ayo kita berjuang bersama ya, Nak?"
Malam pun berlalu terasa dingin dan panjang. Seperti setiap detiknya menyiratkan segala kenangan dan penyesalan bagi ketiganya.
__ADS_1