Ayo Menikah Lagi!!

Ayo Menikah Lagi!!
Part 29


__ADS_3

Aurora merasakan hawa dingin AC yang menerpa wajah mulusnya. Setelah beberapa kali mengerjapkan dan mengucek mata, dia baru tersadar kalau dirinya ketiduran setelah Ray mengelus surainya.


Netranya menyapu seluruh ruang kamar. Tampak sepi. Lea pun tak terlihat dan kamar mandi terdengar sunyi. Dia pastikan Lea masih di luar sedari tadi.


"Haah."


Aurora menghela nafas mengingat pembicaraannya dengan Langit tak berjalan lancar karena dirinya dikuasai emosi. Sehingga dia tak bisa mengakhiri masa lalunya dengan Langit secara sempurna.


"Masih ada beberapa jam untuk menyelesaikan masalahku dengan Om Eskimo." gumam Aurora yang beranjak ke kamar mandi untuk membasuh muka bantalnya.


Setelah memoles tipis wajahnya, Aurora memutuskan akan pergi menemui Langit lagi. Kali ini dia tak pamit pada Rey ataupun Lea. Dia tak mau membuat mereka khawatir.


Aurora berdiri di loby hotel. Selang beberapa saat, ojek online yang dia pesan sudah datang dan mengantarkan ke tempat tujuan Aurora, yaitu rumah Langit.


Setengah jam kemudian sampailah Aurora di depan rumah Langit. Rumah yang beberapa bulan pernah dia tinggali. Rumah yang banyak meninggalkan kenangan untuknya.


Aurora berdiri di depan pintu sambil menghela nafas setelah dia mengetuk pintu.


Tak butuh waktu lama, pemilik rumah pun membukakan pintu.


Aurora terkejut melihat penampilan Langit yang berantakan dan sudut bibirnya berdarah.


Lebih mengejutkan lagi, Langit yang tiba-tiba memeluk Aurora.


"Kenapa Anda bisa seperti ini?"


"Bukan apa-apa. Hanya saja tadi ada orang ngamuk ke sini."


"Tolong lepaskan pelukan Anda!"


Langit hanya menggeleng kepalanya.


"Aku sangat merindukanmu, Aurora. Aku ingin memelukmu lebih lama."


"Kalau Anda seperti ini, saya akan pergi lagi."


"Jangan!" pekik Langit yang langsung melepaskan pelukannya.


"Luka anda harus segera di obati."


Langit mempersilahkan Aurora masuk dan duduk. Tampak meja yang masih berantakan akibat amukan Ray serta beberapa kaleng minuman yang berserakan di lantai.

__ADS_1


"Anda menyebabkan masalah apa sampai ada orang yang mengamuk?"


Gerutu Aurora sambil membenahi meja dan sofa yang berantakan serta memunguti minuman yang jatuh ke lantai.


"Anda kan bukan orang yang suka keributan? Lagian orang seperti apa yang berani melawan konglomerat seperti anda?"


"Entahlah. Baru kali ini saya menimbulkan keributan karena berusaha merebut kekasih orang lain."


Mendengar pernyataan Langit, Aurora menghentikan sejenak aktifitas berbenahnya. Entah kenapa ada perasaan kesal dan tak suka.


"Pasti dia perempuan hebat sampai anda ingin merebutnya."


"Tentu saja. Dia sangat hebat dalam segala hal. Terutama dalam membuatku jatuh cinta."


Aurora menghela nafas.


"Umur anda bukan waktunya bermain-main dengan perempuan milik orang!"


Langit hanya tersenyum melihat Aurora yang tampak mengkhawatirkannya.


"Duduklah! Saya akan mengobati luka anda."


Titah Aurora sembari mengambil kotak obat di laci meja televisi.


"karena anda kan tidak mengubahnya." ketus Aurora.


"Sampai kapan kamu akan bicara formal padaku dan bersikap dingin?" tanya Langit.


"Memangnya apa yang anda harapkan?"


Dengan cekatan Aurora membersihkan dan mengobati luka di sudut bibir Langit.


Aurora terlihat fokus pada luka Langit, sedangkan Langit fokus menatap wajah Aurora yang berada di depannya.


"Ingin sekali ku cium bibir yang selama ini kurindukan." batin Langit.


"Jangan pernah berfikir untuk mencium saya!". Aurora memperingatkan.


Wajah Langit tampak memerah karena malu. Seolah Aurora tahu isi pikirannya.


Aurora mendudukkan diri setelah mengobati luka Langit.

__ADS_1


"Ra, aku ingin bertemu dengan anak kita." ucap Langit dengan sendu.


"Maaf Pak, dia anak saya. Bukan anak kita!"


"Raa.." Langit memelas.


"Tujuan saya kesini adalah untuk memperjelas perasaan saya. Saya pikir selama ini saya merindukan sosok anda. Tapi setelah bertemu dengan anda, bukan rasa rindu dan ingin memeluk erat seperti selama bertahun-tahun lalu saya bayangkan. Yang ada hanya rasa kekosongan dan ingatan trauma saya yang muncul kembali." jelas Aurora sambil meremas roknya untuk menahan tangannya yang bergetar.


Secara tak terduga, tiba-tiba Langit bersimpuh di depan Aurora sambil menangis. Sebuah tangisan tulus yang mengandung penyesalan.


"Berdiri, Pak! Dimana harga diri anda yang tinggi itu!" pekik Aurora.


"Lebih baik aku tak punya harga diri daripada harus kehilangan kamu dan anak kita."


" Saya pernah membuang harga diri saya hanya agar anda bisa mencintai saya suatu saat nanti. Tapi bukan cinta yang saya dapatkan melainkan ketidak pastian dan hinaan dari anda sendiri. Jadi jangan terlalu gegabah dan serakah, Pak!"


Mata Aurora berkaca-kaca membendung air mata yang siap tumpah.


"Saya sudah menemukan kebahagiaan bersama orang lain. Jadi saya sudah tidak akan mengharapkan apapun dari anda. Kedepannya hanya ada hubungan relasi bisnis. Saya pamit."


Aurora beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan Langit yang masih dalam posisi bersimpuh dan menangis.


Keluar dari rumah Langit, Aurora segera menumpahkan air matanya yang sudah tak mampu di bendung lagi.


Sepanjang perjalanan dengan ojek online, Aurora menangis sesenggukan. Mengingat bahwa sebenarnya dia masih menyimpan rasa rindu yang mendalam pada Langit. Disisi lain, hatinya terlalu sakit jika mengingat anaknya. Apalagi sekarang di sisinya sudah ada Ray yang selalu baik padanya. Ray yang selalu memberikan cinta berlebih untuknya.


"Theor juga pasti akan bahagia kalau kita bisa hidup bersama. Tapi takdir yang mendahului kita." batin Aurora.


Sesampainya di hotel, Ray sedang bertemu dengan teman lama yang kebetulan berada di kota A ini. Sehingga dia tak menyadari kalau Aurora keluar diam-diam menemui Langit.


Sedangkan Lea adalah bukan tipe cewek kepo. Jadi dia tak pernah menanyakan keberadaan Aurora. Bisa jadi Lea berpikir kalau Aurora keluar bersama Ray.


Semua sudah bersiap dengan barang bawaan masing-masing. Sudah pada umumnya, dinas luar kota akan terselingi dengan jalan-jalan dan memborong oleh-oleh. Jika berangkat membawa satu koper, balik-balik kopernya beranak.


"Semua sudah beres, kan?" tanya Ray.


"Sudah Pak!" jawab bertiga kompak.


"Pastikan tak ada yang tertinggal." Ray kembali mengingatkan.


"Separuh hati dan kenanganku yang selamanya akan tertinggal disini." jawab Aurora dalam hatinya.

__ADS_1


Kini mereka sudah berada dalam pesawat, Aurora menengok ke bawah. Terlihat daratan kota A yang dia tinggalkan. Seperti kenangan yang kembali dia tinggalkan enam tahun lalu. Berharap akan selalu hal-hal baik yang menyambutnya di masa depan di kota S.


__ADS_2