
POV Aurora
Aku selalu membayangkan kalau suatu saat akan menikah dan mempunyai keluarga yang sangat kucintai dan mencintaiku.
Tapi aku tak menyangkan bahwa aku akan menikah secepat ini. Di umurku yang baru menginjak 23 tahun. Apalagi aku sebagai pengantin pengganti dari mempelai wanita yang di nikahi oleh pria yang umurnya jauh di atasku. Langit Satria Cakrayudha, itulah namanya. Dia adalah seorang Presdir sebuah perusahaan besar.
Pria itu butuh seorang wanita untuk menggantikan kekasihnya yang berada di luar negeri. Karena dia melakukan pernikahan mendadak untuk menjaga kesetiaannya pada orang yang di cintainya. Karena keluarga pria itu menentang hubungan dengan kekasihnya itu.
Memang sebuah kisah romantis. Tapi sayangnya itu tak berlaku untukku. Karena aku bukan mempelai yang sesungguhnya. Dan aku melakukan pernikahan ini karena terdesak hutang.
Ya, hutang yang di tinggalkan oleh mendiang kedua orang tuaku. Dalam waktu singkat aku harus membayar sisa hutang senilai 60 juta. Sedangkan aku sendiri baru saja lulus dari sebuah universitas. Pekerjaan sebagai pelayan cafe hanya cukup untuk makan dan membayar biaya kuliah, itupun aku harus selalu berhemat.
Tiba-tiba Tuhan memberiku jawaban atas doaku. Meski aku harus menjadi pengantin pengganti selama setahun, tak apa. Yang penting aku bisa melunasi semua hutang orang tuaku dan meringankan beban mereka di akhirat.
Seiring berjalannya waktu, kebersamaanku bersama Langit semakin dekat. Hingga suatu hari dia mengajakku menikah siri untuk mempererat ikatan diantara kita. Karena dia tak mungkin menceraikan orang yang paling dia cintai. Tapi di sisi lain, dia menginginkanku.
Aku tak munafik bahwa aku juga menyukainya. Lelaki tampan, matang dan mapan. Wanita mana yang bisa menolak godaan tersebut? Mungkin aku terdengar gila atau tak tahu malu. Aku tak peduli, yang penting aku menyukainya, begitupun dia.
Gairah mudaku selalu membara tiap kali berada di sampingnya. Apalagi sudah lama aku tak merasakan kasih sayang dan pelukan orang tua. Berada di sisinya, aku seperti mendapat kasih sayang yang melimpah dan pelukan hangat. Mungkin terdengar menjijikkan, tapi sekali lagi aku bukan wanita naif. Aku menikmati setiap sentuhan hangat darinya.
Sampai suatu hari, aku mendengar dari mulutnya sendiri bahwa dia mengalami Azoospermia. Namun tak berselang lama, aku baru sadar bahwa aku sedang mengandung anaknya. Bertepatan sehari sebelum hari ulang tahunnya. Aku merasa senang, bahagia dan terharu.
Aku berpikir, bahwa dengan kehadiran anak ini akan membuatnya selalu berada di sisiku selamanya dan meninggalkan istri aslinya. Bukankah aku terdengar seperti pelakor? Aku tak peduli, karena aku terlanjur mencintainya.
Tapi di luar dugaan, semua hal yang kuharapkan tak sesuai dengan ekspektasiku. Langit lebih memilih mempertahankan pernikahannya dengan wanita itu dan membuangku beserta calon anaknya. Lebih tak ku sangka, dia menuduhku tidur bersama pria lain.
__ADS_1
Aku memutuskan untuk pergi dari kehidupannya karena hatiku yang sangat terluka. Aku akan mempertahankan anak dalam kandunganku meski hidup tanpa sosok Langit.
Aku pergi ke kota S, merantau dalam keadaan hamil dengan di dampingi dengan Mika.
Mika lah yang selalu setia berada di sampingku. Memberiku perhatian dan selalu mengkhawatirkanku. Dia seperti ibu bagiku meski kita seumuran.
"Gue akan selalu ada buat lo apapun yang terjadi." ucap Mika sambil menggenggam tanganku ketika kita berada dalam kereta. Sungguh Mika sangat romantis.
Sesampainya di kota S, kami menyewa sebuah rumah kontrakan yang tak begitu luas tapi nyaman, bersih dan asri. Rumah dengan halaman depan yang tak luas dan terdapat beberapa bunga dan tanaman lain.
Aku masih terus bekerja freelance mendesain di sebuah situs. Sedangkan Mika sudah mendapatkan pekerjaan sebagai Admin di sebuah perusahaan.
Hari-hari yang ku jalani di kota S sangat mendamaikan. Aku bertemu dengan orang-orang baik dan lingkungan yang baik. Beruntungnya orang-orang di sini tak pernah suka mencampuri urusan tetangga seperti di sinetron-sinetron. Sehingga aku yakin bahwa aku mampu membesarkan anakku dengan baik pula di sini.
"Aku harus bisa melupakan Langit. Agar aku bisa menjalani hidupku dengan baik bersama anakku." gumamku pada diriku sendiri.
Setiap hari pun Mika selalu menghiburku dengan candaan-candaan recehnya atau sekedar bercerita tentang pekerjaan kantornya.
Hingga tak terasa waktu bergulir dengan cepat. Sudah enam tahun terlewati dengan masa-masa yang berat.
Mika sudah menikah dengan seorang pria baik bernama Yuri. Yuri adalah Manager di perusahaan tempatnya bekerja. Dan mereka di karuniai seorang malaikat cantik. Mika tinggal bersama Yuri di sebuah perumahan tak jauh dari rumah kontrakan.
Aku pun bekerja di sebuah perusahaan bernama Rowayne Corporation selama empat tahun ini sebagai desainer utama. Menggantikan desainer lama yang sudah pensiun dini karena sebuah penyakit.
Aku juga sudah bertunangan dengan pria yang baik dan tulus bernama Raytan Ferrus Rowayne.
__ADS_1
Ya. Dia adalah Presdir Rowayne Corp, perusahaan tempatku bekerja. Dia sudah seperti obat untukku. Karena selalu ada di saat aku terluka dan butuh di sembuhkan.
Perlahan aku mulai melupakan Langit. Kenangan-kenangan indah yang dulu ku gadang tak akan pernah terlupa, nyatanya kini mulai memudar. Yang ada hanya kenangan menyakitkan tersisa dan tertanam dalam relung hatiku. Ku jadikan pelajaran hidup yang akan selalu ku ingat.
Tapi luka yang sudah ku kubur dalam, tiba-tiba mencuat lagi ke permukaan setelah bertemu kembali dengan Langit.
Aku, Ray dan dua asisten Ray pergi perjalanan bisnis untuk bertemu dengan perusahaan Sky Mall yang akan kolaborasi dengan Rowayne Corp.
Aku tak mengira bahwa kerja sama bisnis kami yang baru adalah perusahaan milik Langit. Pantas saja nama Mall-nya Sky, yang artinya langit. Namun aku tak menaruh curiga, karena kupikir aku dan Langit tak akan pernah bertemu kembali.
Tak sampai di situ, dia bahkan mengajak kami makan malam bersama. Ingin rasanya aku menolak ikut, tapi aku sungkan dengan Ray. Aku menghormatinya sebagai atasan yang baik. Maka aku pun tak ingin mengecewakannya dengan alasan pribadi.
Selama jamuan makan, Langit terus menatapku. Membuatku risih dan tak nyaman.
Aku memutuskan untuk pamit sebentar ke toilet. Rasanya bisa bernafas lega lepas dari pandangan Langit.
Setelah kurasa cukup lama berada di toilet, aku sudah siap untuk menghadap Langit lagi.
Namun di luar dugaan. Saat aku keluar dari pintu toilet, sudah ada sosok Langit yang berdiri di depanku. Wajah yang enam tahun lalu selalu ku puji, kini tampak kurus dan sayu namun tetap terlihat tampan.
Jantungku berdebar tak karuan. Tubuhku gemetar dan berkeringat dingin. Kilatan ingatan terakhir kembali terbayang. Dimana dengan bengisnya dia menampar dan mencekik ku. Luka fisik tak seberapa di bandingkan dengan luka hati ketika dia mengatai anak dalam kandunganku sebagai anak haram.
Aku mundur beberapa langkah, karena kepalaku tiba-tiba pusing dan merasa mual. Aku ingin segera pergi dari hadapan lelaki ini. Tapi kakiku terasa semakin berat. Lalu kurasakan tubuhku lemas seakan melayang. Aku jatuh pingsan.
Kupikir selama enam tahun berada jauh dari Langit dan melupakannya, aku bisa menghadapinya jika suatu saat nanti kita bertemu. Namun nyatanya aku terkalahkan oleh luka yang tak kunjung membaik.
__ADS_1