
Pertemuan antara Raytan dan Aurora
Bulan Desember tahun 20xx
Hari itu awan sangat gelap dan angin berhembus kencang. Aurora yang tengah hamil berjalan menyusuri jalanan yang masih asing baginya. Dia menoleh ke segala arah dan terus berjalan tanpa tujuan.
"Mik, gue pengen jalan-jalan sebentar cari angin sambil lihat-lihat daerah sini." pamit Aurora pada Mika sebelum dia pergi keluar.
Mika melongokan kepala keluar jendela dan menatap ke arah awan yang gelap yang mulai berkumpul.
"Tapi lagi mendung ini, Zal. Kayaknya bentar lagi turun hujan." teriak Mika yang berada di dalam kamarnya.
"Kayaknya anak gue yang pengen ngajak jalan, Mik." bujuk Aurora dengan kata andalannya, yaitu 'anak gue yang pengen'.
"Yaudah, gue temenin. Bentar gue ganti baju dulu."
"Ogah! Gue mau kencan berdua sama anak gue!"
Aurora segera pergi meninggalkan kontrakan tanpa sepengetahuan Mika. Tak lupa dia membawa payung untuk berjaga-jaga.
Begitulah akhirnya Aurora sekarang berjalan menyusuri trotoar.
Setengah jam Aurora berjalan santai, tiba-tiba hujan turun dengan sangat deras di iringi dengan angin kencang. Para manusia yang sedang beraktifitas segera berhambur mencari tempat berteduh. Pemakai sepeda motor, menghentikan motornya sejenak untuk memakai jas hujan.
Namun Aurora dengan santainya membuka payung di tengah hujan deras tersebut. Beberapa ibu-ibu yang berteduh berteriak-teriak memanggilnya untuk berteduh di halte karena melihat Aurora yang perutnya buncit, mereka takut kalau Aurora terpeleset di tengah jalan. Lagi-lagi Aurora tak acuh dan pura-pura tak mendengar panggilan itu. Dia tetap berjalan santai di trotoar dan di tengah hujan deras.
"Woy wanita sinting! Udah tau hamil malah hujan-hujanan!" teriak seorang bapak-bapak yang kesal melihat Aurora.
Tetap saja, Aurora tak acuh dan terus melangkahkan kaki.
Tak lama kemudian, dia melihat sebuah mobil yang berhenti di tepi jalan. Sepertinya mogok, karena si pemilik membuka kap depan mobil dan mengecek mesinnya. Tapi tak ada seorangpun yang membantunya. Mungkin karena orang-orang enggan kehujanan.
Pemilik mobil tersebut yang di perkirakan berusia setengah baya tampak basah kuyup karena tidak memakai pelindung hujan. Aurora merasa kasihan melihatnya, namun Aurora tak mengerti masalah mesin. Tapi hati kecil Aurora terketuk untuk tetap membantu sebisanya.
__ADS_1
"Pak, mobilnya mogok?" tanya Aurora pada si bapak pemilik mobil.
Entah si bapak sadar atau tidak, Aurora menggeser payungnya ke atas kepala si bapak untuk memayunginya.
"Iya, mbak. Nggak tahu kenapa, padahal selama ini baik-baik saja." keluh bapak tersebut tampak putus asa. Sepertinya si bapak juga tidak paham soal mesin.
"Pak, saya nggak bisa bantu kalau soal mesin. Tapi baju bapak basah kuyup. Jadi tolong terima bantuan kecil dari saya." Aurora memberikan payungnya ke tangan si bapak. Bapak tersebut menolak, karena melihat kondisi Aurora yang tengah hamil. Mereka pun sempat saling ngeyel dan akhirnya Aurora mengeluarkan kata andalan lainnya, yaitu 'bapak mengingatkan saya pada almarhum ayah saya'.
Akhirnya bapak tersebut termakan bujukan Aurora dan menerima payung tersebut. Karena beliau juga punya anak yang mungkin seumuran dengan Aurora. Dan beliau teringat dengan anaknya.
Setelah si bapak menerima payung tersebut, Aurora berjalan kembali menyusuri jalanan yang sudah di lewatinya untuk segera kembali ke rumah. Karena dia juga tak mau sakit sesudah hujan-hujanan.
Di dalam mobil mogok tersebut, ternyata ada seorang 'duren kara' alias duda keren kaya raya. Dia adalah Raytan Ferrus Rowayne alias Ray.
Ray yang mencoba menghubungi Cedric Rowayne, Papanya, termangu menatap Aurora yang rela kehujanan demi orang lain padahal kondisinya sedang hamil membuat dia terpana sekaligus mengumpatinya.
"Dasar wanita gila! Padahal dia sendiri harusnya butuh payung itu. Dasar bodoh!" gumam Ray lirih.
Dia terus menatap Aurora yang pergi ke arah berlawanan. Sesaat Ray menatap dan mengamati wajah Aurora yang melintas di samping mobilnya. Aurora tampak senyum-senyum dan bersenandung sambil mengelus perutnya yang terbalut baju basah.
Satu tahun kemudian..
Bulan April tahun 20xx
Hari itu, Ray mengambil cuti sehari untuk mengunjungi makam mendiang istrinya yang meninggal akibat kecelakaan. Dia sudah bersiap dengan setelan hitam dan buket bunga di tangan. Tak lupa kaca mata hitam bertengger di hidung mancungnya.
Sesampainya di makam, dia meletakkan buket bunga di atas pusara wanita yang baru setahun di nikahinya itu. Dia memanjatkan doa-doa sambil terisak. Memang benar kata orang, rindu terberat adalah merindukan orang yang beda alam.
Setelah membaca doa untuk mendiang istrinya, Ray sedikit bercengkrama di depan makam istrinya. Seolah mereka sedang duduk berhadapan dan saling mengobrol.
Saat pandangan Ray menatap depan, dia melihat seorang wanita yang membawa kue ulang tahun di atas sebuah makam, dia adalah Aurora. Ray yakin kalau itu adalah makam anak kecil, karena wanita tersebut menancapkan beberapa balon di atas makam.
Wanita yang memunggunginya itu terdengar menyanyikan lagu ulang tahun lalu meniup lilin yang ada diatas kue tersebut.
__ADS_1
"Kasihan sekali ibu itu ya Kirana. Dia harus kehilangan anaknya. Pasti dia sangat terpukul." ucap Ray pada mendiang istrinya, Kirana Larasati.
Ray kembali menundukkan kepalanya dan berbincang kembali dengan makam Kirana. Dia menceritakan banyak hal. Mulai dari Cedric yang ingin menikah lagi sampai dia yang dipaksa untuk segera menikah lagi.
Tiba-tiba seseorang menyodorkan sepotong kue di hadapannya. Mata Ray terbelalak karena terkejut.
"Ini untuk Anda. Hari ini anak saya ulang tahun yang pertama." ucap wanita yang tak Ray kenal itu.
Ray menerima kue tersebut dan menatap wajah wanita tersebut. Matanya makin melebar tatkala mengenali wajah wanita itu.
"Dia adalah 'si gila di tengah hujan' itu." batin Ray menatap intens wajah Aurora yang tersenyum padanya.
"Te-terima kasih." ucap Ray setelah menerima sepotong kue dari Aurora.
"Saya membaginya hanya dengan anda, karena anda yang paling dekat di sini." ucap Aurora setengah berbisik.
Ray mengedarkan pandangan ke seluruh area pemakaman. Memang benar dia adalah yang paling dekat dengan wanita itu. Selain itu, hari ini pemakaman sepi. Hanya beberapa orang saja yang terlihat.
"Dasar wanita gila! Sepertinya dia benar-benar gila!" batin Ray kembali mengumpati Aurora seperti saat pertama kali melihatnya.
"Mungkin anda menganggap saya gila. Tapi kebanyakan orang juga berpikir seperti itu sih." ucap Aurora menggaruk pipinya yang tak gatal sambil tertawa kecil.
Lalu Aurora pergi kembali ke makam anaknya dan mengeluarkan buku dongeng dari tasnya dan membacakan buku tersebut sambil terisak.
Ray yang mendengar isakan Aurora merasa merinding.
"Kirana, aku pamit dulu ya. Semakin lama disini, aku merinding. Sepertinya selain gila, wanita itu bisa membaca pikiran!" bisik Ray di samping batu nisan Kirana.
…
Jangan lupa tinggalkan like dan komen ya, people halu.
Meskipun update telat, komen dan like kalian bisa menambah semangat untuk terus update.
__ADS_1
Jangan sungkan kasih saran atau kritikan, ya.
Happy reading, people halu🫶