
Pertemuan antara Raytan dan Aurora part 2
"Kirana, aku pamit dulu ya. Semakin lama disini, aku merinding. Sepertinya selain gila, wanita itu bisa membaca pikiran!" bisik Ray di samping batu nisan Kirana.
Ray segera pergi meninggalkan Aurora yang kini sedang membaca dongeng di atas makam Theor sambil terisak.
Sebelum benar-benar meninggalkan area pemakaman, Ray kembali menoleh ke arah Aurora.
"Apa itu anak yang dia kandung saat hujan-hujanan dulu?!" batin Ray.
…
Beberapa bulan kemudian..
"Pak Presdir, Bu Rossy sudah ingin segera mengundurkan diri karena kesehatannya semakin menurun. " ucap Niko yang pagi itu membacakan jadwal Ray dan juga perkembangan perusahaan.
Rossy adalah desainer utama di perusahaan Ray yang bergerak dalam bidang fashion diamond. Dia juga bersinar di usia muda dan mensukseskan Rowayne Diamond, anak perusahaan Rowayne Corp.
"Apa kita sudah punya kandidat penggantinya?" tanya Ray sambil mengetuk-ketukkan jarinya di meja.
"Saya sudah memegang daftar nama kandidat penggantinya, Pak. Kalau anda mau, saya akan membawakannya."
Ray mengangkat sebelah tangan sebagai isyarat tak perlu.
"Ada berapa orang?"
"Ada tujuh orang, Pak. Tiga orang sudah berkompeten dalam bidang desainer perhiasan, sedangkan yang lainnya masih terbilang standar."
"Bawa mereka semua di hadapanku. Aku ingin melihat langsung kemampuan mereka."
"Baik, Pak. Saya akan segera memerintahkan tim HR menghubungi mereka."
Ray mengangguk-angguk setuju. Lalu Niko segera melakukan apa yang sudah di tugaskan. Ray mulai bergelut dengan pekerjaannya.
Beberapa hari kemudian..
"Mau kemana lo tumben pagi-pagi udah cakepan? "tanya Mika yang baru bangun tidur.
"Gue mau mengguncang Indonesia!" sahut Aurora sambil membenahi rambutnya.
"Pakai bulldoser?" ledek Mika.
__ADS_1
"Pakai goyangan pinggul gue!" jawab Aurora sambil terbahak. Mika yang masih mengantuk, malas menanggapi candaan Aurora, dia memilih pergi ke kamar mandi dan bersiap ke kantor.
Melihat Mika yang mengabaikannya, membuat Aurora sedikit kesal. Apalagi melihat tampang Mika yang akhir-akhir ini kusut tiap bangun pagi karena selalu Sleep call-an sama pacarnya.
"Muka lo kondisiin, Mik. Udah hampir kayak sundel bolong!" teriak Aurora dari kamarnya.
"Gue sundel bolong, elo kuntilanaknya!" balas teriak Mika dari kamar mandi.
"Gue pergi dulu, ya. Bye!" pamit Aurora yang langsung melenggang pergi.
"Iya. Hati-hati di jalan!" entah Aurora mendengar teriakan Mika atau tidak karena dia sudah pergi keluar rumah.
Betapa Aurora hatinya riang gembira karena setelah mengajukan CV di berbagai perusahaan dengan bidang yang berbeda-beda, akhirnya dia mendapat kesempatan interview di sebuah perusahaan besar. Apalagi pekerjaan itu sesuai bidang yang selama ini dia geluti, yaitu fashion designer.
Kini Aurora telah sampai di depan gedung yang menjulang tinggi. Lalu dia naik lift menuju lantai tujuh tempat yang telah diberitahukan melalui e-mail.
"Permisi, Bu. Saya mau tanya, meeting room di sebelah mana ya?" tanya Aurora pada salah seorang karyawan yang lewat.
"Kamu lurus saja, terus belok kanan. Nanti ada tulisan meeting room." jelas karyawan tersebut yang menggunakan landyard dengan name tag Nindy Lesatari.
"Ah ya.. Terima kasih banyak. Nanti kalau saya ketrima disini, saya akan traktir kamu. Namaku Aurora. Ingat itu ya." ucap Aurora penuh semangat sambil menjabat tangan Nindy.
"Te-terima kasih. Tapi kamu nggak perlu melakukan itu." balas Nindy sungkan karena dia tak kenal dengan Aurora.
Nindy menghela nafas setelah memastikan Aurora pergi ke jalan yang benar, bukan jalan yang sesat hehehe.
"Bisa-bisanya masih pagi gue ketemu sama orang aneh." gumam Nindy lalu melanjutkan pekerjaannya.
Sesampainya Aurora di dalam meeting room, ternyata sudah ada enam orang yang sudah duduk di sana. Lalu Aurora menyalami dan menyapa mereka satu persatu sambil memperkenalkan diri.
Selang beberapa menit menunggu, datanglah dua orang masuk ke dalam ruangan, mereka adalah Rossy dan Niko.
Mereka berdua memperkenalkan diri. Rossy sebagai desainer dan Niko sebagai asisten Presiden Direktur.
Rossy tampak cantik meski sudah tak muda, namun wajahnya terlihat pucat dan kurus karena penyakit tumor otak yang di deritanya. Namun dengan balutan pakaian yang modis, dia tetap tampak anggun.
Sedangkan Niko terlihat serius dan tampak seperti 'penggila kerja' meski usianya terbilang masih muda. Setiap perkataannya penuh tekanan dan terdengar dingin.
Setelah Rossy dan Niko memperkenalkan diri, semuanya tampak kagum dengan pesona mereka berdua.
Lalu ketujuh kandidat tersebut di uji untuk membuat sketsa desain pakaian dan perhiasan khusus pria dalam waktu dua jam. Rossy akan menilai secara langsung hasil karya mereka.
__ADS_1
Dengan penuh semangat, para kandidat menunjukkan kemampuan masing-masing. Mereka menuangkan ide yang terlintas di atas kertas yang telah di sediakan.
Waktu terus berjalan. Bahkan berlalu dengan cepat. Para kandidat sudah menyelesaikan sketsanya masing-masing.
"Hasilnya akan saya teliti dan mohon tunggu pemberitahuan selanjutnya." ucap Rossy penuh dengan senyum ramah.
Kini semua kandidat di persilahkan pulang dan menunggu konfirmasi selanjutnya.
Aurora pulang dengan perasaan puas setelah menyelesaikan sketsa desainnya karena dia mendapatkan inspirasi setelah mengingat seseorang.
Tiga hari kemudian..
Aurora mendapat panggilan interview kedua karena dirinya lolos dalam seleksi pertama.
Kemudian Aurora dan dua kandidat lain yang lolos di seleksi lagi dalam berbagai tes ketat. Hingga akhirnya, Aurora dinyatakan lolos ujian terakhir.
Tangis haru pecah setelah dia mendapatkan e-mail dari Rowayne Corp yang menyatakan bahwa dirinya adalah 'The Next Rowayne Corps Designer'. Mika yang ikut membaca e-mail tersebut ikut menangis karena teman bodohnya bisa di terima di perusahaan besar sebagai desainer. Seperti yang selama Aurora impikan.
"Sepertinya ketampanan 'orang itu' membawa inspirasi dan keberuntungan dalam hidupku. Kalau ketemu dia lagi, aku harus berterima kasih dan mentraktirnya." batin Aurora sambil menitikkan air mata haru.
…
Kini Aurora berdiri di depan sang pemimpin perusahaan yang siap menyambut kerja sama dengannya sebagai desainer.
Mata Aurora terbelalak saat melihat ketampanan sang Presdir. Mulutnya menganga karena saking tak percaya. Rasa haru pun menyelimuti hatinya.
"Te-ternyata malaikat gue adalah Presdir!" batin Aurora sambil matanya berkaca-kaca.
Lain halnya dengan pikiran Aurora, Sang Presdir yang adalah Ray, malah terkejut sekali melihat wajah yang dia kenali sebagi 'orang gila' kini malah dia sambut sebagai desainer.
Lagi-lagi Ray menatap Aurora dengan tatapan aneh dan berkali-kali dia menyebut 'orang gila' dalam hatinya.
"Sudah kesekian kalinya gue ketemu sama dia. Lebih parahnya lagi, dia adalah calon desainer yang hasil karyanya gue puji-puji kemarin. Sungguh di luar perkiraan BMKG." batin Ray sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Dulu Ray selalu menyebut Aurora sebagai 'orang gila'. Hingga pada akhirnya Ray yang tergila-gila dengan Aurora. Kena lo!
…
Jangan lupa tinggalkan like dan komen ya, people halu.
Meskipun update telat, komen dan like kalian bisa menambah semangat untuk terus update.
__ADS_1
Jangan sungkan kasih saran atau kritikan, ya.
Happy reading, people halu🫶