
Enam tahun telah berlalu ...
"Bu Aurora, di suruh ke ruangan Pak Presdir sekarang. " ucap Nindy yang melongokan kepalanya ke dalam ruangan Aurora.
"Bu Nindy, sebentar!" Aurora berjalan ke arah rekan kerjanya yang berhenti di depan pintu.
"Ya, Bu."
"Nanti sepulang kerja kita mampir ke toko kosmetik mau?" tanya Aurora dengan berbisik.
Dengan cepat Nindy mengangguk kepala penuh semangat.
"Ehem! Kalau begitu silahkan lanjutkan pekerjaan Bu Nindy."
Aurora segera bergegas pergi ke ruang Presdir.
Tok tok tok.
Aurora mengetuk pintu besar dan kokok di depannya. Namun tak ada jawaban. Dia mengulang kembali ketukan. Dan tetap tak ada jawaban.
"Haah.." Aurora menghela nafas, lalu membuka pintu ruangan tersebut meski tak mendapat jawaban.
"Pak Direktur, saya masuk!" ucap Aurora ketika membuka pintu.
Ternyata memang tak ada orang. Lalu dia memutuskan kembali. Tapi baru saja dia keluar dari ruangan, seorang laki-laki dengan setelan jas rapi berdiri sambil menyilangkan tangan di depan dada.
"Mau kemana kamu?!" tanya lelaki tersebut.
"Saya tadi sudah masuk ke dalam, tapi tak ada orang. Saya memutuskan untuk kembali, Pak."
"Ayo masuk! Ada yang ingin saya bicarakan!" titahnya dengan nada tegas.
Keduanya lalu masuk kembali ke dalam ruang Direktur.
Terpampang sebuah papan persegi panjang dengan tulisan nama Raytan Ferrus Rowayne.
"Kamu sudah membuat sample desain yang akan kita pakai untuk presentasi dengan Sky Mall?!" tanya Presdir pada Aurora dengan suara tegas. Tapi Aurora tak terlihat ragu ataupun menciut di depan Presdir.
"Saya sudah menyiapkan sekitar tiga puluh sample desain, mulai dari perhiasan sampai fashion item."
"Kirim semua salinannya ke email saya sebelum jam pulang kerja."
__ADS_1
"Baik, Pak."
"Kalau begitu, saya akan meminta Sekretaris Niko untuk segera mengatur pertemuan dengan pihak Sky Mall." ucap Presdir sambil duduk di kursi kebesarannya.
"Kalau begitu saya akan kembali ke ruangan saya, Pak." pamit Aurora.
Presdir hanya menjawab dengan anggukan. Aurora pun kembali ke ruangannya dan menyelesaikan pekerjaannya.
Sudah empat tahun terakhir Aurora bekerja di Rowayne Corporation sebagi designer. Pengalamannya selama menjadi freelancer di sebuah situs ternyata berguna.
Rowayne Corp sendiri bergerak dalam bidang fashion. Mereka memproduksi dan mendistribusikan barang-barang mewah eksklusif hasil pengerjaan tangan yang bersifat limited edition.
Pasar dari Rowayne Corp tak hanya di dalam negeri tapi sampai ke manca negara. Bahkan di luar negeri lebih banyak peminatnya dibandingkan di dalam negeri.
Apalagi sejak Aurora yang memegang sebagai desainer utama, produk-produk Rowayne Corp semakin melejit. Jika biasanya perusahaan akan butuh beberapa bulan bahkan setahun untuk menjual setiap desain keluaran terbaru. Sekarang tak butuh waktu lama untuk meludeskan setiap desain baru. Hal itu membuat perusahaan semakin untung karena dapat menaikkan nilai jual dari produk tersebut. Semakin cepat terjual, semakin cepat habis dan akan menjadi barang yang langka dan eksklusif.
Itu semua berkat kerja Aurora yang selalu menampilkan ide-ide cemerlang di setiap desainnya. Membuat setiap desain memiliki nilai karakteristik dan seni tinggi. Terutama desain perhiasan dan aksesori.
...****************...
Hari pertemuan yang telah di tentukan dan di sepakati bersama dengan pihak Sky Mall telah tiba. Aurora dan Presdir beserta dua orang asisten Presdir bersiap ke pergi ke kota A dengan pesawat.
"Kamu sudah berkali-kali naik pesawat tapi tetap saja gugup." ucap Presdir dengan suara baritonnya namun terdengar lembut. Tangan Presdir menggenggam tangan Aurora erat namun pandangannya tetap fokus ke depan.
Aurora hanya terdiam sembari menunggu pesawat mulai stabil di udara. Presdir hanya tersenyum melihat Aurora yang ketakutan seperti kelinci kecil yang terpojok.
Setelah pesawat mulai stabil, Presdir melepaskan genggaman tangannya. Barulah Aurora bisa bernafas lega dan sudah tidak tegang.
"Terima kasih, Pak." ucap Aurora sambil menatap Presdir di sampingnya.
"Iya, sama-sama."
Satu setengah jam perjalanan yang di tempuh, akhirnya mereka tiba di bandara kota A. Mereka sudah siap di jemput dengan mobil hotel tempat mereka akan menginap.
Sesampainya di hotel, mereka masuk ke kamar masing-masing. Aurora satu kamar dengan asisten perempuan Presdir, Lea. Pak Niko dan Pak Presdir berada di kamar terpisah. Ya kali, Presdir mau satu kamar sama asistennya. Tentunya Presdir memesan kamar VVIP yang berbeda lantai dengan semua anak buahnya.
"Bisa nggak sih, saya satu kamar sama Aurora saja?" goda Presdir pada karyawan-karyawannya.
"Bisa, Pak. Asal udah halal." jawab Lea.
"Bisa aja Pak. Kalo Anda juga tidak masalah dengan berita skandal." sahut Niko.
__ADS_1
Presdir tertawa mendengar jawaban dari Lea dan Niko. Aurora hanya mencebikkan bibirnya kesal karena selalu jadi bahan candaan.
Setelah makan malam bersama, mereka berempat memutuskan untuk jalan-jalan di mall sekitar hotel untuk sedikit melepas penat.
Dalihnya saja jalan-jalan. Sesampainya di mall, mereka malah melakukan riset pasar karena terbawa suasana mall yang sedikit ramai.
Memang jiwa-jiwa pekerja keras ya mereka.
Mereka sampai di hotel sudah larut sekali.
"Haah.. Capek banget ya? Padahal belum juga kerja besok." keluh Lea.
"Au ah! Bilangnya jalan-jalan, eh kenapa si Niko malah keluarin laptopnya. Alhasil kita jadi ikut-ikutan riset. Udah tau si Presdir orangnya kan workaholic!" gerutu Aurora.
"ho'oh. Emang dasar sialan si Niko!" umpat Lea sambil berbaring di atas ranjang.
"Ehem! Jangan gitu. Entar kalo lo jatuh cinta sama Niko baru tau rasa!"
"Idih. Amit-amit deh. Gak mau ah. Niko sama-sama workaholic kayak Presdir. Bisa mati kaku gue!"
Aurora tertawa melihat Lea kesal.
Aurora mengecek kembali semua sample desain yang akan dia presentasikan. Sedangkan Lea mengecek kembali proposal dan berkas-berkas yang di butuhkan. Sebagian juga sudah beres di tangan ajaib Niko. Setelah dirasa semua beres, mereka mulai berlabuh di pulau kapuk.
Namun baru beberapa jam memejamkan mata, Aurora terbangun. Dia merasa haus karena baru saja memimpikan anaknya. Sepertinya dia sudah rindu lagi dengan anaknya. Mungkin karena sudah dekat dengan ulang tahunnya.
Aurora membuka sebuah buku jurnal. Di antara halaman jurnal tersebut, terdapat beberapa foto anaknya.
"Mama rindu, Nak." ucap Aurora lirih sambil tersenyum dan sedikit menitikkan air mata.
Lalu Aurora menutup kembali buku jurnal tersebut dan balik menarik selimutnya.
"Selamat tidur, Theor." gumam Aurora sendiri sambil memejamkan matanya.
Disisi lain, Presdir masih terjaga sambil bermain game online. Game tembak menembak menjadi favoritnya baru-baru ini. Bahkan dia rela merogoh kocek untuk membeli semua item yang ada dalam game.
Meskipun gelarnya adalah Presiden Direktur, tapi dia tetap memiliki waktu untuk bersenang-senang seperti orang lain.
Tak ada istilah Presdir yang galak dan dingin seperti cerita-cerita dalam dunia novel. Dia pernah berkata, "Presdir itu hanya jabatan. Saya juga tetap manusia sosial", pada sebuah acara penyambutan ulang tahun perusahaan.
Dia tak ingin hidupnya jadi kaku dan monokrom. Dia ingin hidupnya penuh warna dengan melakukan hal-hal yang dia inginkan atau senangi. Meskipun bertentangan sekali dengan image Presdir umumnya.
__ADS_1