Ayo Menikah Lagi!!

Ayo Menikah Lagi!!
Part 28


__ADS_3

Setelah melihat Aurora berjalan ke arahnya, segera Langit berdiri menyambutnya. Dari kejauhan Langit sudah memasang senyum tulus.


"Aurora." Langit menggumamkan nama Aurora dari kejauhan. Namun dari mimik bibirnya, Aurora tahu kalau namanya di sebut oleh Langit.


"Ternyata namaku bisa juga keluar dari bibirmu itu!" batin Aurora.


Kini Aurora dan Langit saling berhadapan. Dan saling menghadapi kecamuk pikiran masing-masing.


"Apa kabar, Ra? Silahkan duduk." sapa Langit dengan terbata karena gugup.


"Seperti yang Anda lihat, Pak."


Mendengar kata 'Pak yang di lontarkan Aurora, seketika membuat senyum Langit memudar.


"Aku nggak nyangka kita akan bertemu lagi."


Langit mencoba membuka obrolan untuk mencairkan suasana.


"Apalagi saya."


"Ka-kamu sudah makan?"


"Belum."


"Mau aku pesankan makanan?"


"Boleh."


Langit meminta buku menu pada waiters. Lalu memilih menu yang ada.


"Kamu mau makan makanan Asia, Western atau—"


"Terserah Anda saja. Saya pemakan segalanya."


Langit memilih makanan Asia yang mungkin Aurora suka.


"Maafin aku, Ra." Langit menatap intens pada Aurora. Namun yang di tatapnya malah terlihat santai sambil menyesap latte yang sebelumnya dia pesan.


"Ya. Saya maafkan."


"Kenapa semudah itu kamu memaafkanku?"


"Sama seperti Bapak. Yang mudah sekali mengucap kata maaf."


Langit tersentak mendengar jawaban Aurora. Hatinya terasa tersayat. Aurora seperti memasang tembok tinggi dan tebal di antara mereka.


Suasana hening. Langit menundukkan kepalanya. Lalu terdengar sayup-sayup suara isakan darinya. Tiba-tiba hati Aurora bergetar.


"Tolong jangan buang sia-sia air mata Anda!"


"Rasanya sesak banget karena kangen banget sama kamu." ucap Langit lirih sambil menghapus air matanya.


"Kalau rasa sesak seperti itu, saya sudah paham sekali rasanya, Pak. Yang bisa saya lakukan hanya menahannya. Jadi jangan pernah merengek seperti anak kecil."


"Kata maaf saja memang tak akan bisa menebus kesalahanku, Ra."


Aurora tak menjawab lagi. Suasana pun menjadi hening.

__ADS_1


Tak lama kemudian makanan yang mereka pesan sudah datang. Tapi keduanya seperti enggan menyentuh makanan tersebut.


"Siapa namanya?" Langit kembali membuka percakapan.


"Siapa? Maksud Anda?!" Aurora tak mengerti siapa yang di maksud oleh Langit.


"A-anak kita." ucap Langit ragu.


Mendengar Langit mengucap kata 'kita' dalam kalimatnya membuat Aurora geram. Tangannya terkepal meremas rok yang di pakainya.


"Hahaha!" Aurora tiba-tiba tertawa. Membuat Langit terkejut.


"Anak mana yang Anda maksud?" Aurora menyeringai.


"Maafin aku Ra. Seharusnya saat itu aku percaya sama kamu. Ternyata dulu Renata yang mengubah hasil tes kesuburanku. Hingga aku di nyatakan azoospermia."


Langit kembali menundukkan kepalanya sambil mengepalkan tangan.


"Jika bukan karena kamu hamil, mungkin saja aku akan terjebak dalam kebohongannya selamanya." lanjut Langit dengan suara purau.


"Itu bukan urusan saya." jawab Aurora sambil membuang muka.


Suasana kembali hening.


"Saya sering mendengar Anda berbicara di telepon dengan Renata dengan nada yang lembut dan hangat. Sambil saya berharap suatu saat Anda akan memperlakukan saya seperti itu. Saya juga iri saat Anda menyebut nama Renata penuh kasih. Tapi sekalipun Anda tak pernah menyebut nama saya."


"Maafkan keegoisanku, Ra."


Aurora tersenyum miring.


"Baru sekarang Anda menyebut nama saya berkali-kali."


"Pulang? Kemana? Anda siapa saya, ya?!" Aurora kembali geram. Rasanya ingin melempar piring berisi makanan yang ada di hadapannya ke muka Langit.


"Aku masih suamimu, Ra."


Aurora tergelak menertawakan ucapan Langit yang konyol.


"Suami? Kita hanya suami secara agama. Dan di dalamnya, jika suami tak memberi nafkah lahir dan batin selama beberapa bulan, maka akan jatuh talak dan otomatis akan terjadi perpisahan. Apa Anda tidak tahu?!"


"Aku tahu kok. Mungkin aku terdengar tak tahu malu kalau mengatakan itu. Tapi aku benar-benar menyesal. Aku ingin kamu kembali bersama anak kita. Kita akan hidup bahagia."


"Hahahaha!" kini Aurora tertawa dengan lantang. Membuat pengunjung cafe melihat ke arahnya.


"Sepertinya cukup sampai di sini pembicaraan kita. Jika lain kali kita bertemu, saya harap hanya ada obrolan tentang pekerjaan saja."


Aurora berdiri dari tempat duduknya hendak meninggalkan Langit.


"Ijinkan aku menemui anak kita." ucap Langit ikut berdiri.


Aurora membalikkan badan.


"Tidak ada kata kita di antara saya dan Anda. Tolong jaga batasan!"


Aurora benar-benar pergi meninggalkan Langit yang terpaku menatap kepergiannya.


"Kamu baik-baik saja, Ra?" tanya Lea yang menyambut kedatangan Aurora ke dalam kamar.

__ADS_1


"Aurora butuh istirahat dulu, Le." Ray yang menjawab pertanyaan Lea.


"Baik, Pak. Saya akan keluar sama Niko. Anda temani Aurora dulu saja." ucap Lea beralasan.


Ray mengangguk dan berterima kasih.


"Seminggu lagi ulang tahun Theor, Ray."


"Ya. Aku tahu itu."


"Aku sangat merindukannya."


Ray dengan sigap meraih tubuh Aurora ke dalam pelukannya saat tangis Aurora pecah.


"Istirahatlah. Kita akan berangkat sore nanti."


Ray membaringkan Aurora di tempat tidur sambil mengelus-elus surainya. Dan Aurora pun terlelap.


Ray keluar dari kamar Aurora, lalu menelepon seseorang. Tak lama kemudian, dia memesan ojek mobil online.


Bergegas Ray pergi ke loby untuk menunggu mobil pesanannya. Sekitar sepuluh menit kemudian, sebuah mobil menghampiri dan mengantarkannya ke alamat yang di tuju.


Ray turun dari mobil setelah berhenti di depan rumah minimalis dengan warna akromatik. Lalu dia berjalan ke pintu dan memencet bel.


Ketika pintu terbuka, tampak Langit berdiri menyambutnya.


"Silahkan masuk, Pak Ray." ucap Langit sambil mempersilahkan masuk.


"Silahkan duduk, saya akan mengambilkan minuman." sambung Langit sambil melenggang ke dapur.


Tak lama kemudian kembali membawa beberapa minuman kaleng dan air putih kemasan botol.


"Saya hanya bisa menyiapkan ini."


"Nggak apa-apa Pak Langit. Saya sangat berterima kasih."


"Nggak apa-apa Pak Ray. Segini aja udah terima kasih."


"Ya. Saya akan sangat berterima kasih lagi kalau Anda menjauh dari Aurora saya." ucap Ray tanpa basa-basi.


"Wah. Saya tidak mengira kalau Anda akan langsung blak-blakan seperti ini."


"Karena saya tipe laki-laki yang rasional. Mengutamakan tindakan yang berarti daripada berkata-kata seperti perempuan."


Langit mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras karena merasa harga dirinya terluka oleh ucapan Ray.


"Apa anda tahu seberapa dalam luka yang anda berikan pada Aurora?!"


Ray ikut mengepalkan tangan menahan emosi.


"Aku nggak tahu. Jadi aku akan tetap bersikap egois."


Ray sudah tak tahan lagi menahan emosi yang membuncah.


Bugh! Duak!


Ray melayangkan bogem mentah di pipi kanan Langit hingga dia tersungkur dan membentur meja.

__ADS_1


"Saya tidak suka banyak bicara. Dan saya bisa melakukan yang lebih dari ini jika anda mengusik Aurora saya."


Tanpa pamit Ray meninggalkan rumah Langit dan kembali ke hotel.


__ADS_2