
Setelah tahu kalau Aurora akan segera kembali ke kota S, Langit menelepon Rendi untuk segera memesan tiket pesawat dengan jadwal keberangkatan yang sama. Dengan gegas Rendi memesan tiket yang di maksudkan Langit.
"Gue ikut juga nggak nih?" tanya Rendi di telepon saat Langit memberinya instruksi melalui telepon.
"Lo juga ikut. Gue bakal selalu butuh elo." ucap Langit pada Rendi.
"Tapi keluarga gue juga butuh gue. Anak gue nggak bisa tidur kalau nggak nyium ketek gue."
"Kalau udah tahu gitu kenapa lo tanya segala?" pekik Langit dengan kesal dan langsung mematikan teleponnya.
Rendi sudah menikah dengan Gita, sesama asisten dari sebuah perusahaan rekan bisnis. Mereka di pertemukan saat Rendi dan Langit menjalin kerjasama dengan sebuah perusahaan tambang nikel. Kini mereka sudah mempunyai seorang anak lelaki berusia tiga tahun yang bernama Aftar.
Seperti yang Rendi katakan, Aftar akan selalu menunggu Rendi pulang untuk di-nina bobokan. Sehingga mau tak mau, Langit tidak bisa membiarkan Rendi lembur sampai larut seperti dulu. Dan jika ada bisnis luar kota, ada Lucas yang menggantikan Rendi.
Namun untuk kali ini, Langit pergi sendiri. Karena tak mungkin mengajak Lucas untuk urusan pribadi. Apalagi yang tahu masalahnya dengan Aurora hanya Rendi.
Saat itu, pikiran Langit sangat kalut sehingga tak bisa berpikir jernih. Setelah sampai di kota S, dia sudah seperti 'penguntit'. Setiap hari dia mengintai Aurora. Sejak dari bandara sampai malam ini. Dia terus membuntuti kemanapun Aurora pergi selama seminggu ini. Bahkan saat Aurora pergi kencan dengan Ray hari sabtu lalu.
Bermodalkan motor sewa, dia mengikuti kegiatan Aurora. Hari ini pun dia mengikuti Aurora dan Ray pergi ke toko kue untuk memesan kue ulang tahun.
"Jadi sebentar lagi anakku ulang tahun?" batin Langit yang mendengar percakapan mereka dari tempat display kue.
Langit saat itu menyamar jadi pelanggan toko kue dengan menggunakan masker dan topi serta jaket lusuh. Sehingga Aurora maupun Ray tak menyadari keberadaan Langit karena penampilan yang berbeda 180 derajat.
"Gadis kecil Papa sebentar lagi ulang tahun ke berapa ya?" batin Langit lagi sambil tersenyum membayangkan wajah mungil anaknya.
Langit mengira bahwa gadis kecil yang dia lihat beberapa kali di rumah Aurora adalah anaknya. Apalagi bocah lucu dengan pipi tembam itu juga sempat ikut serta dalam kencan antara Ray dan Aurora.
Setelah Ray dan Aurora pergi, Langit segera mengambil sembarang kue untuk di bawa ke kasir dan kembali mengikuti Aurora sampai ke rumah.
Lagi-lagi hatinya memanas setiap kali Ray mengucapkan salam perpisahan dan Aurora mengecup lembut pipi Ray.
__ADS_1
"Seharusnya kamu dulu juga melakukan itu padaku, Ra." gumam Langit. Dia teringat kenangannya bersama Aurora. Setiap akan berangkat ke kantor, Aurora akan mengantarnya sampai ke pintu dan melambaikan tangan setiap dia keluar dari gerbang. Dan akan menyambut kepulangannya dengan bau khas coklatnya yang menguar setelah mandi.
Langit masih menatap Aurora yang asik berbincang dengan Mika dari seberang jalan. Dia memarkir motornya agak jauh untuk menghindari kecurigaan Aurora.
Melihat Aurora yang tertawa bersama sahabatnya, membuat Langit sedikit lega. Setidaknya ada Mika di sisinya untuk menghibur perempuan yang terlambat dia cintai.
Terlena dengan tawa Aurora, tidak sengaja tubuh Langit terjungkal. Mau tidak mau dia segera bergegas pergi setelah tahu Aurora menyadari keberadaannya. Dengan cepat dia menyalakan motor dan pergi. Dia lewat di depan Aurora yang sedang celingukan di pinggir jalan.
"Bahkan aroma coklat dari tubuhmu seperti memenuhi sepanjang jalanan, Ra." batin Langit saat mencium parfum coklat Aurora.
Tiga hari berlalu..
Kegiatan Aurora sama seperti biasanya. Pulang dan pergi ke kantor. Ada hari di mana dia pergi bersama teman sekantor untuk sekedar jalan-jalan di mall atau makan di warung tepi jalan.
Hari ini pun, Langit sudah stay di depan rumah kontrakan Aurora pagi-pagi sekali seperti biasanya. Namun sampai pukul sembilan, tak terlihat batang hidung Aurora.
Perasaan gelisah mulai menyelimuti Langit. Dia khawatir sesuatu terjadi pada Aurora di dalam rumah. Namun dia tak bisa tiba-tiba muncul di hadapan Aurora, sehingga dia memutuskan untuk menunggu beberapa saat lagi.
Saat kegelisahan menyergap benaknya, terlihat Ray dan Aurora keluar rumah dengan keadaan Aurora yang baik-baik saja dan tampak sehat.
Namun kali ini mereka terlihat aneh. Seharusnya mereka kan berada di kantor bekerja, apalagi ini sudah lewat dari jam masuk kantor. Pakaian mereka juga terlihat aneh. Mereka memakai pakaian serba hitam dan juga kacamata hitam. Tak lupa dengan payung juga dengan warna senada.
"Mereka mau berkabung ya?" batin Langit.
Ray melajukan mobilnya pergi bersama Aurora meninggalkan rumah. Langit pun bergegas memacu laju motornya untuk mengikuti kemana mereka akan pergi.
Lima belas menit kemudian mereka sampai di sebuah pemakaman umum. Ray dan Aurora keluar dari mobil. Ray membawa sebuah kotak besar dan beberapa balon berbentuk astronot, sedangkan Aurora membawa bunga dan payung hitamnya.
Langit mengikuti langkah mereka dari jarak jauh. Lalu bersembunyi dari balik pohon mahoni yang besar saat melihat mereka berdua bersimpuh di depan sebuah makam. Tak jelas nama dari makam tersebut karena jarak Langit yang jauh.
Ray dan Aurora tampak memanjatkan doa-doa. Setelah selesai, kemudian Ray menancapkan balon-balon yang di bawanya di samping batu nisan. Lalu membuka kotak besar yang di bawanya tadi yang ternyata isinya adalah kue ulang tahun.
__ADS_1
Tampak dari kejauhan, di atas kue tersebut tertancap lilin dengan bentuk angka lima.
Tiba-tiba jantung Langit berdebar. Rasa penasaran dan juga pikiran negatif sesak memenuhi benaknya.
"Apa mungkin itu anak Ray? Katanya dia kan juga seorang duda." gumam Langit mencoba berpikir positif.
Ray dan Aurora terlihat bertepuk-tepuk tangan sambil menyanyikan lagu ulang tahun di depan makam tersebut dan meniup lilin angka lima itu bersama.
Tak lama kemudian Aurora mengeluarkan sebuah buku dan membacanya sambil membaringkan setengah tubuhnya di atas makam itu. Ray mengambil payung untuk menghalau sinar matahari yang mulai menyengat.
"Jangan! Jangan berpikir yang enggak-enggak!" Langit menggeleng-gelengkan kepalanya mencoba membuang dugaan negatif. Karena otaknya sudah di penuhi dengan kalimat pertanyaan : "Apakah yang terbaring di sana adalah anakku?"
Tangan Langit terkepal erat saat melihat Aurora yang menangis sesenggukan di atas makam sambil terus membacakan buku dongeng.
"Sial, sial, sial! Ingin rasanya aku pergi ke sana dan melihat sendiri nama di atas nisan itu!" gumam Langit sambil memukul-mukul pohon di depannya.
Satu jam kemudian, Ray dan Aurora pergi meninggalkan pemakaman sambil membawa kue ulang tahun itu kembali. Hanya balon-balon dan bunga yang tertinggal di atas makam tersebut.
Langit tak serta merta langsung pergi ke makam tersebut, dia memastikan Ray dan Aurora benar-benar sudah meninggalkan area pemakaman.
Mobil Ray sudah pergi meninggalkan area pemakaman sejak sepuluh menit lalu. Tapi Langit tampak masih berada di balik pohon besar sambil terus menatap ke arah makam tadi.
Hatinya sangat bimbang, antara penasaran dan juga takut jika yang ada dalam pikirannya adalah benar.
Dengan memantapkan hati, Langit berlari kecil ke makam tersebut.
Seketika tubuhnya ambruk di depan makam itu. Air matanya langsung mengalir deras setelah membaca nama di atas nisan tersebut.
Telah wafat : Metheor Cakrayudha bin Langit Satria Cakrayudha
Lahir : 30 Maret 20xx
__ADS_1
Wafat : 3 April 20xx