
Setelah meeting berakhir, mereka berencana segera kembali ke kota S. Sebelumnya, Langit menawarkan untuk makan malam bersama sebelum mereka kembali. Dan tawaran itu di sanggupi oleh Ray.
Sesampainya mereka di hotel, mereka istirahat sejenak untuk melepas penat.
"Kamu nggak apa-apa, Ra?" tanya Lea yang menyadari kalau Aurora berkali-kali menarik nafas selama meeting.
"Iya, aku nggak apa-apa kok. Cuma capek aja." dalih Aurora.
"Kamu nggak kayak biasanya."
"Aku beneran nggak apa-apa kok, Le. Kamu cepetan mandi sana! Nanti gantian."
"Siap bu boss!" Lea berlalu sambil tangannya hormat ke arah Aurora.
Setelah memastikan Lea benar-benar masuk ke dalam kamar mandi, Aurora langsung menumpahkan air matanya.
"Kenapa dari miliaran manusia di dunia ini, aku harus ketemu lagi sama dia, Tuhan?"
Aurora memukul dadanya berkali-kali untuk meredakan sesak yang membuncah. Air matanya sudah seperti aliran sungai yang deras.
Triring.
Tiba-tiba ponsel Aurora berdering. Menampilkan pesan dari Presdir Ray. Segera Aurora membuka pesan tersebut.
Are U okay? Datang kesini sekarang juga.
Sepertinya orang-orang sangat peka hari ini. Membuat hatinya semakin sesak.
"Le, aku dapet pesan dari Pak Presdir. Disuruh kesana sebentar!" pamit Aurora dari luar kamar mandi.
"Iya kesana aja. Tapi awas jangan kebablasan!" teriak Lea dari dalam kamar mandi.
Gegas Aurora pergi menemui Ray ke lantai tujuh. Ternyata Ray sudah menunggunya di depan pintu.
Begitu melihat sosok Ray yang menunggunya dengan khawatir di depan pintu, membuat hatinya meleleh. Air matanya kembali tak terbendung.
Setelah kepergian orang tuanya, tak ada orang lain yang khawatir padanya, kecuali Mika. Bahkan kerabat-kerabatnya hanya sesekali menanyakan kabarnya. Dan sekarang ada orang lain selain Mika yang peduli padanya. Membuat Aurora semakin terharu.
Aurora melangkahkan kakinya lebih cepat agar segera sampai pada lelaki yang sudah berdiri di depan sana.
Grep.
Aurora langsung menjatuhkan tubuhnya di pelukan Ray. Air matanya semakin deras kembali.
"Aku nggak baik-baik saja." ucap Aurora sambil berderai air mata.
__ADS_1
"Nggak apa-apa. Kamu boleh nangis kok."
Ray menenangkan Aurora. Mengelus punggungnya dengan lembut dan mengecup puncak kepalanya.
"Maafin aku, Ray. Aku cengeng."
"Cup cup cup." Ray mengelus surai Aurora. "Ayo kita bicara di dalam."
Setelah masuk kamar Ray, Aurora langsung meringkuk di sofa sambil terus menangis.
"Menangislah sepuasmu. Jika bersamaku, tunjukkan sisi lemahmu. Agar aku bisa selalu di sampingmu dan menjagamu."
Ray hanya menggenggam tangan Aurora sambil mengelus surainya. Karena saat seperti ini, Aurora lebih butuh menangis daripada penghiburan. Dia juga tak menanyakan penyebab kesedihan Aurora.
Mungkin karena lelah setelah meeting di tambah menangis, Aurora terlelap di sofa kamar Ray.
Ray tersenyum menatap Aurora yang tertidur. Melihat Aurora yang seperti itu, membuat Ray ingin selalu memeluk perempuan yang selalu membuat jantungnya berdebar ketika berada di dekatnya.
...****************...
Waktu makan malam bersama dengan Langit telah tiba. Aurora, Ray, dan dua rekannya tiba di restoran hotel bintang lima tempat yang telah Langit janjikan.
Setibanya di sana, tampak Langit sudah menunggu bersama Rendi.
"Tidak masalah. Saya juga baru tiba." jawab Langit.
Mereka duduk bersama di meja panjang yang telah di reservasi. Datanglah waiters membawakan buku menu.
Langit memesan menu lengkap, mulai dari appetizer, main course, sampai dessert.
Sembari menunggu makanan, mereka berbincang santai.
"Setelah saya kaji kembali, ada beberapa desain yang ingin saya revisi." ucap Langit pada Ray.
"Oh ya boleh, Pak." kemudian Ray menatap Aurora yang ada di sampingnya. "Bagaimana Aurora? Apa tidak masalah?" tanya Ray.
"Saya akan berusaha semaksimal mungkin." ucap Aurora datar.
Setengah jam kemudian, semua makanan sudah datang. Appetizer dengan berbagai pilihan makanan ala western.
Lea dan Niko tampak menikmati sekali hidangan pembuka tersebut. Terlihat mereka mengambil beberapa piring appetizer. Sedangkan Aurora hanya mengambil sepiring.
"Apa makanannya tidak cocok dengan Bu Aurora?" tanya Rendi.
Mata Aurora terbelalak mendengar pertanyaan Rendi yang tiba-tiba. Padahal dari tadi dia selalu diam.
__ADS_1
"Tidak. Saya pemakan segalanya." ucap Aurora dingin.
"Harap maklum, Aurora terbiasa makan siomay, Pak Rendi." celetuk Ray sambil menahan tawa.
Mendengar Ray bercanda, Aurora langsung melotot ke arah Ray.
Langit langsung menatap semua menu yang ada di meja. Dia tak pernah berfikir bahwa Aurora akan menyukai makanan ini atau tidak. Saat mereka masih bersama pun Langit tak pernah tau, makanan apa kesukaannya. Karena dia tak pernah menanyakan hal tersebut.
Tak lama kemudian main course datang dan di tata di atas meja. Menu Beef steak dengan kualitas daging terbaik menjadi pilihan Langit. Dia ingin menjamu tamunya dengan baik, terutama Aurora.
Mereka makan dengan tenang dan anggun sesuai table manner.
Srak.. Tak.
Ray menggeser piring Aurora dan menukar dengan piringnya. Tampak daging dari piring yang Ray tukar sudah terpotong dengan rapi.
"Makanlah pelan-pelan." ucap Ray lirih dengan nada lembut namun masih bisa terdengar oleh yang lain. Karena suasana makan yang tenang.
"Terima kasih." balas Aurora sambil tersenyum.
Melihat Aurora dan Ray yang saling menukar piring, membuat Langit geram. Dia memegang erat pisau yang ada di tangannya. Ingin sekali dia melempar pisau itu ke arah Ray yang ada di depannya. Berani sekali dia memperlakukan Aurora seperti itu.
Lalu dia menyadari sesuatu ketika melihat piring mereka.
Cincin.
Mereka memakai cincin yang sama dan pakaian dengan warna senada. Ray memakai kemeja hitam dan celana putih. Begitu juga dengan Aurora, dia memakai blouse hitam dan rok putih selutut.
Nafsu makan Langit tiba-tiba menghilang seketika. Kini dirinya sedang di selimuti oleh amarah. Rahangnya mengeras. Tangannya terkepal menahan sesak dalam dadanya yang membuncah.
Jika saja dia tak menjaga image sebuah perusahaan sebagai seorang Presiden Direktur, mungkin saja dia sudah menggebrak meja dan membaliknya. Lalu menarik kerah pria yang ada di hadapannya dan melayangkan tinju. Setelah itu menyeret Aurora keluar bersamanya dan pulang ke rumah mereka.
Menyadari Langit yang terus menatapnya, membuat Aurora tak nyaman.
"Saya permisi ke toilet sebentar." pamit Aurora berdiri, lalu meninggalkan meja makan.
Di dalam toilet, Aurora hanya cuci tangan dan mengambil nafas berkali-kali. Rasanya sesak harus berhadapan dengan orang yang selama ini berusaha dia hapus dari Ingatannya.
"Pasti akan ada saat dimana kita bertemu. Tapi kenapa di saat aku belum siap?" batin Aurora.
Setelah beberapa menit di dalam kamar mandi, Aurora segera kembali ke meja untuk melanjutkan makan malam.
Saat membuka pintu kamar mandi, betapa terkejutnya dia ketika sudah ada sosok pria yang menunggunya di depan pintu.
Langit.
__ADS_1