
Setelah kembali dari perjalanan bisnis, mereka pun menjalani kehidupan Kantor seperti biasanya.
Beberapa hari ini, wajah Aurora terlihat murung. Terkadang dia tidak fokus pada pekerjaannya. Kadang Ray juga memergokinya sedang melamun. Tapi Ray tak banyak bertanya, sebab dia tahu alasan di balik sikap murungnya itu.
Jam pulang kantor sudah tiba. Namun Aurora tampak enggan meninggalkan meja kerjanya. Dia terus menatap monitornya untuk mengecek kembali hasil desain.
Sedari tadi ponselnya pun bergetar, mengisyaratkan sebuah panggilan masuk. Namun lagi-lagi Aurora mengabaikannya.
"Kamu nggak pulang, Ra?" sebuah suara bariton membuyarkan fokusnya. Menampilkan sosok Ray yang berdiri di ambang pintu.
"Sebentar lagi, Ray." jawabnya kembali menatap layar monitor di depannya.
"Kalau kamu nggak segera pulang, nanti aku kena pelanggaran. Dikira aku mengeksploitasi karyawanku, lho." canda Ray.
"Iya, iya, bawel." Aurora mematikan layar monitor dan menjinjing tasnya.
Aurora dan Ray berjalan beriringan melewati ruangan-ruangan yang sudah kosong karena para karyawan sudah pulang.
"Aku benci tiap kali nyamperin kamu, Ra!" keluh Ray sambil berjalan menatap kanan-kiri ruangan-ruangan yang kosong.
"Kamu pasti mikir horor sih!"
"Gimana nggak mikir yang aneh-aneh? Kalau ruangan kosong dengan dinding kaca transparan itu ternyata menyeramkan. Kayaknya aku mau merenovasi seluruh ruangan ini, kuganti dengan tembok aja biar nggak serem-serem amat!" gerutu Ray sepanjang jalan.
"Haaah? Mana bisa gitu?" Aurora menatap Ray dengan tajam.
"Enggak, enggak! Biasa aja dong ngeliatinnya."
Mereka pun akhirnya sampai di basement tempat memarkirkan mobil.
Rencananya Aurora akan pulang sendiri karena ingin mampir memesan kue ulang tahun. Tapi Ray ngotot ingin mengantarnya. Aurora sudah menolak, namun Ray tetap kekeuh. Sehingga Aurora sengaja mengabaikan panggilan Ray berulang kali untuk menghindarinya. Ternyata Ray nekat menyusul ke kantornya.
Deg.
Tiba-tiba perasaan Aurora tak enak. Seperti ada yang sedang mengawasinya dari jauh.
Netranya menyapu seluruh sudut basement. Terlihat terang, meski ada beberapa sudut yang gelap karena memang lampunya sudah di matikan.
Tak ada siapa-siapa. Namun entah kenapa hatinya merasa gelisah. Sama seperti saat di pesawat dalam perjalanan pulang dari kota A minggu lalu.
"Ra, ayo! Kenapa kamu malah bengong di situ?" tegur Ray yang sudah berada di dalam mobil.
Aurora yang terbengong kembali tersadar dan segera menyusul Ray ke dalam mobil.
"Kamu kenapa, Ra?" tanya Ray sambil menyalakan mesin mobil.
"Nggak tahu, Ray. Kayaknya tadi ada yang ngeliatin kita deh!"
__ADS_1
Seketika bulu kuduk Ray berdiri. Dengan cepat dia menginjak pedal gas mobilnya.
"Ray!" pekik Aurora karena terkejut saat mobil tiba-tiba melaju dengan cepat.
Setelah sampai di jalan raya, Ray mulai menstabilkan kecepatan.
"Gila kamu! Bisa mati jantungan aku!" teriak Aurora kesal.
"Habisnya kamu nakutin! Udah tau kalau aku kan takut sama hal-hal begituan!" seru Ray yang tak kalah kesalnya.
Dada mereka naik turun, nafas mereka juga tersengal-sengal karena menahan kesal dan juga rasa terkejut.
"Maafin aku, Ra." Suara Ray terdengar melemah.
Aurora meraih tangan kiri Ray yang memegang kemudi. Mengelus lembut buku-buku tangannya.
"Maafin aku juga, Ray." Ucap Aurora dengan lembut.
"Maafin aku yang masih terpaku dengan masa lalu. Dan makasih karena selama ini kamu sudah mau menungguku." sambung Aurora dalam hati.
Beberapa menit kemudian mereka sampai di sebuah toko kue dan memesan kue ulang tahun untuk Theor.
Setelahnya, Ray mengantar Aurora pulang ke rumah.
"Aku pamit pulang, ya?" pamit Ray setelah sampai di depan rumah kontrakan Aurora.
Lagi-lagi Aurora merasakan ada yang mengawasinya.
Dia melihat sekeliling jalanan, tampak beberapa orang yang berlalu lalang. Namun mereka tampak biasa saja.
"Kenapa sih perasaanku akhir-akhir ini nggak enak?" batin Aurora.
"Bundaaaa...!" terdengar suara teriakan dari depan pintu rumah.
Seorang gadis kecil berlari ke arahnya. Lalu menubrukkan tubuhnya ke kaki Aurora. Gadis kecil berumur tiga tahun itu adalah Lettya, putri Mika dan Yuri.
Aurora menangkap tubuh kecil itu lalu membawanya dalam gendongan.
"Wah, Letty-ku sudah besar ya? Udah makin berat aja." Aurora mengerucutkan bibirnya untuk menggoda Lettya.
"Bunda jangan cembelut. Nanti Letty diet deh!"
"Hahaha" seketika tawa Aurora pecah mendengar perkataan Letty yang polos.
Masuk ke dalam rumah, sudah ada Mika dan Yuri yang menyambutnya.
Mereka memang sering mengunjungi Aurora, karena Lettya yang merengek ingin bertemu dengan tantenya. Tapi tentu saja itu hanya alasan yang di buat Mika untuk sering-sering mengunjungi Aurora. Karena Mika selalu khawatir dengan keadaan Aurora.
__ADS_1
"Aku nggak tahu kalau kalian bakal kesini. Tahu gitu aku beli martabak."
"Kayak kita nih tamu agung. Kan hampir tiap hari juga kita kesini." jawab Mika.
"Udah makan malam belum?" tanya Mika.
"Belum." jawab Aurora singkat karena dia sedang asik ngobrol bersama ponakan cantiknya.
"Makan dulu, yuk. Nih gue bikin semur ayam." ajak Mika.
Mereka berempat lalu duduk di ruang makan dan makan malam bersama. Setelah itu, Yuri mengajak Lettya bermain.
"Ra, lo baik-baik aja?" tanya Mika ketika mereka duduk di teras rumah.
Aurora menggeleng.
"Sejak lo balik dari kota A, lo kelihatan murung, Ra."
Aurora hanya terdiam. Dan suasana menjadi hening.
"Perasaan gue kalut setelah ketemu lagi sama Langit."
"Apa?!" teriak Mika terkejut. Lalu dengan cepat dia membungkam mulutnya.
"Kenapa lo enggak cerita sama gue Ra?" sambung Mika dengan sendu.
"Gue nggak pengen bikin lo kepikiran. Tapi lama-lama gue juga nggak bisa kalau nggak cerita sama lo." Aurora terkekeh kecil.
"Lo kan cuma punya gue Ra. Kenapa lo mau nyimpen semuanya sendirian? Apa Ray tahu kalau lo ketemu sama Om Eskimo?"
Aurora mengangguk sembari mengusap ujung matanya yang basah.
"Terus gimana reaksi Ray? Dia nggak marah? Apa Ray akhirnya tahu kalau Langit itu rekan bisnisnya, juga mantan suami lo?" cerocos Mika dengan nada khawatirnya.
"Ray enggak marah kok dan biasa saja."
"Ray benar-benar lelaki penyabar banget ya? Hihihi.." ledek Mika.
Lagi-lagi Aurora merasa ada orang yang sedang mengawasinya. Mata Aurora menatap lekat ke arah jalan yang gelap dan mulai sepi.
Tiba-tiba sekelebat bayangan orang seperti sedang bersembunyi. Dengan cepat Aurora berlari menghampiri. Namun sesampainya di jalan, suasana sangat lengang dan hanya ada satu pemotor yang lewat. Apalagi kawasan kontrakan Aurora terbilang sepi kalau malam karena kebanyakan semua adalah para pekerja, jadi saat malam tiba mereka banyak menghabiskan waktu di rumah karena malas keluar.
Aurora masih celingak-celinguk di pinggir jalan sambil menatap satu persatu pepohonan yang ada di pinggir jalan. Tak ada seorang pun.
"Apa karena feeling-ku akhir-akhir ini lagi buruk, jadi banyak pikiran?"
Aurora menghela nafas panjang lalu kembali masuk ke dalam rumah bersama Mika.
__ADS_1