
Aurora mengerjapkan mata beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya dari lampu yang terang. Ternyata dia sudah berada di rumah sakit.
Kepalanya masih pusing berkunang. Ingatan terakhirnya, dia bertemu Langit di depan pintu toilet. Lalu setelahnya dia tak tahu apa yang terjadi.
"Kamu sudah sadar?!" Ray menggenggam tangan Aurora seketika saat tersadar.
Aurora memijit keningnya yang berdenyut.
"Kata dokter kamu kelelahan, butuh banyak istirahat. Maafkan aku, aku nggak tahu kalau kamu sakit." ucap Ray dengan sendu.
"Aku nggak apa-apa kok."
Aurora menenangkan Ray yang tampak sedih dan bersalah padanya. Membuat Aurora merasa sungkan. Padahal bukan dia penyebab Aurora jatuh pingsan.
"Untung tadi Pak Langit tak sengaja melihatmu di depan toilet. Beliau yang membawamu dalam keadaan pingsan." Ray menoleh ke arah Langit yang berdiri agak jauh dari brangkar.
"Sekali lagi saya ucapkan terima kasih, Pak Langit." ucap Ray tulus.
Aurora hanya diam dan membuang muka.
"Cih! Gara-gara siapa aku pingsan?! Bisa-bisanya Ray berterima kasih padanya." batin Aurora.
"Kenapa kamu nggak bilang kalau kamu kenal sama Pak Langit?" tanya Ray.
"Apa?!"
Aurora terkejut. Dia berpikir, jangan-jangan Langit sudah memberi tahu Ray kalau dia adalah mantan istrinya.
Rendi yang ikut dalam ruangan itu pun terlihat mengernyitkan alis. Dia juga berpikir, betapa nekatnya Langit yang memberi tahukan statusnya pada Presdir Ray.
"Kata Pak Langit dulu kamu pernah jadi partner-nya selama beberapa bulan."
"Oho! Ya bisa di bilang begitu."
Aurora sedikit menyeringai. "Laki-laki sialan!" batin Aurora.
"Aku masih pusing, Ray. Aku mau istirahat."
"Baiklah. Tidurlah lagi. Aku akan mengantarkan Pak Langit keluar." ucap Ray dengan lembut sembari mengecup puncak kepala Aurora.
Langit yang melihat Ray mengecup Aurora terasa terbakar hatinya. Lalu datang Ray untuk mengantarkannya keluar dari ruang rawat.
"Padahal aku sedekat ini denganmu. Tapi tak pernah ada kesempatan untuk berbicara denganmu." batin Langit sambil melirik Aurora yang berbaring di atas brangkar.
Setelah mereka keluar, Rendi dan Langit akan pamit. Namun Ray meminta waktu Langit sebentar untuk berbincang. Langit pun mengiyakan.
Kini Langit dan Ray duduk di sofa loby rumah sakit.
"Sebenarnya apa hubungan Anda dengan Aurora, Pak Langit?" tanya Ray tanpa basa-basi.
"Bukankah sudah saya bilang kalau Aurora dulu adalah partner saya?!"
__ADS_1
"Saya tidak tahu apa maksud 'partner' yang anda maksud itu. Tapi saya bukan orang yang tidak peka. Melihat reaksi dan ekspresi Aurora setiap melihat anda, pastinya anda bukan partner yang baik dulunya."
Langit terkejut sekaligus geram mendengar pernyataan Ray yang sangat frontal. Tangannya kembali terkepal. Menurutnya perkataan Ray sangat lancang, namun di sisi lain perkataan itu ada benarnya.
Seperti yang Ray katakan, dia bukan partner yang baik untuk Aurora. Dia sudah menyakiti Aurora bahkan dari awal pernikahan saat Aurora menggantikan Renata.
"Hubungan kami sangat rumit untuk di jelaskan pada orang lain. Tapi saya harap, Aurora mau menemui saya meski sebentar saja."
"Saya akan membicarakannya dengan Aurora. Saya ingin masalah kalian terselesaikan. Dan saya harap masalah ini tak mempengaruhi kerja sama kita, Pak Langit."
Langit mengangguk. Dia pun berharap Aurora mau bertemu dengannya. Semoga Ray bisa membujuk Aurora.
Mereka pun melanjutkan obrolan dengan mengganti topik. Karena Ray tak ingin membuat rekan bisnisnya merasa tak nyaman. Setengah jam kemudian, Langit dan Rendi berpamitan.
Setelah mereka, Ray kembali menunggu Aurora di samping brangkar.
Aurora terbangun saat dia merasakan seseorang menggenggam tangannya.
"Maaf. Karena aku, kamu jadi terbangun."
Aurora hanya menggeleng. Dia menatap Ray lekat.
"Apa ada yang ingin kamu katakan, Ray?"
"Apa aku boleh bertanya sesuatu?"
"Kamu nggak kayak biasanya. Apa yang mau kamu tanyakan?!"
Aurora memiringkan kepala sembari menatap aneh pada Ray.
"Apa Pak Langit orang yang ada di masa lalumu itu?"
Aurora terbelalak mendengar pertanyaan Ray. Lalu dia menundukkan kepala. Tangannya pun terlihat gemetar.
Ray yang melihat reaksi Aurora, sudah tahu jawabannya.
"Maafkan ak—"
Aurora menempelkan jari telunjuknya di bibir Ray.
"Jangan meminta maaf terus. Apalagi untuk kesalahan yang nggak kamu lakukan."
"Jangan pernah tinggalkan aku, Ra."
Ray meletakkan kepalanya di pangkuan Aurora dengan wajah sendunya.
"Kenapa kamu berpikir kalau aku akan meninggalkanmu?"
"Pak Langit minta tolong buat bujuk kamu biar mau ketemu dia."
Aurora terdiam. Suasana pun menjadi hening.
__ADS_1
Ray meraih tangan Aurora dan mengecupnya.
"Dia adalah orang yang mati-matian ingin kamu lupakan kan? Aku takut kalau kamu akan jatuh kepelukannya lagi dan ninggalin aku."
"Apa sekarang kamu meragukanku?"
Ray langsung mengangkat kepalanya dengan cepat. Takut kalau Aurora salah paham dengannya.
"Ti-tidak, Ra! Aku hanya—"
Kalimat Ray terputus karena Aurora spontan mengecup bibirnya.
"Tenangkan dirimu, Ray." Aurora mengelus pipi Ray lembut.
Ray beranjak dari tempat duduknya dan duduk diatas brangkar Aurora. Melanjutkan ciuman mereka. Cukup lama mereka berciuman dan saling memagut.
"Cukup, Ray. Aku ini pasien!" pekik Aurora dengan nafas ngos-ngosan.
"Maaf, Ra. Habisnya kamu kan yang mulai duluan." Ray berekspresi kecewa seperti anak kecil yang di marahi orang tuanya.
"Ray, aku akan menemui Pak Langit sebelum kita kembali."
"Kami yakin, Ra?"
Aurora membalas dengan anggukan.
"Kalau kamu butuh bantuan, aku akan selalu ada."
"Bantuan apa? Buat nonjok muka Om-om songong itu?"
Aurora tertawa setelah mengatai Langit. Ray tersenyum melihat Aurora yang kembali ceria.
"Kamu istirahat lagi. Aku akan menelepon dulu." Aurora membalas dengan anggukan. Lalu dia kembali masuk ke dalam selimutnya.
Keesokan harinya..
Langit dan Aurora membuat janji temu di cafe hotel tempat Aurora menginap.
Siap ataupun tidak. Ini saatnya dia mengakhiri semua hal tentang Langit. Semua hal yang menyakitkan sehingga pernah membuatnya terpuruk.
Aurora sudah tak ingin terjebak dalam masa lalu. Karena sekarang sudah ada Ray di sampingnya. Dia yakin akan bisa bahagia bersama dengan Ray.
Kini Aurora berjalan menuju cafe yang di maksud. Sesampainya di sana, dia celingukan mencari keberadaan Langit. Matanya menyapu seluruh ruangan cafe. Terlihat beberapa pengunjung yang sedang duduk dan lalu lalang. Hingga akhirnya netranya menangkap sosok Langit yang duduk di meja dekat jendela.
Aurora menarik nafas dalam, lalu menghembuskan pelan. Jantungnya terasa sangat berdebar. Melebihi gugup saat akan melangsungkan pernikahan dengan Langit dulu.
Lalu dengan mantap dia melangkahkan kakinya menuju tempat Langit.
Langit yang melihat Aurora berjalan ke arahnya, jantungnya pun ikut berdebar. Seperti pengantin pria yang menantikan mempelai wanita keluar dari ruangan. Senyum terkembang dari wajahnya.
Kini Aurora dan Langit saling berhadapan. Dan saling menghadapi kecamuk pikiran masing-masing.
__ADS_1