
Telah wafat : Metheor Cakrayudha bin Langit Satria Cakrayudha
Lahir : 30 Maret 20xx
Wafat : 3 April 20xx
Masih terngiang dalam benak Langit nama yang terukir di atas batu nisan yang kemarin dia lihat. Semalaman dia menangis sambil memandang potret buram foto USG anaknya. Sehingga kini dia bangun dengan mata sembab dan bengkak.
Padahal dia berpikir bahwa gadis kecil dengan pipi tembam yang dia lihat di rumah Aurora adalah anaknya. Dengan perasaan menggebu, dia juga sudah akan membelikan berbagai macam boneka sebagai kado. Namun ternyata anaknya berjenis kelamin laki-laki.
"Pasti kamu anak yang tampan." gumam Langit berulang kali sejak pulang dari pemakaman seraya mengusap foto USG yang selalu dia bawa dan selipkan di buku catatan pribadi miliknya.
Kini Langit dan Aurora sudah duduk bersama di ruang tamu rumah Aurora. Sudah hampir lima belas menit, tapi keduanya saling bungkam.
Aurora mengambil cuti selama dua hari, kemarin dan hari ini. Hal ini selalu dia lakukan setiap peringatan hari kelahiran anaknya, Theor.
"Em.. Jadi namanya Metheor?" ucap Langit seraya menatap lekat Aurora yang duduk di depannya.
Aurora hanya diam tertunduk.
"Maafkan aku, Ra. Kemarin aku sengaja mengikuti kalian pergi."
Langit menggaruk tengkuknya yang tak gatal untuk mengurangi rasa canggungnya.
"Katakan tujuan anda kemari." ucap Aurora dengan nada dingin.
"Aku cuma pengen ketemu sama anak kita, Ra. Kupikir gadis lucu itu anak kita. Ternyata bukan, ya?" nada Langit berubah menjadi sendu.
"Aku nggak tahu kalau kamu adalah perempuan yang kuat. Kamu sudah berjuang untuk anak kita, Ra."
Suasana kembali hening. Beberapa saat kemudian terdengar isakan dari Aurora.
Segera Langit memeluk tubuh Aurora yang bergetar karena menangis dan mengelus punggungnya.
"Huhuhu.." tangis Aurora semakin menjadi setelah mendapat pelukan Langit.
"Mas jahat banget sama aku! Mas jahat sama Theor!" rengek Aurora sambil memukul punggung Langit dengan keras.
Bugh, bugh, bugh! Suara punggung Langit yang dipukul berkali-kali oleh Aurora.
Langit hanya bisa pasrah menerima pukulan tangan Aurora meski punggungnya sedikit ngilu. Namun semua itu tak sebanding dengan sakit hati yang Aurora tanggung selama ini.
__ADS_1
Air mata Langit pun ikut luruh mendengar isak tangis Aurora. Tersirat penyesalan dan kekecewaan pada dirinya sendiri atas tindakan bodohnya yang tak mempercayai Aurora bahkan menyakiti fisiknya sebelum dia pergi memilih Renata.
Seandainya waktu dapat di putar, Langit pasti akan mempertahankan Aurora dan calon anaknya. Mungkin jika saat itu dia tidak egois, sekarang dia bisa bermain-main bersama anaknya yang kini berumur lima tahun.
"Pukul aku sampai kamu puas, Ra. Karena semua ini nggak sepadan sama penderitaan yang kamu alami." batin Langit sambil terus memeluk tubuh Aurora yang gemetar.
Tak lama kemudian, Langit melepaskan pelukannya. Dia mengusap sisa air mata di pipi Aurora.
Aurora yang masih sesenggukan memalingkan wajahnya saat Langit mengusap air matanya.
"Pasti selama ini kamu kesulitan gara-gara aku, Ra."
"Udah tahu kalau aku kesulitan, kenapa malah ngusir aku sih. Huhuhu" tangis Aurora yang tadinya sedikit mereda, kini kembali meraung-raung.
Langit membawa Aurora kembali ke dalam pelukannya.
Hampir setengah jam mereka saling menangisi takdir mereka. Hingga Aurora terlelap dalam pelukan Langit karena lelah menangis.
Langit membopong Aurora masuk ke dalam kamar yang dia yakin adalah kamar Aurora. Lalu membaringkan tubuh Aurora di atas tempat tidur.
Langit mengelus surai Aurora yang terlelap. Matanya tampak sembab dan basah karena menangis. Tubuhnya nampak semakin kurus.
Mika sungguh sangat terkejut melihat Langit yang keluar dari kamar Aurora. Dengan gegas dia menghampiri kamar Aurora, namun pemilik kamar tersebut tampak lelap.
"Apa yang kamu lakukan di sini?!" tanya Mika sinis.
"Aku cuma ngobrol sama Aurora saja, kok." jawab Langit sedikit terbata. Karena selama ini, Mika tak pernah menyukai kehadirannya.
"Apa kamu tahu, apa yang udah kamu lakuin?" tanya Mika sambil berkacak pinggang dan bersungut di hadapan Langit.
"Iya, aku tahu. Aku sudah berkali-kali minta maaf sama Aurora."
"Emangnya dengan minta maaf saja udah cukup, Pak Langit?" tanya Yuri yang sedikit geram melihat keberadaan Langit di rumah Aurora.
Langit hanya terdiam tak menjawab pertanyaan dari Yuri. Karena apa yang di katakan mereka benar. Maaf saja tak cukup menutup luka Aurora. Apalagi luka kehilangan seorang anak.
"Saya akan menunggu Aurora sampai bangun dan berpamitan."
"Silahkan saja! Tolong tunggu di luar saja. Kami muak melihatmu!" tegas Mika mengusir Langit.
Langit pun pasrah berjalan keluar rumah dan duduk di kursi teras. Jika dulu dia akan balik mengancam orang-orang yang semena-mena ataupun menghinanya, tapi kini dia membuang harga dirinya demi Aurora.
__ADS_1
Baru beberapa menit Langit duduk di teras, Mika datang sambil membawa secangkir teh dan makanan ringan dalam nampan.
Mika menyodorkan nampan yang di bawanya. Langit menerima sambil mengucapkan terima kasih. Lalu Mika duduk di kursi seberangnya.
"Maaf kalau saya sedikit keterlaluan. Saya cuma ingin melindungi Aurora saja." ucap Mika setelah mendudukkan tubuhnya.
"Nggak apa-apa. Saya paham kok. Malah saya sangat berterima kasih, karena selama ini kamu udah jagain Aurora."
"Sudah sepantasnya saya melakukan itu. Karena saya udah menganggap Aurora seperti saudara saya sendiri. Apalagi Aurora hidup sebatang kara, tak banyak orang yang peduli padanya."
Langit terdiam menunduk sambil mendengarkan Mika.
"Dia kehilangan orangtuanya saat masih SMA, bekerja sana-sini untuk melunasi hutang yang di tinggalkan kedua orang tuanya dan dikejar-kejar debt collector. Belum lagi dia harus membiayai kuliahnya. Badannya memang kecil, tapi semangatnya untuk hidup sangat luar biasa." Mika mulai bercerita tentang pahitnya hidup yang Aurora jalani.
"Jadi dia sudah menanggung beban seberat itu sejak dulu?" Langit menggelengkan kepala tanda tak percaya.
"Iya. Dia mau menerima tawaran menikah dengan anda untuk menggantikan kekasih anda, untuk melunasi hutang-hutangnya juga. Pasti anda ingat kan, kalau dia minta pembayaran di awal?"
Langit menganggukkan kepala tanda bahwa dia mengingat apa yang Mika katakan.
"Saat anda serius mengajaknya menikah siri, saya adalah orang yang mati-matian melarangnya. Karena insting saya selalu buruk saat menilai anda. Tapi saya lihat, dia nampak bahagia dan benar-benar menyukai anda. Jadi saya tak bisa mencegah perasaan Aurora. Dia pikir bahwa anda adalah orang yang baik dan akan selalu berada di pihaknya. Ternyata anda lebih memilih mempertahankan cinta anda daripada calon anak yang ada di rahim Aurora."
Suara Mika terdengar bergetar saat bercerita, dan sesekali dia mengusap sudut matanya yang menggenang.
"Aku adalah orang terbodoh di dunia ini!" Langit meremas rambutnya, lalu mengacak-acak dengan frustasi.
"Kalau anda merasa bersalah, tolong menjauhlah dari kehidupan Aurora. Akan lebih baik lagi kalau anda hidup seperti beberapa tahun lalu yang tak pernah muncul di hadapan Aurora!" ucap Mika dengan tegas.
Jedeeer!
Langit terkejut dengan perkataan Mika. Namun menjauh dari Aurora lagi? Sanggupkah Langit melakukannya?
Kira-kira Langit akan terus mengejar Aurora atau seperti saran Mika, dia akan hidup dengan menjauhi Aurora?
…
Kalau ada saran atau masukan, silahkan komen saja, ya? Jangan lupa like dan suscribe juga.
Maaf kalau otor update-nya kadang-kadang. Karena lagi punya baby yang lagi aktif-aktifnya.
Happy reading people halu🫶
__ADS_1