Bahagiamu Bahagiaku

Bahagiamu Bahagiaku
#21


__ADS_3

Sirena sampai di apartemen miliknya yang sangat jarang dia datangi kalau bukan karena ingin menyendiri.


"Aku akan menenangkan diriku dulu, sebelum nanti aku akan mengakhiri semuanya." monolog Sirena kepada pantulan tubuhnya di dalam cermin.


"Ayo Sirena, kami harus kuat menghadapi semuanya ini, iklhaskan Ronald demi kebahagiaan dia, kamu gak bisa memberikan kebahagiaan untuk dia." lanjutnya.


Pandangan Sirena beralih ke arah perutnya, dia memegangi perutnya yang sebentar lagi rahimnya akan segera di angkat dari dalam tubuhnya.


Perlahan air matanya turun, dia sudah mencoba menjadi wanita yang kuat, tapi sepertinya dia juga ingin menangis, hingga akhirnya pertahanannya pun gagal, dia menangis meratapi dirinya sendiri yang sebentar lagi akan menjadi wanita yang tidak sempurna.


"Hiks hiks, kenapa kehidupanku jadi seperti ini, apakah aku tidak layak lagi untuk bahagia?" tangis Sirena.


Sirena terduduk di atas lantai sambil memegangi perutnya yang sudah mulai terasa sakit lagi.


"Ahh ssst...." ringis Sirena memegangi perutnya.


Sirena segera mencari obat yang sudah dokter Luna berikan kepadanya tadi untuk mengurangi rasa sakit yang dia rasakan.


Setelah menemukannya di dalam tas, dia pun segera menelan satu kapsul obat itu tanpa air minum terlebih dahulu karena di dalam kamarnya kebetulan tidak ada air minum.

__ADS_1


"Aahh, kenapa sakit banget, apakah ini akan seperti ini terus sampai nanti rahim aku di angkat?" tanya Sirena pada dirinya sendiri.


Mungkin nanti kalau dia ada jadwal lagi bertemu dengan dokter Luna dia akan menanyakan hal ini.


...**...


Sementara itu, di tempat Ronald dia tengah kedatangan klien asal luar kota yang datang bersama dengan anaknya yang sangat imut dan cantik.


"Halo sayang, kamu cantik sekali, nama kamu siapa hmm?" ucap Ronald berjongkok di hadapan anak kliennya itu.


"Nama aku Cilla Om," balas klien Ronald mewakili anaknya yang dia saja, mungkin karena takut kepada Ronald.


"Dad...." manja Cilla meminta pertolongan dari Daddy-nya.


"Sini anak Daddy, Om ini namanya Om Ronald, dia itu salah satu teman Daddy, dan dia juga sangat gemas sama kamu, makanya cubit pipi kamu yang tembem ini." jelas klien Ronald agar anaknya tidak takut kepada Ronald.


"Benar sayang, Om gak jahat kok, Om cuma gemes saja sama kamu." balas Ronald.


"Gak mau, Cilla gak mau sama Om itu dad, dia sangat menyeramkan." balas Cilla memeluk leher Daddy-nya.

__ADS_1


"Hahaha... kamu bikin gemes aja deh, jadi pengen aku masukin karung terus bawa pulang."


Ronald memang sangat menyukai anak kecil, maka dari itu dia sangat berharap kalau istrinya cepat hamil.


"Gimana istri kamu, udah isi belum?" tanya klien Ronald.


"Keknya sih belum."Jawab Ronald.


"Yang sabar, semuanya butuh proses." balas klien Ronald.


"Iya aku tahu, tapi aku sudah tidak sabar ingin mempunyai anak." balas Ronald.


"Kalau seandainya, seandainya ya ini jangan di masukin hati. Seandainya kalau istrimu gk bisa mempunyai anak, apakah kamu akan meninggalkan dia?" tanya klien Ronald.


"Tidak, itu tidak mungkin terjadi kepada rumah tangga kami." sangkal Ronald.


"Kan aku bilang tadi seandainya, jadi kamu harus gimana seandainya itu terjadi?"


"Ya aku akan tetap mempertahankan rumah tangga ku, aku mencintai istri ku apapun keadaannya itu." balas Ronald mantap.

__ADS_1


...***...


__ADS_2