
Kehidupan Aurora berjalan seperti biasanya. Pekerjaan kantor yang semakin menumpuk karena semakin banyak yang bekerja sama dengan Rowayne Corp. Membuat Aurora dan timnya harus bekerja lebih ekstra lagi.
"Apa pekerjaanmu belum kelar? Sampai harus di bawa pulang segala?" tanya Ray sedikit sebal melihat Aurora yang fokus pada layar tabletnya.
"Siapa juga yang membuatku sibuk setiap hari seperti ini?" sindir Aurora yang masih fokus merevisi hasil desain.
"Kamu sendiri kan yang nggak mau aku nafkahin?" Ray balik menyindir Aurora.
Aurora langsung melototkan matanya ke arah Ray. Ray membuang muka sambil menahan tawa.
Suasana kemudian hening kembali karena Aurora kembali fokus ke layar tabletnya, sesekali dia juga mengecek berkas-berkas di depannya.
"Ray.." panggil Aurora dengan nada lembut.
"Hmm.. Aku yakin kamu ada sesuatu kalau udah manggil namaku dengan lemah lembut gitu."
Aurora terkekeh mendengar jawaban Ray. Karena memang betul, dia akan menyampaikan sesuatu yang sangat sensitif pada Ray.
Setelah puas tertawa, Aurora kembali mengatur nafas, lalu melanjutkan perkataannya.
"Kemarin Langit mengirim pesan padaku." Aurora bicara dengan sangat hati-hati. "Dia mengirim chat menanyakan kabarku."
"Kamu balas apa?" tanya Ray mencoba tenang sambil tersenyum hangat pada Aurora. Padahal tangannya sudah mengepal erat dan jantungnya berdetak cepat karena menahan amarah.
"Tidak ku balas." jawab Aurora dengan nada seperti orang yang kecewa.
Mendengar jawaban Aurora, Ray tahu kalau sebenarnya Aurora masih belum bisa melupakan Langit.
Ray hanya terdiam. Mereka berdua sama-sama tenggelam dalam pikiran masing-masing.
"Aku pulang dulu, Ra."
Ray berdiri hendak pergi. Aurora pun ikut berdiri seolah dia merasakan kegelisahan dalam hati Ray.
Aurora menarik lengan kemeja Ray, seolah berkata 'jangan pergi'.
__ADS_1
"Jangan menahanku kalau kamu masih ragu-ragu, Ra." ucap Ray tanpa menoleh ke arah Aurora.
Aurora diam tertunduk, lalu melepaskan lengan baju Ray. Lalu Ray pergi melangkahkan kakinya meninggalkan Aurora yang berdiri mematung.
...****************...
Sesampainya di rumah, Ray membuang kasar jas yang ada di tangannya ke lantai. Lalu menjambak rambutnya penuh rasa frustasi sambil menyandarkan tubuhnya ke sofa.
Tak selang berapa lama, ponsel di sakunya berdering. Terpampang nama "Mama" di layar. Dengan malas, Ray menggeser tombol warna hijau.
"Ada apa, Ma?" tanya Ray tanpa basa basi.
"Pulang ke rumah sekarang. Ada yang mau mama dan papa bicarakan!" titah Mama Rose.
"Aku capek, Ma. Besok saja. Aku mau istirahat." bantah Ray.
"Ini ada hubungannya dengan tunanganmu yang selalu kamu banggakan itu!" Segera telepon dimatikan oleh Mama Rose setelah mengatakan hal tersebut.
Ray segera beranjak dari sofa dan melajukan mobilnya ke kediaman orang tuanya. Dengan kecepatan di atas rata-rata, Ray menginjak pedal gas.
Hanya butuh waktu lima belas menit, mobil Ray sudah memasuki area parkir rumah mewah nan luas itu.
"Lamgsung saja, Ma, Pa. Sebenarnya ada apa ini?" tanya Ray tanpa babibu sembari matanya menyapu semua orang yang sedang duduk di ruang tamu itu.
Netra Ray menangkap sosok wanita yang asing baginya. Namun sepertinya dia juga pernah melihat wajah itu. Kerutan halus tercipta di alisnya, menyiratkan tanda tanya.
Seperti menebak isi pikiran Ray, Mama Rose segera memperkenalkan wanita itu.
"Ah iya, ini Renata. Anak teman Mama, Ray." Mama Rose memperkenalkan wanita tersebut.
Renata mengulurkan tangannya hendak berjabat tangan, namun Ray enggan mengeluarkan tangannya dari saku celana. Merasa tak mendapat respon, Renata kembali menarik tangannya sambil tersenyum kecut ke arah Mama Rose dan Papa Adolf.
"Aku nggak tanya, Ma!" jawab Ray ketus "Bicarakan saja apa yang mau Mama katakan!"
"Kamu nggak sopan, Ray!" Papa Adolf sedikit menaikkan nada suaranya. Namun tetap saja Ray bergeming.
__ADS_1
"Katakan saja apa mau kalian atau aku akan pergi saat ini juga!" Ray menatap tajam ke arah Renata yang mengelus pundak Mama Rose.
"Apa kamu tahu kalau Aurora itu pernah hamil di luar nikah?" Renata membuka suara " Mungkin karena dia terkena karma, anaknya mati saat baru beberapa hari dilahirkan. Dia tak sebaik yang kamu tahu, Ray."
Rahang Ray mengetat mendengar Renata yang mengolok-olok Aurora. Apalagi menyinggung soal anak Aurora yang tak berdosa.
Karma? Dasar wanita gila!
Dengan sekuat tenaga, Ray menahan amarah yang sudah membuncah. Tangan di dalam saku sudah terkepal kuat. Jika saja lawan bicaranya adalah lelaki, mungkin sudah babak belur di hajarnya.
"Kamu dengar kan, Ray? Bukankah Renata ini jauh lebih baik daripada Aurora? Dia adalah model internasional. Dan juga latar belakangnya juga jelas. Mama pasti bangga kalau bisa punya menantu kayak Renata ini." oceh Mama Rose mengelu-elukan Renata. "Dia ini wanita berkelas yang nggak bakal malu-maluin kalau diajak Mama arisan sosialita."
Papa Adolf mengangguk setuju dengan pendapat isterinya. Karena bagi Papa Adolf, latar belakang keluarga adalah salah satu pertimbangan kriteria calon menantu mereka.
Hanya karena Ray keras kepala dan memaksa, mau tak mau Mama Rose dan Papa Adolf menerima Aurora sebagai tunangan Ray.
"Kalau maunya Mama sama Papa begitu, kenapa nggak jodohkan saja sama Ronald?" Ray menyeringai tipis, "kan sama aja bisa jadikan wanita ini menantu idaman kalian berdua!"
Segera Ray memutar badannya dan pergi setelah mengatakan kalimat sarkas itu.
"Raaay!" teriak Mama Rose dan Papa Adolf kompak bersamaan dengan langkah cepat Ray yang meninggalkan mereka.
"Maaf ya, Renata. Ray itu memang kaku dan keras kepala banget orangnya. Tapi kamu jangan kapok untuk terus deketin Ray, ya?" Mama Rose merasa tak enak pada Renata. " Mama yakin kalau suatu hari nanti Ray akan sadar kalau Aurora itu wanita ular."
Renata mengangguk sambil tersenyum semanis mungkin di hadapan Mama Rose.
"Lihat saja, Aurora. Aku akan membuat hidupmu berantakan. Karena kamu sudah menghancurkan pernikahanku dengan Langit." batin Renata.
"Tante, kita lupakan saja tentang Aurora. Tolong ceritakan hal-hal tentang Ray dong, Tante." ucap Renata bermanja pada Mama Rose.
"Ya ampun. Kamu manis sekali sih. Jadi pengen jadikan kamu menantu secepatnya." goda Mama Rose sambil mengelus puncak kepala Renata.
"Kalau Renata yang jadi mantu, pasti rumah ini jadi seru ya, Ma? Secara Renata orangnya positif vibes banget." Papa Adolf menimpali pujian untuk Renata.
Di lain sisi, Ray menggenggam erat kemudi hingga buku tangannya memutih. Dalam benaknya penuh tanya, siapakah Renata sebenarnya dan ada hubungan apa dengan Aurora.
__ADS_1
Ray ingin segera menanyakan hal tersebut pada Aurora, namun dia masih sedikit sebal dengan sikap Aurora tadi sore. Padahal saat itu, Ray berharap Aurora akan menahannya, tetapi di luar ekspektasi.
Mungkin Aurora masih belum sepenuhnya bisa lepas dari bayangan masa lalu pikirnya. Karena move on itu tak semudah jatuh cinta.