Ayo Menikah Lagi!!

Ayo Menikah Lagi!!
Part 34


__ADS_3

Sesuai janjinya, Aurora memasak untuk Langit. Dia menyuruh Langit menunggu sebentar.


Di dapur, Langit memperhatikan Aurora yang sedang memasak. Gerakannya tetap selincah dulu jika berurusan dengan peralatan dapur.


Langit mendekati Aurora yang sedang memasak, berniat membantu.


"Sini biar aku bantu potong sayuran, Ra."


"Nggak usah, Pak. Tinggal sedikit ini, kok." tolak Aurora sambil terus memotongi sayuran.


"Nggak apa-apa. Kamu goreng ayamnya aja."


Aurora mengangguk menuruti perkataan Langit. Lalu dia menyiapkan minyak goreng yang akan di gunakan untuk menggoreng ayam di dalam penggorengan.


"Hatchii" Aurora bersin dengan kencang.


 Tangannya bergetar dan minyak yang di tuangnya tumpah sedikit di lantai. Aurora yang tak menyadarinya, menginjak tumpahan minyak tersebut dan terpeleset.


Tubuh Aurora sudah akan terjatuh, namun dengan sigap Langit menangkap tubuh Aurora. Meskipun tubuh Aurora terbilang kurus, tapi tubuh Langit tak bisa menahan karena terlalu spontan. Aurora memejamkan matanya saat merasa dirinya akan terjatuh.


Brugh!


Mereka berdua terjatuh di lantai dengan tubuh Aurora berada di atas tubuh Langit.


Saat Aurora membuka mata, kepalanya sudah berada di atas dada bidang Langit. Dia bisa mendengar detak jantung Langit yang terdengar begitu cepat. Mungkin karena Langit terlalu kaget saat terjatuh.


"Kamu mau terus ASMR suara jantungku ya?" ucap Langit yang menyadari Aurora tak segera berdiri.


Aurora menganggukkan kepala sembari terus menempelkan telinganya di dada Langit.


"Kalau kamu nggak segera berdiri, akan ada 'sesuatu lain' yang akan berdiri lho." Langit mencoba menggoda Aurora.


Butuh beberapa saat Aurora mencerna ucapan Langit. Setelah menyadari apa yang dimaksud dengan 'sesuatu lain' itu, Aurora segera mengangkat tubuhnya dari atas tubuh Langit.


Langit hanya tertawa kecil melihat Aurora dengan wajah merahnya sedang berdiri dan membenahi rambut, pakaian dan celemeknya.


"Anda senang sekali ya mengerjai saya?" ucap Aurora kesal sambil mencebikkan bibirnya.


"Habisnya aku suka ekspresi malu-malu kamu itu."


"Tau ah." Aurora pergi meninggalkan Langit yang masih tertawa.


Aurora mengambil kain pel dan membersihkan bekas minyak yang tumpah agar dia tak terpeleset lagi.

__ADS_1


Lalu mereka melanjutkan aktifitas masak. Tak lama kemudian, masakan sudah matang. Capcay dan ayam goreng sudah siap di sajikan.


Mereka berdua duduk bersama di meja makan dan menyantap masakan yang mereka masak bersama. Langit makan dengan lahap sekali, seperti orang yang tidak makan selama berhari-hari.


Tak butuh waktu lama, semua masakan di atas meja semuanya tandas di lahap oleh Langit. Setelahnya, Langit mengelus-elus perutnya karena kenyang.


"Rasanya masih sama seperti dulu, Ra. Aku kangen banget masakan kamu."


Aurora hanya membalas dengan senyuman.


"Aku juga kangen masak bareng sama kamu dan juga melakukan banyak hal di dapur bersamamu."


Mendengar kalimat terakhir Langit, mata Aurora membelalak. Dia jadi teringat saat dia dan Langit bercinta di dapur. Alih-alih dapur berantakan karena memasak, tempat itu berantakan terkena 'guncangan cinta' yang meluap-luap saat itu.


"Ja-jangan mengingat hal-hal yang tidak penting, Pak." Aurora berusaha menyembunyikan rasa malunya.


"Tapi setiap momen bersamamu semuanya terasa penting."


Aurora membuang muka sambil tersenyum miring.


"Anda merasa seperti itu karena anda sudah tak bisa mengulangnya lagi, Pak. Seandainya saja saya masih berada di sisi anda, semua momen akan terasa biasa saja."


Langit hanya terdiam mendengar sindiran dari Aurora. Karena suasana berubah menjadi canggung, Langit pun memutuskan untuk berpamitan.


Sebelum benar-benar pergi jauh dari Aurora lagi, Langit sempat meminta nomor ponsel Aurora. Namun dengan tegas Aurora menolak. Aurora tak ingin berhubungan lagi dengan Langit. Apalagi sekarang dirinya sudah bertunangan dengan Ray.


Di sisi lain…


Ray mendapat laporan dari orang yang di tugaskan untuk mengawasi Langit beberapa hari lalu. Orang tersebut melaporkan bahwa Langit kembali masuk ke dalam rumah bersama Aurora. Satu setengah jam kemudian, Langit baru pergi dari rumah tersebut.


"Ngapain kamu sama si brengsek itu, Ra?!" gumam Ray sambil mengepalkan tangan karena kesal.


Ray berusaha menelpon Aurora berkali-kali, namun tak ada respon.


"Niko, apa semua masalah produksi sudah beres?" tanya Langit melalui sambungan telepon kantor. "Baiklah. Saya akan pulang lebih cepat kalau sudah tidak ada jadwal penting."


Setelah membereskan masalah dalam perusahaan dan menyelesaikan semua tugasnya, Ray bergegas pulang dan menemui Aurora.


Tok tok tok.


Ray mengetuk pintu rumah Aurora. Tak lama kemudian, pintu dibuka. Dengan segera Ray memeluk tubuh Aurora.


"Kamu kenapa, Ray?" tanya Aurora khawatir. Karena tak seperti biasanya Ray seperti itu.

__ADS_1


"Aku kangen banget sama kamu, Ra." bohong Ray. Dia tak mau Aurora tahu kalau dia menempatkan seseorang untuk mengawasinya.


"Masuk dulu Ray. Nanti kalau dilihat orang, dikira kita lagi mesum." ajak Aurora.


Ray mendudukkan diri di samping Aurora. Kepalanya dia sandarkan di bahu kanan Aurora.


"Ra, kapan kamu siap nikah sama aku? Kita kan sudah hampir dua tahun tunangan?" tanya Ray tiba-tiba.


Pertanyaan itu sudah sering kali Aurora dengar dari bibir Ray. Mereka menjalin tunangan karena Ray yang selalu mendesaknya. Tapi Aurora tak keberatan bertunangan dengannya karena Ray sudah seperti obat untuknya.


Ray selalu ada setiap Aurora merasa terluka ataupun terpuruk. Ray juga orang kedua yang selalu disampingnya memberikan semangat hidup selama Mika tak ada di sisinya. Dengan cara bertunangan, Aurora pikir bisa membalas kebaikan Ray.


Namun saat di tanya kapan siap menikah, Aurora akan selalu mengalihkan pembicaraan. Seolah-olah enggan membahas masalah pernikahan.


"Kamu selalu seperti ini setiap aku membahas soal pernikahan, Ra." suara Ray berubah sendu.


Aurora membelai rahang Ray dengan lembut. Membuat Ray terbuai dan memejamkan matanya.


"Aku tahu kamu pasti akan mengalihkan topik pembicaraan lagi." ucap Ray menghela nafas sambil matanya masih terpejam menikmati belaian tangan Aurora.


"Atau kamu akan meminta maaf?!" lanjut oceh Ray.


Aurora tertawa kecil melihat Ray yang hafal sekali dengan tabiatnya. Lalu Aurora mengecup pipi Ray.


"Kalau mau membujukku, harus niat dong!" Ray mendengus setelah mendapat kecupan di pipi.


"Cium di sini!" Ray menunjuk bibir seksinya.


"Aku nggak niat membujuk kamu kok." ucap Aurora sambil menjauhkan tubuhnya, sehingga Ray yang masih bersandar terjungkal di sofa.


Bukannya bangun, Ray malah berbaring telentang di atas sofa sambil menutup wajahnya dengan lengan.


"Aku tahu kamu masih trauma dan menata hati kamu buat menikah lagi, Ra. Sampai kapanpun aku akan tetap nunggu kamu bener-bener siap nerima aku." oceh Ray.


Tiba-tiba Aurora mengecup bibir Ray dari sisi atas kepala Ray. Kecupan ringan itu bertahan sedikit lama tanpa pagutan dan tanpa gairah.


"Terima kasih sudah menerimaku dengan segala kekuranganku, Ray. Rasanya aku masih tak pantas menerima banyak cinta darimu." batin Aurora selama mengecup bibir Ray.



Jangan lupa tinggalkan like dan komen ya, people halu.


Meskipun update telat, komen dan like kalian bisa menambah semangat untuk terus update.

__ADS_1


Jangan sungkan kasih saran atau kritikan, ya.


Happy reading, people halu🫶


__ADS_2