
"Kalau anda merasa bersalah, tolong menjauhlah dari kehidupan Aurora. Akan lebih baik lagi kalau anda hidup seperti beberapa tahun lalu yang tak pernah muncul di hadapan Aurora!" ucap Mika dengan tegas.
Jedeeer!
Langit terkejut dengan perkataan Mika. Namun menjauh dari Aurora lagi? Sanggupkah Langit melakukannya?
Dadanya terasa sesak membayangkan dirinya yang harus menjauh dari Aurora lagi.
"Apa nggak ada opsi lain selain menjauh dari Aurora? Membayangkannya saja aku nggak sanggup." gumam Langit sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Baru sekarang anda nggak sanggup jauh dari Aurora. Lantas kenapa dulu anda dengan kejam membuangnya?!" teriak Mika karena saking kesalnya.
Langit hanya diam tertunduk.
"Apa anda tahu betapa menderitanya Aurora dan calon anaknya? Setiap hari dia hanya bisa menangis sambil mengelus perutnya dan mengatakan bahwa semua baik-baik saja? Hah! Sekarang dengan entengnya anda berkata kalau anda tak bisa jauh darinya? Bullshit! Munafik!"
Emosi Mika meluap-luap. Dadanya naik turun karena ledakan amarahnya.
Yuri dan Lettya yang bermain di dalam rumah pun segera keluar dan menghampiri Mika yang berteriak-teriak.
"Mamaaa.." panggil Lettya sedikit takut. Mama yang biasanya bersikap ramah dan lemah lembut terhadap siapapun kini berubah seperti monster.
"Mama kenapa teliak-teliak? Lety tatut" balita tembam itu merangkul kaki Yuri yang sedang menggandengnya.
"Mama nggak apa-apa sayang. Tadi Mama teriak karena takut ada tikus." bohong Mika untuk membujuk anaknya yang tampak berkaca-kaca.
Langit memandang sendu Lettya yang kini sudah berada dalam gendongan Mika. Sedangkan Mika menatap tajam kearah Langit.
Yuri mengusap-usap bahu Mika dengan lembut. Berharap bisa meredakan ledakan emosi Mika.
"Ada apa kok ribut-ribut, sih?" tanya Aurora uang terbangun dan keluar mengecek situsasi.
Semuanya diam, tak ada yang menjawab.
"Pak Langit masih di sini?" tanya Aurora sambil membenahi rambutnya.
"I-iya. Kamu udah enakan?" tanya Langit basa-basi. Melihat Aurora yang mencepol rambutnya, hatinya berdesir. Dia mengenang kembali saat dirinya dan Aurora sedang berdua di rumah. Aurora sering kali mencepol rambutnya, karena merasa risih kalau beraktifitas dengan rambut panjangnya. Tapi saat disarankan untuk potong rambut, Aurora selalu menolak dengan alasan tidak suka rambut pendek.
"Mik, gue pengen ngomong dulu sama Pak Langit." ucap Aurora sembari mengkode Mika dan Yuri untuk masuk ke dalam rumah.
Setelah pasangan suami istri beserta tuyulnya masuk ke dalam rumah, Aurora duduk di seberang Langit.
__ADS_1
"Anda pasti sudah mendengar semuanya dari Mika." ucap Aurora sambil mengulas senyum, namun senyumnya terasa hambar.
"Aku nggak tahu kalau hidup kamu begitu sulit sebelum maupun setelah bertemu denganku." Langit menatap wajah Aurora yang tersenyum.
"Dulu saat orangtua saya meninggal, saya berharap suatu hari saya juga akan menikah dan punya keluarga kecil. Lalu saat saya mengandung Theor, saya selalu bilang padanya, bahwa saya bahagia karena dia satu-satunya keluarga saya."
Aurora lalu terdiam tak melanjutkan ceritanya. Dia meremat kedua tangannya untuk menetralkan emosi yang sedang membuncah dalam benaknya.
"Tapi saya baik-baik saja, kok." senyum Aurora seperti terpaksa.
"Kamu boleh tidak baik-baik saja saat bersamaku, Ra." ucap Langit ikut tersenyum teduh.
"Sepertinya anda melewati batas, Pak Langit!" seru suara laki-laki dari arah gerbang.
"Ray." gumam Aurora lirih sambil mengembangkan senyum.
Ray langsung menghampiri Aurora yang sedang duduk, lalu bersimpuh di depan perempuan yang kini wajahnya tampak merah.
"Kamu abis nangis?" tanya Ray sambil mengusap pipi Aurora halus.
Aurora mengangguk sambil memegang tangan Ray yang sedang membelai pipinya. Mereka bahkan tak acuh jika ada Langit di samping mereka. Dunia serasa milik berdua.
Langit yang menyaksikan kemesraan mereka merasa iri. Bahkan iri sekali. Dia sangat tahu bahwa tatapan Aurora yang ditujukan pada Ray itu adalah tatapan penuh cinta. Seperti saat dulu Aurora menatap dirinya.
"Seandainya waktu bisa diputar, aku pun ingin merasakan lagi tatapan hangat darimu, Ra." batin Langit sambil membuang muka.
"Jadi, apakah anda sudah puas menguntit Aurora, Pak Langit?" tanya Ray sambil menatap Langit dengan seringainya.
"A-apa maksud anda, Pak Ray?" Langit sangat terkejut, ternyata Ray sudah tahu kalau dia menguntit Aurora selama hampir dua minggu ini.
"Saya sudah tahu kalau anda membuntuti Aurora kemanapun dia pergi sejak kami kembali dari kota A."
Sejak Aurora bilang kalau dirinya seperti ada yang terus mengawasi, Ray langsung memerintahkan seseorang untuk memantau situasi sekitar Aurora. Dan ternyata ditemukan fakta bahwa memang ada yang membuntuti kemanapun Aurora pergi. Lalu Ray menugaskan orang tersebut untuk terus mengawasi gerak-gerik 'penguntit' itu dan melaporkan setiap gerakannya.
Aurora membelalakkan mata karena syok mendengar perkataan Ray. Entah benar atau tidak yang Ray katakan, tapi Aurora tak percaya kalau Langit sampai melakukan hal seperti itu.
"Apakah semua yang di katakan Ray itu benar?" Aurora menatap sendu ke Langit, berharap dia berkata jujur.
Seketika Langit meminta maaf pada Aurora. Dia melakukan itu hanya untuk mencari tahu tentang Aurora dan anaknya. Namun cara yang di lakukannya adalah salah.
"Seharusnya saya yang minta maaf, karena sudah menyembunyikan fakta tentang Theor. Saya marah bukan karena anda yang membuntuti saya. Tapi saya tidak mau harga diri anda terus-menerus terluka hanya karena perempuan sepele seperti saya."
__ADS_1
"Raa.." Langit dan Ray bersamaan.
"Kamu bukan perempuan sepele, Ra. Kamu perempuan hebat." Ray meraih tangan Aurora, lalu mengecupnya.
Langit mengangguk, ikut sependapat dengan Ray.
"Kamu perempuan hebat, Ra. Kamu bisa bertahan sejauh ini bersama lukamu." batin Langit sambil memejamkan matanya karena enggan melihat kemesraan Aurora dan Ray.
Tiba-tiba Mika dan Yuri keluar dari dalam rumah dan pamit pulang karena Lettya yang merengek mengajak pulang sebab dia mengantuk. Bersamaan dengan itu, Ray juga ikut pamit setelah mendapat panggilan telepon dari Niko karena ada hal yang mendesak tentang perusahaan.
"Saya akan pamit karena ada hal yang mendesak. Saya mohon pada Pak Langit untuk tetap menjaga batasan dan kalau bisa anda juga harus meninggalkan tempat ini." ucap sinis Ray.
"Saya tidak akan melakukan hal-hal aneh, Pak Ray. Anda tak perlu khawatir. Saya akan segera pergi setelah berbincang sedikit lagi dengan Aurora." balas Langit yang tak kalah sinis. Sudah seperti ibu-ibu yang saling menyindir.
Ray segera melenggang pergi meninggalkan rumah Aurora. Kini hanya ada Aurora dan Langit, karena semua sudah undur diri dengan urusan masing-masing.
"Anda boleh mengunjungi makam Theor kapan pun anda mau. Karena anda juga mempunyai hak untuk itu." ucap Aurora untuk mencairkan suasana hening.
"Terima kasih, Ra."
Aurora hanya mengangguk.
"Kalau begitu, aku pamit, Ra. Mungkin besok aku akan balik ke kota A."
Langit beranjak dari tempat duduknya dan mengulurkan tangan untuk salaman. Segera Aurora menyambut uluran tangan Langit sambil tersenyum.
Perlahan Langit melangkahkan kaki pergi dari rumah Aurora. Hati Langit terasa berat meninggalkannya. Ingin sekali dia menetap lebih lama bersama perempuan yang sudah mengisi penuh hatinya itu.
"Apa anda mau makan dulu sebelum pergi? Saya akan memasak."
Deg!
Hati Langit berdebar mendengar tawaran Aurora. Lalu dia membalikkan tubuhnya sambil tersenyum riang seperti anak kecil yang diiming-imingi permen.
…
Jangan lupa tinggalkan like dan komen ya, people halu.
Meskipun update telat, komen dan like kalian bisa menambah semangat untuk terus update.
Jangan sungkan kasih saran atau kritikan, ya.
__ADS_1
Happy reading, people halu🫶